Ketika Non Kristen Memimpin Doa Penutupan Natal

BETTY Lubis berkesempatan membawakan doa penutup dalam perayaan Natal Aliansi Sumut Bersatu (ASB) di Hotel Grand Antares, Medan, Sabtu (20/12/2014). (Foto: Truly Okto Purba)

BETTY Lubis berkesempatan membawakan doa penutup dalam perayaan Natal Aliansi Sumut Bersatu (ASB) di Hotel Grand Antares, Medan, Sabtu (20/12/2014). (Foto: Truly Okto Purba)

SAYA sebenarnya tak begitu suka mengikuti perayaan Natal, beberapa tahun terakhir. Alasannya sederhana, pekerjaan di kantor membuat saya tak bisa menghadiri perayaan Natal. Saya bekerja malam hari, sementara perayaan Natal selalu dilaksanakan mulai maghrib hingga malam hari. Jarang ada perayaan Natal pagi atau siang hari. Alasan lainnya adalah kejenuhan mengikuti perayaan Natal karena materi acaranya yang itu-itu saja. Mulai dari responsoria, koor, vocal grup dan khotbah.

Sama halnya ketika seorang teman dari Aliansi Sumut Bersatu (ASB) mengundang saya untuk menghadiri perayaan Natal mereka Hotel Grand Antares Medan, Sabtu (20/12) lalu. Saya juga sudah tak niat. Tapi melihat latar belakang lembaga ini, membuat saya penasaran untuk menghadiri perayaan Natal mereka.

Saya datang terlambat, tak tanggung-tanggung telat satu jam. Tapi syukurlah, waktu saya tiba, acara baru dimulai 15 menit kemudian. Saya ikuti acara demi acara. Dari sisi acara, perayaan Natal lembaga yang bergerak dalam isu-isu keberagaman dan pluralisme tersebut sama dengan perayaan Natal instansi-instansi lainnya yakni bernyanyi, liturgi, pembacaan puisi, vocal grup, penyalaan lilin dan vocal solo.

Namun, yang membuat perayaan Natal ASB ini berbeda adalah para pengisi acara yang datang dari lintas agama dan keyakinan. Tak hanya Kristen, umat Islam, Budha, Konghucu, dan Hindu, penganut kepercayaan seperti Baha’i juga ikut mengisi acara perayaan Natal ini.

Soraya Azmy misalnya, mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang beragama Islam ini membawakan puisi yang berjudul Manusia. Lewat puisinya tersebut, aktivis Cangkang Queer yang mengenakan jilbab ini mengajak semua umat manusia agar menghargai perbedaan yang ada di muka bumi sebagai anugerah tak ternilai dari Tuhan Yang Maha Esa. Soraya mengaku senang bisa berpartisipasi dalam Natal ASB tersebut. Dirinya memutuskan ikut berpartisipasi berangkat dari keadaan bahwa dalam dirinya sudah tumbuh semangat menjunjung tinggi multikultural dan pluralisme. Kehadirannya dan teman-temannya, menurut Soraya adalah wujud saling menghargai perbedaan yang ada.

Soraya menambahkan, kehadirannya dan teman-teman Muslim diharapkan menjadi sarana bagi semua orang untuk tidak menganggap buruk keyakinan yang mereka anut. ”Saya pribadi ingin mengubah mindset tentang Islam selama ini ke arah yang membawa kedamaian,” katanya.

Selain Soraya, Marina Efendi adalah umat Islam lainnya yang membawakan puisinya dalam perayaan Natal tersebut. Sejumlah penganut Baha’i yang dominasi perempuan tampil kompak membawakan vocal grup yang berjudul Kebahagiaan.

Jika dalam perayaan Natal, umumnya ada renungan Natal yang dibawakan oleh pendeta, maka renungan Natal pada perayaan Natal kali ini hadir dalam format refleksi. Dua pendeta yakni Pendeta Erde Berutu dari GKPPD Aceh Singkil dan Pendeta Sumurung Sihombing dari HKBP Binjai membawakan refleksi Natal seputar usaha kedua gereja tersebut di daerahnya masing-masing dalam memperjuangkan kebeberasan beribadah dan berkeyakinan.

Pendeta Erde mengaku bergembira bisa ada dalam perayaan Natal ASB tersebut. Baginya, jika Natal layaknya perayaan ASB bisa dilaksanakan di Aceh Singkil, maka hal itu adalah sebuah keajaiban. Disebut keajaiban, karena berbagai agama dan keyakinan bisa bersama-sama melaksanakan Natal. “Natal seperti ini masih sulit untuk bisa terlaksana di Aceh Singkil. Begitu banyak tantangan yang harus kami hadapi,” kata Pendeta Erde.

Sedangkan Pendeta Sumurung Harianja menyoroti permasalahanpembangunan gereja HKBP Binjai Baru yang tak kunjung usai hingga sudah memasuki tahun ke-14. Dikatakannya, sudah 14 tahun berlalu, jemaat HKBP Binjai Baru belum menerima kebebasan untuk bisa beribadah di gereja. Gereja HKBP Binjai Baru sudah mulai dibangun jauh sebelum SKB 2 Menteri berlaku. Tapi seolah-olah dibangun opini, bahwa gereja HKBP Binjai Baru dibangun pada masa SKB 2 Menteri.

Secara umum, perayaan Natal ASB ini berlangsung dengan sederhana dan hikmat. Betty Lubis, yang juga umat Muslim berkesempatan membawakan doa penutup. Bagian (doa penutup) inilah yang menurut saya paling menarik, karena umat Muslim yang justru memberikan doa penutup. Dalam doanya, Betty mengajak seluruh umat yang hadir menjadi pendorong dan penyemangat kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Direktur ASB, Veryanto Sihotang mengaku, perayaan Natal ASB sejak awal didesain sedikit berbeda dengan perayaan pada umumnya. Sebagai lembaga yang fokus pada isu keberagaman dan kebebasan berkeyakinan, perayaan Natal ini, kata Veryanto memang melibatkan berbagai umat dari lintas agama dan keyakinan yang memiliki cita-cita yang sama yakni berpartisipasi merawat kebhinnekaan.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s