Selamat Hari Mamak

ILUSTRASI Ibu (Foto: www.deviantart.com)

ILUSTRASI Ibu (Foto: http://www.deviantart.com)

APA kabarmu Mak? Sebelumnya kuucapkan Selamat Hari Mamak tahun 2013. Kusebut Mamak saja ya. Sebutan ini sepertinya lebih pas dibandingkan Ibu. Tahu kenapa Mak? Sejak kecil aku sudah terbiasa memanggilmu dengan sebutan Mak, bukan Ibu, Mama, Mami atau Mimi.

Mimi? Sepertinya jarang terdengar ya sebutan ini? Iya, waktu kita tinggal di kampung dulu, sebutan Mimi ini belum muncul. Aku justru baru mendengarnya saat aku hidup di rantau. Mimi ini panggilan sayang Aurel dan Azriel kepada ibunya, Anang Hermansyah. Jangan mengira aku mendengar langsung dari Aurel dan Azriel sebutan ini. Aku dengar-dengar dari infotainment di televisi, waktu Ibu dan Bapak (Anang Hermansyah) ribut-ribut mau cerai.

Apa kabarmu Mak? Sebentar aku menghitung tahun dulu. Kira-kira sudah tahun keberapa, aku tak melihatmu di Hari Mamak ini. Satu, dua, tiga, empat,…ops, ternyata sudah tahun ke-16 sejak kepergianmu untuk selamanya tahun 1998 lalu.

Tak terasa memang. Sudah sampai 16 tahun. Selama 16 tahun banyak hal yang sudah terjadi, baik dan buruk serta bahagia dan sedih. Tahukah Mamak, sejatinya tak saat Hari Mamak saja aku rindu padamu. Bagiku setiap hari adalah sama. Setiap hari itu pulalah aku rindu padamu. Sama halnya dengan dirimu yang setiap hari, setiap jam, dan setiap menit yang selalu mengkhawatirkan aku dalam bentuk apapun saat kita masih bersama.

Aku masih mengingat seperti apa kekhawatiranmu kepadaku saat masih hidup. Pertama dari soal pelajaran di sekolah, khususnya pelajaran Matematika. Aku mengerti kekhawatiranmu setiap kali melihat nilai evaluasi bulananku saat SD dulu yang mencantumkan angka 5 atau 6 untuk mata pelajaran Matematika. Mamak bahkan sampai mengkursuskan aku secara private ke seorang mahasiswi jurusan Matematika sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di kampung. Itupun tak cukup membantu. Nilai Matematika ku di SD tetap saja tak bergerak dari angka 5 atau 6. J

Kekhawatiranmu soal pelajaran Matematika ini juga berlanjut saat aku duduk di bangku SMP. Mamak juga mengikutkan aku kursus Matematika di sebuah lembaga kursus Matematika di kampung. Bagaimana perkembangannya? Lumayanlah. Nilai Matemetika pernah mencapai angka 7. Tak hanya kursus Matematika, Mamak juga mengikutkan aku kursus Bahasa Inggris. Sepulang dari sekolah, kursus Bahasa Inggris dulu, setelah itu kursus Matematika. Praktis, mulai dari pagi hingga sore, hidupku habis di luar rumah.

Sebenarnya kekhawatiranmu tak hanya kelemahanku soal Matematika saja. Tapi Mamak khawatir kalau sepulang sekolah aku lebih banyak banyak bermain-main bersama teman-teman. Iya kan Mak? Ayo, ngaku sajalah. J

Aku juga mengingat betul kekhawatiranmu karena aku tak pernah tertarik untuk memasak walaupun hanya memasak air teh. Aku ingat, saat duduk di kelas V-VI SD, Mamak kerap menyuruhku untuk memasak air teh, tetapi kemudian aku meminta Oppung (Kakek) yang memasak. Aku kemudian “menjual” namamu ke Oppung. “Pung, kata Mamak, masak teh,” kataku saat itu.

Aku ingat betul, Mamak punya alasan untuk menyuruhku memasak. Mamak bilang, memasak itu tak harus kerjaan perempuan. “Kalian tak ada perempuan, laki-laki semua. Jadi harus bisa masak. Kau tengok Bapakmu, pintarnya masak. Kalau Mamak sakit, Bapakmu yang masak. Kalian pun harus begitu,” katamu waktu itu.

