AirAsia Membuat Saya Lebih Berani dan Disiplin

Peluncuran buku 21

PELUNCURAN buku “20 Tahun GEMPITA” di Bina Media Convention Hall, kampus Unika Santo Thomas Medan, tanggal 2 Desember 2010 lalu. Saya (paling kiri) berfoto bersama Wakil Rektor III Unika Santo Thomas Medan (paling kanan) serta pengurus UKM GEMPITA Unika Santo Thomas. (FOTO: Dok Gempita)

MENULIS sebuah buku adalah mimpi besar saya sejak aktif di dunia kepenulisan tahun 2001. Kesempatan itu baru datang tujuh tahun kemudian, atau tepatnya pertengahan Mei 2008 lalu ketika saya dipercaya menjadi penulis buku “20 Tahun GEMPITA”. Buku ini merupakan biografi perjalanan organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa Gema Pencinta Alam (UKM GEMPITA) Universitas Katolik Santo Thomas Medan selama 20 tahun. Buku ini telah diluncurkan pada tanggal 2 Desember 2010 lalu bertepatan dengan perayaan 20 tahun GEMPITA.

Saya sangat bersemangat mengerjakan buku ini, apalagi GEMPITA adalah organisasi kemahasiswaan intra kampus yang pernah saya masuki saat kuliah dulu. Dukungan pendanaan dari alumni-alumni GEMPITA untuk biaya produksi biografi tersebut membuat semangat saya tumbuh berlipat-lipat. Sebagai alumni, saya pun ikut “menabur” dukungan dengan tidak meminta honorarium atas jasa saya menulis buku tersebut.

Proses penulisan buku ini mulai saya lakukan sejak pertengahan tahun 2009. Meskipun sebagai penulis, tetapi saya ikut turun dalam proses pengumpulan data berupa wawancara kepada alumni-alumni GEMPITA, termasuk para pendiri yang mempunyai peran penting dalam sejarah pendirian dan perjalanan GEMPITA sejak berdiri tahun 1990.

Saat saya mengumpulkan data-data awal, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada sejumlah alumni yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya dan mereka merupakan narasumber penting untuk buku tersebut. Itu artinya, mereka harus diwawancarai. Untuk mewawancarai mereka secara tertulis ataupun lewat telepon bukanlah solusi bijak karena informasi yang dikumpulkan menjadi terbatas.

Setelah berdiskusi dengan adik-adik pengurus GEMPITA, diputuskan untuk mewawancarai langsung alumni yang bersangkutan di Jakarta. Masalah selesai? Tidak. Masalah berikutnya yang muncul adalah biaya tiket pesawat Medan-Jakarta yang tergolong tidak murah saat itu. Saya bersyukur ada alumni yang bersedia memberikan uang untuk pembelian tiket Medan-Jakarta PP agar saya bisa mewawancarai alumni secara langsung di Jakarta. Oleh alumni, saya diberikan kepercayaan untuk naik maskapai apapun yang menurut saya cocok sepanjang uang yang diberikan mencukupi.

Waktu itu saya sebenarnya bisa terbang ke Jakarta dengan maskapai milik perusahaan BUMN negeri ini. Tetapi niat itu saya urungkan setelah mendengar saran dari teman saya agar terbang naik AirAsia saja karena biaya tiketnya jauh lebih terjangkau. Meskipun biaya tiketnya terjangkau, teman saya memastikan bahwa kualitas pelayanannya tidak murahan.

 Saya memang sudah lama mendengar tentang AirAsia sebagai maskapai dengan biaya penerbangan terjangkau. Tetapi belum sekalipun saya mencoba penerbangan tersebut, meskipun banyak teman-teman saya yang sudah mencobanya. Hal ini dikarenakan saya belum menemukan momen yang tepat sebagai alasan saya terbang bersama AirAsia. Menurut teman-teman, terbang dengan AirAsia cocok bagi penumpang yang tidak punya keperluan mendadak atau dengan perencanaan yang jauh-jauh hari sebelumnya. Dengan begitu, konsumen bisa mendapatkan harga tiket yang terjangkau. Setelah saya diberikan tugas menulis biografi GEMPITA, saya merasa mendapatkan kesempatan untuk terbang dengan AirAsia, tinggal bagaimana mewujudkannya.

