19 Juli 2003-10 Tahun yang Lalu, Tak Ada Pesta Megah Usai Wisuda (1)

29 Juli-Wisuda 10 Tahun yang Lalu (3)

FOTO WISUDA – Aku berfoto usai pelaksanaan wisuda sarjana dan ahli madya Unika Santo Thomas Medan di Kampus Unika Santo Thomas Medan, Sabtu (19/07/2003).(foto:dok)

SABTU (19/7/2003) pagi, alarm dari ponsel Siemens membangunkanku tepat pukul 05.30 WIB. Kulihat dari celah-celah jendela kamarku, di luar masih gelap. Hanya ayam milik ibu kos yang sesekali berkokok memecahkan gelapnya pagi.

Aku bangun pagi-pagi buta bukan untuk mengerjakan tugas kuliah atau belajar mempersiapkan diri menghadapi Ujian Tengah Semester (UTS) atau Ujian Akhir Semester (UAS) di kampus.

Aku bangun begitu cepat karena hari itu adalah acara seremonial kelulusanku dari Fakultas Ekonomi (Manajemen) Unika Santo Thomas Medan. Hari itu, aku diwisuda bersama 500-an lulusan lainnya dari 7 fakultas yang ada di Unika Santo Thomas Medan. Aku dan 500-an lulusan lainnya tergabung dalam wisuda periode II tahun ajaran 2002/2003.

Dulu, di masa jayanya (saat mahasiswa masih banyak) Unika Santo Thomas menggelar dua kali wisuda setiap tahun ajaran. Wisuda I dilaksanakan pada bulan Desember dan Wisuda II pada bulan Juni atau Juli. Namun seiring menurunnya jumlah mahasiswa yang kuliah di Unika Santo Thomas, sejak tahun ajaran 2009/2010 (kalau tidak salah), wisuda hanya satu kali dalam satu tahun ajaran.

Aku sengaja bangun cepat agar tidak terlambat sampai di kampus. Kami (wisudawan/wisudawati) sudah diwanti-wanti pihak rektorat agar hadir di kampus sebelum pukul 07.00 WIB karena acara wisuda dimulai pukul 07.00 WIB. Meskipun hari Sabtu (19/7/2003) adalah hari istimewa, namun jujur saja, aku biasa saja mempersiapkan diri di hari itu. Aku tak membeli atau menjahit pakaian baru untuk wisuda itu. Untuk celana panjang keper hitam dan kemeja putih lengan panjang, aku pakai celana dan kemeja yang sudah ada. Celana dan kemeja itu juga yang kupakai saat meja hijau tanggal 28 Juni 2003. Sama halnya dengan dasi. Dasi yang kugunakan adalah dasi milik abangku. Coraknya polos dan berwarna hitam. Aku sama sekali belum punya dasi saat itu.

Lalu, bagaimana dengan sepatu? Zaman dulu, sepatu-sepatu model Yongky Komaladi itu sudah banyak beredar dan sudah banyak pula yang pakai. Tetapi entah kenapa, aku tidak begitu cocok memakai sepatu model seperti itu. Bukan tidak ada uang untuk membeli, tetapi rasanya canggung saja. Jujur saja, aku lebih nyaman dengan model sepatu kets. Menurutku lebih sporty. Model sepatu kets juga yang aku pakai ke kampus setiap hari. Kalau dosennya tidak terlalu suka memperhatikan sepatu mahasiswa, aku memakai sandal sepatu. Karena sepatu kets ku sudah agak jelek, aku memakai sepatu kets teman satu kamarku. Kalau tidak salah mereknya Speecs, warna biru kombinasi putih. Kondisinya masih bagus.

Selesai mandi dan berpakaian, aku sarapan roti dan teh manis ala kadarnya. Kulihat jam di ponselku. Sudah pukul 06.30 WIB. Aku siap-siap berangkat ke kampus. Sebelum ke kampus, aku menelepon tetangga rumah di kampung (Pematangsiantar) untuk memastikan apakah Bapakku sudah berangkat ke Medan. Tahun 2003, Bapakku memang belum punya ponsel (maklum masih barang cukup mewah saat itu). Jadi biar tahu keadaannya, aku selalu menelepon ke telepon rumah tetangga kami. Dari tetangga rumah, aku dapat kabar kalau Bapak sudah berangkat dari rumah pukul 05.00 WIB.

