Peran Media dalam Pengelolaan Konflik dan Pembangunan Perdamaian, Media Hendaknya Menopang Perwujudan Masyarakat Madani (1)

Ilustrasi (foto: www.narotama.ac.id)

Ilustrasi (foto: http://www.narotama.ac.id)

Jika koran dipandang sebagai sarana pembuat kekacauan. Koranpun dapat digunakan sebagai sarana untuk menciptakan ketertiban.

KUTIPAN Bertoit Brecht di atas yang dimuat dalam Kumpulan Cerita Tentang Tuan Keuner (Geschicten vom Herrn Keuner) menjadi gambaran bagaimana peran media dan kehidupan demokrasi sebuah Negara.

Sebuah negara yang telah dewasa kehidupan demokrasinya ditandai oleh warganya yang saling menghargai perbedaan pendapat. Pluralisme dalam sikap politik, keagamaan, dan kesukuan merupakan bagian dari bangsa itu. Dalam negara demokrasi, tidak ada pemaksaan kebenaran oleh satu kelompok terhadap kelompok lain. Toleransi agama dijunjung tinggi disana.

Dalam konteks ini media massa merupakan salah satu pilar terbentuknya negara demokratis dan masyarakat madani. Ia menjadi wadah perbedaan pendapat yang sehat, tidak bertendensi memojokkan kelompok yang berseberangan dengan dirinya. Media sebagai bagian dari sistem komunikasi politik merupakan salah satu dari tiga prasyarat penting yang melandasi pembentukan sistem sosial dan politik masyarakat madani.(Robert McChesney, 1998)

Indonesia dengan keanekaragaman suku, budaya, dan agamanya sedang menuju ke pembentukan masyarakat yang beradab tersebut. Secara normatif, media massanya juga hendaknya menopang perwujudan masyarakat madani di Tanah Air. Tak semestinya media massa baik nasional ataupun lokal ikut dalam prasangka keagamaan (dan kesukuan) yang kontra-produktif dengan upaya demokratisasi yang sedang ditegakkan.

Sebab bilamana media terseret dengan sentimen SARA (suku, agama, ras dan antar-golongan), yang muncul adalah sikap prasangka antar berbagai kelompok sosial; dan bukan mustahil menjadikan media sebagai “provokator” (setidaknya memperluas) timbulnya bentrokan antar-golongan dalam masyarakat. Ini sejalan dengan asumsi yang melihat media massa mempunyai kekuatan yang ampuh dalam mempengaruhi kahalayaknya.(Warner J. Severin dan James W. Tankard Jr,1988)

Realitas pluralitas suku, budaya, agama dan kepercayaan merupakan salah satu modal sosial yang menjadikan warga hidup dalam kebersamaan dan kedamaian. Pluralitas memang bukan untuk dikutuk, apalagi dijadikan sumber untuk menjadikan mereka yang diangap “berbeda”.

Harus diakui bahwa potensi konflik  yang bersumber dari realitas pluralitas di Tanah Air memiliki keberagaman suku dan agama, bukanlah sebuah ilusi. Realitas pluralitas suku, agama dan kepercayaan merupakan potensi konflik yang bersifat laten, yang suatu saat bisa menjelma menjadi konflik terbuka, khususnya jika ada pihak yang sengaja memantik dan memanfaatkan konteks sosial politik yang  mendukung bagi dikobarkannya konflik tersebut. Dan salah satu pihak yang bisa memantik konflik tersebut adalah media.

 Meskipun menjadi sebuah potensi konflik, maka konflik tak lantas harus pecah karena pluralitas tersebut. Pluralitas ini justru bisa dikelola dengan sebaik-baiknya yang mendukung terciptanya integrasi sosial dan perdamaian di kalangan masyarakat. Semua ini bisa terwujud, tentu saja dengan melibatkan multi stake holder (pemangku kepentingan). Dan salah satu pemangku kepentingan tersebut adalah media.

Untuk memahami konflik, bisa berangkat dari anggapan dasar dan titik tolak konflik. Konflik biasanya melibatkan pertentangan antara dua pihak atau lebih mengenai nilai, atau anggapan yang dianggap tinggi. Sebagai contoh, soal nilai susila. Kasus yang sering terjadi adalah, bahwa konflik bisa berawal dari perbedaan nilai susila. Berciuman di tempat umum misalnya, bisa menjadi persoalan dalam tatanan susila kelompok masyarakat tertentu.

Konflik dapat melibatkan tiga hal, yaitu status, kekuasaan dan sumber daya yang langka. Akan tetapi, tiga sumber atau akar konflik di atas terkadang muncul secara samara. Memang, penjelasan tentang akar konflik lebih cenderung multi argumen daripada satu argumen saja. Namun ada baiknya kita melihat pada satu titik tolak konflik seperti yang disebutkan berikut.(Boedhi Wijardjo dkk, 1998).

Konflik itu selalu ada. Manusia hidup selalu berkonflik. Konflik ada di alam dan hadir dalam kehidupan manusia. Konflik menciptakan perubahan. Konflik merupakan salah satu cara bagaimana sebuah keluarga, komunitas, perusahaan dan masyarakat berubah. Konflik juga dapat mengubah pemahaman kita akan sesame, mendorong kita untuk memobilisasi sumber daya dengan cara-cara baru. Konflik dapat membawa kita pada klarifikasi pilihan-pilihan dan kekuatan untuk mencari penyelesaiannya.

