Cerita Petani Tembakau Temanggung, Kalau Rokok Haram Masjid Kami Juga Haram

LADANG TEMBAKAU – Hamparan ladang tembakau di desa Petarangan, kecamatan Kledug, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Foto diambil pertengahan Juni 2011. (foto: truly okto purba)

BAGI petani tembakau di Temanggung, tembakau tak hanya sekadar komoditi untuk menghidupi keluarga sebatas makan dan minum. Lebih dari itu, bagi petani Temanggung, tembakau telah mengangkat kehidupan petani di Temanggung ke taraf yang lebih tinggi. Tembakau pula yang membuat sejumlah desa di Temanggung memiliki berbagai insfrastruktur.

Pada Sabtu (11/6/2011), selama seharian penuh, saya berkesempatan mengunjungi tiga desa di tiga kecamatan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah yaitu desa Petarangan, kecamatan Kledug, desa Legok Sari kecamatan Telogo Mulyo dan  desa Campurjo, kecamatan Tretep. Ketiga kecamatan tersebut dikenal sebagai sentra penghasil tembakau yang memasok belasan ribu ton tembakau setiap tahunnya untuk tiga perusahaan raksasa rokok di Jawa Tengah dan Jawa Timur yakni Gudang Garam, Djarum dan Bentoel.

Saya berdiskusi dengan belasan petani tembakau yang saya temui di tiga desa tersebut. Antara lain dengan Pak Timbul (40), Pak Sujari (43), Pak Sugianto (38) dan Pak Suyanto (67) di desa Petarangan, dengan Pak Supadin (45), Pak Slamet (40) dan Pak Salim (45) di desa Legok Sari. Lalu dengan Pak Gustiawan (35), Pak Muhairi (50) dan Ibu Aryanti di desa Campurjo.

KANTOR KADES – Saya berfoto di depan kantor kepala desa (kades) Legok Sari kecamatan Telogo Mulyo, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Menurut warga, biaya pembangunan kantor kades ini turut dibiayai lewat swadaya dari iuran hasil penjualan tembakau petani di desa tersebut. Foto diambil pertengahan Juni 2011. (foto: istimewa)

Sampai di tiga desa tujuan, saya berkesempatan melihat seperti apa kondisi kehidupan para petani di tiga desa tersebut. Dari mulai rumah, fasilitas seperti masjid, jembatan, jalan, sekolah dan balai pertemuan desa. Kesimpulan saya, semuanya sudah terbangun dengan baik. Mayoritas rumah petani adalah rumah semi permanen dan permanen. Rumah-rumah permanen di bangun dengan konsep berlantai dua, namun bagian atas (lantai dua) dibiarkan kosong karena dimanfaatkan sebagai area untuk menjemur tembakau. Fasilitas jalan dan jembatan penghubung antardesa juga terbangun dengan baik.

“Kami tak hanya bisa membangun rumah permanen, kami juga bisa membeli mobil, motor, perlengkapan elektronik termasuk menyekolahkan anak-anak kami hingga perguruan tinggi dari hasil bertani tembakau,” kata Suyanto.

Suyanto mengatakan, petani tembakau yang ada di desa Petarangan tak hanya mampu membangun rumah, beli mobil dan motor. Tetapi dengan cara swadaya, para petani mengumpulkan uang hasil penjualan tembakau untuk membangun fasilitas jembatan penghubung. “Sekarang transportasi kami ke kota semakin mudah. Hasil-hasil panen bisa diangkut ke kota dengan lancar,” kata Suyanto.

Sistem swadaya untuk membangun fasilitas desa juga diterapkan di desa Legok Sari. Kepala Desa Legok Sari, Supadin mengatakan, setiap tahunnya, para petani secara swadaya mengumpulkan iuran sebesar Rp 1.025.000 untuk membangun fasilitas-fasilitas desa seperti masjid ataupun sekolah. “Di desa Legok Sari, ada sekitar 400 petani. Dengan iuran Rp 1.025.000 per tahunnya, kami bisa mengumpulkan iuran lebih dari Rp 400 juta,” kata Supadin.

Uang sebanyak ini, kata Supadin, dipergunakan untuk membangun masjid dan membangun SD Negeri. SD Negeri yang kami bangun  saja menghabiskan biaya Rp 500 juta. Bahkan kami juga bisa naik haji dari hasil bertani tembakau,” ujar Supadin.

Kondisi yang sama juga terjadi di desa Campurjo. Muhairi mengatakan, keterlibatan pabrikan tembakau membeli tembakau petani mampu memperbaiki taraf hidup warga di desa Campurjo. Sebelum pabrikan masuk, rumah-rumah warga di desa Campurjo hanya berdinding tepas. Kini setelah pabrikan membeli tembakau petani, rumah-rumah petani pun sudah berubah menjadi lebih baik lagi dari tepas menjadi beton dan berlantai dua.

Kepala Desa Campurjo, Gustiawan mengatakan, masa tanam tembakau di temanggung adalah April hingga November. Normalnya, untuk dipanen, tembakau membutuhkan waktu enam bulan dengan masa panen sebanyak tiga kali. Dikatakan Gustiawan, waktu yang dibutuhkan untuk tiga kali masa panen adalah dua bulan.

Selama dua kali masa panen ini, kata Gustiawan, tembakau yang dipanen dan dijual bisa mencapai 19 ribu ton. Dengan harga penjualan rata-rata Rp 50 ribu per kg, maka uang yang berputar di Temanggung selama dua bulan bisa mencapai Rp 1 triliun. “Jauh lebih besar dari APBD Temanggung tahun 2010 yang hanya Rp 625 miliar,” ujar Gustiawan.

Kepala Desa Legok Sari, Supadin mengungkapkan, atas dasar kemakmuran yang telah dirasakan petani, maka para petani tembakau rela mempertahankan keberadaan tembakau ditengah bayang-bayang RUU Kesehatan yang salah satu pasalnya yakni pasal 113 ayat (2) yang menyebut tembakau sebagai zat adiktif penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan/atau masyarakat sekelilingnya.

Pasal dalam RUU ini, kata Supadin semakin menguatkan hasrat banyak pihak agar keberadaan tembakau dihilangkan dan para petani beralih menanam komoditi lain yang jelas-jelas tidak sesuai dengan struktur tanah di Temanggung.

“Ketika tembakau hilang dan rokok dinyatakan haram, maka masjid kami juga haram dan naik haji kami juga tidak berkah karena biaya membangun masjid dan membiayai naik haji dari hasil menjual tembakau,” kata Supadin.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s