Mamak

Kalau kutanya kenapa beli emas, jawabnya sederhana :”Mamak-mamak itu biasanya simpan emas. Kalau ada perlu-perlu, tinggal dijual saja, cepat lakunya. Makanya nanti istrimu kalau beli mas, jangan langsung dimarahi, untuk ditabungnya nya itu. (hahahahaha, amin, mudah-mudahan dapat istri begitu, pikirku),” katanya.

MATAHARI pagi yang mengintip dari balik kaca jendela kamarku bukan memaksaku untuk bangun pagi tadi. Kuambil ponsel Smartfren berfasilitas Opera Mini yang terselip di balik kasurku. Ku buka Facebook dan Twitter. Mayoritas status dan tweet teman-teman bercerita tentang Hari Ibu.

Haha, baru inget, ternyata hari ini, tanggal 22 Desember 2012 adalah Hari Ibu. Hari besar yang sangat menarik. Tak ada salahnya untuk ikut berkomentar. Tapi mungkin terlalu panjang dan fasilitas Facebook dan Twitter mungkin tak cukup untuk menampung status dan tweetku. Aku memilih untuk menceritakannya lewat blog ini saja.

Sejak kecil aku memanggil ibu yang melahirkanku dengan sebutan “Mamak” atau panggilan kecilnya “Mak”. Agak Batak kali kedengarannya ya. Tapi begitulah. Teman-teman sekolahku di SD hingga SMA di Pematangsiantar pun jarang yang memanggil ibunya dengan sebutan “Ibu” atau “Mama” atau “Mami”. Malah, kalau memanggil “Mama”, kedengarannya aneh dan tidak populer. “Kayak anak Jakarta saja,” kata beberapa teman. Tidak pula memanggil Ibu dengan sebutan “Mimi”, panggilan sayangnya Aurel dan Azriel kepada ibunya, Krisdayanti. Maklum, waktu aku SD hingga SMA, Aurel dan Azriel belum lahir. Setelah kuliah dan bekerja di Medan lah, sebutan Mimi ini sering ku dengar. Karena itulah, di cerita ini aku lebih pas menggunakan kata “Mamak” dibandingkan “Ibu”.

Kata “Mamak” sering kupelintir menjadi “Mak e”, khususnya kalau aku sudah memanggil berkali-kali tapi tidak di dengar. Semula memanggilnya memang dengan sebutan “Mak, Mak, Mak”. Tapi karena tidak didengar akhirnya meleset menjadi “Mak e”. Tentu saja diiringi dengan suara yang keras. Pernah suatu kali Bapak ku menegurku karena sebutan “Mak e” ini. “Babanion, gogo ni suarami,” katanya. hahahaha

Sejumlah gelar rasanya pantas kusematkan untuk Mamak, perempuan kuat, pemberani, percaya diri, hemat (terkadang pelit), penyabar, dan sesekali cerewet. Melihat Mamak secara langsung hanya kualami selama 17 tahun. Tahun 1998, ketika aku duduk di kelas III SMA, Mamak sudah meninggal dunia karena gagal ginjal. Cuci darah dua kali seminggu yang dijalani Mamak selama hampir lima tahun tak mampu membuatnya bertahan hidup lebih lama. Begitupun, penyakit Mamak ini yang membuat aku selalu berserah diri. Aku selalu siap kapanpun Tuhan mengambil Mamak dari kehidupanku. Barangkali kesiapan itu juga yang tidak membuatku menangis berlebihan saat meninggal tahun 1998.

“Cuci darah hanya memperpanjang hidup sebentar saja. Kalau sudah cuci darah, tak ada yang selamat. Pasti meninggal (padahal semua orang pasti meninggal, pikirku). Jadi kalau Mamak meninggal sekarang, besok atau tahun depan, kalian semua sudah siap,” kata Mamak suatu ketika.

Kalimat itu tak hanya diucapkannya sekali dua kali. Aku tak ingat berapa kali Mamak mengucapkannya. Tapi yang pasti, aku berserah diri saja, kapan pun Mamak meninggal. Setelah divonis gagal ginjang awal tahun 1994, praktis Mamak tidak mengajar lagi. Kondisi fisiknya tergolong lemah. Belum lagi kalau terlalu banyak cairan yang masuk, maka Mamak akan sesak nafas. Kalau tak segera dicuci darah, Mamak akan terus sesak nafas. Tak jarang aku melihat Mamak sesak nafas karena kelebihan cairan yang tak mampu lagi diolah oleh ginjalnya. Kalau sudah dicuci darah dan cairan disedot, barulah nafasnya normal kembali. Kalau tidak punya tabungan yang cukup, kami sekeluarga tak bisa membayangkan bagaimana selanjutnya. Dalam seminggu, Mamak harus cuci darah dua kali dan harus dilakukan di Medan.

