Unika Santo Thomas Medan Menuju World Class University, Harga Mati

KAMPUS UNIKA ST THOMAS – Gedung Fakultas Ekonomi Unika Santo Thomas Medan. Kampus Unika Santo Thomas bersiap menuju World Class University (foto: raden arman firdaus)

RABU (15/8/2012) siang, susunan angka di jam Casio di pergelangan tangan kiri saya membentuk angka 14.00.15. Sepertinya saya terlalu cepat masuk ke kantor hari itu. Selama bulan Ramadan, kantor memundurkan jam masuk bagian redaksi, dari semula pukul 15.00 menjadi pukul 16.00 WIB.

Seperti biasa, aktivitas rutin begitu tiba di ruangan kerja saya di lantai 4 adalah memelototi enam media cetak lokal terbitan Medan dan dua media cetak nasional terbitan Jakarta. Saya melihat berita-berita yang diterbitkan delapan media cetak tersebut dan membandingkannya dengan berita-berita yang terbit di media tempat saya bekerja, Tribun Medan.

Habis “melalap” delapan media cetak lokal dan nasional, tangan saya beralih membolak-balik lembaran koran Tribun Medan. Saat tiba di halaman 14 (Smart Communities), mata saya membaca headline yang berjudul “Unika Menuju Kampus Kelas Dunia”. Seketika, mata saya “memerintah” tangan kanan saya untuk tetap bertahan di halaman 14. Saya baca kalimat demi kalimat di berita tersebut, sampai tuntas. Komentar saya? Hanya satu kata “unpredictable”. Bagi saya, ini tekad luar biasa dari civitas akademika Unika Santo Thomas Medan, almamater tempat saya menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Manajemen sejak September 1998 hingga Juni 2003. Tak sekadar luar biasa, tekad menjadi Kampus Kelas Dunia (World Class University/WCU) ini juga tak terduga sebelumnya. Selama mengenal Unika Santo Thomas hingga saat ini, saya pribadi mungkin sudah bisa menduga tekad Unika Santo Thomas seperti: meningkatkan jumlah mahasiswa baru setiap tahunnya, menambah fakultas baru, memperbaiki akreditasi, peningkatan kualitas staf pengajar dan pegawai ataupun peningkatan mutu akademik yang berbasis kompetensi.

Tapi sekali ini tekad menjadi WCU tak bisa saya baca. Saya sama sekali tak dapat menduganya. Tapi apapun hal yang mendasari, seberapa banyak pro kontra di dalamnya dan seperti apa dukungan semua civitas akademika di Unika Santo Thomas, maka saya harus menghargainya. Sebagai alumni, sebisa mungkin, saya juga berusaha untuk bisa berkontribusi di dalam tekad tersebut.

Hanya USU, WCU dari Sumut

DI dunia, dikenal beberapa lembaga independen dan kompeten yang melakukan pemeringkatan WCU, misalnya: THE-QS, ARWU, HWWACT, dan Webometrics. Dari empat lembaga ini, lembaga yang cukup sering mempublikasikan hasil pemeringkatannya adalah Webometrics.

Peringkat Webometrics edisi Juli 2012 baru saja dirilis Senin, 30 Juli 2012. Webometrics melakukan pemeringkatan terhadap lebih dari 20 ribu Perguruan Tinggi (PT) di seluruh dunia. Jumlah PT di Indonesia yang masuk pemeringkatan edisi Juli 2012 berjumlah 361 PT atau meningkat dibandingkan edisi Januari sebanyak 352 PT.