Konflik selalu mempunyai dua sisi. Secara inheren konflik membawa potensi risiko dan peluang. Konflik menciptakan energi. Energi dapat bersifat destruktif atau kreatif, atau gabungan keduanya. Gesekan dapat menimbulkan api tetapi juga menghasilkan bentuk batu yang indah, seperti yang dilakukan para pengrajin batu hiasan. Konflik juga memiliki sifat mengikat. Reaksi fusi (bersatunya atom) menghasilkan energi. Konflik juga membawa sifat memisahkan. Reaksi fisi (pemisahan atom) juga mengeluarkan energi.

Konflik dapat menjadi produktif atau non produktif. Konflik yang produktif lebih mengacu pada permasalahannya, kepentingan/minat, prosedur dan nilai-nilai pemahaman. Semua ini akan menghasilkan suatu “cahaya”. Konflik yang paling non produktif cenderung mengacu pada stereotip, komunikasi yang sulit, sarat emosi, kurang informasi dan salah informasi. Hal-hal ini akan menghasilkan kondisi yang “panas” dan bukan “cahaya”.

Konflik dipengaruhi pola-pola biologi, kepribadian, dan budaya. Reaksi-reaksi psikologis (melayang, melawan, dingin/diam) memegang peranan emosional yang sangat kuat dalam mempengaruhi proses konflik mengikuti gaya kepribadian dan psikologi seseorang. Budaya juga ikut membentuk aturan-aturan dan ritual yang membawa kita pada konflik.

Konflik mengandung berbagai makna “kaleidoskop”. Konflik adalah drama yang dapat dianalisis sebagian dengan memahami siapa, apa, dimana, kapan dan mengapa-nya dari cerita-cerita itu. Kebanyakan konflik itu seperti Rashomon. Tidak ada kebenaran utuh yang berdiri sendiri, melainkan berbagai konstruksi dari realita satu titik yang sama adalah untuk memahami berbagai makna yang dikandung oleh sebuah konflik.

Konflik memiliki daur hidup dan “sifat-sifat bawaan”. Konflik dapat bertransformasi bertambah cepat, perlahan menghilang, atau berubah bentuk. Konflik dapat menjadi perselisihan (dispute, seperti “memberi julukan, menuduh, mengklaim”). Konflik juga dapat meningkat menjadi badai.

Ada berbagai macam ruang konflik yang kerap terjadi. Ruang-ruang tersebut adalah:

Konflik Data.   Konflik ini terjadi ketika orang kekurangan informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan yang bijaksana mendapat informasi yang salah, tidak sepakat mengenai apa saja data yang relevan, menterjemahkan informasi dengan cara yang berbeda, atau memakai tata cara pengkajian yang berbeda. Beberapa konflik data mungkin tidak perlu terjadi karena hal ini disebabkan kurangnya komunikasi di antara orang-orang yang berkonflik. Konflik data lainnya bisa terjadi karena memang disebabkan informasi dan/atau tata cara yang dipakai oleh orang-orang untuk mengumpulkan datanya tidak sama.

Konflik Kepentingan. Konflik ini disebabkan oleh persaingan kepentingan yang dirasakan atau yang secara nyata memang tidak bersesuaian. Konflik kepentingan terjadi ketika satu pihak atau lebih meyakini bahwa untuk memuasakan kebutuhannya, pihak lain yang harus berkorban. Konflik yang berdasarkan kepentingan ini terjadi karena masalah yang mendasar (uang, sumber daya fisik, waktu, dan lain-lain). Konflik ini juga bisa bersumber pada masalah tata cara (sikap dalam menangani masalahnya) atau masalah psikologis (persepsi atau rasa percaya, keadilan, rasa hormat, dan lain-lain).

Konflik Hubungan Antarmanusia. Terjadi karena adanya emosi-emosi negative yang kuat, salah persepsi atau stereotip, salah komunikasi atau tingkah laku negative yang berulang (repetitif). Masalah-masalah ini sering menghasilkan konflik-konflik yang tidak realistis (Cosner, 1956) atau tidak perlu (Moore, 1986) karena konflik ini bisa terjadi bahkan ketika kondisi objektif untuk terjadinya konflik, seperti terbatasnya sumber daya atau tujuan-tujuan bersama yang eksklusif tidak ada.

Konflik Nilai. Konflik ini disebabkan oleh sistem-sistem kepercayaan yang tidak bersesuaian, entah itu hanya dirasakan atau memang ada. Nilai adalah kepercayaan yang dipakai orang untuk memberi arti pada hidupnya. Nilai menjelaskan mana yang baik dan buruk, benar atau salah, adil atau tidak. Perbedaan nilai tidak harus menyebabkan konflik. Manusia dapat berdampingan dengan harmonis dengan sedikit perbedaan sistem nilai. Konflik nilai baru muncul ketika orang berusaha untuk memaksakan suatu sistem nilai kepada orang lain, atau mengklaim suatu sistem nilai yang eksklusif dimana di dalamnya tidak memungkinkan adanya percabangan kepercayaan.

Konflik Struktural. Konflik ini terjadi ketika terdapat ketimpangan untuk melakukan akses dan kontrol terhadap sumberdaya. Pihak yang berkuasa dan memiliki wewenang formal untuk menetapkan kebijakan umum, biasanya lebih memiliki peluang untuk menguasai akses dan melakukan kontrol sepihak terhadap pihak lain. Di sisi lain persoalan geografis dan factor sejarah/waktu sering dijadikan alasan untuk memusatkan kekuasaan serta pengambilan keputusan yang hanya menguntungkan pada satu pihak tertentu saja.(bersambung)

*) Tulisan ini telah dibukukan secara kompilasi oleh Penerbit STAIN Purwokerto Press bekerjasama dengan Penerbit Grafindo Litera Media Yogyakarta dengan judul “Renaisans Indonesia” Juni 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s