Stop Jadi Mahasiswa Kupu-kupu

25 September 2013-Stop Jadi Mahasiswa Kupu-kupu (1)

ILUSTRASI rapat organisasi (foto: m4741blogspot.files.wordpress.com)

“MASUK organisasi? Aduh, kayaknya aku nggak bakat dan nggak punya waktu.”, “Aduh enggak deh, orangtuaku pasti nggak izinin aku masuk organisasi.”, “Maaf ya, aku ke sini buat kuliah, bukan untuk berorganisasi. Aku takut kuliahku ketinggalan.” “Aduh ntar-ntar dulu deh yang organisasinya, aku mau ngerjain tugas kampus dulu.” dan “Haha, dari pada ikutan organisasi, mending juga nongkrong di kafe atau ke mal.”

Bagi kita yang saat ini menjadi anggota sebuah organisasi di kampus atau di luar kampus atau dulunya aktif berorganisasi saat kuliah, barangkali pernah mendapatkan jawaban seperti yang tertulis di atas saat kita mengajak teman kita masuk ke organisasi tempat kita bernaung. Demikian sebaliknya, bagi kita yang tidak punya organisasi, barangkali kita pernah memberikan salah satu dari kalimat di atas kepada teman kita saat kita diajak bergabung ke sebuah organisasi.

Kalimat-kalimat di atas hanyalah secuil dari banyak kalimat penolakan yang disampaikan seseorang saat diajak berorganisasi. Bisa jadi, ada banyak kalimat penolakan lain dan barangkali isinya juga jauh lebih parah.

Lantas, “sehina” itukah organisasi, sehingga banyak mahasiswa yang “ogah” bergabung di dalamnya?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat terlebih dahulu definisi organisasi. Organisasi pada dasarnya adalah tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya, sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Jika diturunkan ke level mahasiswa, maka organisasi kemahasiswaan adalah wadah yang berisikan mahasiswa di mana seluruh program kerja dan kepengurusan intinya dipegang oleh mahasiswa. Organisasi kemahasiswaan dibedakan menjadi dua yaitu organisasi internal dan eksternal kampus. Organisasi internal adalah organisasi yang berdiri di kampus yang mana keanggotaan dan kepengurusannya diisi oleh mahasiswa-mahasiswa dari dalam kampus itu sendiri. Contoh organisasi kemahasiswaan internal adalah kelembagaan mahasiswa (Pema, BEM, Senat) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Organisasi eksternal adalah, organisasi kemahasiswaan yang berdiri di luar kampus, namun anggota-anggotanya adalah mahasiswa dari berbagai kampus. Contohnya: Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan lain-lain.

Rasanya kita akan sepakat kalau organisasi kemahasiswaan saat didirikan memiliki tujuan yang positif. Organisasi kemahasiswaan bertujuan menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat (professional) yang memiliki kemampuan akademik dan dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Artinya dengan definisi dan tujuan organisasi kemahasiswaan yang telah disebutkan sebelumnya, kita memahami betapa besarnya tanggungjawab dari organisasi kemahasiswaan tersebut. Bagi mahasiswa yang berada di dalamnya, hal ini tentu saja beban moral yang harus dipenuhi agar tujuan positif dari organisasi tersebut bisa tercapai.

Kembali ke pertanyaan di atas. Rasanya tak elok kalau mengesampingkan peran sebuah organisasi dalam kehidupan kampus atau sekolah. Tak elok juga kalau menyebut organisasi kemahasiswaan, tempat “hina” yang “haram” untuk dimasuki. Kampus ataupun sekolah merupakan tempat bagi para mahasiswa atau pelajar dalam mencari ilmu, mengembangkan diri baik itu dibidang akademik maupun dalam sebuah organisasi. Sebagai seorang mahasiswa, tentu tujuan utama adalah kuliah, begitu juga sebagai siswa sekolah tujuan utamanya juga belajar.  Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa berorganisasi juga sama pentingnya dengan kuliah atau belajar.

Seorang mahasiswa akan memperoleh nilai tambah, jika ia tidak hanya sibuk dengan nilai akademis tetapi juga aktif berorganisasi. Mengapa begitu? Karena dengan berorganisasi, si mahasiswa bakal terbiasa bekerja sama dengan orang lain (work as a team), memiliki jiwa kepemimpinan (work as a leader) dan terbiasa bekerja dengan manajemen (work with management). Di masa depan, ketiga skill tersebut sangat dibutuhkan ketika memasuki dunia yang sebenarnya.

Mungkin kita pernah mendengar istilah “mahasiswa kupu-kupu”. Itu lho, mahasiswa tersebut hanya datang untuk perkuliahan semata. Sementara untuk informasi lainnya yang ada di kampus tidak ia hiraukan jika tidak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah. Tanpa bermaksud menggurui, sebaiknya, kita jangan mencontoh mahasiswa yang demikian. Stop jadi mahasiswa kupu-kupu. Hendaknya kita bisa menjadi mahasiswa sejati dan mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan kita dengan berorganisasi di kampus.

