Catatan Valentine, Tulisan Pertamaku Bertema Valentine Terbit 16 Tahun Lalu

TULISAN PERTAMA - Potongan koran yang memuat tulisanku berjudul "Ada Kasih di Hari Valentine". Tulisan pertamaku ini terbit di Rubrik Taman Remaja dan Pelajar (TRP) Harian Analisa, tanggal 12 Februari 1997 lalu.(repro)

TULISAN PERTAMA – Potongan koran yang memuat tulisanku berjudul “Ada Kasih di Hari Valentine”. Tulisan pertamaku ini terbit di Rubrik Taman Remaja dan Pelajar (TRP) Harian Analisa, tanggal 12 Februari 1997 lalu.(repro)

Rasa-rasanya masih tak percaya kalau tulisanku bisa tembus di rubrik TRP harian Analisa. Mulai mencoba di pertengahan 1996, baru di bulan Februari 2007 lah tulisanku terbit pertama kalinya di TRP. Artinya aku harus menunggu selama delapan bulan.

SEPERTI apa rasanya saat tulisan kita terbit pertama sekali di rubrik terkenal dan di koran yang terkemuka pula? Kalau pertanyaan ini ditujukan padaku, maka aku mengandaikan kalau si pemilik tulisan layaknya seorang artis yang sedang konser dan dielu-elukan penontonnya (fans).

Itulah yang kurasakan saat tulisanku pertama sekali dimuat di Rubrik Taman Remaja dan Pelajar (TRP) 16 tahun lalu. Rubrik TRP adalah salah satu rubrik favorit yang terbit di harian Analisa, sebuah koran terkemuka di Sumatera Utara. Rubrik ini memuat hasil tulisan dari pembaca seperti puisi, cerpen, artikel, humor dan karikatur.

Untuk rubrik-rubrik remaja di koran harian, tak berlebihan kalau menyebut TRP adalah barometer ataupun tujuan para penulis muda Sumut untuk berkarya. Siapapun yang hobi menulis, termasuk aku, mempunyai cita-cita agar tulisanku bisa terbit di TRP. Sebelumnya, tulisanku sudah banyak dimuat di sebuah koran lokal yang terbit di Pematangsiantar sejak kelas II SMP. Tetapi, rasanya pasti beda kalau bisa menembus rubrik favorit yang terbit di koran terkemuka pula.

Lalu kumulailah langkah mewujudkan cita-cita itu dengan menulis untuk konsumsi TRP. Kalau tidak salah waktu itu pertengahan tahun 1996 atau saat aku duduk di bangku kelas I SMA di Pematangsiantar. Aku menulis cerpen. Karena masih duduk di bangku SMA saat itu, akhirnya lahirlah cerpen dengan tema yang tidak jauh dari topik remaja dan percintaannya. Aku sudah lupa apa judul cerpen yang kutulis. Lalu kukirim ke TRP dengan disertai prangko balasan. Prangko balasan ini berguna untuk mengirimkan kembali tulisan kita kalau tak layak muat. Saat itu, internet memang belum segencar saat ini. Karena itulah, tulisan masih harus diketik di mesin tik atau di komputer, diprint dan kemudian di kirim lewat pos ke redaksi koran.

Dimuatkah? Tidak. Setiap Rabu dan Minggu (sesuai jadwal terbit rubrik TRP), aku membeli koran Analisa selama dua bulan. Kalau tidak salah, waktu itu harga koran Analisa Rp 500 per eksemplarnya. Karena tak kunjung dimuat, aku mengirim tulisan yang lain, artikel, masih di tahun 1996. Aku juga lupa apa judul artikel yang kukirim saat itu. Hasilnya? Sama dengan cerpen sebelumnya, tidak dimuat.

Tak putus asa, aku tetap mengirimkan tulisan yang lain, cerpen dan artikel. Hasilnya tetap sama saja. Tak kunjung dimuat. Saat bulan Desember bisa, aku memutar strategi. Aku memanfaatkan momen hari Natal dan Tahun Baru untuk menulis cerpen Natal. Pada awal bulan 12, aku sudah mengirimkan cerpen Natal ke pengasuh TRP dengan harapan bisa diterbitkan pada momen menjelang atau saat Natal. Tetapi, lagi-lagi dewi fortuna belum berpihak kepadaku. Cerpen Natalku pun bernasib sama seperti tulisan sebelumnya.

Saat masuk tahun 1997, aku iseng menghitung hari. Sudah hampir setengah tahun dan beberapa kali aku mengirim tulisan ke TRP, tetapi tak kunjung dimuat. Putus asa? Jujur saja iya. Tetapi ketika membaca pengalaman para penulis saat tulisannya pertama sekali di koran-koran terkemuka, semangatku pun tumbuh kembali.

