Enam Kalimat yang Berkesan dari Almarhum, In Memoriam Abdi Sitohang, SE, M.Si (1964-2013)

Pak Abdi Sitohang

SEMASA HIDUP- Almarhum Abdi Sitohang, SE, M.Si semasa hidup. Almarhum meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di Tanjung Beringin, Dairi, Sabtu (6/4). (foto: Roy Chardo Sitanggang)

SABTU (6/4/2013) siang, sekitar pukul 12.00 WIB, saya sedang berenang ketika sebuah sandek (pesan pendek/SMS) masuk ke ponsel saya. Isinya memberitahukan kalau mantan dosen saya di Fakultas Ekonomi Unika Santo Thomas Medan, Abdi Sitohang, SE, M.Si mengalami kecelakaan lalu lintas. SMSnya hanya memberitahu kalau beliau kecelakaan. Tidak ada informasi perkembangan terakhir beliau, apakah masuk rumah sakit atau bukan dan sebagainya.

Penasaran, saya mencari info ke sejumlah teman terkait kecelakaan yang menimpa beliau. Saya meng-SMS dua teman, tetapi informasinya sama, masih seputar kecelakaan. Rasa penasaran yang menggelayut membuat saya memainkan tombol ponsel. Saya meng-SMS teman-teman-teman yang lain untuk mencari tahu kondisi beliau.

Saat masih sibuk meng-SMS sejumlah teman, akhirnya masuk sebuah SMS yang isinya memberitahukan kalau beliau sudah meninggal. Beragam ekspresi di wajah saya muncul saat membaca SMS tersebut. Mata membelalak dan mulut terbuka. Saya mendadak jadi speechless. Rasa tak percaya membuat saya memastikan kabar tersebut ke teman-teman yang lain. Memang benar, beliau sudah meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Tanjung Beringin, Dairi, Sabtu (6/4/2013) pagi.

Almarhum sudah dikuburkan di kampung halaman di Pematangsiantar, Sumut, Selasa (9/4/2013). Sehari sebelumnya, Senin (8/4), jenazah almarhum dibawa ke Kampus Unika Santo Thomas Medan sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa-jasa beliau selama lebih dari 20 tahun di kampus. Di hari yang sama, jenazah almarhum disemayamkan di Gereja Katolik Santa Maria Tanjung Selamat Medan.

11 April-Kenangan Bersama Pak Abdi Sitohang

PENGHORMATAN TERAKHIR – Jenazah almarhum dibawa ke kampus Unika Santo Thomas Medan, Senin (8/4), sebagai bentuk penghormatan terakhir.(foto: Hendra Deni Naibaho)

11 April-Kenangan Bersama Pak Abdi Sitohang (3)

KATA PERPISAHAN – Dekan FE Unika Santo Thomas Medan memberikan kata perpisahan saat menerima jenazah Bapak Abdi Sitohang SE, M.SI di pelataran parkir FE Unika Santo Thomas, Senin (8/4). (foto: Hendra Deni Naibaho)

11 April-Kenangan Bersama Pak Abdi Sitohang (4)

DISEMAYAMKAN – Jenazah almarhum Bapak Abdi Sitohang SE, M.Si dibawa mahasiswa untuk disemayamkan di di Gereja Katolik Santa Maria Tanjung Selamat Medan, Senin (8/4). (foto: Hendra Deni Naibaho)

Meskipun sudah menghadap Sang Khalik, secara pribadi saya sangat mengagumi almarhum dari berbagai sisi, baik itu sebagai orangtua, pendidik, teman dan mungkin senior. Saya mengenalnya sejak saya menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen Unika Santo Thomas Medan tahun 1998 hingga meninggal. Setidaknya saya mengingat ada tujuh kalimat dari almarhum yang membuat saya sangat mengagumi almarhum.

1.      Kalau Sudah Stambuk Lama, Harus Nilai B? Enak Kali (2000)

SEMASA menjadi mahasiswa, saya mengambil tiga mata kuliah dari almarhum. Akuntansi Biaya di semester 3, Akuntansi Manajemen di semester 4 dan Sistem Pengendalian Manajemen (SPM) di semester 6. Sebagai pribadi yang tidak pintar-pintar amat untuk urusan Akuntansi, nilai saya memang tidak tinggi-tinggi amat. Untuk matakuliah Akuntansi Biaya, saya mendapat nilai C, Akuntansi Manajemen saya mendapat nilai B dan SPM mendapat nilai C. Khusus Akuntansi Manajemen nilai saya menjadi B, saya peroleh bukan di semester regular, melainkan di semester pendek. Saat di semester regular, saya hanya mendapat nilai D (hehehe).