Ada 50 PT Indonesia yang masuk ranking. Namun untuk posisi 10 besar, ditempati Universitas Gadjah Mada (peringkat 1 Indonesia/379 dunia), Universitas Indonesia  (peringkat 2 Indonesia/507 dunia), Institut Teknologi Bandung (peringkat 3 Indonesia/568 dunia), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (peringkat 4 Indonesia/582 dunia), Universitas Pendidikan Indonesia (peringkat 5 Indonesia/630 dunia), Universitas Gunadarma (peringkat 6 Indonesia/740 dunia), Institut Pertanian Bogor (peringkat 7 Indonesia/764 dunia), Universitas Brawijaya (peringkat 8 Indonesia/837 dunia), Universitas Sebelas Maret (peringkat 9/883 dunia) dan Universitas Diponegoro (peringkat 10 Indonesia/948 dunia). Sedangkan di peringkat 50 atau 3.725 dunia ditempati Universitas Negeri Padang. Dari posisi 10 besar, satu-satunya kampus swasta yang mampu menyodok dominasi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) adalah Universitas Gunadarma (UG) Jakarta. Di Metro TV lah, kampus tempat penyanyi dangdut Ayu Ting-Ting ini sering ditayangkan.

Bagaimana dengan kampus-kampus dari Sumatera Utara? Dari 50 kampus PTN dan PTS yang masuk beringkat, hanya kampus Universitas Sumatera Utara (USU) di Sumut yang berhasil menembus 50 besar dan berada di peringkat 29 Indonesia atau 1.853 dunia. Bahkan posisi USU masih di bawah tiga PTN lainnya di Sumatera. Yakni: Universitas Sriwijaya Palembang (peringkat 14 Indonesia/1.263 dunia), Universitas Andalas Padang (peringkat 27 Indonesia/1.751) dan Universitas Lampung (peringkat 28 Indonesia/1.765 dunia).

Lalu bagaimana dengan PTS yang masuk dalam keanggotaan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik di Indonesia (APTIK)? Hanya satu PTS Katolik yang mampu menembus 50 besar yakni Universitas Katolik (Unika) Indonesia Atma Jaya Jakarta di peringkat 31 Indonesia atau 2.084 dunia. Posisi Unika Atma Jaya ini masih di bawah Universitas Kristen Petra Surabaya yang berada di peringkat 20 Indonesia atau 1.564. Sama halnya dengan Unika Atma Jaya, Universitas Kristen Petra adalah satu-satunya PTS Kristen yang mampu menembus 50 besar WCU versi Webometrics.

Mulai Webometrics Juli 2012, parameter penilaian yang dilakukan lembaga pemeringkat yang berbasis di Spanyol ini sudah berubah. Ada empat komponen yang menjadi indikator utama dari penilaian Webometrics ini, yaitu: Presence (20%), Impact (50%), Openness (15%), dan Excellence (15%). Untuk parameter Excellence, indikatornya adalah jumlah artikel-artikel ilmiah publikasi perguruan tinggi yang bersangkutan yang terindeks di Scimago Institution Ranking (tahun 2003-2011) dan di Google Scholar (tahun 2007-2011).

Presence adalah jumlah halaman website (html) dan halaman dinamik yang tertangkap oleh mesin pencari (Google), tidak termasuk rich files. Impact merupakan jumlah eksternal link yang unik (jumlah backlink) yang diterima oleh domain web universitas (inlinks) yang tertangkap oleh mesin pencari (Google). Openness merupakan jumlah file dokumen (Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps, .eps), Microsoft Word (.doc,.docx) dan Microsoft Powerpoint (.ppt, .pptx) yang online/open di bawah domain website universitas yang tertangkap oleh mesin pencari (Google Scholar). (http://moeflich.wordpress.com, Rabu, 15 Agustus 2012).

Apa yang Harus Dilakukan?

Berdasarkan empat parameter penilaian yang dilakukan Webometrics, sudah sampai dimanakah posisi Unika Santo Thomas? Saya ambil dari parameter Presence yakni jumlah halaman website (html) dan halaman dinamik yang tertangkap oleh mesin pencari (Google), tidak termasuk rich files. Saya bandingkan dengan kampus-kampus yang ada di Medan saja.

Hingga Kamis (16/8/2012), saat saya mengetik kalimat “unika santo thomas medan”, di kolom “search using google”, maka ditemukan 31.300 search (pencarian). Ketika saya mengetik kalimat “universitas katolik santo thomas sumatera utara” maka ditemukan 40.200 search. Sedangkan saat kalimat “unika st thomas medan” yang diketik, maka ditemukan 124.000 pencarian. Namun jumlah ini masih kalah jauh dibandingkan: “universitas darma agung medan” dengan jumlah pencarian sebanyak 1.330.000. Bahkan jika kalimat “uda medan” yang diketik, jumlahnya lebih banyak lagi, 1.630.000.