Tak lolos saat momen Natal dan Tahun Baru, aku menatap satu momen lagi, Hari Valentine. Ya, aku berfirasat kalau tulisanku kemungkinan besar bisa dimuat dengan memanfaatkan momen Hari Valentine. Aku memutar strategi. Tidak menulis cerpen, melainkan artikel. Aku mempersiapkan artikel tersebut sejak awal Januari 1997. Karena saat itu google belum ada, informasi tentang Hari Valentine aku kumpulkan dari perpustakaan sekolah,  majalah dan koran-koran edisi beberapa tahun sebelumnya yang masih aku simpan.

Setelah bahan terkumpul, aku menulis draft tulisan di kertas buram. Setelah itu, barulah kuketik. Waktu itu, mesin tik yang kugunakan adalah milik tetangga (baca: minjam). Dalam waktu tiga hari, jadilah artikel yang kumaksud. Judulnya: Ada Kasih di Hari Valentine. Saat mengirim tulisan tersebut ke rubrik TRP Analisa, tak lupa kuselipkan perangko balasan, untuk jaga-jaga kalau tulisan tersebut kembali tak layak muat dan harus dikembalikan.

Barangkali karena menunggu, waktu memang begitu lama berputar. Tapi bulan Januari akhirnya berlalu dan berganti ke bulan Februari. Aku ingat, waktu itu, rubrik TRP Harian Analisa terbit dua kali seminggu yakni setiap Rabu dan Sabtu. Semakin mendekati masa-masa Valentine, jantung ini semakin berdebar. Apakah artikel Valentine terbit pada edisi Rabu (12 Februari 1997), atau tidak terbit sama sekali.

Rabu, 12 Februari 1997

SEPULANG sekolah, aku sempatkan membeli koran Analisa di kios teman di dekat gereja GKPS, Jl. Sudirman Pematangsiantar. Kubuka lembar demi lembar koran Analisa dan mencari rubrik TRP yang ada di halaman 9. Mataku langsung mencari-cari tulisanku. Dan akhirnya, artikelku yang berjudul “Ada Kasih di Hari Valentine” terbit di Rubrik TRP. Inilah tulisan pertamaku yang terbit di rubrik TRP. Duh, senangnya tak terbayangkan. Aku berhasil memanfaatkan momen Valentine agar tulisanku bisa terbit di TRP.

Segera aku mencari rental komputer. Kemudian aku scan potongan koran yang memuat tulisanku dan potongan tulisan itu aku share di facebook dan twitter. Bukan itu saja, link tulisan itupun aku share ke facebook dan twitter. Hasilnya? Puluhan temanku di facebook me-like potongan tulisan tersebut dan memberikan komentar. Teman-temanku di twitter juga me-reply tweet dan foto yang ku posting. Komentar dan reply teman-teman beraneka ragam. Ada yang mengucapkan selamat, ada yang tak menyangka aku bisa menulis, ada yang minta ditraktir dan lain-lain. (hehehe, bagian ini jangan dipercaya, karena saat itu belum ada facebook dan twitter)

Rasa-rasanya masih tak percaya kalau tulisanku bisa tembus di rubrik TRP harian Analisa. Mulai mencoba di pertengahan 1996, baru di bulan Februari 2007 lah tulisanku terbit pertama kalinya di TRP. Artinya aku harus menunggu selama delapan bulan.

Pulang ke rumah, aku membaca tulisanku tersebut berulang-ulang. Dengan oplah puluhan ribu eksemplar, maka aku yakin ada ribuan remaja yang melihat rubrik TRP dan mungkin saja membaca tulisanku. Aku mengandaikan kalau pembaca ini adalah penonton sebuah konser musik yang kagum dengan aksi panggung penyanyi pujaannya. Si penyanyi itu adalah aku sendiri dan aksi panggung itu adalah tulisan yang terbit di TRP.

Terima kasih Valentine…Karenamu tulisan pertamaku terbit di TRP. Karenamu pula, aku dikenal dan pernah diidolakan banyak pembaca. Hahahaha.(*)

2 responses to “Catatan Valentine, Tulisan Pertamaku Bertema Valentine Terbit 16 Tahun Lalu

  1. ada slah penulisan tahunnya loh bang.
    “Rasa-rasanya masih tak percaya kalau tulisanku bisa tembus di rubrik TRP harian Analisa. Mulai mencoba di pertengahan 1996, baru di bulan Februari 2007 lah tulisanku terbit pertama kalinya di TRP. Artinya aku harus menunggu selama delapan bulan.”

    tertulis 2007, seharusnya kan 1997.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s