Pukul 06.45 WIB, aku berangkat menuju kampus. Saat itu aku diantar abangku dengan menggunakan sepeda motor Yamaha RX King kepunyaan teman satu organisasi, Sepeda motor itu memang sering kami pinjam. Waktu itu, aku kos di Gang Maju, Jalan Setia Budi Tanjung Sari Medan, sekitar 2 kilometer dari kampus. Tapi sekarang, sebagian Gang Maju sudah menjadi kawasan Ring Road (Jl. Ngumban Surbakti Medan).

Sesampainya di kampus, aku mendapati suasana yang begitu riuh dan ramai. Sejak dari simpang kampus, suasana riuh dan ramai itu sudah terlihat. Kendaraan roda 2 dan 4 silih berganti masuk dan keluar kampus. Ada yang mengantar wisudawan/wisudawati dan ada juga yang sekadar melihat prosesi wisuda. Di simpang kampus, sekelompok mahasiswa menawarkan berbagai jenis dagangan, mulai dari bunga wisuda, minuman ringan, permen, tisu hingga rokok. Ada juga mahasiswa yang meminta agar setelah selesai wisuda, aku melakukan foto wisuda di papan bunga mereka. Aku mengiyakan saja. Pemandangan yang sama juga aku temukan di gerbang kampus Unika Santo Thomas. Aku jadi teringat saat kuliah dulu. Bersama teman-teman dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Unika Santo Thomas pernah menyediakan jasa foto wisuda di kampus.

29 Juli-Wisuda 10 Tahun yang Lalu

PENYEMATAN TOGA – Rektor Unika Santo Thomas saat itu, P. Leo L. Sipahutar, menyematkan toga kepadaku saat wisuda sarjana dan ahli madya Unika Santo Thomas Medan di Kampus Unika Santo Thomas Medan, Sabtu (19/07/2003).(foto:dok)

29 Juli-Wisuda 10 Tahun yang Lalu (1)

PENYERAHAN PIAGAM – Dekan Fakultas Ekonomi Unika Santo Thomas saat itu, Dr. Jhoni Manurung, menyerahkan piagam kelulusan kepadaku saat wisuda sarjana dan ahli madya Unika Santo Thomas Medan di Kampus Unika Santo Thomas Medan, Sabtu (19/07/2003).(foto:dok)

Dari rumah, toga wisuda aku simpan di dalam tas. Toga itu baru kupakai di sekretariat GEMPITA. Nggak elegan aja rasanya pakai toga dari tempat kos ke kampus.  Dari sekretariat GEMPITA baru aku berjalan ke tempat wisuda, tepatnya di lapangan kosong depan Fakultas Ilmu Komputer dan Fakultas Teknik.

Proses wisuda berlangsung tepat mulai pukul 07.00 WIB. Seiring bergeraknya waktu, aku merasakan kalau suasana tempat wisuda semakin ramai. Tempat wisuda di area terbuka (outdoor) membuat suasana juga sedikit ribut. Dengan leluasa, kerabat-kerabat wisudawan yang tidak mempunyai undangan masuk ke arena wisuda masih dapat melihat proses wisuda karena tempat wisuda yang model outdoor tersebut. Kerabat-kerabat wisudawan dari kampung bahkan ada yang sampai menggelar tikar di lapangan di sekitar tempat wisuda sembari menunggu acara selesai. Tak cuma duduk-duduk, kerabat-kerabat tersebut mengeluarkan bekal makanan yang mereka bawa untuk disantap bersama. Aku sempat melihat pemandangan tersebut. Kesimpulanku, persis seperti liburan di pantai (hehehe).