Jika dibandingkan dengan “umsu”, pencarian Unika Santo Thomas tergolong kecil. Ketika saya mengetik kata “umsu”, ada 868.000 pencarian. Sedangkan saat kalimat “universitas muhammadiyah sumatera utara” saya ketik, jumlahnya lebih banyak lagi, sebanyak 6.460.000.

Lalu bagaimana dengan USU yang tahun ini masuk 50 besar WCU di Indonesia? Saat saya mengetik kalimat “universitas sumatera utara”, ditemukan 2.550.000 pencarian, ketika kaata “usu” yang saya ketik, saya temukan 27.000.000 pencarian dan ketika kalimat “usu medan” yang sata ketik, saya menemukan 1.810.000 pencarian.

Bagaimana pula dengan parameter Openness? Openness merupakan jumlah file dokumen (Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps, .eps), Microsoft Word (.doc,.docx) dan Microsoft Powerpoint (.ppt, .pptx) yang online/open di bawah domain website universitas yang tertangkap oleh mesin pencari (Google Scholar). Hampir sama dengan parameter Presence, parameter Openness akan melihat berapa banyak dan seberapa sering tulisan-tulisan, baik isi ataupun judulnya menyinggung nama Unika Santo Thomas Medan tertangkap oleh Google Scholar. Tulisan-tulisan tersebut antara lain: skripsi, paper, artikel, laporan perjalanan, bahan kuliah dan lain-lain.

Sedangkan untuk parameter Excellence, akan melihat seberapa banyak artikel-artikel ilmiah karya civitas akademika sebuah PT dipublikasikan dan terindeks di Scimago Institution Ranking dan di Google Scholar. Jadi, logika sederhananya adalah: semakin banyak menulis artikel ilmiah dan mempublikasikannya ke internet dan terindeks di Scimago Institution Ranking dan di Google Scholar, maka semakin baiklah ranking PT tersebut.

Untuk diketahui, Webometrics adalah suatu sistem yang memberikan penilaian terhadap seluruh universitas terbaik di dunia berdasarkan kekuatan dan kepopuleran sebuah universitas berdasarkan media informasi. Artinya, semakin banyak tulisan yang dipublikasikan di internet dan semakin sering tulisan tersebut di baca masyarakat luas, maka semakin tinggilah peringkat sebuah universitas.

Unika Santo Thomas Medan sudah bertekad menjadi WCU. Apa yang harus dilakukan agar menjadi WCU sesuai dengan syarat yang ditentukan Webometrics misalnya?

  1. Jika Webometrics yang menjadi acuan, maka budaya menulis, meneliti dan akses yang tinggi terhadap internet harus menjadi kebutuhan bagi seluruh civitas akademika Unika Santo Thomas mulai dari staf pengajar, mahasiswa, pegawai dan bahkan alumni. Budaya menulis dan meneliti tidak bisa lagi dianggap sebagai aktivitas yang hanya “dikerjakan kalau sedang suka, sedang sor atau kalau sedang ada waktu”. Ibarat makan tiga kali sehari yang sudah menjadi kebutuhan pokok, maka budaya menulis dan meneliti pun harus menjadi kebutuhan pokok civitas akademika Unika Santo Thomas Medan. Tak cukup hanya ditulis dan diteliti, tulisan-tulisan tersebut juga harus dishare dan dipromosikan ke dunia maya (internet).
  2. Memaksimalkan peran dan fungsi situs (website). Misalnya: seluruh aktivitas akademik sudah harus dilaksanakan (berbasis) situs dan online. Seperti pendaftaran mahasiswa baru secara online, ujian masuk secara online, pengisian KRS online, melihat KHS secara online, mengunduh materi kuliah secara online, melihat referensi paper, skripsi dan tugas-tugas secara online dan perpustakaan yang juga terhubung ke internet (e-library).
  3. Melakukan strategi internasional. Ada baiknya PT menyelenggarakan dan meningkatkan program exchange (pertukaran) civitas akademik dengan perguruan tinggi yang ada luar negeri. Sistem pendidikan maupun kurikulum yang diterapkan oleh PT di luar negeri bisa digunakan sebagai pertimbangan ataupun panduan untuk menerapkan hal yang sama di Unika Santo Thomas, tentu jika memenuhi syarat dan tidak bertentangan dengan sistem pendidikan di Unika Santo Thomas. Kemudian meningkatkan hubungan dan jaringan internasional serta menggalakkan program-program kerjasama internasional dengan berbagai lembaga internasional di berbagai negara.

