Tiga Puluhan Tahun Menyemai Hidup

ULTAH DI PUNCAK – Kenangan enam tahun lalu saat merayakan ulang tahun ke-26 di Puncak Gunung Sibayak, tahun 2006 bersama teman-teman dari GEMPITA Unika Santo Thomas. Foto diambil Oktober tahun 2006. (foto: dok pribadi)

JUMAT (9/3/2012) lalu, saya tak melewatkan seluruhnya tayangan audisi Indonesia Idol 2012. Ada satu cuplikan audisi yang membuat hati saya terenyuh. Dalam cuplikan tersebut, Om Felix Marigka menjadi peserta yang ikut audisi. Dari segi usia, Om Felix sudah tidak memungkinkan lagi. Usianya sudah 65 dan melanggar syarat batasan usia yang ditetapkan panitia.

Tetapi, pihak panitia akhirnya memperbolehkan peserta kelahiran Jakarta asal Sulawesi tersebut untuk memperlihatkan kebolehannya di hadapan tiga dewan juru (Dhani Dewa, Agnes Monica, Anang. Saya menikmati adegan demi adegan yang diperlihatkan Om Felix mulai dari pintu masuk ruangan, masuk ruang audisi, bernanyi hingga berkomunikasi dengan para juri.

Melihat usianya yang sudah 65 tahun, dan bulan selanjutnya (bulan April 2012) akan berusia 66 tahun, saya sangat terharu. Dengan cukup lancar, Om Felix menyanyikan lagu What A Wonderful World yang pernah dipopulerkan oleh Louis Armstrong dan Rod Stewart. Ketiga anggota dewan juru pun tersenyum dan terlihat santai menikmati penampilan Om Felix. Ketiganya bahkan ikut bernyanyi.

Namun bukan hanya karena usia tersebut yang membuat saya terharu. Saya semakin terharu begitu mengetahui, bahwa “kenekatannya” tampil di audisi Indonesian Idol semata-mata karena begitu cintanya ia kepada istrinya dan memenuhi permintaan istrinya yang saat ini menderita stroke. Percakapan antara Om Felix dengan ketiga juri Indonesian Idol begitu mengesankan. Beberapa kutipan pertanyaan membuat saya semakin sangat terharu. Inilah beberapa kutipan yang membuat saya terharu:

Baby, Darling yang sedang ada di rumah. Aku sangat mencintaimu.”

“Love is the first communication. And never extend any error. Solve it right now”. Dengan nilai TOEFL yang hanya di bawah 500, hehehe, saya mengartikannya seperti ini: “Cinta adalah yang utama komunikasi. Jangan pernah memperpanjang kesalahan apa pun. Selesaikan sekarang juga”.

Lalu, apa hubungannya Om Felix dengan tulisan ini. Sabtu (20/10/2012) adalah hari jadiku (hari ulang tahunku) yang ke tiga puluhan. Tak usahlah sebut tiga puluh berapa. Yang pasti kata teman-teman di kantor, kata saudara-saudara dan kata Bapak di kampung di Pematangsiantar sana, usia ku sekarang sudah sangat-sangat matang untuk menikah.

Ibarat istri Om Felix yang memintanya untuk tampil di audisi Indonesian Idol, Bapak yang sekarang juga sedang stroke itupun pernah memintaku untuk segera menikah. Saat pulang ke kampung ataupun melalui SMS, ia sampaikan permintaan itu. Tak setiap bulan atau bahkan setiap minggu, tapi akupun tak menghitung sudah berapa kali Bapak memintanya.

Bagi Bapak, mungkin urusan menikah ingin sangat dan maha penting. Aku maklumlah. Ketika pulang ke kampung tahun 2011 lalu, beliau memilih bertanya kapan menikah. Kuliahku di pascasarjana yang tak kunjung selesai-selesai itu, sudah tak ditanya lagi. Beda waktu kuliah S1 dulu. Setiap semester, beliau sangat protect. Beliau mencari tahu ke teman-teman satu kampung yang juga kuliah di Unika Santo Thomas bagaimana aku di kampus, rajin kuliah atau tidak atau kemana saja aku pergi naik gunung atau kemping atau ikut demonstrasi. Maklum, sebagai anggota GEMPITA di kampus, kegiatanku cukup banyak, termasuk juga saat menjadi anggota GMNI. Sesekali ikut demonstrasi ala kadarnya. Tapi tak sampai jadi demonstran tulenlah.

