Yang Tersisa dari Kejayaan Tembakau Deli, Gudang Pemeraman di Kebun Helvetia Jadi Saksi Kejayaan (Bagian 2)

GUDANG pemeraman tembakau Deli yang terletak di Jl. Klambir V Helvetia Wilayah Kelambir Lima, Kecamatan Hamparan Perak adalah salah satu saksi kejayaan Tembakau Deli yang tersisa saat ini. Di kecamatan Hamparan Perak ini masih ada dua gudang lagi yang aktif yakni gudang pemeraman di di Kebun Bulu Cina dan Kebun Klumpang.

Bangunan semi permanen yang sudah ada sejak zaman Belanda ini masih terawatt baik. Terdapat dua buah ruangan besar yang digunakan untuk pemrosesan tembakau yang disebut gudang bawah dan gudang atas.

Luas gudang atas lebih besar dibandingkan gudang bawah. Karena bekas peninggalan Belanda, gaya bangunan gudang ini berbentuk gaya Hindia Belanda yang bercitra kolonial yang disesuaikan dengan lingkungan lokal, iklim dan material yang tersedia pada masa itu.

Gambar

GUDANG PEMERAMAN – Gudang pemeraman Tembakau Deli yang terletak di Jl. Klambir V Helvetia Wilayah Kelambir Lima, Kecamatan Hamparan Perak. Gudang ini adalah satu saksi kejayaan Tembakau Deli yang tersisa saat ini. Foto diambil pertengahan Oktober 2011. (foto: truly okto purba)

Asisten Umum (Humas) Kebun Helvetia, David Ginting mengatakan, secara umum ada empat tahap penanaman  tembakau Deli yang rutin dilakukan PTPN II sejak pengolahan tanah hingga pengiriman.

Tahap I adalah Buitteenwerk yakni pengolahan tanah pendahuluan yang memakan waktu 50-60 hari. Buitteenwer dikerjakan setelah sebelumnya selama dua hingga tiga tahun. Lahan tembakau terlebih dahulu ditanami pohon Crotalaria sp. Pohon-pohon Crotalaria dibersihkan sedangkan daun-daunnya yang berguguran menjadi humus untuk lahan tembakau. Tahapan ini biasanya berlangsung mulai bulan Desember hingga Februari.

Kemudian tahap II yakni pertanaman tembakau mulai bulan Maret. Tiga kegiatan yang dilaksanakan di tahap ini yakni penanaman tembakau, masa panen (pemetikan) dan pengeringan tembakau yang menghabiskan waktu 80 hari. “Setelah ditanami selama 40 hari, daun tembakau sudah bisa dipetik.

Setiap batang pohon tembakau terdapat 20-an daun tembakau, namun hanya 14-18 daun yang bisa dipanen. Pemetikan daun tembakau berlangsung setiap tiga hari dengan jumlah daun yang dipetik sebanyak dua lembar,” kata David.

Selanjutnya masuk ke tahap III yakni memproses tembakau di gudang pemeraman yang berlangsung mulai bulan Mei. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di tahap ini yakni fermentasi (mematangkan) tembakau, sortasi (menyortir) tembakau mulai dari membelah tembakau yang telah matang dan menyortirnya berdasarkan warna-warna tembakau, fermentasi staple warna dan penyaringa. Kegiatan penyaringan dilakukan untuk melihat apakah ada tembakau yang mengalami kesalahan kecil pada kegiatan penyortiran. Waktu yang dibutuhkan di tahapan III sebanyak 181 hari.

Gambar

MEMPROSES TEMBAKAU DI GUDANG – Ratusan pekerja memproses di Gudang Pemeraman Klambir 5, Hamparan Perak, Deli Serdang, pertengahan Oktober 2011. Pemrosesan tembakau ini terdiri dari tahap fermentasi (mematangkan) tembakau, sortasi (menyortir) tembakau mulai dari membelah tembakau yang telah matang dan menyortirnya berdasarkan warna-warna tembakau, fermentasi staple warna, penyaringan dan pembungkusan (packing). (foto: truly okto purba)

Gambar

MEMPROSES TEMBAKAU DI GUDANG – Ratusan pekerja memproses di Gudang Pemeraman Klambir 5, Hamparan Perak, Deli Serdang, pertengahan Oktober 2011. Pemrosesan tembakau ini terdiri dari tahap fermentasi (mematangkan) tembakau, sortasi (menyortir) tembakau mulai dari membelah tembakau yang telah matang dan menyortirnya berdasarkan warna-warna tembakau, fermentasi staple warna, penyaringan dan pembungkusan (packing). (foto: truly okto purba)

