Bersama AirAsia Saya Bisa Melihat “Obama”

DSC_0287

SAYA berfoto di dekat replika Presiden AS, Barack Obama, saat mengunjungi museum lilin Madame Tussauds, Hong Kong, Jumat (13/05/2011). (Foto: Akhmad Junaidi Siregar)

JUMAT (29/04/2011) sore, saya mendapat giliran off (tidak masuk kerja) dari kantor. Cuaca yang cukup mendung saat itu membuat saya tak bergairah untuk keluar rumah, melainkan memaksa saya untuk masuk kamar, merebahkan diri di kasur dan menarik selimut hingga setengah tubuh.

Saya berniat tidur sore itu. Tetapi setelah mata hampir terpejam, ponsel di atas meja berbunyi. Saya beranjak dari tempat tidur, meraih ponsel dan melihat pengirimnya. Ternyata dari nomor ponsel kantor. Saya penasaran. Saya baca isinya.

Tak sampai semenit membaca, mata saya membelalak, bibir saya melebar menunjukkan senyuman. Saya sedikit kaget membaca isinya. Pengirim SMS tersebut adalah sekretaris divisi tempat saya bernaung. Si sekretaris menyebutkan, kalau saya diutus kantor untuk berkunjung ke Hong Kong tanggal 12-15 Mei 2011 memenuhi undangan maskapai AirAsia berkaitan dengan peluncuran rute Medan-Hong Kong. Tak perlu berpikir lama, saya langsung mengiyakan undangan tersebut. Tak banyak hal yang saya persiapkan, karena paspor sudah saya miliki.

Berkunjung ke Hong Kong adalah mimpi yang sudah saya “tabung” selama 14 tahun atau sejak tahun 1997 hingga 2011. Saya lebih mengenal Hong Kong pada era 1997 ketika media-media di Indonesia saat itu ramai memberitakan penyerahan Hong Kong sebagai koloni Inggris kepada pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Bagi saya pribadi, Hong Kong adalah negara yang menarik. Ada beberapa alasan kenapa Hong Kong menarik. Pertama, setelah diserahkan ke pemerintah RRT, Hong Kong menikmati status otonomi yang luas dari pemerintah RRT seperti sistem hukum, mata uang, bea cukai, imigrasi dan peraturan jalan yang tetap berjalan di jalur kiri. Hong Kong bisa menikmati otonomi ini berkat kebijakan “Satu Negara Dua Sistem” ciptaan Deng Xiaoping.

Alasan kedua, Hong Kong adalah salah satu negara (daerah administratif khusus) di dunia yang menjadikan pariwisata sebagai salah satu tonggak perekonomian negara. Seorang teman kuliah yang sudah berkunjung ke Hong Kong tahun 2009 lalu membenarkan hal tersebut. Si teman mengisahkan, semua tempat pariwisata yang ia kunjungi selama di Hong Kong tak pernah sepi dari turis, utamanya turis dari kawasan Asia.

Alasan-alasan inilah yang membuat saya semakin bersemangat datang ke Hong Kong dan tanggal 12 Mei 2011, mimpi selama 14 tahun pun terkabul sudah. Saya akhirnya berkunjung ke Hong Kong. Seorang tourist guide dari Hong Kong Tourism Board (HKTB) asal Indonesia, Carolus Chui menjadi pemandu perjalanan saya di Hong Kong.

Saya tiba di Hong Kong, Kamis (12/05/2011) malam. Perjalanan ke tempat-tempat wisata di Hong Kong saya lakukan Jumat hingga Minggu (13-15/05/2011). Tempat pertama yang saya datangi adalah Victoria Peak atau The Peak (bahasa Indonesia: Puncak Victoria). Victoria Peak adalah sebuah gunung di Hong Kong yang terletak di Pulau Hong Kong atau di bagian barat daya Hong Kong dan merupakan salah satu objek wisata yang paling populer di Hong Kong. Carolus Chui mengatakan, setiap tahunnya, enam juta orang dari berbagai belahan dunia datang mengunjungi The Peak.

DSC_0239

SAYA (paling kanan) berfoto bersama teman-teman dari Medan dan staf AirAsia Indonesia saat mengunjungi Victoria Peak, Hong Kong Jumat (13/05/2011). (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Belanja-belanja (3)

SAYA memilih-milih suvenir jam yang ada di kios-kios sederhana di Ladies Market di Sai Yeung Choi Streeet, Mongkok, Pulau Hong Kong, Sabtu (14/5/2011). (Foto: Akhmad Junaidi Siregar)

Di Victoria Peak, saya sempatkan mengunjungi Peak Tower yakni sebuah menara di Victoria Peak yang juga menjadi pemberhentian paling atas dari Peak Tram. Di Peak Tower, saya datang ke  museum patung lilin Madame Tussauds.