Sekilas memang kelihatan kampungan. Tapi secara pribadi aku senang. Barangkali kalau wisuda dilakukan di hotel atau convention hall (gedung pertemuan) mewah, mereka tidak diperbolehkan pengelola hotel atau gedung untuk menggelar tikar. Di kampus Unika Santo Thomas, dengan ruang terbuka yang masih tersedia cukup banyak, hal tersebut bisa mereka lakukan. Saat menyantap makanan yang mereka bawa, aku melihat keceriaan di wajah mereka. Sepertinya mereka bangga, bisa menginjakkan kaki dan melihat-lihat kampus asri dan megah tempat anak (kerabat) mereka menuntut ilmu. Pikirku, saat sudah pulang ke kampung halaman, mereka bisa bercerita tentang kampus Unika Santo Thomas ke tetangga-tetangga.

Cuaca saat itu cukup panas. Angin yang berhembus ditambah bantuan angin dari kipas angin di sekeliling tempat wisuda sepertinya tidak cukup membentengi tubuh wisudawan/wati dan undangan dari suhu yang panas. Tetapi, bagiku suhu panas itu sepertinya tidak terasa karena kebahagiaan yang hadir hari itu. Meskipun acara sedikit bertele-tele, tetapi semuanya sirna dengan prosesi wisuda tersebut.

Seluruh prosesi wisuda berakhir pukul 12.00 WIB. Aku menyalami teman-teman satu jurusan yang ikut wisuda. Kami pun menyempatkan berfoto bersama. Setelah itu aku langsung menemui Bapakku dan abangku yang masih menunggu di kursi undangan. Aku menyalami mereka dan kuajak meninggalkan lokasi wisuda. Meskipun suasana masih ramai dan padat, kami bertiga tetap berjalan himpit-himpitan dengan ratusan undangan lainnya agar bisa keluar dari lokasi wisuda. Di lapangan utama kampus, aku, Bapak dan abang berfoto bersama melalui jasa foto wisuda yang dikelola mahasiswa Unika Santo Thomas. Aku juga berfoto bersama teman-teman dari GMNI dan GEMPITA Unika Santo Thomas Medan. Oya, dari organisasi GEMPITA, tak hanya aku yang wisuda hari itu. Ada empat anggota lain yakni: Bang Wanner Sagala, Bang Rusman Nainggolan, Bang Mangara Simbolon dan Heriswan Manik.

29 Juli-Wisuda 10 Tahun yang Lalu (2)

BERSAMA BAPAK – Aku berfoto bersama Bapakku usai pelaksanaan wisuda sarjana dan ahli madya Unika Santo Thomas Medan di Kampus Unika Santo Thomas Medan, Sabtu (19/07/2003).(foto:dok)

Rasanya senang sekali hari itu. Suka duka kuliah selama hampir lima tahun terbayar hari itu. Aku melihat raut wajah Bapak yang begitu cerah. Senyum begitu lepas saat kami berfoto bersama. Aku menangkap pesan, dengan wisudaku, bebannya (Bapak) sudah berkurang satu orang. Aku dan abangku kuliah di kampus yang sama, tetapi saat aku menyelesaikan studi, abangku belum selesai studi.

Tak ada pesta megah yang kusiapkan untuk teman dan keluarga layaknya orang-orang yang baru selesai wisuda. Meskipun Bapakku menawarkan untuk membuat acara di kampung (Siantar), aku menolaknya. “Sudahlah, tak usah. Uangnya kasi buatku saja,” kataku bercanda. Aku, Bapak dan Abangku hanya makan siang ala kadarnya di sebuah warung makan Batak di Simpang Pemda, Tanjung Sari. Setelah itu, Bapak pulang kembali ke Pematangsiantar.

Saat makan, Bapak tak banyak menasehatiku. Bapak memintaku agar segera mencari kerja, karena uang belanja akan dihentikannya di bulan Juli 2003. Aku sedikit protes dan minta jangan secepat itu. Bapak melunak dan berjanji masih mengirimkan belanja tetapi hanya untuk satu bulan saja atau pada bulan Agustus 2003.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s