Melihat Keberpihakan Media Terhadap Caleg Perempuan

30 Maret 2014-Melihat Keberpihakan Media (1)

SAYA (tengah) saat memberikan materi berjudul “Peranan Media Mendorong Keterwakilan Perempuan dan Issu Pluralisme Dalam Pemilu Legislatif 2014” dalam diskusi “Perempuan dan Pluralisme dalam Politik (Analisis Pemberitaan Media)” yang dilaksanakan Aliansi Sumut Bersatu (ASB) bekerjasama dengan Suara USU di Gedung Serbaguna Fakultas Ilmu Budaya, USU, Sabtu (8/3/2014). (Foto: Dok Pribadi)

PADA hari Sabtu, 8 Maret 2013 lalu, saya hadir sebagai salah satu pembicara dalam diskusi “Perempuan dan Pluralisme dalam Politik (Analisis Pemberitaan Media) di Gedung Serbaguna Fakultas Ilmu Budaya, USU. Diskusi yang dilaksanakan Aliansi Sumut Bersatu (ASB) bekerjasama dengan Suara USU ini merupakan rangkaian program ASB Goes to Campus untuk memperingati Hari Perempuan Internasional.

Dalam diskusi ini saya membawakan materi yang berjudul “Peranan Media Mendorong Keterwakilan Perempuan dan Issu Pluralisme Dalam Pemilu Legislatif 2014”. Dua pembicara lainnya adalah: Direktur KIPPAS, J. Anto yang membawakan materi “Penguatan Perempuan dan Pluralisme Sebagai Issu Politik Dalam Pemberitaan Media” dan R. Wenila, caleg PDI Perjuangan nomor urut 5 untuk DPRD Medan dari Dapil III (Medan Barat, Petisah, Baru, Helvetia).

Sehubungan dengan status saya sebagai jurnalis dan mewakili perusahaan media, maka dalam diskusi tersebut saya lebih banyak menyampaikan kebijakan-kebijakan media tempat saya bekerja dalam mendukung pemberitaan terhadap caleg perempuan. Jujur saja, apa yang saya paparkan dalam diskusi ini boleh jadi jawaban (yang walaupun belum memuaskan) terhadap kegelisahan caleg-caleg perempuan yang merasa tidak diperhatikan media saat melakukan pemberitaan.

Kegelisahan tersebut antara lain dikemukakan Wenila saat menjadi pemateri pertama. Wenila mengatakan, caleg perempuan dinilai belum menjadi pilihan pemberitaan media, baik cetak maupun elektronik. Selain faktor “kedekatan” dengan media, dukungan dana dan isu masih menjadi penghalang mengapa caleg perempuan sulit mendapat “tempat” di media.

Menurut Wenila, sebagai caleg yang belum duduk di DPRD, dirinya kesulitan untuk berinteraksi dengan media. Berbeda dengan caleg yang sedang duduk di DPRD ataupun yang mempunyai cukup dana, kesempatan mereka untuk diberitakan media memang jauh lebih besar. Status mereka sebagai wakil rakyat, juga menjadi “alasan” bagi mereka (legislator) untuk mempublikasikan kerja-kerja mereka yang berkaitan dengan kepentingan rakyat di media cetak maupun media elektronik.

“Dibandingkan caleg-caleg yang pas-pasan seperti saya misalnya, ada kesulitan yang saya rasakan. Akses saya ke media kurang. Beda dengan caleg laki-laki yang kebetulan masih jadi anggota DPRD, kerap menjadi pilihan media untuk dijadikan bahan pemberitaan,” kata Wenila dalam paparannya.

Guru PPKN SMK Raksana ini mengatakan, sepanjang sosialisasi pencalegan, dirinya tak banyak tampil jadi pemberitaaan. Wenila mengaku, dirinya pernah masuk koran, tapi itupun karena menumpang dengan caleg lagi-laki se-partainya yang sedang melakukan kegiatan. Kebetulan Wenila ikut serta dalam kegiatan tersebut.

Sebagai caleg dari etnis Tamil, Wenila mengatakan, tak berharap banyak jika harus kampanye jor-joran lewat media, apalagi pendanaannya juga tak banyak. Namun, Wenila mengakui, sebagai etnis minoritas di Medan, dirinya memang berharap banyak dari etnisnya. Namun demikian, kata Wenila, karena dirinya, ayah dan kakeknya sudah lahir dan besar di Medan, maka sejujurnya, Wenila mengatakan, darah yang mengalir di tubuhnya sudah darah Indonesia. Karena itu, diapun mengharapkan dukungan dari etnis lain, selain etnis tamil.

