Aku Pulang

 

 

Aku Pulang

ILUSTRASI Aku Pulang (foto: http://mdn.biz.id/n/71301/)

KRINGG!! Itu dering handphone kelima. Aku tahu siapa peneleponnya. Sondang Hatiuran, teman satu kantorku dulu yang kini bekerja di sebuah biro periklanan. Dia masih saja berusaha membujukku untuk pulang ke Haranggaol, kampung halaman kami. Padahal setiap kali dia menelepon dalam beberapa hari terakhir, aku sudah mengatakan kepadanya bahwa Natal tahun ini aku tak pulang.

Ya. Pulang. Aku paham kengototannya yang memaksaku pulang. Sudah dua tahun terakhir aku tidak pulang. Selama enam tahun sebelum dua tahun terakhir ini, Sondang pulalah yang menjadi temanku pulang setiap libur Natal dan Tahun Baru. Hanya aku jugalah andalannya untuk bernyanyi duet saat perayaan Natal pemuda di kampung yang dilaksanakan menjelang akhir tahun. “Sudah dua tahun kau tidak pulang. Apa alasanmu tidak pulang tahun ini masih sama dengan dua tahun sebelumnya?” kata Sondang kemarin.

“Cutiku tahun ini sudah habis Son. Gara-gara kau juga ini, sering mengajakku jalan-jalan setiap Sabtu dan Minggu. Koran kami juga nggak ada liburnya, tetap terbit tanggal 25 Desember nanti,” kataku memberi alasan.

Di ujung telepon, ku dengar Sondang tertawa. “Sampai kapanpun koranmu itu tetap akan terbit. Bahkan saat kiamat tiba, koranmu pasti terbit,” sindirnya dengan sedikit logat Batak yang kentara, seperti namanya.

Aku tidak mengiyakan, tidak pula menolak ajakan Sondang. Aku hanya minta dia meneleponku dua atau tiga hari lagi karena aku harus minta izin atasanku dulu untuk cuti. “Aku pasti telepon kau lagi. Aku sudah cek ke Ratna, cutimu masih ada lima hari lagi tahun ini,” tegas Sondang.

“Eh, apa-ap…”

Belum sempat aku bicara, Sondang sudah menutup handphonenya. Aku tadinya mau protes ke dia, karena dengan beraninya mengecek sisa cutiku tahun ini ke Ratna, sekretaris divisiku di kantor.

Aku tahu kalau Sondang sebenarnya tahu aku sedang berbohong kepadanya. Memang cutiku tahun ini masih tersisa lima hari lagi. Sondang juga tahu kalau alasanku pulang bukan karena koran tempatku bekerja tidak ada liburnya. Sama sekali bukan karena dua hal itu. Sondang tahu kalau Bapakku jadi alasan aku tidak pernah lagi pulang dua tahun terakhir.

Ya, Bapakku, tepatnya almarhum Bapakku. Sondang paham betul kalau kepergian Bapak selamanya dua tahun lalu menjadi penyebab aku tidak pernah pulang kampung lagi. Sejak kuliah hingga bekerja di Medan, aku tidak pernah absen merayakan Natal dan pergantian Tahun Baru di kampung bersama Bapak. Di tengah kesibukan kerja, aku selalu mengatur cuti agar setiap Natal dan Tahun Baru aku ada di kampung bersama Bapak. Aku merasa wajib melakukan ini karena Bapakku hanya tinggal sendiri di rumah. Ibuku sudah meninggal saat aku masih SMA. Aku juga semakin rajin pulang ke kampung ketika Bapak terkena stroke selama enam tahun.  Bisa sekali seminggu dan bisa juga dua minggu sekali.

Sebisa mungkin saat off kerja setiap Sabtu, aku pulang ke kampung untuk merawat Bapak. Aku dan abangku yang juga bekerja di Medan bergantian pulang untuk mengurus Bapak. Tetapi agar perawatan terhadap Bapak semakin maksimal, abangku akhirnya mengalah dan memilih menetap di kampung. Itu kesepakatan kami berdua. Kami tak tega kalau harus menitipkan bapak di Panti Jompo. Penyakit ini pula yang merenggut nyawa bapak dua tahun lalu.

Setelah bapak meninggal, aku merasa tidak perlu lagi pulang ke kampung. Jujur saja, aku pulang kampung saat off kerja atau Natal karena Bapak saja. Dan sekarang, ketika Bapak sudah tak ada, aku berpikir pulang kampung tidak menjadi sebuah kewajiban, meskipun di sana masih ada abang dan juga saudara dari bapak. Abangku yang sudah berkeluarga juga tidak pernah memaksaku untuk pulang saat Natal dan Tahun Baru. “Terserah kau kapan mau pulang. Yang pasti kalau kau pulang, singgahkan ziarah sebentar,” kata abang lewat telepon seminggu yang lalu.

Alasan ini juga yang kerap kusampaikan ke Sondang dalam dua tahun terakhir. Namun dia tak pernah respek dengan alasanku. Dia terus menyarankan aku untuk pulang. Namun, hanya menyarankan, dan bukan memaksa. Ketika aku bersikeras untuk tidak pulang disertai suara yang sedikit meninggi, Sondang biasanya menyerah dan tak mau meneleponku lagi. Tetapi tidak sekali ini. Sondang begitu ngotot untuk mengajakku pulang.

“Sampai kapan kau begini. Kau terlalu bermain dengan perasaanmu. Aku tau kau sebenarnya rindu dengan Bapakmu, juga dengan Mamamu. Masa sih, kau tidak mau melihat mereka, ziarah ke makam mereka,” kata Sondang.

