Akhirnya Bisa Menang di Lomba Menulis Skala Sumut

Gambar

JUARA III – Sesaat setelah menerima penghargaan sebagai juara III kategori Tulis Jurnalis pada Lomba Foto dan Tulis Sumut 2013 Lebih Berwarna.
(foto: roniko pardede)

PEKERJAAN sebagai jurnalis yang telah kulakoni selama 10 tahun terakhir membuatku tak hanya mengerjakan rutinitas wajib dari pekerjaanku seperti mencari berita, menulis ataupun mengeditnya. Sesekali, jika ada waktu, aku menyempatkan diri untuk mengikuti lomba-lomba menulis ataupun mengikuti fellowship (beasiswa) penulisan yang diselenggarakan berbagai lembaga baik skala Sumut (daerah) maupun nasional.

Tak terhitung berapa kali aku ikut lomba menulis selama 10 tahun terakhir. Sepertinya sudah puluhan kali. Tapi kalau soal menang berapa kali, itu bisa kuhitung (hahaha). Ada yang menang, tapi lebih banyak pula yang kalah (hahaha). Dari sekian lomba di mana aku jadi pemenangnya, mayoritas kuraih di lomba menulis skala nasional.

Jujur saja, selama puluhan kali ikut lomba menulis, aku baru satu kali meraih juara di tingkat daerah. Kalau tidak salah tahun 2007 lalu dan aku masih bekerja di harian Sumut Pos. Bulan November 2007, aku ikut Lomba Karya Tulis Peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan oleh Biro Pemberdayaan Perempuan Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Di lomba ini aku meraih juara II.

Setelah menang di lomba ini, aku tetap aktif mengikuti lomba-lomba menulis skala daerah, tetapi dewi fortuna tak jua singgah hingga saat ini. Sebaliknya, di beberapa lomba menulis skala nasional aku justru berhasil meraih prestasi. Misalnya meraih fellowship investigatif ”Mendorong Kebijakan Publik untuk Pengendalian Tembakau” dari AJI Jakarta dan Kantor Berita Pena Indonesia tahun 2008, nominator karya tulis dalam “Pekan Ilmiah Nasional STAIN Purwokerto” tahun 2009 dan fellowship Jurnalisme Sastrawi dari Institut Studi Arus Indonesia (ISAI) Jakarta tahun 2011. Yang teranyar adalah saat aku menjadi finalis kategori investigasi di Anugerah Adiwarta 2012 dengan judul liputan Tesis Termahal Cuma Rp 10 Juta.

Aku pun bingung kenapa di skala Sumut aku tak menang, justru sebaliknya di skala nasional, tulisan-tulisanku bisa menang, meskipun tak jadi juara I. Sudahlah, aku tak mau berspekulasi.

Hasrat untuk kembali juara di lomba menulis skala Sumut tetap menggebu-gebu. Kesempatan itu pun tiba ketika Media Center Effendi Simbolon-Jumiran Abdi (ESJA) menggelar Lomba Foto dan Tulis Sumut 2013 Lebih Berwarna. Lomba ini untuk mempromosikan keberadaan Effendi Simbolon dan Jumiran Abdi sebagai pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut yang maju di Pemilukada Sumut 2013.

Aku menyiapkan tulisan berjudul “Mahasiswa Lintas Agama dan Suku Pulang Kampung Bersama, Bukti Pluralitas Pasangan ESJA”. Kalau tidak salah, tulisan ini kutulis sekitar 3 jam pada hari Kamis (28/2/2013) dan terbit di koran tempatku bekerja (Harian Tribun Medan), edisi Jumat (1/3/2013). Tulisanku ini terbit di hari-hari terakhir karena menunggu dua rekan jurnalis Tribun Medan lainnya yang juga ikut dalam lomba tersebut.

Melihat dewan juri lomba tersebut, aku sedikit yakin kalau tulisanku bakal menang dalam lomba tersebut, hehehe. Tanggal 4 Maret malam, aku di SMS seorang panitia yang memintaku hadir dalam penyerahan hadiah bagi pemenang lomba menulis, Rabu (5/3/2013) Si panitia hanya memintaku hadir, dan tidak secara terus terang menyebut apakah aku juara atau tidak.

Gambar

TIGA GELAR – Tiga jurnalis Tribun Medan Arifin Al Alamudi (kiri), T. Agus Khaidir (tengah) dan Truly Okto H. Purba (kanan) meraih gelar juara pada Lomba Foto dan Tulis Sumut 2013 Lebih Berwarna.(foto: roniko pardede)

Tapi aku percaya diri saja. Keesokan harinya, aku datang ke lokasi acara di New Penang Corner Café, Jl. SMTK/Dr. Mansyur Medan. Keyakinanku akhirnya terbukti. Tulisanku berhasil menjadi juara III kategori Tulis Jurnalis. Dikategori Tulis Jurnalis ini, teman sesama jurnalis Tribun Medan, yakni T. Agus Khaidir yang menjadi juara I lewat tulisan berjudul “Sopir Taksi, Jokowi dan Senyum Effendi”. Di kategori ini, jurnalis dari Analisa meraih juara II dan Harapan II sedangkan juara harapan I diraih jurnalis Koran Sindo.

Satu lagi rekan jurnalis dari Tribun Medan, Arifin Al Alamudi lewat tulisannya yang berjudul “Sikap Kami Buat Sumut Lebih Berwarna” tidak berhasil meraih juara di kategori Tulis Jurnalis. Namun dia berhasil meraih juara harapan II kategori Foto Jurnalis lewat foto yang berjudul “Disambut Meriah”.

Oya, yang membuat aku bangga, junior ku di Fakultas Ekonomi Unika Santo Thomas, Johannes Naibaho juga meraih juara III di kategori Tulis Umum lewat tulisan yang berjudul “Pemberdayaan Perempuan Sumut untuk Ketahanan Pangan”. Mudah-mudahan prestasi dia membuat rekan-rekan mahasiswa Unika Santo Thomas Medan bersemangat ikut lomba-lomba menulis dan foto.

Gambar

JUARA III KATEGORI UMUM – Mahasiswa FE Unika Santo Thomas, Johannes Naibaho (kanan) meraih juara III kategori Tulis Umum pada pada Lomba Foto dan Tulis Sumut 2013 Lebih Berwarna.(foto: roniko pardede)

Berapa hadiah yang kuterima? Hm…, lumayanlah. Ini bukan soal kemenangan saja. Paling tidak, sudah membuka tahun 2013 dengan prestasi. Selanjutnya, bersiap-siap mengejar prestasi yang lainnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s