Akhirnya Karyaku Jadi Finalis Anugerah Adiwarta 2012, Bimbingan Program SPSS Jadi Awal Cerita (Bagian 2)

LIPUTAN INVESTIGATIF - Liputan ivestigatifku yang berjudul "Tesis Termahal Cuma Rp 10 Juta" yang terbit di halaman 1 Tribun Medan, edisi Selasa 10 Januari 2012. Liputan ini terpilih sebagai finalis kategori liputan investigatif Anugerah Adiwarta 2012. (foto: repro)

LIPUTAN INVESTIGATIF – Liputan ivestigatifku yang berjudul “Tesis Termahal Cuma Rp 10 Juta” yang terbit di halaman 1 Tribun Medan, edisi Selasa 10 Januari 2012. Liputan ini terpilih sebagai finalis kategori liputan investigatif Anugerah Adiwarta 2012. (foto: repro)

BULAN Juli hingga Agustus 2011 menjadi bulan-bulan tersibukku di tahun 2011. Berstatus sebagai mahasiswa pascasarjana Ilmu Manajemen di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (Sps USU), saat itu aku sedang mengerjakan bab Hasil Penelitian dan Pembahasan (Bab IV) tesisku setelah selesai kolokium pertengahan Juni 2011.

Saat mengerjakan bab IV ini, proses-proses penting yang harus kulalui adalah pengumpulan data melalui kuisioner dan mengolah data yang telah kukumpulkan dengan menggunakan bantuan SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) atau Paket Statistik untuk Ilmu Sosial.

Jujur saja, sebagai mahasiswa yang jujur (hehehe), aku mengerjakan sendiri tesis aku tanpa sedikit pun meminta bantuan orang lain untuk mengerjakannya. Sesulit apapun bagian-bagian tesis, aku berusaha untuk bertanya kepada teman-teman yang lebih mengerti. Termasuk, saat berhubungan dengan program SPSS.

Jujur juga, aku cukup lemah saat menggunakan program SPSS ini. Meski pun sempat mempelajarinya di semester I sebelumnya, tapi barangkali karena jarang dilatih, akhirnya ilmu yang “nyangkut” di semester I itu “nyangkut” entah kemana (baca: hilang).

Karena pengolahan data tesis ku harus menggunakan program SPSS, mau tidak mau aku pun harus menggunakannya. Karena sedikit lupa, aku pun tak keberatan untuk mempelajarinya. Oleh seorang teman satu kelas yang juga sedang mengerjakan tesis, sebut saja inisialnya UL (26), aku diperkenalkan dengan BR, seseorang yang bisa membimbingku tentang bagaimana caranya mengolah data tesis dari hasil kuisioner dengan menggunakan bantuan program SPSS.

Selanjutnya pada akhir Agustus, aku, UL dan BR pun bertemu di rumahnya di kawasan Padang Bulan Medan. Aku dan UL pun diajarkan sedikit, bagaimana memroses data-data kuisioner yang sudah kami peroleh di lapangan. Tak lama sebenarnya bimbingannya. Aku dan UL dibantu memroses mulai pukul 10.00 WIB dan selesai pukul 19.00 WIB. Tetapi selama proses pengerjaan data yang sembilan jam tersebut, aku melihat tiga orang yang ternyata adalah mahasiswa pascasarjana dari sebuah perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di kota ini menemui BR.

Semula aku sempat tidak curiga dan ku pikir itu hubungan pertemanan biasa. Tetapi ternyata aku salah. Antara BR dan tiga mahasiswa pascasarjana tersebut telah terjalin sebuah kontrak kerja pengerjaan tesis. Ya, BR sebagai pihak yang mengerjakan, dan si mahasiswa sebagai pihak yang minta dikerjakan (menempah). Aku berkesimpulan demikian, ketika BR sedang menemui “kliennya” ke ruang tengah, aku menanyakan kecurigaannku tersebut kepada BR. Dan BR pun menjelaskannya panjang lebar. Aku menggangguk-angguk.

Tiga mahasiswa itu tak datang bersamaan, melainkan bergantian. Ya, layaknya dosen, BR yang merupakan alumni PTN terkemuka tersebut memberikan beberapa penjelasan terkait tesis yang sudah dikerjakannya kepada mahasiswa “bimbingannya”. Pengerjaan data kuisioner kami sebenarnya bisa lebih cepat dari pukul 19.00 WIB. Tetapi karena BR sesekali harus menemui “kliennya”, maka aku dan UL pun agak terabaikan.