Mengetahui anak bungsunya punya seabrek kegiatan, Bapak ku ini memang marbete-bete (merepet). “Holan nai ma ulaonmu da. Ganup ari, ganup borngin, holan na tu gunung i ma ulaonmu. Sotung gabe sursar sikkolami da amang.” (Hanya naik gunung itulah kerjamu. Setiap hari, setiap malam, terus ke gunung. Jangan sampai berantakan sekolahmu/Agak lupa ejaannya, tapi Bapak mengucapkannya dengan bahasa Simalungun yang sedikit mendayu-dayu itu)

Hahahaha, kalau sudah ngomong begini, aku senyum-senyum saja. Wajar menurutku. Maklum, saat itu beliau sudah menduda, kalau anak-anaknya yang saat itu masih kuliah berantakan, betapa malunya nanti dia di kampung sana. Syukurlah, anaknya ini nggak malu-maluin amat, tamat tepat waktu, jadi jurnalis yang jujur dan anti amplop (kecuali rekening, hahahaha, becanda), trus udah M.Si lagi. (hahahahaha, Master Segala Ilmu maksudnya).

POTONG KUE – Kenangan enam tahun lalu saat merayakan ulang tahun ke-26 di Puncak Gunung Sibayak, tahun 2006. Bersiap-siap memotong kue ulang tahun bersama teman-teman dari GEMPITA Unika Santo Thomas. Foto diambil Oktober 2006. (foto: dok pribadi)

NIKMATI KUE – Kenangan enam tahun lalu saat merayakan ulang tahun ke-26 di Puncak Gunung Sibayak, tahun 2006. Menikmati kue ulang tahun bersama teman-teman dari GEMPITA Unika Santo Thomas. Foto diambil Oktober 2006. (foto: dok pribadi)

Kembali ke urusan nikah tadi. Bagi Bapak, pencapaian title S1 barangkali sudah cukup tinggi baginya dibandingkan pendidikannya yang hanya Sarjana Muda. Karena itulah, Bapak  beranggapan menikah adalah tujuan selanjutnya. Tak mengapalah….

Tak hanya Bapak, beberapa saudara dan teman-teman juga meminta. “Sudah bisalah Trul. Pendidikan tinggi, pekerjaan baik, penghasilan cukup dan jabatan juga mapan.” (Dalam hati: tinggi, baik, cukup dan mapan itu kan relatif, hehehe). Atau komentar seperti ini: “Teman-teman seumurmu sudah banyak yang punya anak lho.”. (Soal ini komentar ini memang ada benarnya. junior-juniorku di kantor bahkan sudah banyak yang menikah dan mempunyai anak. Trus??? Gua harus bilang? Stop. Aku harus bilang, aku salut sama mereka, berani menikah di usia muda. Proud for them, mereka sangat siap, berani dan bertanggungjawab).

Ada pula komentar seperti ini: “Mau nikah umur berapa lagi. Nanti umurmu 60 tahun, anakmu masih SD.” (senyum-senyum). Atau: “Lihatlah Bapak itu, sudah tua, sudah sakit, cepatkanlah.” (Dalam hati: iya iya iya).

Diberikan Tuhan nafas kehidupan hingga saat ini, tetap dalam keadaan sehat dan rezeki yang cukup, adalah kebahagiaan yang tak ternilai yang diberikan Tuhan. Menikah satu dari banyak kisah yang akan tercipta dan kita semai di dunia ini. Tapi selama tiga puluhan tahun hidup, aku sudah menyemainya banyak kisah hidup yang penuh makna, penuh janji, penuh harapan dan bermanfaat bagi orang lain (walaupun masih sedikit).

Om Felix telah berhasil memenuhi permintaan istrinya tampil di audisi Indonesia Idol, tapi untuk sementara ini aku belum berhasil memenuhi permintaan Bapak, saudara dan teman-teman. Lalu kapan? Sabarlah. Yang pasti aku mau bilang (mengutip dan mengubah sedikit ucapan Om Felix): ““Father, Darling yang sedang ada di rumah. Aku sangat mencintaimu.”

Kepada seluruh orang-orang terkasih yang sudah hadir dalam hidup saya selama tiga puluhan tahun ini dan yang sudah mengirimkan ucapan salam, doa dan harapan melalui status di wall FB dan SMS, aku sampaikan terima kasih. Semoga perlahan-perlahan, doa dan harapan kalian bisa aku wujudkan. Tetap semangat. Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali. (mengutip pidato Ir. Soekarno/apa hubungannya ya, hahahaha).(*)

6 responses to “Tiga Puluhan Tahun Menyemai Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s