Lebih Dekat dengan Perokok Pelajar di Kota Medan, Telah Merokok Sejak Duduk di Bangku SD (Bagian 1)

ILUSTRASI rokok. (foto: antaranews.com)

PANGGIL dia Santi. Usianya baru 16 tahun, kelas 2 di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) elite di Medan. Dia vokalis sebuah band beraliran rock di Medan sejak setahun lalu. Sore itu, bersama Dino, Bayu, dan Rahman, kawan-kawannya di grup band, Santi bersiap-bersiap berlatih. Jreng…..! Suara gitar melengking.

Seperti biasa, mereka melakukan cek peralatan. Amplifier, pengeras suara diperiksa, tak boleh ada yang cempreng. Harus sempurna. Sembari bekerja, rokok menjadi teman setia mereka.  Rahman, sang gitaris, misalnya, tangan kanannya memegang senar gitar dan jari di tangan kirinya menjepit rokok bermerk X-Mild. Sesekali rokok itu diisapnya.

Santi tak ketinggalan. Tangan kanannya menggenggam mikrofon, sedang jari di tangan kirinya menjepit sebatang rokok LA Light. Rokok LA Light pelan diisap Santi saat istirahat. “Sudah biasa kalau mau latihan. Cuma sebatang, kok. Biar lebih enjoy,” kata Santi.

Rahman belum terlalu lama jadi perokok. “Baru tiga bulan ini. Sebenarnya ngikut dari mereka sih,” kata Rahman. “Aku lihat, kayaknya keren juga kalau merokok. Kayak yang ada di iklan-iklan itulah,” katanya sambil melirik ke arah Santi, Doni, dan Bayu.

Lain halnya Santi. Bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku sudah merokok sejak usia 15 tahun, atau ketika dia duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Waktu ikut nonton acara musik sama teman-teman sekelas, ada sales promotion girl yang nawarin rokok gratis,” kata Santi. “Mulanya  yang ditawarin temanku yang laki-laki. Terus, biasalah, aku dibujuk sama temanku untuk nyoba dulu,” katanya. Lalu, “Waktu sales girl itu datang lagi, aku coba minta. Eh, dikasih.”

Maka, jadilah Santi keterusan jadi perokok beneran. Santi dan Rahman hanyalah segelintir contoh pelajar di metropolis ini yang sudah merokok di usia yang tergolong dini.

Sebenarnya, ada ratusan atau bahkan ribuan pelajar lainnya yang senasib dengan Santi dan Rahman, merokok di usia dini.  Ini bukan kesimpulan kosong. Berbagai riset telah membuktikan hal ini. Hasil riset Global Youth Tobacco Survey, World Health Organization, tahun 2006, misalnya, menunjukkan adanya 24,5 persen  perokok aktif pada kelompok remaja laki-laki (13-15 tahun) di Indonesia.

Kondisi Medan pun tak jauh berbeda. Bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Kantor Berita Pena Indonesia, dan Campaign for Tobacco Free Kids, dalam program beasiswa peliputan pengendalian rokok, saya menyelenggarakan survei perilaku remaja perokok di Kota Medan, pada September 2008 lalu.  Saya menyelenggarakan survei terhadap 100 pelajar laki-laki dan perempuan di SMP dan SMA di Kota Medan. Dengan metode area random sampling, survei dilakukan pada delapan dari 21 kecamatan yang dianggap cukup mewakili.

Dengan tujuan meneliti perilaku remaja perokok, sampel yang dipilih adalah para pelajar yang sudah merokok. Sampel dipilih dengan metode purposive sampling (sampel yang sudah ditunjuk) untuk memastikan bahwa responden adalah perokok. Survei ini memang tidak dirancang mengikuti standar akademis murni. Namun, survei ini bisa memberikan gambaran kasar tentang perilaku remaja perokok di Medan. Kami juga menyarankan agar lembaga akdemis terkait untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang hal ini.

Hasil survei cukup mengejutkan. Tercatat ada 48 persen responden yang inisiasi (usia pertama kali) merokok adalah sejak usia SMP (13-15 tahun). Padahal, persentase perokok aktif pada kelompok remaja laki-laki (13-15 tahun) di tingkat nasional berdasar survei GYTS adalah 24,5 persen. Dengan demikian, ada indikasi bahwa angka perokok remaja di Medan melampaui angka nasional.

Lebih memprihatinkan lagi, sebagian pelajar kota Medan telah mengenal rokok sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hasil survei menunjukkan hal itu. Tercatat ada 13 persen responden yang  pertama kali merokok ada pada usia 11-12 tahun. Lebih parah lagi, tercatat ada 15 persen responden yang merokok pertama kali pada usia 8-10 tahun. Ini berarti mereka pertama merokok ketika baru  duduk di kelas 2 sampai 4 SD.

Survei ini juga mencatat ada 34 persen responden yang mengisap rata-rata 3-5 batang rokok per hari. Jika per batang Rp 500, maka setiap hari anak-anak ini menghabiskan Rp 1.500 – 2.500 per hari. Tercatat pula kelompok perokok yang lebih berat, yakni 32 persen responden dengan rata-rata konsumsi 6-8 batang rokok per hari. Kelompok ini menghabiskan sekitar Rp 3.000 – 4.000 saban hari untuk rokok.

M Zahrin Piliang, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumut, menyatakan keprihatinannya dalam menanggapi hasil survei. Tingginya perokok di usia dini di Medan, menurut Zahrin, adalah bukti makin mudahnya dan makin luasnya akses anak-anak Medan terhadap rokok.  Di jalanan pun kita terbiasa menyaksikan remaja berpakaian seragam merokok dengan santai. Susahnya, kata Zahrin, “Masyarakat menganggap hal ini bukan persoalan serius.”

Menurut Zahrin, ada banyak hal yang menyebabkan anak-anak mudah mengakses rokok. “Dimulai dari lingkungan terdekat si anak,” katanya. Ayah, kakak, atau paman seorang perokok, misalnya, kerap menyuruh anak untuk membeli rokok. Tak jarang pula rokok dibeli dengan eceran. “Misalnya, hari ini beli tiga batang saja, uang kembalian  bisa diambil si anak,” kata Zahrin. Lalu, besok-besok, si anak tidak lagi membeli tiga batang, tapi empat rokok batang. Sebatang rokok disisakan untuk dia.

Penuturan Zahrin memang benar. Hasil survei ini menunjukkan adanya 6 persen responden yang mengaku merokok karena mendapatkannya dengan gampang, cukup dengan beli eceran. “Beli sebatang aja sudah bisa. Cukup dengan modal gopek, lima ratus rupiah, sudah bisa dapat rokok,” kata Wahyu, bukan nama sebenarnya, responden yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA.(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s