12 Februari 1997, Saat Tulisanku Terbit Pertama Kalinya

Kini, setelah 18 tahun berlalu, menulis tidak lagi sekadar hobi, tetapi sudah menjadi karir yang sepertinya sulit untuk ditinggalkan. Air mengalir sampai jauh. Berbagai kegiatan sampingan di luar tugas-tugas jurnalistik yang berkaitan dengan aktivitas menulis datang silih berganti dari berbagai pihak. Misalnya menjadi tim peneliti, menulis buku dan menulis biografi. Aku juga berbagi pengalaman menulis dengan menjadi pembicara dalam seminar-seminar kepenulisan, trainer dalam workshop-workshop penulisan dan menjadi dosen tidak tetap di beberapa kampus di Medan.

TANGGAL 12 Februari sejatinya bukanlah tanggal yang penting-penting amat dalam kalender umat manusia. Di tahun 2015 ini, tanggal 12 Februari bukanlah tanggal merah yang menandakan hari Minggu atau hari libur, bukan pula hari yang “istimewa” bagi sebagian orang layaknya seperti tanggal 14 Februari yang disebut Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day).

Bagiku pribadi, kalau ada kata-kata yang pantas untuk menyaingi tanggal 12 Februari sebagai tanggal merah atau hari yang istimewa, maka bolehlah disebut demikian. Bagiku, tanggal 12 Februari menjadi tonggak penting perjalanan karir menulisku hingga saat ini. Tanggal 12 Februari 1997 atau 18 tahun lalu. Sudah lama sekali ternyata. Tapi untungnya aku adalah seorang administrator yang ulung, hahaha. Aku masih menyimpan kenangan di tanggal 12 Februari 1997 hingga hari dengan baik dan utuh.

Tanggal 12 Februari 1997 atau 18 tahun lalu adalah tanggal di mana tulisanku terbit untuk pertama kalinya di rubrik Taman Remaja dan Pelajar (TRP) harian Analisa Medan. Aku tak mungkin melupakan tanggal tersebut. Waktu itu hari Rabu. tulisanku berjenis artikel yang berjudul “Ada Kasih di Hari Valentine” akhirnya terbit.

Luar biasa senangnya perasaanku saat ini. Siapa yang tak senang coba. Aku harus menunggu hampir enam bulan lamanya agar tulisanku bisa terbit di salah satu rubrik populer di harian Analisa tersebut dan sekaligus menjadi incaran banyak penulis Sumatera Utara saat itu untuk bisa menampilkan karya-karyanya.

Aku memang sudah lupa tulisan apa yang pertama kali kukirim ke rubrik TRP. Tapi yang pasti selama hampir enam bulan itu, tulisanku sama sekali mungkin tak “menarik” bagi pengasuh rubrik TRP saat itu. Tak satupun tulisanku yang terbit. Aku mengirimkan artikel, cerpen, artikel, cerpen, artikel dan cerpen. Tapi tak satupun yang lolos. Aku jenuh. Meminjam istilah di goyang dumangnya Inbox SCTV, gegana (gelisah, galau, merana) gitulah.

Aku bahkan sempat berhenti menulis karena tulisan tak kunjung terbit. Tak ada yang jadi penyemangat. Waktu itu aku kelas II di SMA Negeri 1 Pematangsiantar. Teman-teman sekelasku hanya cukup jadi penikmat dan pemuji tulisanku di majalah dinding (mading) sekolah, mereka tak cukup pintar untuk memberiku semangat. Pacar? Apalagi ini. Waktu itu, aku sedang fokus ke karir artisku (baca: belajar) sehingga tak kepikiran pacaran. Ha…ha…ha. Jadi tak mungkin ada yang memberi semangat kan. Guruku? Hm…, sudahlah. Tidak memarahi atau memberi kami tugas yang banyak di kelas sudah lebih dari cukup. Konon lagi memberi semangat. Mamak dan Bapak apalagi. Kalau mereka melihat si bungsunya ini sedang mengetik tulisan di ruang tamu, mereka sudah bahagia hanya dengan bertanya: “Sedang ngetik apa kau?” Sudah, itu saja.

Di tengah rasa gegana itu, aku iseng-iseng membaca sebuah artikel dari majalah Anita Cemerlang awal Januari 1997. Isi artikelnya soal pengalaman para penulis cerpen di Anita Cemerlang. Pengalamannya soal trik yang mereka gunakan agar tulisan mereka bisa dimuat di Anita Cemerlang. Ada satu kisah penulis yang cukup menarik. Si penulis berkisah, dirinya memanfaatkan momen hari besar sebagai tema untuk menulis. Dengan demikian jauh-jauh hari, si penulis sudah mengirimkan tulisannya.