Meskipun mendapat nilai yang pas-pasan, saya tak pernah protes. Karena memang itulah kemampuan saya. Almarhum adalah pribadi yang tidak neko-neko. Sejauh mana kemampuan mahasiswa menerima pelajaran, sejauh itu pulalah almarhum memberikan nilai, tak perduli stambuk lama atau stambuk baru.

Suatu ketika, di tahun 2001, saat masuk mata kuliah Akuntansi Manajemen, almarhum melihat mahasiswa stambuk lama yang seharusnya masuk dengan almarhum, justru tidak masuk kelas. Almarhum hanya tersenyum. Saat itu almarhum mengeluhkan sikap oknum mahasiswa stambuk lama yang jarang kuliah, tetapi mengharapkan nilai yang baik. “Lalu, kalau sudah stambuk lama, harus nilai B? Enak kali,” kata almarhum.

2.      Burju-burju Na Marsikkolai Da (2005)

RUMAH kontrakan saya dengan rumah almarhum hanya selisih satu blok di Kompleks Pemda Tingkat I Tanjung Sari. Kebetulan di depan rumah kontrakan saya ada warung. Saya dan teman-teman satu kontrakan sering nongkrong di warung tersebut. Kami pun pernah beberapa kali nongkrong bersama dengan almarhum di warung tersebut.

Ada satu teman kontrakan saya yang transfer dari FE Unika Santo Thomas ke sebuah PTS di kawasan Medan Baru. Karena kenal dengan teman saya itu, almarhum kerap menasehati. “Burju-burju na marsikkolai da (baik-baik yang sekolah itu),” kata almarhum.

3.      Dulu Kamu Mahasiswa Saya, Sekarang Kita Teman Sejawat (2012)

SEJAK tahun ajaran 2012/2013, saya kembali ke almamater di FE Unika Santo Thomas

Medan sebagai dosen honorer mata kuliah Bahasa Indonesia. Saat mengetahui saya mengajar di FE, beliau tersenyum. Dia berkata seperti ini: “Tak terasa ya, dulu kamu mahasiswa saya, sekarang kita jadi teman sejawat,” kata almarhum.

Jika ada kesempatan berbicara dengan almarhum di kampus Tanjung Sari, saya sempatkan berdiskusi dengan almarhum. Soal strategi mengajar, cara menghadapi mahasiswa, khususnya mahasiswa lama dan lain-lain.

 4.      Kamu Mengajar Bahasa Indonesia? (2012)

SAAT mengetahui saya mengajar di FE Unika Santo Thomas Medan, almarhum menanyakan kepada saya, mata kuliah apa yang saya ajarkan. Saat saya beritahu kalau saya mengajar Bahasa Indonesia, almarhum sempat kaget. “Kamu mengajar Bahasa Indonesia?. Kok bisa?” kata almarhum.

Almarhum terlihat penasaran. Saya memberitahu almarhum apa pekerjaan saya sekarang dan kegiatan-kegiatan lainnya yang saya lakukan. Di akhir pembicaraan, almarhum tersenyum dan berkata: “Kalau bisa, suatu saat nanti ajarkan juga mata kuliah yang ada ekonominya ya,” kata almarhum.

Saya tersenyum dan mengangguk.

5.      Jangan Sampai Lupa Ibadah? (2012)

SAYA pribadi menilai, almarhum adalah sosok yang taat beribadah. Penilaian tersebut berdasarkan dua pengalaman berikut. Pengalaman pertama (1): Selain mengajar di kelas pagi (Tanjung Sari), saya dan almarhum juga sama-sama mengajar di kelas sore (kampus Catholic Center Hayam Wuruk) pada hari Kamis. Jadwal saya semula pukul 17.00 WIB dan jadwal almarhum pukul 19.00 WIB. Suatu ketika almarhum meminta tukar jadwal dengan saya. Almarhum masuk pukul 17.00 WIB dan saya masuk pukul 19.00 WIB. Alasannya? “Bapak ada kebaktian lingkungan (partamiangan) setiap Kamis pukul 19.00 WIB. Itupun kalau kamu tak keberatan,” kata almarhum.