Aku berfoto di kuburan Mamak saat ziaarah beberapa waktu lalu.

KUBURAN MAMAK – Aku berfoto di kuburan Mamak saat ziaarah beberapa waktu lalu. (foto: istimewa)

Mamak adalah perempuan yang kuat. Meskipun dalam keadaan sakit, Mamak masih tetap sebagai perempuan yang kuat. Mamak terus menyemangatiku untuk terus belajar, belajar dan belajar. Saat masih sehat dulu, aku bisa melihat dengan jelas kekuatan Mamak. Sebagai guru di sebuah SMA favorit di Pematangsiantar, Mamak juga menjadi guru di SMA swasta di Pematangsiantar. Bagi Mamak, waktu sedetik sangat berharga. Karena itulah, Mamak tak mau melewatkan waktu terbuang sia-sia, apalagi Mamak hanya seorang guru. “Berapalah gaji guru,” ujarnya. Aku berpikir dalam hati: “Iya, iya. Apalagi dulu nggak ada sertifikasi. Hehehehee,”

Selain untuk mengisi waktu dan menambah pendapatan keluarga, mamak beternak babi di belakang rumah, beternak kerbau di kampung, punya kolam ikan dan sedikit tanaman di ladang. Tapi kolam ikan ini merugi terus, karena lebih sering hilang dibandingkan panen. Tapi Mamak tak terlalu ambil pusing. “Sudahlah, kalau hilang mau dibilang apa lagi. Nanti kita tanam (benih) lagi,” katanya.

Tak hanya kolam ikan yang merugi. Ternak kerbau pun tak menunjukkan hasil yang lumayan. Aku ingat kenapa Mamak bisa menekuni ternak kerbau itu. Ceritanya Mamak menanamkan uangnya bersama saudara di kampung dalam bentuk ternak kerbau. Kalau tidak salah empat ekor. Eh, bukannya untung, ternak kerbau inipun merugi. Kata Mamak waktu itu, karena yang melihara yang beres. Ada kerbau yang terpaksa harus mati. “Katanya saja itu mati, entah yang sudah dijual orang itu pun,” katanya.

Aku ingat, waktu itu aku masih duduk di kelas 1 atau 2 SMP ketika usaha kolam ikan dan ternak kerbau ini dijalankan. Nah, yang cukup menguntungkan memang ternak babi. Di daerah tempat tinggal kami di Pematangsiantar, boleh dibilang usaha ternak babi kami termasuk sukses. Kami bahkan sampai punya pekerja untuk membantu mengurusi ternak babi itu. Untuk menyuplai makanan ternak babi ini seperti daun ubi dan daun ubi rambat, Mamak menanam daun ubi dan daun ubi rambat di sepetak ladang milik keluarga. Daun-daun ini yang diambil Mamak setiap tiga hari sekali untuk tambahan makanan ternak selain makanan utama seperti ampas dan dedak.

Aku jadi saksi, betapa ternak babi ini memberikan pundi-pundi uang yang tak sedikit. Minimal sekali dalam empat bulan atau ketika ada keperluan mendadak, Mamak menjual ternak babinya. Uangnya juga tak sedikit. Kalau tidak ada keperluan mendadak, Mamak ku biasanya membeli emas. Kalau kutanya kenapa beli emas, jawabnya sederhana :”Mamak-mamak itu biasanya simpan emas. Kalau ada perlu-perlu, tinggal dijual saja, cepat lakunya. Makanya nanti istrimu kalau beli mas, jangan langsung dimarahi, untuk ditabungnya nya itu. (hahahahaha, amin, mudah-mudahan dapat istri begitu, pikirku),” katanya.