Saya akui, media memang masih belum berpihak kepada caleg perempuan. Curhatan Wenila di atas barangkali hanya salah satu kasus saja. Artinya, ada banyak kasus-kasus yang sama dengan kasus yang dialami Wenila. Hal ini didukung dengan riset yang dilakukan Kajian Informasi, Pendidikan dan Penerbitan Sumatera (KIPPAS). Riset ini dilakukan sejak tanggal 11 Juni 2013 hingga 31 Juli 2013 di lima media cetak terbitan Medan yakni: Analisa, Waspada, Medan Bisnis, SIB dan Tribun Medan.

Dalam riset berjudul “Media dan Caleg Perempuan” tersebut diperoleh data bahwa, dari 76 berita caleg yang dimuat kelima media cetak tersebut, hanya ada 27 item berita atau 36,8 persen berita yang memuat berita caleg perempuan. Caleg perempuan yang diberitakan umumnya incumbent (lebih dari satu kali). Caleg perempuan yang baru kali ikut pemilihan legislatif belum mendapat perhatian dari media.Damai Yona Nainggolan dari Partai Demokrat mendapat porsi paling besar yakni delapan kali, dr Geeta dari Partai Nasdem sebanyak tiga kali, Hj. Soraya dan Dalmeria Harun dari  Partai Nasdem  dan Faizah dari Partai Gerindra masing-masing sebanyak dua kali kali.

Isu caleg perempuan (dalam Pemilu) tidak pernah surut hingga saat ini. Hal telah menjadi dinamika sejak lama. Peran media massa pun tidak bisa diabaikan begitu saja dalam dinamika tersebut. Media massa, baik itu media cetak maupun elektronik juga melihat isu perempuan sebagai suatu hal yang selalu memiliki nilai berita.

Bagi Tribun Medan, caleg perempuan dalam Pemilu 2014 tetap menjadi peluang karena bagi media massa, perempuan selalu mengandung ‘nilai berita’ dibandingkan pria. Karena itulah, Tribun Medan tetap menyediakan space (kolom) untuk memberitakan kegiatan-kegiatan caleg perempuan, bahkan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan kampanye.

Apa saja dukungan Tribun Medan terhadap pemberitaan caleg perempuan? Pertama, membuka rubrik Citizen Reporter. Rubrik ini ditujukan bagi semua warga (pembaca Tribun Medan) yang ingin menginformasikan hasil reportase/kegiatan bertema perempuan dan pluralisme  dalam bentuk tulisan. Terbit setiap hari (jika bahan mencukupi) di beberapa rubrik di Tribun Medan. Misalnya rubrik Medan Life (halaman 10) dan rubrik Sumut (halaman 8).

Kedua, meliput kegiatan-kegiatan caleg perempuan dan informasi-informasi pluralisme dan menerbitkannya dalam bentuk berita di Koran. Terbit setiap hari (jika bahan mencukupi) di beberapa rubrik di Tribun Medan. Misalnya rubrik Medan Life (halaman 10), rubrik Sumut (halaman 8) atau halaman 1 (Utama).

30 Maret 2014-Melihat Keberpihakan Media (2)

CONTOH pemberitaan dengan narasumber caleg perempuan yang terbit di Tribun Medan. (Foto: repro)

Ketiga, membuat program Diskusi Harian Tribun Medan. Diskusi ini dilaksanakan setiap hari Senin-Jumat di kantor redaksi Tribun Medan. Diskusi Harian Tribun Medan ini mengundang sejumlah pembicara yang berkompeten dengan topik yang berkembang saat itu. Selain mengundang pembicara, redaksi juga mempersilakan setiap individu atau kelompok untuk datang sendiri mengisi Diskusi Harian Tribun Medan. Hasil Diskusi Harian Tribun Medan biasanya di muat di halaman 1 atau halaman lain

13TM28121308.pdf

CONTOH pemberitaan Diskusi Harian yang terbit di Tribun Medan. Diskusi Tribun ini mengundang sejumlah pembicara yang berkompeten dengan topik yang berkembang saat itu. (Foto: repro)

Tribun Medan dengan tegas tidak membatasi siapapun yang ingin menjadi narasumber pemberitaan, baik perempuan atau laki-laki, sepanjang isu tersebut layak dan bermanfaat bagi pembaca (masyarakat). Memang, tidak bisa dipungkiri kritik bahasan tentang perempuan di media massa selalu diwarnai oleh perempuan sebagai pigura (hiasan semata). Namun, semua ini bisa diatasi jika caleg perempuan menguasai empat kompetensi yakni kompetensi membingkai isu, kompetensi sebagai spoken person (assertif saat wawancara), kompetensi menulis berita serta kompetensi membina dan menjaga hubungan baik dengan pers.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s