Yang Tersisa dari Kejayaan Tembakau Deli, Air di Sumur Kebon Tak Lagi Mengucur Deras (Bagian 1)

Gambar

AMBIL AIR-Warga yang tinggal di areal Kebon (Kebun) Bulu Cina PTPN II, Desa Bulu Cina Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang mengambil air dari sumur bor di Komplek Kebon Bulu Cina, beberapa waktu lalu. Sumur bor ini adalah sisa peninggalan kejayaan yang ditinggalkan Deli Maatschappij, perusahaan tembakau milik pengusaha Belanda yang pernah beroperasi di Tanah Deli. (foto: truly okto purba)

 SANIDI (50) menghentikan laju sepeda motornya persis di pintu gerbang sebuah komplek sumur bor kebun yang terletak di areal Kebon (Kebun) Bulu Cina PTPN II, Desa Bulu Cina Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Dari dudukan sepeda motornya, jari tangan pria itu mengambil jerigen putih ukuran 25 liter yang diikat tali di sadel sepeda motornya. Dari pintu gerbang, Sanidi berjalan sekitar 10 meter untuk sampai di areal air sumur bor.

Air dari dua buah pancuran pipa mengucur perlahan. Suara gemerciknya meningkahi obrolan sejumlah perempuan yang tengah mencuci pakaian. Beberapa perempuan lain mengantre, dengan jerigen dan galon air di samping mereka. Sanidi mengarahkan lubang jerigennya ke ujung pipa pancuran dan menungguinya hingga penuh.

Siang itu, tak hanya Sanidi yang datang ke sumur bor. Ada puluhan warga lain yang datang silih berganti setiap hari. Mulai pukul 06.00 wib hingga menjelang maghrib aktivitas di sumur bor tak pernah berhenti. Namun, jangan pula berpikir warga Desa Bulu Cina tidak mempunyai fasilitas air di rumah mereka.

“Warga Desa Bulu Cina biasanya punya sanyo (sumur bor) sebagai sumber air di rumah,” kata Sanidi beberapa waktu lalu

“Air di sini bersih, bahkan bisa langsung diminum. Itu yang membuat warga lebih suka memilih mencuci dan mengambil air di sini,” tambahnya.

Sumur bor yang ada di Desa Cina adalah sisa peninggalan kejayaan yang ditinggalkan Deli Maatschappij, perusahaan tembakau milik pengusaha Belanda yang pernah beroperasi di Tanah Deli. Tidak ada tahun pasti yang menyebut kapan sumur bor ini dibangun. Namun gudang pemeraman tembakau yang berjarak sekitar 100 meter dari komplek sumur bor tersebut memberikan sedikit gambaran.

“Sumur bor ini diperkirakan dibangun sebelum tahun 1928. Patokan kami adalah gudang pemeraman tembakau yang dibangun tahun 1928,” tutur Suprawito, karyawan bagian teknik PTPN II di Kebun Bulu Cina, Hamparan Perak, Deli Serdang.

Berdasarkan informasi yang ia peroleh dari pekerja di PTPN II yang telah pensiun, ketika gudang pemeraman dibangun, pipa air sudah tertanam di komplek sumur bor.”Kami berkeyakinan kalau sumur bor itu sudah dibangun sebelum tahun 1928,” katanya.

Sekitar tahun 1970-an, ada sekelompok peneliti yang yang mengobservasi keberadaan sumur bor ini. Hasilnya, pipa yang ditanamkan ke dalam tanah panjangnya sekitar 200-an meter. Air sumur bor yang selama ini diambil warga sudah steril, tak perlu direbus dan bisa langsung diminum.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, kata Suprawito, kekuatan debit air mulai berkurang. Di era 1970-an, debit air masih 3 liter per detik dan panas air 37 derajat celcius. Gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh-Nias pada Desember 2004 diduga menjadi penyebab berkurangnya debit air. Sejak itu debit air berkurang drastis. Saat ini hanya tersisa 0,5 liter per detik dan panas air tak lagi mencapai 37 derajat celcius. Jumlah pipa pancuran juga berkurang dari empat buah, sekarang tersisa dua pipa saja.

Ratna (33), warga Karang Jati, Desa Bulu Cina, Hamparan Perak mengatakan, sedikitnya empat kali seminggu dirinya datang ke air bor untuk mencuci dan mengambil air minum. Setiap harinya Ratna mengambil dua jerigen air (masing-masing berukuran 25 liter) untuk kebutuhan minum tujuh anggota keluarga. Dalam dua hari, dua jerigen ini akan habis. Meskipun di rumah ada air sanyo (sumur bor), Ratna mengaku lebih suka mencuci di sumur bor milik PTPN II itu.

“Mencuci pakaian di sini tak hanya membuat pakaian bersih. Entah kenapa, kalau mencuci pakaian di sini sabun atau deterjen tak perlu banyak-banyak,” ujar Ratna.

Ratna bilang, tak hanya untuk mencuci, air dari sumur bor tersebut sangat baik untuk orang yang menderita rematik.

“Ada beberapa warga di sini yang mengaku rematiknya berkurang setelah mandi dengan air sumur bor di sini. Barangkali karena airnya hangat ya,” kata Ratna.

Dari kejayaan tembakau Deli dulunya, perusahaan Belanda tak hanya membangun sumur bor di Desa Bulu Cina. Arif Fadillah (45), warga lainnya mengatakan, di Kecamatan Hamparan Perak, juga ada dua sumur bor lagi yaitu di Desa Hamparan Perak dan KampungDesa Terjun. Namun, keduanya sudah tidak berfungsi lagi.

“Penyebabnya banyak. Salah satunya anak-anak terkadang nakal, suka memasukkan benda-benda ke dalam pancuran. Akibatnya pancuran sumbat dan rusak,” kata Arif.

Arif menuturkan, berdasarkan cerita orangtuanya dulu, selain sumur bor, sarana lain yang dibangun adalah jembatan penghubung antardesa dan kelenteng untuk sembahyang umat Budha.

Jembatan penghubung antardesa yang dimaksudkan Arif kini sudah tidak ada berkasnya lagi. Dulunya jembatan ini mempunyai dua jalur, yakni jalur untuk muntik (lori) dan jalur pedati. Baik muntik dan pedati ini digunakan untuk mengangkut tembakau dari dan menuju Desa Bulu Cina dan Desa Klambir.

“Tak hanya jembatannya saja yang sudah hilang, sungai yang mengaliri desa ini juga sudah tercemar. Waktu masih kecil, ikan dan udang masih ada di sungai ini. Tetapi sekarang, tak ada lagi yang hidup karena tercemar. Pokoknya sudah banyak berubah. Mirip nasib perusahaan kebun ini,” kata Arif.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s