Karena Natal Adalah Sukacita dan Kesederhanaan

ILUSTRASI Natal. (Foto: makassar.tibunnews.com)

ILUSTRASI Natal. (Foto: makassar.tibunnews.com)

BEBERAPA tahun terakhir, ada perasaan tak menentu di hati saya setiap peringatan Natal tiba. Apalagi kalau bukan persoalan boleh tidaknya (baca: halal atau haram) mengucapkan selamat Natal. Beberapa hari menjelang Natal atau bahkan saat Natal pun, banyak pernyataan baik lisan dan tulisan yang berbicara soal ini. Tak cuma dari orang biasa, tapi juga hingga ke orang yang luar biasa. Pernyataan ini pun disertai beberapa ayat dari kitab suci ataupun pernyataan dari orang yang dianggap suci.

Saya tak ingat sejak tahun berapa persoalan ini muncul. Tapi yang pasti, saya pernah berada di posisi yang sangat membahagiakan saat Natal tiba (Menurut saya ya). Saya ingat, saat itu masih sekolah SMP dan SMA di kampung saya, di Pematangsiantar, sekitar 120 kilometer dari Medan. Saat itu persoalan ucapan Selamat Natal tidaklah begitu mengemuka.

Bersekolah di SMP dan SMA negeri dengan berbagai agama, membuat saya dan teman-teman paham artinya pluralisme. Tak sulit bagi kami yang berbeda agama untuk saling mengucapkan selamat hari besar keagamaan satu sama lain. Ketika media sosial seperti FB, Twitter, Path dan lain-lain serta telepon seluler belum ada, kami terbiasa berkirim ucapan Natal melalui kartu ucapan.

Kalau tidak ada uang untuk membeli perangko, kami memilih menyisipkan kartu ucapan di tas teman yang akan merayakan hari besar saat istirahat belajar tiba. Kemudian saat liburan selesai dan sekolah masuk kembali, kunjungan ke rumah teman yang merayakan hari besar pun dilakukan. Pakai jabat tangan juga. Semuanya (ucapan dan tindakan) berlangsung lancar dan tanpa ada perdebatan.

Dan kini, tepatnya beberapa tahun terakhir, saya mendapati kejadian di atas banyak berubah. Entahlah karena perkembangan informasi dan teknologi, kemajuan wawasan dan sejenisnya, saya mendapati Selamat Natal adalah sesuatu yang sulit diucapkan.

Sekarang saya memang mendapati banyak teman-teman saya yang non Kristen yang diam-diam saja saat Natal tiba, tanpa ucapan Natal dari bibir, lewat SMS, lewat media sosial atau jabat tangan. Meskipun saat hari besarnya tiba, saya tak tak lupa mengucapkan salam dan menjabat tangannya. Biarlah, apapun yang terjadi, saya tak pantas bersedih, tak pantas marah, dan tak pantas pula membalas.

Bagi saya, Natal adalah sukacita dan kesederhanaan. Tak lebih, hanya itu. Bukan otomatis sebuah pemaksaan untuk sekadar mengucapkan selamat atau berjabat tangan. Saya bersukacita karena lahirnya Yesus Kritus yang saya dan umat lainnya maknai sebagai juruselamat yang membebaskan umat manusia dari dosa. Kesederhanaan saya maknai sebagai tindakan untuk sedapat mungkin prihatin terhadap kondisi bangsa dan negara yang sedang sulit dan tidak melupakan sesama umat.

Bagi teman-teman non Kristen yang sudah mengucapkan Selamat Natal, saya mengucapkan terima kasih. Saya percaya, dengan mengucapkan Selamat Natal, maka tak serta merta mengubah keyakinan teman-teman, tak serta merta mengajak teman-teman untuk lebih mengakui eksistensi agama yang saya anut, dan tak serta merta kita memiliki teologi yang sama. Kalau boleh, anggaplah kita sama-sama bergembira (sekali lagi kalau boleh).

Bagi teman-teman non Kristen yang tidak mengucapkan Selamat Natal, saya juga mengucapkan terima kasih. Saya menghargainya sebuah pilihan yang terbaik untuk teman-teman, untuk saya, untuk kita semua. Saya, sama sekali tidak akan memaksa.

Selamat Natal, Tuhan memberkati kita semua, senantiasa.(*)

2 responses to “Karena Natal Adalah Sukacita dan Kesederhanaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s