Di sela-sela pengerjaan data kuisioner, aku memberanikan diri menanyakan seputar pekerjaan BR yang menjadi pembuat tesis tersebut. BR tak keberatan. Dia mengakui kalau dirinya sudah hampir lima tahun menjadi pembuat tesis. BR pun menawarkan, kalau aku mau, tesisku yang tersisa dua bab lagi itu (bab IV dan V) bisa dikerjakannya. Tapi aku menolak. Aku sudah lewat setengah jalan dan setengah jalan ini aku kerjakan sendiri. Kalau setengah jalan sudah bisa, seharusnya sisanya juga bisa. Berbeda dengan temanku, UL. Sejak bab I hingga bab V, dia memang sudah menjadi klien BR. UL sendiri harus merogoh kocek sekitar 6 juta untuk pengerjaan tesis non eksakta (Ilmu Manajemen).

Cukup panjang BR bercerita tentang profesinya itu. Hebatnya, BR justru masih berpendidikan S1, tetapi kenyataanya, ia sudah bisa mengerjakan tesis yang notabene tugas akhir mahasiswa S2. Tetapi, dalam pengakuannya, BR mengatakan kalau dirinya masih lebih banyak mengerjakan tugas akhir skripsi dibandingkan tesis. Perbandingannya 70 persen skripsi dan 30 persen tesis.

Namanya juga jurnalis. Naluri jurnalistik pun muncul. “Topik liputan yang menarik,” pikirku dalam hati. Hari itu juga, aku menawarkan kepada BR, kalau aku ingin membuat praktek tempah-menempah tugas akhir. Semula BR menolak, tetapi aku bujuk terus. BR mengaku takut kalau-kalau dirinya akan berurusan dengan pihak berwajib. Tapi aku yakinkan dia kalau kekhawatirannya tersebut tidak akan terjadi. Akhirnya BR bersedia dengan alasan namanya aku inisialkan. (ya iyalah, hehehehe)

Karena memburu waktu untuk seminar II (seminar hasil), aku lebih fokus untuk menyelesaikan tesisku. Pada akhir September 2011, aku selesai seminar hasil. Kemudian, aku memperbaiki tesisku dan maju meja hijau pada akhir November 2011.

Selesai meja hijau, aku merasa punya waktu yang cukup banyak untuk mengerjakan liputan tempah menempah tugas akhir ini. Lalu sejak awal Desember 2011, kumulailah mengumpulkan data-data untuk liputan tersebut. Aku kembali mewawancarai BR, salah satu narasumber kunci dalam liputan ini. Tak hanya BR, aku juga mendapat narasumber lain yakni pelaku pembuat tugas akhir yang beroperasi di kawasan Medan Teladan dan khusus mengerjakan tugas akhir mahasiswa dari kampus-kampus di sekitar Medan Teladan sekitarnya. Keberadaan si narasumber ini aku dapatkan dari teman reporter di Tribun Medan. Teman reporter ini juga yang aku minta tolong untuk wawancara.

Di tengah proses pengumpulan data, aku teringat kepada teman seangkatanku waktu kuliah S1 dulu yang kini juga menekuni profesi sebagai pembuat tugas akhir. Sama dengan BR, temanku ini juga sempat menolak untuk diwawancarai panjang lebar. Tetapi akhirnya bersedia setelah aku yakinkan. Sepanjang petualangannya mengerjakan tugas akhir sejak tahun 2002, temanku ini mengerjakan tugas akhir mahasiswa dari kampus asal, dan dari beberapa kampus di kawasan Pancing dan Medan Baru.

Komplet. Aku merasa tiga narasumber yang berprofesi sebagai pembuat tugas akhir sudah cukup. Selain ketiganya, aku juga mewawancarai sejumlah mahasiswa baik S1 maupun S2 yang memilih menempahkan tugas akhir ke orang lain. Agar lebih berimbang, aku dengan dibantu teman-teman reporter juga melakukan konfirmasi (wawancara) dengan petinggi-petinggi kampus yang mahasiswanya disebut memesan tugas akhir dari pihak lain.

Data dari lapangan (termasuk wawancara) selesai dikumpulkan selama kurang lebih tiga minggu. Data yang kuperoleh (termasuk data yang dikumpulkan teman-teman reporter), aku baca ulang. Data yang masih kurang aku lengkapi lagi dengan melakukan wawancara. Khusus proses penulisan, aku lakukan pada awal Januari 2012. Hasilnya? Sebuah liputan investigatif yang berjudul ”Tesis Termahal Cuma Rp 10 Juta” akhirnya terbit di halaman 1 Harian Tribun Medan edisi tanggal 10-12 Januari 2012.(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s