 Tips Membagi Waktu Antara Kuliah dan Organisasi

KULIAH dan berorganisasi ibarat dua sisi mata uang. Keduanya memiliki peran penting dalam menentukan masa depan kita. Berorganisasi sangat penting dan berguna, namun hendaknya jangan sampai lupa bahwa tujuan yang paling utama adalah belajar/kuliah. Bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu dan dengan nilai akademis yang baik adalah bentuk pertanggungjawaban kita kepada keluarga yang sudah mendukung selama ini.

Namun, terkadang tak sedikit mahasiswa atau pelajar yang kurang mampu membagi waktu antara sekolah/kuliah dengan kegiatan berorganisasi. Akibatnya, banyak diantara mereka yang harus mengorbankan organisasi untuk mengejar nilai sekolah/kuliah yang tinggi dan sebaliknya mengorbankan kuliah agar organisasi bisa berjalan dengan baik.

Jika kondisi ini yang terjadi, maka sejatinya esensi dari berorganisasi sudah tidak tercapai lagi. Kunci untuk mengatasi hal ini adalah kepandaian membagi waktu antara kuliah/sekolah dengan berorganisasi? Apa saja tipsnya?

 1. Rencanakan Kegiatan Secara Terjadwal

Catatlah semua kegiatanmu setiap hari mulai dari kuliah, berorganisasi, nongkrong bersama teman-teman dan lain-lain secara terjadwal. Catat di buku harian atau di gadgetmu dengan selengkap-lengkapnya mulai dari hari, tanggal, jam dan tempat.

 2. Kerjakan Pekerjaan yang Terpenting dan Mendesak

Semua pekerjaan baik kuliah maupun program kerja di organisasi sama pentingnya. Tapi pilihlah yang terpenting dan benar-benar mendesak. Artinya pekerjaan yang terpenting dan mendesak itulah yang harus dikerjakan lebih dulu. Misalnya: ujian semester dan rapat organisasi. Tentu saja lebih penting ujian semester kan dibandingkan rapat organisasi. Ujian semester kan mana mungkin ditunda, kalau rapat organsisasi kan masih bisa ditunda.

3. Jangan Menunda-nunda Pekerjaan

Menunda-nunda pekerjaan adalah kebiasaan yang tidak baik. Kebiasaan ini sepertinya pernah dialami hampir semua mahasiswa. Saat masih memiliki waktu yang panjang, kita memilih untuk tidak mengerjakan pekerjaan seperti tugas kuliah. Kita baru repot betul-betul menjelang deadline pengumpulan tugas. Sampai-sampai tugas kuliah dikerjakan beberapa menit sebelum mata kuliah yang bersangkutan dimulai. Sebisa mungkin, jangan menunda pekerjaan, khususnya tugas kuliah yang diberikan dosen. Jika tugas kuliah sudah selesai maka, kita bisa melaksanakan tugas-tugas organisasi dengan nyaman, tenang dan lancar.

4. Pilihlah Posisi di Organisasi Sesuai Kemampuan

Organisasi adalah tempat untuk belajar. Dengan menjabat sebuah posisi di organisasi, maka kita akan belajar mengelola organisasi dan jadi pemimpin. Tapi ingat, pilihlah posisi yang benar-benar sesuai dnegan kemampuan kita saat itu. Jika kemampuan kita masih di level seksi-seksi, pilihlah posisi itu. Jangan memegang tugas yang memang kita belum kuasai betul. Ingat pesan “learning by doing”. Belajar terus dan terus. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti, posisi puncak di organisasi bisa kita pegang.

 5. Komunikasi yang Asertif

Biasakan bersikap dewasa dan berkomunikasi dengan asertif. Asertif artinya berani dan tegas dalam membuat atau mengambil keputusan, cepat bertindak dan berani mengungkapkan ide. Misal, besok kita harus menghadapi ujian semester, akan tetapi kita juga memiliki agenda rapat yang sebenarnya juga cukup mendesak di organisasi. Nah, dalam situasi ini kita harus berani mengatakan tidak, tapi tentunya masih tetap dalam koridor kesantunan ya. Ujian semester tetap lebih penting ketimbang rapat organisasi. Rapat kan bisa diganti lain hari, tapi ujian semester tentu saja tidak bisa dong. Satu hal lagi soal komunikasi ini. Terapkanlah komunikasi yang baik dan bijak diantara sesama anggota organisasi. Misalnya begini: jika ada SMS di ponsel atau pemberitahuan di grup facebook, responlah dengan membalas SMS dan pemberitahuan tersebut. Jika misalnya kamu absen beberapa kali dalam kegiatan organisasi, jangan ragu untuk menanyakan perkembangan organisasi bila bertemu dengan teman-teman dan pengurus organisasi.

 Itu saja tips-tipsnya. Pada tahap-tahap awal, menjalani kuliah dan berorganisasi ini terasa berat buat kita. Tetapi jika kita sungguh-sungguh menjalani, percayalah semuanya akan terlewati dengan baik. Percaya juga, kita akan memetik buah yang manis nantinya.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s