Yang Tersisa dari Kejayaan Tembakau Deli, Dari 30 Ribu Ladang Tersisa 750 Ladang (Bagian 3-Habis)

Gambar

SIAP DIPASARKAN – Tembakau Deli yang sudah melewati proses fermentasi, sortir dan pembelahan di Gudang Pemeraman. Tembakau ini siap untuk dipasarkan di luar negeri. Foto diambil pertengahan Oktober 2011. (foto: truly okto purba)

KETIKA pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi terhadap semua aset Belanda, termasuk perkebunan tembakau sekitar 1950-an, perkebunan tembakau Deli resmi dikelola oleh pemerintah Indonesia melalui PTP IX. Pada tahun 1996, pemerintah menggabungkan (merger) PTP IX dan PTP II. Saat itu PTP II berkantor pusat di Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Setelah merger dan berubah nama menjadi PTPN II, kantor pusat ditetapkan di Tanjung Morawa, Deli Serdang.

Kepala Urusan Hubungan Masyarakat PTPN II, Rachmuddin menjelaskan, di awal-awal nasionalisasi, terdapat sembilan kebun tembakau Deli milik PTPN II yang masih beroperasi. Sembilan kebun tersebut terdapat di tiga kecamatan dan dua kabupaten. Kebun-kebun tersebut adalah Kebun Helvetia, Kebun Klambir Lima, Kebun Klumpang, Kebun Bulu Cina, Kebun Tandem Hulu dan Kebun Tandem Hilir di Kecamatan Hamparan, Deli Serdang. Kemudian Kebun Kuala Bingei dan Kuala Begumit di Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat. Satu kebun lagi adalah Kebun Sampali di Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang. Total ladang yang tercakup di Sembilan kebun ini sebanyak 30 ribu ladang.

“Konflik berkepanjangan yang terjadi antara PTPN II (PTP IX) dengan masyarakat di sekitar perkebunan yang menganggap lahan PTPN II merupakan lahan adat, menjadi salah satu penyebab berkurangnya lahan tembakau Deli,” kata Rachmuddin, pertengahan Oktober 2011 lalu.

Sejak tahun 2000 hingga saat ini, kata Rachmuddin, dari sembilan kebun, hanya tersisa tiga kebun saja dan kesemuanya berada di Kecamatan Hamparan perak, Deli Serdang. Kebun tersebut adalah Kebun Helvetia, Kebun Klumpang dan Kebun Bulu Cina.

Sebenarnya ada satu kebun lagi yakni Kebun Klambir Lima, namun manajemen memutuskan untuk menggabungkan Kebun Klambir Lima ke Kebun Helvetia. Praktis, saat ini Kecamatan Hamparan Perak adalah satu-satunya kecamatan yang menjadi penghasil tembakau bagi PTPN II.

“Hingga akhir tahun 2007, berdasarkan catatan PTPN II, luas tembakau Deli hanya sekitar 12.816 ha yang terdiri dari 30 ribu ladang atau 5 persen dari luas areal pada masa sebelum Perang Dunia II. Saat ini jumlahnya sudah berkurang drastis menjadi 600 hektar atau sekitar 750 ladang,” kata Rachmuddin.

Menurut Rachmuddin, faktor penyebab lain berkurangnya lahan tembakau Deli adalah konversi tanaman tembakau ke komoditi tebu dan kelapa sawit.

“Kampanye anti rokok yang sangat kencang di luar negeri juga ikut mengurangi produksi tembakau Deli. Karena volume permintaan dari luar negeri berkurang, produksi tembakau juga berkurang dan lahan juga banyak yang tidak ditanami. Namun, di tengah keterbatasan lahan yang ada, PTPN II tetap melakukan penanaman tembakau Deli sebagai salah satu komoditis selain tiga komoditi lainnya: sawit, tebu dan karet,” kata Rachmuddin.

Tembakau Deli yang diproduksi PTPN II memiliki lima kelas output (hasil akhir) yakni Lelang Bremen, NIS (Nobel Inspection Sumatera), SUS-DEK (Suzzament Dekblat), SUS-Viller (direct) dan Che Wing Tobacco (tembakau kunyah). Khusus untuk kelas Lelang Bremen, NIS, SUSDEK, dan SUS-Viller pasarnya adalah kelas Eropa, sedangkan kelas Che Wing, pasarnya adalah Amerika.

Untuk sistem penjualan, kelas Lelang Bremen berlaku sistem penjualan in direct (tidak langsung) dan kelas NIS, SUS-DEK, SUS-Viller dan Che Wing Tobacco berlaku sistem penjualan direct (langsung).

Rachmuddin mengatakan, khusus untuk Lelang Bremen, perusahaan hanya menerapkannya sampai tahun 2010 saja. Perusahaan memiliki badan usaha yang bermitra dengan pihak Bremen. Setelah itu, tembakau Deli dikirim ke Bremen. Tetapi untuk efisiensi biaya, sejak tahun 2011, perusahaan memutuskan kelas Lelang Bremen bisa dibeli secara langsung ke Medan. Meskipun demikian, sistem yang berlaku tidaklah direct, melainkan tetap in direct. Dalam hal ini, perusahaan hanya memperlihatkan sampelnya saja.

“Setelah itu mereka (konsumen) menilai dan mereka maunya tembakau seperti apa. Setelah itu, kita mempersiapkan tembakau sesuai keinginan mereka dan mereka datang lagi untuk melihat hasil yang kita persiapkan. Mereka akan mengecek kembali dan kalau cocok mereka akan beli,” ujar Rachmuddin.

Rachmuddin mengatakan, tahun 2010, produksi daun tembakau Deli mencapai 70.438.560 lembar untuk daun hijau dan 130.220 kg daun kering. Sedangkan tahun 2011, PTPN II menargetkan produksi daun hijau sebanyak 97.044.000 lembar dan daun kering sebanyak 186.676 kg. “Yang kita jual ke pasaran tetap daun kering atau daun tembakau yang sudah diproses di gudang pemeraman. Rata-rata harga penjualan saat ini adalah 30 euro per kg. Harga ini sudah naik sekitar 12 euro per kg,” katanya.

Tembakau Deli adalah komoditi yang pernah berjaya dan sudah kesohor sampai ke seluruh dunia. Meski upah buruh tembakau Deli saat ini tidak sebanyak saat zaman Belanda dulu, air sumur bor kebon tidak sederas dulu dan lahan sudah banyak yang berkurang, namun PTPN II tetap mempertahankan keberadaan tembakau Deli sebagai komoditi yang dijual selain sawit, tebu dan karet.

Dikatakan Rachmuddin, PTPN II akan mengimbanginya dengan peningkatan kualitas tembakau dan menghasilkan varietas-varietas baru sehingga produksi semakin banyak dan harganya tetap tinggi.

“Kita yakin, kualitas tembakau Deli masih yang terbaik untuk pembalut cerutu saat ini. Adanya pasar tembakau di Asia menjadi peluang bagi PTPN II untuk memperluas pasar tembakau Deli,” katanya.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s