 Secara tak sengaja sebelum Mamak sakit, aku pernah membersihkan kamarnya. Kugeser lemari dan ternyata emas-emasnya disimpan di bawah lemari, dikumpulkan dalam sebuah kotak plastik. Makjang, banyak kali emasnya. “Pantaslah banyak, setiap jual babi, kerjanya Mamak ini beli emas saja,” kataku dalam hati. Tapi Mamak benar, ketika Mamak sakit, diopname bahkan sampai dipindahkan ke Medan, cuci darah dan kebutuhan lain, emas-emas ini juga yang menjadi penyelamat pertama sebelum aset-aset lain seperti ladang dan sebagian kolam terpaksa dijual.

Bagiku, ternak babi ini punya kenangan tak sedikit. Waktu aku kecil, aku pernah berkelahi dengan abangku. Oppung Doli (Bapak dari Mamak) marah karena kami tak berhenti berkelahi. Oppung Doli emosi, tangan kami (aku dan abangku) ditarik paksa. Kami berdua dimasukkan ke kandang babi.

Aku juga ingat, ketika aku duduk di kelas IV SD, mulailah aku ikut mengurusi ternak babi. Tapi mengurusi karena dihukum. Ceritanya begini. Waktu SD dulu, aku punya rapot mingguan. Harap-harap cemas, kalau ada nilai 5 atau 6. Kalau sudah ada nilai 5 atau 6, Mamak dan Bapak biasanya menghukumku memotong-motong daun ubi, mengambil sisa makanan dari rumah tetangga, memetik daun ubi dan bahkan membersihkan kandang babi. Hahahaha, ketawa sendiri aku kalau mengingatnya. Tapi, Mamak tak menghukumku secara gratis. Ketika tiba giliran menjual ternak babi, Mamak biasanya mengajak aku dan abangku jalan-jalan ke kolam renang, ke kebun binatang ataupun ke taman bunga. Di sini, kami bebas mau makan apa saja. Mamak juga memberikan kesempatan kepada kami anak-anaknya untuk mengajukan permintaan, sepanjang masih wajar dan harganya masuk akal.

Waktu demam mobil-mobilan Tamiya kelas 6 SD, aku pernah minta dibelikan mobil-mobilan Tamiya. Mamak mengabulkannya. Wuih senangnya aku. Waktu itu, tak semua anak-anak seusiaku di kampung bisa memiliki mobil Tamiya. Kalaupun punya, harganya masih lebih mahal milikku. Aku juga pernah minta dibelikan kamera poket sewaktu duduk di kelas I SMP, dikabulkan juga. Tapi sekali lagi, semua tak gratis. Syaratnya itu tadi, ikut mengurusi ternak babi.

Mamak adalah perempuan yang sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Meskipun kami menganut agama Kristen, tetapi Mamak adalah pribadi yang lebih percaya pada sekolah milik Katolik. Waktu SMP, pernah kutanya kenapa kami lebih banyak sekolah di sekolah Katolik, katanya “sekolah Katolik lebih disiplin.”.

Jadilah aku masuk SD di SD Katolik yang jaraknya lumayan jauh dari rumah, sekitar 5 kilometer. SD tempatku bersekolah adalah salah satu SD kesohor dan favorit di Pematangsiantar. Anak-anak orang kaya sekolah di sini. Tak ada angkutan umum dari sekitaran rumahku ke SD itu, kecuali kalau kita dari terminal, barulah ada angkutan. Karena SMA tempat Mamak mengajar dekat dengan SD tempatku bersekolah, maka setiap pagi, Bapak mengantarkan aku, abangku dan Mamak sekaligus. Mengantarnya pakai Vespa. Bisa dibayangkan, di atas Vespa itu, kami terkadang naik berempat.

Waktu SD tak ada pelajaran Bahasa Inggris, tetapi Mamak sudah mengikutkan aku dalam bahasa Inggris, minimal kursus Bahasa Inggris sejak kelas 4 SD. Mamak bilang, biar aku tau cakap-cakap yes atau no. Belakangan, aku tau alasannya bukan itu. Mamak ku sakit kepalanya lihat aku main-main terus tiap sore. Biar tak main-main, dikursuskannyalah aku.