Puas di Peak Tower, saya berkesempatan menggunakan Peak Tram. Peak Tram adalah sebuah kereta kabel tercuram di dunia dan sarana transportasi umum mekanik pertama di Hong Kong yang dioperasikan sejak tahun 1888.

Keesokan harinya, saya berbelanja oleh-oleh di Ladies Market, sebuah pasar tradisional di kawasan Mongkok, Pulau Hong Kong. Jika ingin mendapatkan produk-produk murah yang sekaligus dijadikan sebagai oleh-oleh, datanglah ke Ladies Market. Malam harinya, saya menyaksikan pertunjukan “Symphony of Lights” di kawasan  pelabuhan di daerah Tsim Sha Tsui (Victoria Harbour). Symphony of Lights adalah pertunjukan yang memadukan sinar laser, multimedia dan musik yang berasal dari 40-an gedung yang terletak di dua pulau yang berhadapan di Victoria Harbour yakni Pulau Hong Kong dan Pulau Kowloon.

Hari terakhir kunjungan, Minggu (15/05/2011), saya mendatangi Ngong Ping Village di Pulau Lantau. Perjalanan menuju ke Ngong Ping Village saya tempuh dengan menggunakan cable car (kereta gantung). Di Ngong Ping Village saya melanjutkan perjalanan ke Giant Budha atau Tian Tan Bidha. Giant Budha adalah patung Budha raksasa setinggi 34 meter yang terbuat dari perunggu seberat 250 ton yang melambangkan hubungan rukun manusia, alam, orang dan agama.

DSC_0684

SAYA harus menaiki 268 anak tangga sebelum sampai di Giant Budha, yang berada di Ngong Ping Village, Pulau Lantau, Hong Kong, Minggu (15/5/2011). (Foto: Akhmad Junaidi Siregar)

Tempat terakhir yang saya kunjungi sebelum kembali ke Medan adalah Citygate Outlets, di kawasan Tung Chung, Hong Kong. Citygate Outlets adalah mal (factory outlet) yang menjual barang-barang seperti pakaian bermerek dengan harga “miring” seperti Giordano Outlet, Esprit Outlet, dan masih banyak lagi. Sekitar pukul 16.00 waktu setempat, saya menyudahi waktu berbelanja di Citygate Outlets. Dengan menggunakan subway khusus, saya berangkat menuju bandara untuk selanjutnya kembali ke Medan.

Dari berbagai tempat yang saya kunjungi, Madame Tussauds adalah tempat yang paling berkesan. Kenapa begitu? Di Madame Tussauds, saya seolah diajak menikmati suasana yang kerap dialami para selebritas dunia saat menghadiri acara tertentu. Total ada 90 koleksi patung yang dipamerkan di tiga lantai.

Selama mengunjungi Madame Tussauds, saya sempatkan berfoto bersama tokoh-tokoh dunia dari bidang politik dan seni antara lain: Angelina Jolie dan Brad Pitt, Andy Lau, The Beatles, Madonna, Johnny Depp, Hitler, Saddam Husein, Lady Di dan Barack Obama. Saya juga berfoto disamping pendiri museum, Madame Tussauds.

Sebagai pengagum “Obama”, saya memanfaatkan kunjungan ini untuk berfoto bersama. Namun dengan ekspresi yang berbeda. Saya duduk di kursi kerja “Obama”, mengambil telepon, menaikkan kaki ke meja dan kemudian menelepon. Sementara di belakang saya, Obama memperhatikan saya sedang menelepon seseorang. Kalau melihat ekspresi ini, sepertinya saya yang menjadi “Obama” dan “Obama” yang dibelakang adalah ajudan saya. Meskipun hanya replika, tapi saya berterimakasih kepada AirAsia karena atas undangannya saya bisa melihat “Obama” dan berfoto bersama “Obama”. He…he…he….

Setelah perjalanan ke Hong Kong, semangat saya untuk mengunjungi destinasi lainnya bersama AirAsia terus tumbuh, khususnya kota-kota di mana Madame Tussauds berada seperti Bangkok dan London. Di Bangkok, saya sudah mengincar untuk bisa berfoto bersama patung proklamator RI, Soekarno.

Setelah perjalanan ke Hong Kong, AirAsia telah “menabur” asa kepada saya, bahwa tempat tersebut bisa saya datangi kembali, dengan catatan saya mempersiapkan segalanya dengan baik, mulai dari perencanaan waktu hingga perencanaan keuangan. Inilah salah satu perubahan yang saya alami dalam hidup saya, yakni perencanaan. Semoga bias terbang kembali bersama AirAsia. Terima kasih AirAsia.(*)

17 responses to “Bersama AirAsia Saya Bisa Melihat “Obama”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s