Saya menuruti saran teman saya. Saya coba search di website AirAsia, harga tiket sesuai dengan jadwal keberangkatan yang saya inginkan. Kemudian saya bandingkan harganya dengan maskapai lain. Ternyata benar, harganya masih lebih murah. Hanya saja, saya harus melakukan pemesanan jauh-jauh hari. Tak mengapa, karena waktu untuk wawancara masih panjang. Akhirnya, saya putuskan untuk berangkat ke Jakarta dengan maskapai AirAsia sekitar tiga bulan kemudian. Sembari menunggu waktu keberangkatan, saya mendahulukan untuk mengumpulkan data dan mewawancarai alumni dan narasumber lainnya yang ada di Sumatera Utara.

Keinginan untuk terbang dengan AirAsia untuk pertama kalinya akhirnya kesampaian. Saya mengambil rute Medan-Jakarta PP. Seluruh kursi yang ada penuh. Saya sempat tanya ke penumpang yang duduk sederetan dengan saya, kenapa naik AirAsia. Menurut mereka, harga terjangkau masih menjadi alasan utama.

Saat menggunakan jasa AirAsia, secara umum saya menangkap kesan yang berbeda dibandingkan maskapai lain. Pertama, kesan tersebut diperlihatkan lewat warna merah yang ada pada logo perusahaan, pakaian pramugari ataupun kursi penumpang. Sesuai dengan salah satu filosofi warna tersebut yakni berani, saya menangkap AirAsia adalah perusahaan yang berani melahirkan terobosan (penerbangan berbiaya terjangkau) lewat inovasi-inovasi yang inovatif dan efisien. Kedua, disiplin dalam pelayanan. Selama menggunakan jasa AirAsia, saya tak pernah delay hingga berjam-jam. Dalam hal ini, saya melihat AirAsia sangat menghargai waktu penumpang dan “menebus” harga yang sudah dibayar dengan terbang tepat waktu (meminimalkan delay).

Meskipun saat itu baru terbang pertama sekali bersama AirAsia, tetapi jujur AirAsia telah berhasil mengubah hidup saya untuk ke depannya, terutama untuk karir kepenulisan yang sedang saya bangun. AirAsia membuat saya untuk lebih berani menuangkan berbagai ide, pemikiran dan gagasan, berani menyuarakan kepentingan orang-orang banyak dan berani menyuarakan hal-hal yang benar dan inspiratif lewat berbagai tulisan. AirAsia juga mampu mengubah hidup saya untuk menjadi lebih disiplin dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan saya, bahkan bila perlu jauh-jauh hari sebelum deadline berakhir.

Dan kini, ketika saya menerima tawaran untuk menulis buku dan ada narasumber yang harus diwawancarai di luar provinsi Sumatera Utara, maka jika kota yang saya datangi dilayani oleh AirAsia, saya pasti terbang bersama AirAsia. Selain jadwal keberangkatan yang tepat waktu, biaya penerbangan juga lebih terjangkau dan lebih murah dibandingkan maskapai lain. Kelebihan biaya penerbangan tersebut bisa saya alokasikan untuk pos-pos lain yang bermanfaat. Seperti saat menulis buku “20 Tahun GEMPITA”, kelebihan biaya tiket penerbangan saya berikan kepada panitia peluncuran buku untuk mendukung acara peluncuran agar berlangsung lebih meriah.

Saya berharap, akan mendapat kesempatan kembali untuk terbang bersama AirAsia di lain kesempatan. Dengan demikian, saya bisa terus merasakan pelayanan AirAsia yang lahir dari inovasi-inovasi yang inovatif dan senantiasa mampu mengubah hidup saya. Terima kasih AirAsia.(*)

4 responses to “AirAsia Membuat Saya Lebih Berani dan Disiplin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s