Saya senyum-senyum saja. Tak elok rasanya kalau menolak. Saya pun mengiayakan permintaan almarhum. Pengalaman kedua (2): Pada hari Minggu (20/10/2012), saya diundang Keuskupan Agung Medan menjadi pembicara pada acara “Pertemuan Komisi Hubungan Antara Agama dan Kepercayaan (HAK) Provinsi Gerejawi Medan” di Cinta Alam Siblangit pukul 10.00 WIB. Dengan berjalan kaki, saya keluar dari rumah menuju simpang komplek untuk menunggu angkot. Di tengah perjalanan, almarhum lewat bersama istrinya (Ibu Romasi Lumbangaol). Saat itu, almarhum dan istrinya akan berangkat ke gereja. Saya pun ikut menumpang dengan mobil almarhum. Di dalam perjalanan, almarhum menanyakan: saya mau kemana, ada acara apa dan lain-lain. Saya jawab pertanyaan almarhum. Saat akan turun dari mobil, almarhum berkata begini: “Jangan sampai lupa ibaadah,” katanya.

 6.      Stambuk Lama Ada yang Gagal Juga? (2013)

PERTENGAHAN Februari 2013, saya ke fakultas untuk menyerahkan daftar nilai Bahasa Indonesia semester I. Saat keluar dari tata usaha fakultas, saya melihat almarhum duduk-duduk di bangku merah di lantai 1 gedung FE Unika Santo Thomas. Saya singgahi beliau. “Bagaimana nilai mahasiswa kamu? Bagus-bagus? Stambuk lama ada yang gagal juga,” katanya. Saya tersenyum dan kemudian mengangkat jempol kanan saya.

Pertemuan dengan almarhum saat itu menjadi pertemuan terakhir saya dengan almarhum. Saya sedih, almarhum pergi secepat ini. Almarhum masih muda dan masih banyak sumbangsih yang bisa diberikan bagi kampus, gereja dan keluarga. Semua umat akan kembali kepada Sang Khalik, karena itu saya yakin, kapan pun kita harus siap menerima kehilangan, yang berbeda hanya cara memaknainya. Semoga dedikasi dan semangat almarhum selama ini tidak akan sia-sia. Selamat Jalan Pak Abdi. (*)

6 responses to “Enam Kalimat yang Berkesan dari Almarhum, In Memoriam Abdi Sitohang, SE, M.Si (1964-2013)

  1. sepertinya saya mengambil SPM dari dia. pembawaannya tenang, mudah didekati, sama seperti kebanyakan dosen FE UNIKA.
    Selamat jalan pak Abdi, selamat menanti hariNya.

  2. Thanks infonya, dosen sy di FE Manajemn stbk 98, Dpat 2 mata kuliah brsma beliau..ramah..lucu…baik.smoga amal ibadah nya diterima di TYME

  3. “Ora et labora”…pesan terakhir beliau kepada saya saat wisuda stambuk 2008

    Tahun 2007 saya pernah berdiskusi dengan beliau di bangku merah fakultas ekonomi tentang penampilan….”Saya tidak larang penampilan km selenge’an kyk gini (penampilan saya dulu emg selenge’an..gondrong..kyk di film2 itu lho…hahahaha) tp ingat ibadah dan jangan lupakan kepercayaan org tuamu saat menguliahkan km di tempat ini..”
    Saya terhenyak mendengar kalimat tersebut….

    Beliau adalah figur bapak dan sahabat bagi saya saat di perkuliahan…istri beliau ibu romasi lumbangaol adalah dosen pembimbing saya..sehingga sedikit banyak saya tahu ttg pribadi beliau yg memang tidak neko2 sejak masa kuliah hingga menjadi dosen disaat itu.

    Akhirnya saya menyelesaikan pendidikan di FE St Thomas medan jurusan akuntansi S-1 dengan nilai yang memuaskan.
    Terima kasih Bpk. Abdi Sitohang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s