Gambar

MEMPROSES TEMBAKAU DI GUDANG – Ratusan pekerja memproses di Gudang Pemeraman Klambir 5, Hamparan Perak, Deli Serdang, pertengahan Oktober 2011. Pemrosesan tembakau ini terdiri dari tahap fermentasi (mematangkan) tembakau, sortasi (menyortir) tembakau mulai dari membelah tembakau yang telah matang dan menyortirnya berdasarkan warna-warna tembakau, fermentasi staple warna, penyaringan dan pembungkusan (packing). (foto: truly okto purba)

 Ketika kegiatan menyaring selesai, dilanjutkan dengan packing. Kemasan tembakau Deli yang sudah selesai diproses dibungkus dengan menggunakan tikar purun dari Kalimantan. Ukurannya per lembar 83 x 120 cm. Satu bal (70-80 kg) memakai empat lembar tikar. Untuk packing luar menggunakan tikar sedangkan packing dalam menggunakan kertas.

“Tahapan terakhir atau tahap IV adalah delivery. Tembakau-tembakau ini disimpan terlebih dahulu di gudang. Dan jika ada konsumen yang membeli, barulah dikirim. Total hari yang dibutuhkan sejak pengeringan hingga packing di gudang pemeraman sekitar 180 hari atau sembilan bulan. Jumlah hari ini diluar penanaman, pemetikan dan pengiriman (delivery),” ujar David.

Ketika saya datang ke gudang pemeraman ini pertengahan Oktober 2011, tahapan III inilah yang sedang berlangsung. Kegiatan yang paling sibuk terlihat jelas di gudang bawah. Di gudang ini, ada 150-an buruh perempuan dengan rentang usia 20-an hingga 60-an. Kesan rapi terlihat ditunjukkan para buruh lewat kemeja putih dan kain sarung. Kemeja putih dan kain sarung penjadi seragam yang wajib digunakan buruh setiap harinya. Ada pertimbangan khusus mengapa warna putih dipilih sebagai warna kemeja.

“Di gudang ini tembakau-tembakau yang sudah selesai dibelah disortir lagi berdasarkan warna-warnanya, yakni merah, hijau, kuning dan minyak. Meskipun warnanya kelihatan sama, tetapi sebenarnya berbeda. Biar kelihatan bersih dan warnanya bisa dibedakan dengan warna tembakau, dipilihnya kemeja berwarna putih,” kata Yustika (48) seorang buruh sistem borongan asal Desa Bulu Cina.

Yustika mengatakan, dirinya bekerja di gudang pemeraman di Kebun Helvetia sejak Agustus 2011. Bekerja di gudang pemeraman tembakau bukanlah pekerjaan pertama yang dilakoni Yustika sepanjang hidupnya. Selain sebagai buruh tembakau, Yustika juga pernah berdagang. Namun, Yustika berdagang kalau kegiatan di gudang pemeraman sudah kosong. Ketika kegiatan di gudang aktif kembali sekitar bulan Mei, ia pun kembali bekerja.

Sejak tahun 1980, Yustika yang lahir tahun 1964 ini sudah bekerja di gudang pemeraman tembakau, namun lokasinya bukan di gudang Kebun Helvetia, melainkan di Kebun Bulu Cina.

Tugas Yustika saat ini membelah tembakau yang sudah selesai difermentasi (dimatangkan). Dengan jam kerja mulai pukul 07.00 wib hingga 16.00 wib (istirahat pukul 12.30-13.00 wib), Yustika mampu membelah 6-7 tumpuk tembakau Deli.

Ratih (33), rekan kerjanya, bertugas menyortir daun tembakau yang telah dibelah berdasarkan warna-warna yang ada. “Itulah sebabnya kenapa kami memakai baju berwarna putih. Tujuannya, biar kami tak salah membedakan warnanya. Kalau bajunya berwarna gelap, agak susah membedakannya dengan warna tembakau,” kata Ratna.

Setiap hari sebelum pukul 06.30 wib, Yustika dan Ratna yang rumahnya tidak berjauhan di Desa Bulu Cina, sudah dijemput dengan bus khusus PTPN II untuk diantarkan ke gudang pemeraman di Kebun Helvetia.

Demikian juga saat pulang bekerja sekitar pukul 16.00 wib. Bagi pekerja yang rumahnya tidak jauh dengan gudang pemeraman, ada yang datang dengan menggunakan angkutan kota, naik sepeda maupun berjalan kaki.(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s