Akhirnya kuturuti juga keinginanmu. Perlahan demi perlahan, aku pun mulai belajar memasak. Mulai dari masak air teh, masak nasi dan masak sayur. Itu waktu SD ku ingat. Masak nasinya tidak di rice cooker, tetapi di periuk, pakai kompor. Sesekali gosong, tetapi di kemudian hari akhirnya bisa juga.

Lanjut ke SMP, memasak ini tetap menjadi bagian dari pekerjaan, walaupun hanya sekadar masak air teh dan nasi. Untuk yang berat-berat seperti memasak ikan, Mamak yang melakukannya. Kondisi kesehatanmu yang drop karena gagal ginjal sejak tahun 1994, membuatku semakin terlatih. Mamak tidak bisa bekerja berat-berat dan kita tak punya pembantu waktu itu. Jadi semuanya harus dikerjakan sendiri. Jujur saja, keadaan ini mau tidak mau membuatku harus lebih mahir dalam segala hal. Tak lagi hanya sekadar masak air teh, masak nasi dan masak sayur, tetapi juga masak ikan, termasuk berbelanja di pajak (pasar). Belum lagi mencuci pakaian dan membereskan rumah.

Akupun masih menangkap kekhawatiranmu yang lain. Mamak begitu mengkhwatirkan kelanjutan hidup ku, kedua abangku (terutama abang yang menderita down syndrome) dan Bapakku ketika Mamak sudah meninggal. Tapi untuk yang satu ini, akupun tak bisa mengatakan apa-apa. Aku hanya diam saja ketika Mamak pernah mengatakan, mungkin Bapak akan menikah lagi setelah Mamak meninggal, kemudian sekolah kami pun akan berantakan kalau Bapak lebih perhatian kepada istri barunya.Mungkin lebih tepat saat itu aku “pasrah” saja walaupun tak rela harus kehilanganmu secepat itu. Tapi, Mamak pun tetap mengajari ku untuk tetap siap menerima kepergianmu kapan saja, cepat atau lambat karena penyakitmu itu.

 Mak, tahukah Mamak, setelah Mamak meninggal, sangat sulit bagi kami sekeluarga untuk melewati hidup. Hal ini semata-mata bukan persoalan duit. Sama sekali tidak. Kami pun cukup tenang, karena Mamak meninggalkan sedikit harta yang bisa kami jual untuk menutupi kebutuhan hidup dan sekolah. Tapi sekali lagi ini bukan persoalan duit, tetapi persoalan psikologis. Tak mudah hidup tanpa Mamak saat itu. Saat itu aku masih SMA dan masih butuh dampingan. Pernah juga aku mendengar ocehan tetangga seperti ini “Eh, asi do roha ate (kasihan juga memang ya),” atau “Eh, boa ma anon sikkola ni halakon, anggo Bapak nai na boe mangoli do muse I (Bagaimanalah nanti sekolah mereka ini, kalau Bapak mereka ini yang bisa kawinnya lagi itu)”. Dan ocehan-ocehan lainnya. Tapi kami harus belajar ikhlas, ikhlas menerima, bahwa Mamak sudah pergi lebih dulu ke surga.

Mak, setelah 16 tahun berlalu. Banyak hal yang sudah terjadi. Banyak hal mudah dan sulit yang harus kami lalui untuk melewati semua kekhawatiranmu dan kekhawatiran tetangga-tetangga kita. Meskipun apa yang Mamak tinggalkan kini tak bersisa, tetapi setidaknya semua itu tidak sia-sia. Meskipun belum pantas menyebut sebagai kebanggan keluarga, tapi kami bersyukur kepada Tuhan, bahwa kepergianmu di usia yang masih muda tidak akan pernah sia-sia. Dalam setiap kesempatan yang kumiliki, aku senantiasa bersyukur atas pencapaian yang aku raih selama ini.

Mak, aku tak tahu apakah Mamak di sana masih tetap mengkhawatirkan aku. Tapi yang pasti, aku tahu Mamak senantiasa melihatku dengan senyuman terbaik setiap hari. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku hampir menangis saat menuliskan ini. Sejujurnya juga, kalau Tuhan mengizinkan, kalaupun Mamak hidup sebentar, aku ingin memelukmu sebentar tapi sekali lagi tidak dengan menunjukkan air mataku yang hamper jatuh. Selamat Hari Mamak. (*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s