Harus diakui kalau saat ini telah terjadi pergeseran paradigma persaingan perguruan tinggi. Jika pada awalnya, persaingan antarperguruan tinggi hanya terjadi di dalam satu negara, maka yang terjadi saat ini adalah persaingan antar perguruan tinggi antar negara. Menurut saya wajar-wajar saya, karena ini merupakan dampak dari globalisasi dimana jasa pendidikan ikut dalam arus globalisasi tersebut.

Berangkat dari persaingan antar perguruan tinggi antar negara, maka muncullah konsep World Class University (WCU) yang pemeringkatannya dilakukan berbagai lembaga pemeringkat yang berkompeten. Namun, jangan sampai proses menuju WCU, maka kita akan mengabaikan aspek konsolidasi di internal kampus dan tanah air yang juga semakin kompetitif.

Saya berpendapat, status Unika Santo Thomas, berapapun itu peringkatnya di WCU nantinya, jangan menjadi tujuan yang paling utama. Mari kita jadikan pemeringkatan ini sebagai acuan bagi kita untuk menilai sejauh mana civitas akademika Unika Santo Thomas mampu mengembangkan standard internasional.

Pemeringkatan-pemeringkatan yang dilakukan berbagai lembaga (dimana Unika Santo Thomas Medan menjadi perguruan tinggi yang ikut dinilai), dapat dilakukan untuk menilai seberapa baik, seberapa unggul dan seberapa berkualitaskah Unika Santo Thomas terhadap perguruan tinggi lain di Indonesia maupun di dunia internasional.

Budaya menulis, meneliti dan program-program lain yang terkait dalam proses riset adalah satu dari beberapa faktor yang harus dibenahi menuju WCU. Yang pasti ada kendala yang harus dihadapi perguruan tinggi secara umum, misalnya jumlah dosen peneliti yang minim, jumlah mahasiswa S3 yang masih sedikit, kreativitas mahasiswa yang belum maksimal, minimnya fasilitas dan pembiayaan riset yang terbatas. Belum lagi kemampuan untuk melakukan publikasi dan jejaring di internet.

Tetapi saya percaya, dengan komitmen dari seluruh civitas akademika Unika Santo Thomas, maka tekad ini akan tercapai, apalagi Rektor Unika Santo Thomas Medan, P Hieronymus Simorangkir sudah menjaminnya. “Harga Mati. Semua akan kami benahi mulai dari kepemimpinan, kemahasiswaan, akademik, keuangan dan lainnya. Optimis karena dewan penyantun mau memandu kami,” kata Hieronymus.

Jadi? Harga Mati. Kalau bukan sekarang, kapan lagi!!. (Hanya pendapat pribadi tanpa menganggap pendapat ini lebih baik dari yang sudah ada. Mohon maaf jika ada pernyataan yang kurang berkenan)

3 responses to “Unika Santo Thomas Medan Menuju World Class University, Harga Mati

  1. Dari penjelasan Lae, sudah saatnya ada sosialisasi/penjelasan dalam bentuk “kuliah” untuk alumnus dan mahasiswa/i Univ. Katolik St. Thomas Sumut dimanapun…Seluruh lembaga kelengkapan Unika St. Thomas lebih terbuka (akomodatif, selektif, dan partisipatif) tentu dengan tidak bertentangan dengan statuta… ini bukan kerjaan semua alumnus, ini pekerjaan orang-orang yang punya dedikasi tinggi… thanx atas infonya… Semoga Unika Jaya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s