Karena Mamak seorang guru, Mamak lebih bijak mendidikku dalam urusan belajar, khususnya ketika aku bertanya tentang pelajaran yang tidak kumengerti. Tak sekalipun suara Mamak meninggi saat mengajariku, apalagi sampai main pukul kalau aku tak mengerti. Beda dengan Bapakku. Karena Bapakku lebih menguasai ilmu berhitung (maklum lulusan Sarjana Muda Ekonomi) dibandingkan Mamak, maka kalau ada pelajaran Matematika waktu SD aku biasanya diajari Bapakku. Jujur saja. Aku agak lemot kalau pelajaran Matematika. Biasanya, setiap sore, aku mengerjakan tugas Matematika bersama Bapak. Kalau aku tak mengerti, suara Bapakku biasanya meninggi. Terkadang kaki dan tanganku di cubit dan dipukulnya. Terkadang aku tertawa sendiri kalau mengingatnya. Tapi aku bersyukur, Bapak ku tak pernah memukul di bagian kepala.

Aku ingat soal aksi pukul-memukul ini. Aku pernah mengadu ke Mamak dan Bapak karena aku dipukul guru SD karena nilai ulangan Matematika hanya 5. Mamak cuma senyum dan bilang: “Itulah kalau tak rajin belajar,” katanya. Bapakku? Sambil mengomel dan bilang aku ini bodoh, disuruhnya aku ambil kertas ulangan. Kemudian soal ulangan Matematika  itu kami (aku dan Bapak) bahas kembali. Kalau tak bisa kujawab, habis kakiku dipukuli Bapak.

Mamak mengerti akan kelemahanku di bidang studi Matematika ini. Waktu itu ada mahasiswa FKIP jurusan Matematika di sebuah PTS di Pematangsiantar. Aku pun diprivatkan ke mahasiswa tersebut. Waktu duduk di bangku SMP, akupun ikut kursus Matematika selain kursus Bahasa Inggris. Tapi memang sudah dari sononya lemah ya. Nilai Matematika ku tak pernah memuaskan, jarang lewat dari angka 7. Pernah nilai Matematika ku tinggi waktu SMA, 8. Tapi aku tak puas. Maklum, aku bersekolah di SMA tempat di mana Mamak mengajar. Meskipun Mamak tidak mengajar lagi karena sakit, tetapi Mamak adalah salah seorang guru senior dan belum pensiun. Barangkali mereka segan lihat Mamak. Jadi aku diberi nilai 8. Hahahahaha.

Sekarang, 22 Desember 2012, 15 tahun sudah Mamak meninggalkan ku. Selama 15 tahun ini, ada banyak kejadian membahagiakan, mengharukan dan menyedihkan tanpa kehadiran Mamak. Dulu, ketika di hari-hari awal tak ber Mamak, aku sempat khawatir akan berbagai hal, seperti pendidikan. Maklum, kata orang-orang, kalau Mamak sudah meninggal, biasanya Bapaknya kawin lagi. Lalu punya Mamak tiri. Tau sendirilah, kalau sudah punya Mamak tiri. Waduh aku takut sekali. Meskipun semua itu tak selalu benar, aku bersyukurlah, karena pendidikan ku tak terbengkalai. Bapak ku juga tetap memutuskan menduda hingga saat ini.

Yang pasti, dalam kondisi apapun, aku selalu merindukanmu Mak. Ingin rasanya menyisihkan sebahagian gaji ini untuk kuberikan padamu, atau membelikanmu pakaian, sepatu dan emas. Tapi, ketiadaanmu menghapus keinginanku itu. Tapi ya sudahlah. Tak patut rasanya menyesali ketiadaanmu. Aku masih beruntung bisa melihat dan bersamamu selama 17 tahun, sementara yang lain banyak yang tak ber Mamak ketika usianya masih balita atau bahkan ketika baru lahir.

Mak, ketiadaanmu membuatku belajar lebih bertanggungjawab akan masa depan.  Belajar untuk menghormati siapapun (terutama perempuan), berapapun usia dan apapun jabatan perempuan yang kutemui sepanjang hidupku. Selamat Hari Ibu ya Mak, bersamamu, begitu banyak hari yang telah kujelang.(*)

 

3 responses to “Mamak

  1. wao..
    bang kalau mau menyisihkan gaji abang, samaku aja bang..
    ntar aku belikan emaspun..
    hehehehehehe
    selamat hari ibu bang, meski terlambat 1 hari gppla…
    yang penting masih minggu ini koq..🙂

    hehheheh

  2. keep spirit bang…
    hidup tak selamanya berjalan mulus..

    like me.
    bln Januari ini sudah 13 tahun tanpa kehadiran seorang Ayah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s