Workshop Citizen Reporter Tribun di Kampus UMA, Mari Menulis Setengah Jam Sehari

Gambar

BAWAKAN MATERI – Saya membawakan materi Sejarah dan Seluk Beluk Citizen Reporter dalam acara Workshop Citizen Reporter Bersama Tribun Medan di Ruang Serbaguna FISIP UMA, Senin (8/10/2012). Sebanyak 43 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen ikut dalam workshop ini. (foto: ayu prasandi)

SENIN (8/10/2012), untuk kali ketujuh, saya kembali menjadi pemateri dalam Workshop Citizen Reporter Bersama Tribun Medan. Bulan ini, yang menjadi tuan rumah penyelenggara adalah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Medan Area (FISIP UMA). Kampus UMA menjadi kampus ketujuh yang didatangi Tribun terkait workshop ini. Enam kampus yang sebelumnya sudah didatangi Tribun adalah: Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB), Universitas Darma Agung (UDA), Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) IBBI dan Universitas HKBP Nommensen.

Saya membawakan dua meteri dalam workshop di UMA, pertama Sejarah dan Seluk Beluk Citizen Reporter dan Praktek Penulisan Citizen Reporter. Selain saya, pemateri lainnya adalah Koordinator Liputan Tribun, Perdata Ginting yang membawakan materi Tribun Medan di Era Digital. Cukup berbeda dibandingkan enam kampus sebelumnya. Di kampus yang berlokasi di Jl. Kolam, Medan Estate, dari 43 peserta yang berpartisipasi, tujuh orang adalah dosen dari berbagai fakultas.

Secara pribadi, saya respek dengan antusias yang diperlihatkan civitas akademika UMA dalam workshop ini, khususnya kalangan dosen. Bahkan, sebagian besar dosen ikut berpartisipasi sejak awal hingga akhir workshop.

Sama seperti di kampus-kampus lain, pada awalnya, seluruh mahasiswa yang menjadi peserta masih malu-malu untuk bertanya, berdiskusi atau sekadar member masukan saat saya selesai membawakan materi. Tetapi ketika Pak Novri (dosen FISIP) bertanya, barulah pertanyaan dari kelompok mahasiswa mengalir lancar bak air hujan.

Meskipun materi yang saya bawakan seputar citizen reporter, tetapi pertanyaan peserta tak melulu soal citizen reporter. Kebijakan-kebijakan redaksi dan bisnis yang sangat dalam pun dikorek peserta hingga mendalam. Peserta antara lain bertanya seputar kiat-kiat Tribun sehingga mampu menjadi salah satu pemimpin pasar media di Sumut mengalahkan media-media tua yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

Pertanyaan lainnya mengenai kebijakan harga Rp 1.000. Peserta heran, bagaimana mungkin Tribun meraih untung jika harga koran hanya Rp 1.000. Padahal mereka juga tau, bahwa harga tersebut tak bisa menutupi biaya produksi di percetakan. Ada lagi pertanyaan, kenapa Tribun tidak memuat rubrik Opini seperti pada kebanyakan koran di Medan dan nasional. Semua pertanyaan ini saya dan Perdata jawab dengan jelas.

Seperti biasa, untuk materi terakhir, saya memberi tugas kepada peserta untuk menulis sebuah citizen reporter. Saya memberi pilihan kepada peserta untuk memilih topik apapun yang mereka mau seperti: kegiatan fakultas, kegiatan BEM, laporan pandangan mata (hujan, gempa bumi, banjir, kerusuhan), laporan perjalanan wisata ataupun public service (air PDAM, listrik dan jalan rusak).

Kesimpulannya, pada umumnya para peserta sudah mampu menulis atau membuat berita sederhana dengan baik. Mampu memahami unsur berita (5w+1H) dan menerapkannya dalam berita yang mereka tulis. Beberapa perbaikan yang harus dibenahi adalah: pemilihan topik tulisan, ejaan yang disempurnakan (EYD), pemilihan kata, struktur kalimat dan struktur paragraf.

 Saya percaya dengan terus berlatih dan berlatih, maka kemampuan menulis akan semakin baik. Motivasi inilah yang selalu saya berikan pada setiap workshop. Terus berlatih ini adalah jawaban dari peserta yang bertanya, bagaimana agar kemampuan menulis lebih baik dan bagaimana agar tertarik untuk menulis.

Saya meminta kepada peserta untuk menyisihkan waktunya setengah jam setiap hari untuk menulis. Silakan menulis apa saja, apapun yang terlintas dalam benak ataupun yang terlewat dari depan mata setiap hari. Saat menemukan ide, tulislah ide tersebut di buku catatan ataupun di handphone. Nah, ketika sampai di rumah, tuangkanlah ide tersebut menjadi sebuah tulisan.

Satu hal lagi, bentuklah komunitas-komunitas kecil dalam dunia penulisan. Saya menyarankan ini kepada peserta. Dengan membentuk komunitas, maka ada teman berdiskusi dan belajar. Bukan tidak mungkin komunitas kecil ini bisa menjelma menjadi pers kampus yang disegani di Medan dan Indonesia. “Kalau Suara USU ataupun Teropong UMSU bisa, maka kalian pun harus bisa mewujudkannya,” kataku.

Gambar

FOTO BERSAMA – Para peserta (mahasiswa dan dosen) dan perwakilan Tribun berfoto bersama usai mengikuti workshop di Ruang Serbaguna FISIP UMA, Senin (8/10/2012). Sebanyak 43 peserta ikut dalam kegiatan ini. (foto: ayu prasandi)

Di akhir materi, saya memilih tiga peserta yang tulisannya saya nilai terbaik dan layak muat untuk diterbitkan di rubrik Citizen Reporter Tribun Medan. Ketiganya adalah Habibi (FISIPOL) dengan judul tulisan Angin Putting Beliung Rusak Ratusan Rumah Warga, Mailinda Paramita Sari (FISIPOL) dengan judul tulisan Jalan, Perlu Kita Perhatikan, dan Wan Lidya Elvira (PSIKOLOGI) dengan judul tulisan Liburan di Tambak Pak Wan Baros. Selamat, sampai jumpa di workshop berikutnya.(*)

2 responses to “Workshop Citizen Reporter Tribun di Kampus UMA, Mari Menulis Setengah Jam Sehari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s