Saat Saya Menanggapi “Merekatkan Kebhinnekaan, Meretas Intoleransi”

SAYA (paling kiri) menjadi penanggap dalam Semiloka Hasil Pemantauan Media “Merekatkan Kebhinnekaan, Meretas Intoleransi” yang dilaksanakan di Hotel Grand Antares, Jl. Sisingamangaraja Medan, Senin (26/1/2015). (Foto: Herry Saputra)

SAYA (paling kiri) menjadi penanggap dalam Semiloka Hasil Pemantauan Media “Merekatkan Kebhinnekaan, Meretas Intoleransi” yang dilaksanakan di Hotel Grand Antares, Jl. Sisingamangaraja Medan, Senin (26/1/2015). (Foto: Herry Saputra)

SENIN (26/1/2015), untuk kesekian kalinya saya menjadi “tamu” Aliansi Sumut Bersatu (ASB), sebuah organisasi non pemerintah lokal di Medan yang fokus pada isu-isu keberagaman dan berkeyakinan. Hari itu, saya diundang sebagai penanggap Semiloka Hasil Pemantauan Media “Merekatkan Kebhinnekaan, Meretas Intoleransi” yang dilaksanakan di Hotel Grand Antares, Jl. Sisingamangaraja Medan.

Saya tak sendiri untuk menjadi penanggap. Ada beberapa penanggap lainnya yang turut diundang. Mereka berasal dari berbagai lembaga dan profesi diantaranya Sarma Hutajulu (Anggota DPRD Sumut), Irwansyah (Dosen Universitas Islam Negeri Sumut), Anita Martha Hutagalung (Pengurus Gereja GKPS Binjai), perwakilan dari Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas), dan lain-lain.

Semiloka ini, boleh disebut adalah tindak lanjut dari penerbitan buku Laporan Pemantauan Kebebeasan Beragama/Berkeyakinan yang sudah dilakukan ASB tiga tahun berturut-turut dan juga telah dibukukan. Salah satu tim pemantau dan penulis laporan, Redima Gultom dalam paparannya mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan tersebut, ASB mencatat berbagai kasus intoleransi di mana secara jumlah kecenderungannya terjadi peningkatan.

Situasi tersebut membutuhkan perhatian dan peran dari berbagai pihak secara khusus pemerintah. Pengalaman ASB dalam melakukan advokasi kasus, dukungan dari pemerintah masih jauh dari harapan sehingga upaya perlindungan dan pemenuhan korban intoleransi masih jauh dari harapan. Ironisnya hasil pemantauan ASB menunjukkan bahwa pemerintah, baik pusat  maupun daerah justru terindikasi menjadi aktor  terjadinya diskriminasi.

Dari kondisi di atas, muncul sebuah pertanyaan besar yaitu Bagaimanakah masa depan kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia terkhusus Sumatera Utara dan Aceh pada masa-masa mendatang terkait dengan maraknya penerbitan peraturan perundang-undangan bernuansa agama yang terus digelontorkan.

“Pertanyaan tersebut menjadi tanggungjawab kita bersama, terkhusus dalam Merekatkan Kebhinnekaan dan Meretas Intoleransi. Harapan kami,  pertemuan ini akan berkontribusi untuk menjawab pertanyaan di atas, yang akan membuka ruang kepada setiap orang untuk merefleksikan posisi dan peran dalam mewujudkan perdamaian dalam keberagaman, bukan menjadi aktor terjadinya perselisihan,” kata Redima.

Sebagai penanggap, saya diminta memberikan masukan terhadap penerbitan laporan ini, terlebih karena koran tempat saya bekerja, Tribun Medan menjadi satu dari empat media cetak (koran) lokal di Medan yang diteliti (dipantau) terkait pemberitaan keberagaman dan kebebasan berkeyakinan.

Bagi saya, keikutsertaan sebagai penanggap dalam semiloka ini adalah kesempatan yang baik untuk “membocorkan” cara kerja media saya, Tribun Medan dalam memberitakan berita-berita yang terkait dengan keberagaman dan kebebasan berkeyakinan.

Saya menegaskan, sebagai media yang dibangun dan “digarap” oleh orang-orang dengan latarbelakang suku dan agama yang berbeda, maka Tribun Medan tetap menaruh perhatian yang besar terhadap berita-berita keberagaman dan kebebasan berkeyakinan. Namun, harus diakui, kemampuan jurnalis-jurnalis di lapangan dalam menulis berita dan redaktur di ruangan saat mengedit berita yang tidak merata, membuat berita-berita keberagaman dan kebebasan berkeyakinan tersebut berbelok dari aslinya, tidak menyebarkan kedamaian dan cenderung menyebarkan permusuhan antar kelompok dan agama.

Ada istilah dalam jurnalistik yang masih popular hingga saat ini, yakni “Bad News is a Good News”. Kalau diinterpretasikan, maka artinya berita buruk adalah berita bagus. Saya ambil contoh, peristiwa ibadah warga gereja di jalanan, peristiwa penutupan café dan razia tempat hiburan malam ataupun penghalangan atas pembangunan rumah ibadah. Yang terjadi di masyarakat lewat peristiwa ini adalah masyarakat seolah-olah tergiring dalam sebuah opini siapa yang benar dan siapa yang salah. Masyarakat punya asumsi masing-masing bahwa dirinya atau kelompoknyalah yang benar sehingga pantas melakukan tindakan intoleransi.

Pertanyaannya, siapakah yang berperan besar dalam menggiring opini dan asumsi masyarakat dalam peristiwa tersebut? Medialah yang berperan besar dalam menumbuhkan asumsi-asumsi dari berita tersebut. Ada beberapa faktor kenapa hal ini akhirnya terjadi. Jurnalis di lapangan tidak meliput dengan utuh, jurnalis di lapangan tidak meminta konfirmasi dari narasumber yang bertikai secara berimbang dan jurnalis di lapangan tidak mempunyai kemampuan untuk menuliskan laporan yang ia dapat dengan baik.

Setali tiga uang, redaktur yang bertugas mengedit berita jurnalis juga tidak mempunyai pemahaman yang kuat tentang isu-isu keberagaman dan berkeyakinan. Akibatnya, berita yang dieditpun tampil pas-pasan. Hasilnya? Terkadang berat sebelah dan lebih menguntungkan salah satu pihak.

Meskipun demikian, saya tetap meyakinkan peserta yang hadir, bahwa Tribun Medan tetap mengakomodir apapun berita-berita yang berkaitan dengan keberagaman dan kebebasan berkeyakinan, baik temanya menggambarkan konflik ataupun tidak konflik. Lewat belajar yang terus menerus, membaca literatur dan berdiskusi, maka berita-berita keberagaman dan kebebasan berkeyakinan yang dihasilkan jurnalis Tribun Medan tidak sekadar terbit, tetapi mampu menebarkan semangat perdamaian, menghargai keberagaman dan mendukung kebebasan berkeyakinan.

Saya berharap, tanggapan ini bisa menjadi masukan berharaga bagi ASB dan semua pihak yang berkepentingan dalam upaya Merekatkan Kebhinnekaan dan Meretas Intoleransi. SEMOGA.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s