Alan-Nurtani dan Mimpi Atlet Cacat Sumut Jadi PNS

Gambar

ALAN Sastra Ginting. (foto:medancantik.wordpress.com)

KANTOR Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora) membuka formasi sekitar 1.500 lowongan calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk ditempatkan di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) di seluruh Indonesia pada 2009. Pembukaan formasi ini tak hanya ditujukan bagi atlet normal, tetapi juga atlet cacat. Tetapi, hanya satu atlet cacat dari Sumut yang berhasil mendapatkannya, Alan Sastra Ginting, selebihnya gagal.

Di tingkat nasional, nama atlet atletik asal Deliserdang bukanlah nama yang asing. Prestasi atlet cacat kelahiran 27 September 1980 ini sudah sampai di level Asia Tenggara. Berlaga di nomor lempar, Alan sudah tampil di tiga Asean Para Games (pesta olahraga atlet cacat tingkat Asia Tenggara). Pada Asean Para Games di Manila, Philipina tahun 2005, Alan meraih medali perak. Pada Asean Para Games di Nakhon Ratchasima, Thailand tahun 2007, Alan meraih medali emas dan di Asean Para Games di Solo, Indonesia tahun 2011, Alan juga meraih emas.

Atlet dengan kategori cacat tubuh bagian bawah (Catu B) ini tak hanya berjaya di level Asia Tenggara. Di level nasional, Alan berhasil meraih medali emas di gelaran Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) dua kali berturut-turut yakni tahun 2004 di Palembang, Sumatera Selatan dan 2008 di Samarinda, Kalimantan Timur. Di dua Porcanas ini, Alan berhasil meraih medali emas.

Prestasi ini menjadi “pintu masuk” bagi Alan untuk mewujudkan mimpinya menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Alan mengatakan, sejak tahun 2004 atau selepas tampil di Porcanas 2004 di Palembang, ia sudah mengajukan permohonan menjadi pegawai di berbagai instansi pemerintah antara lain di Pemkab Deliserdang, Dispora Sumut dan Kantor Gubernur. Tapi permohonan tersebut tak membuahkan hasil. Tahun 2009, ketika Kemenegpora membuka formasi lowongan CPNS, Alan pun kembali mengajukan lamaran dan lulus menjadi CPNS. Alan kini ditempatkan di bagian olahraga di Dispora Sumut. Karena melamar dari jalur tamatan SMA, golongan Alan masih rendah, II A.

            Secara pribadi, Alan mengaku senang dengan keberhasilannya menjadi PNS. Masa depannya sebagai atlet cacat diperhatikan pemerintah, meskipun masih banyak atlet cacat lain yang belum mendapat kesempatan menjadi PNS.

Alan menceritakan, awalnya ia sudah putus asa mengikuti tes CPNS di Kemengpora tahun 2009. Maklum, ia mengetahui pengumuman sudah di hari-hari terakhir. Tapi semangat menjadi PNS membuat ia berupaya mengurus persyaratan yang diajukan. Dari segi pendidikan, Alan memenuhi persyaratan karena sudah lulus SMA. Kemudian dari segi prestasi juga memenuhi syarat. Kemengpora saat itu mengajukan persyaratan prestasi minimal meraih emas di Porcanas, atau perak di Asean Para Games dan perunggu di Asian Para Games.

 “Saat itu ada satu berkas yang belum ada yakni rekomendasi dari KONI Sumut. Tapi pengurus KONI saat itu, Pak Jhon Lubis menjamini ke badan kepegawaian daerah (BKD) Sumut. Akhirnya saya dapat kartu ujian. Puji Tuhan, saya akhirnya lulus,” kata Alan, akhir Agustus lalu.

Nasib Nurtani justru tak sebagus Alan. Atlet cacat wanita yang kerap berlaga di cabang angkat berat ini harus mengubur mimpinya menjadi PNS tahun 2009. Pasalnya, Nurtani tak memiliki ijazah SMA sesuai dengan persyaratan Kemengpora. Soal persyaratan prestasi, maka prestasi Nurtani tak kalah dibanding rekannya, Alan. Pada Asean Para Games di Manila, Philipina tahun 2005, Nurtani meraih medali perak di kelas 60 kg. Pada Asean Para Games di Vientiane, Laos tahun 2009, Nurtani meraih perak di kelas 67,5 kg. Sedangkan di Asean Para Games di Solo, Indonesia tahun 2011, Nurtani juga meraih perak di kelas 67,5 kg. Pencapaian atlet dengan kategori cacat tubuh bagian bawah (Catu B) ini terjadi saat berhasil meraih emas di Porcanas Palembang, tahun 2004.

“Nurtani mengaku, semula ia kecewa. Tapi perlahan-lahan ia bisa melupakannya. “Saya harus bisa menerima kenyataan bahwa ada persyaratan yang tak bisa saya penuhi,” kata Nurtani.

Atlet kelahiran 20 Agustus 1977 ini berharap, kalaupun ia dan atlet-atlet berprestasi lainnya tidak memungkinkan lagi menjadi PNS, pemerintah bisa membantu permodalan untuk membuka usaha. “Semakin tahun saya pasti semakin tua dan kesempatan menjadi atlet juga akan terbatas. Saya pribadi berharap kepada modal usaha. Kalaupun terpaksa, suami saya pun tak masalah diberikan pekerjaan,” katanya.

Ketua National Paralympic Committee (NPC) Sumut, Zulkifli mengatakan, status pendidikan menjadi masalah utama bagi atlet cacat Sumut untuk ikut seleksi CPNS. Dikatakan Zulkifli, dari puluhan atlet cacat yang dibina NPC Sumut, sangat jarang ditemukan atlet yang menyelesaikan pendidikan SMA. Padahal syarat yang diajukan pemerintah adalah minimal lulusan SMA. “Rata-rata mereka (atlet cacat Sumut) tidak sekolah. Padahal banyak diantara mereka yang prestasinya memenuhi persyaratan yang diminta pemerintah,” kata Zulkifli.

Begitupun, Zulkifli tidak putus asa akan nasib atlet cacat Sumut. Ia berharap, jika ijazah kejar paket C bisa memenuhi syarat, pihaknya akan menggandeng Dinas Pendidikan setempat agar atlet cacat Sumut yang berpeluang menjadi CPNS tetapi terkendala di ijazah SMA, bisa ikut kejar paket C.

“Dua tahun ini memang ada moratorium PNS dan tahun 2013, penerimaan CPNS kabarnya sudah dibuka kembali. Jika mereka (atlet cacat) diberikan kesempatan, mereka bisa melamar dengan syarat ijazah kejar paket C itu,” katanya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Medan, Abdul Azis mengatakan, sebagai institusi yang mengurusi atlet-atlet, pihaknya mendukung langkah pemerintah pusat untuk menjadikan atlet berprestasi sebagai CPNS. Bahkan jika memungkinkan, jumlahnya bisa meningkat dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2008, atlet berprestasi di Sumut yang diterima menjadi PNS sebanyak  delapan orang. Sedangkan pada tahun 2009, jumlahnya naik menjadi 14 orang. “Program ini sangat bagus. Ke depannya, semoga semakin banyak atlet berprestasi yang bisa mengisi formasi yang disediakan pemerintah pusat, baik atlet normal, maupun atlet cacat,” kata Abdul Azis.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s