Pada dering handphone ke-15 aku akhirnya mengangkat panggilan dari Sondang. “Atasanku sedang di luar kota Son, rapat tahunan dia. Jadi cutiku belum disetujuinya,” kataku.

“Belum disetujui atau belum diajukan. Apa perlu aku cek ke…”

“Ya, ya. Aku mengaku. Cutiku belum kuajukan. Kau tak perlu cek ke Ratna lah,” ujarku sedikit kesal.

“Ya sudah, pokoknya aku pulang tanggal 23 sore. Aku ikut misa malam Natal di kampung. Kalau kau mau ikut pulang, ayo. Kalau tidak, ya terserah kau sajalah,” kata Ratna. Ratna langsung menutup telepon.

***

Akhirnya aku kembali memutuskan tidak pulang Natal tahun ini. Sondang terlihat kesal. Hal itu bisa kulihat dari dari raut wajahnya saat kuantar ke stasiun bus tadi sore. Sepanjang perjalanan, Ratna diam saja di mobil sembari asyik mengutak atik handphonenya. Kalaupun aku mengajaknya bicara, dia menjawab seenaknya saja.

Ini adalah Natal ketiga aku tidak pulang. Tak ada yang istimewa yang kulakukan di Natal tahun ini. Seusai mengikuti misa malam Natal, aku kembali ke kontrakan. Menonton film sebentar. Tapi aku tak kuat menonton sampai selesai. Aku mengantuk.

Tengah malam aku terbangun. Aku tak tahu mimpi apa yang membangunkan aku. Yang jelas aku terbangun dengan perasaan yang hampa. Aku duduk di kursi, menghabiskan air mineral di dalam gelas yang masih tersisa setengah.

Aku bersandar di kursi, menarik nafas panjang, melipat tangan dan mataku menatap langit-langit kamar dengan tatapan mata yang kosong. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat Bapak. Aku teringat momen spesial saat Natal di kampung. Mulai dari misa malam Natal bersama, ibadah Natal dan ziarah ke makamnya Mama. Biasanya saat Natal, bapak selalu menasehatiku macam-macam. Mulai dari rajin bekerja, rajin menabung dan segera menikah. Khusus nasehat ketiga, biasanya aku langsung pasang raut muka sedikit cemberut.

“Mau sampai umur berapa? Kau lihat itu teman-teman misdinarmu dulu. Sudah banyak yang menikah dan punya anak. Kau?” tanya Bapak, waktu malam Natal tiga tahun lalu.

“Aku mau lanjut S3 dululah Pak,” jawabku.

“Akh, kau ini. Kau sibuk sekolah terus. Kau tengok nanti, umurmu sudah banyak, anakmu masih…”

“Ya, ya..” aku langsung memotong kalimat Bapak. Kalau sudah begini, biasanya aku tahu kelanjutan kalimatnya.

Sejujurnya, kekhawatirannya memang tak hanya soal menikah. Saat kuliah S1 dan S2 mulai melewati batas normal, Bapak juga tak henti-hentinya menasehatiku agar cepat selesai. “Aku tahu biaya S2 mu kau tanggung sendiri. Dan aku bangga itu. Tapi kalau kau telat selesai, kau keluar uang yang banyak. Kan sayang uangnya. Kalau dikumpul, bisa untuk biaya nikahmu itu,” katanya, lalu tertawa.

Pada bagian yang lain, aku juga menangkap kekhawatirannya soal pekerjaanku. Aku tahu kalau dia sebenarnya tak begitu suka melihatku jadi jurnalis sejak dulu. Dia lebih ngotot kalau aku jadi PNS seperti dirinya. Dia bahkan pernah mengejekku karena gajiku di awal-awal jadi jurnalis lebih kecil dibandingkan belanja bulananku saat kuliah S1. Tapi meskipun begitu, aku tetap menolak tawarannya menjadi pegawai honorer di kantornya. Tetapi belakangan, Bapak bangga karena prestasiku tidak jelek-jelek amat selama jadi jurnalis. Bagak juga bangga karena aku bisa keliling nusantara dan berbagai negara karena liputan. Sesuatu yang tak bisa dilakukan Bapak selama hampir 30 tahun jadi PNS. Bapak juga semakin bangga ketika aku berhasil meraih gelar masterku.

Aku tersenyum mengingat semua itu. Entah kenapa, aku tiba-tiba rindu pada Bapak, rindu dengan nasehat-nasehatnya itu. Tapi aku juga sadar, semua itu tak mungkin terulang lagi. Aku membuka laci mejaku. Kulihat album foto saat pemakaman Bapak dua tahun lalu. Kupandangi satu persatu. Aku hampir menangis. Mungkin benar kata Sondang, aku terlalu bermain-main dengan perasaanku. Aku sebenarnya rindu pada Bapak, juga Mama.

Aku membuka tasku dan mengambil secarik kertas. Itu lembar permohonan cuti yang diberikan Ratna minggu lalu. Aku tahu apa yang kulakukan sekarang. Aku akan pulang Tahun Baru nanti. Aku mau ke makam Bapak dan Mama. Aku ingin merayakan Tahun Baru bersama mereka. “Pak, Mak, aku pulang,” (*)

Baca selengkapnya di: http://medanbisnisdaily.com/news/read/?id=71301#.UzZMSKiSwl8 atau http://mdn.biz.id/n/71301/

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s