Hm.., tak sekadar menarik, tetapi juga cukup menginspirasi. Semangatku yang sudah rapuh, terbentuk kembali. Aku tahu sekarang apa yang kulakukan. Menulis, ya menulis. Sesuai dengan pengalaman si penulis, aku mengincar Hari Valentine tanggal 14 Februari sebagai topik tulisanku ke rubrik TRP. Kulihat kalender, masih pertengahan Januari. Masih ada waktu hampir satu bulan lagi sebelum tanggal 14 Februari.

Aku segera mempersiapkan artikel tersebut. Zamanku dulu SMA, mesin pencari Google belum ada. Jadi informasi dan bahan-bahan tentang Valentine  kukumpulkan dari perpustakaan sekolah,  koleksi majalah remaja dan koran-koran lama yang masih aku simpan. Setelah bahan terkumpul, aku tak langsung mengetik artikel tersebut. Terlebih dulu aku menulis draft tulisan di kertas buram. Setelah itu, barulah kuketik. Oya, waktu itu aku masih mengetik di mesin ketik manual, bukan di mesin ketik komputer apalagi di komputer. Mesin ketik yang kugunakan juga meminjam dari tetangga.

POTONGAN artikelku yang berjudul "Ada Kasih di Hari Valentine" yang terbit di rubrik Taman Remaja dan Pelajar (TRP) harian Analisa, Rabu, 12 Februari 1997 lalu. (Foto: Truly Okto Purba)

POTONGAN artikelku yang berjudul “Ada Kasih di Hari Valentine” yang terbit di rubrik Taman Remaja dan Pelajar (TRP) harian Analisa, Rabu, 12 Februari 1997 lalu. (Foto: Truly Okto Purba)

Dalam waktu tiga hari, jadilah artikel yang kumaksud. Judulnya: Ada Kasih di Hari Valentine. Saat mengirim tulisan tersebut ke rubrik TRP Analisa, tak lupa kuselipkan perangko balasan, untuk jaga-jaga kalau tulisan tersebut kembali tak layak muat dan harus dikembalikan.

Waktu itu rubrik TRP terbit dua kali seminggu, Rabu dan Sabtu. Aku berharap, kali ini dewi fortuna berpihak padaku. Hari Rabu, tanggal 12 Februari 1997, sepulang sekolah, aku sempatkan membeli koran di kios koran langgananku. Kubuka lembar demi lembar koran Analisa dan mencari rubrik TRP yang ada di halaman 9. Mataku langsung mencari-cari tulisanku. Dan akhirnya, artikelku yang berjudul “Ada Kasih di Hari Valentine” terbit di Rubrik TRP. Inilah tulisan pertamaku yang terbit di rubrik TRP. Duh, senangnya tak terbayangkan. Aku berhasil memanfaatkan momen Valentine agar tulisanku bisa terbit di TRP.

Kini, setelah 18 tahun berlalu, aku masih menyimpan potongan koran yang memuat tulisanku tersebut. Bahagia rasanya jika melihat koran tersebut dan mengingat masa-masa itu.. Selepas tulisan pertama soal valentine itu, tulisan yang kukirim ke TRP senantiasa diterbitkan, tak hanya artikel, tetapi juga cerpen dan humor. Tak hanya di Analisa, aku juga menulis di beberapa koran lain terbitan Medan dan Jakarta. Honor dari tulisan-tulisanku juga mulai kuterima. Senang rasanya, saat masih SMA sudah bisa punya penghasilan sendiri.

Meskipun hobi menulis, sama sekali aku belum berpikir untuk menjadi penulis atau wartawan setelah lulus SMA. Tak lulus mengambil Fakultas Kedokteran saat UMPTN, ha..ha..ha, aku kemudian mendaftar ke Unika Santo Thomas, Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen. Jujur ini hanya fakultas pelarian saja karena tak kesampaian jadi dokter. Tapi akhirnya kujalani juga, meski untuk mendapat indeks prestasi (IP) mendekati 3 saja, aku sudah “ngos-ngosan” betul. Saat kuliah, aku tetap menulis di Analisa dan di koran-koran lain. Sesekali aku juga ikut lomba menulis dan entah kenapa, menang-menang pula. He…he…he.

Pundi-pundi uangku juga semakin banyak. Selain dari honor menulis dan hadiah lomba, aku juga masih mendapat beasiswa (baca: kiriman) dari Bapak di kampung. Belum lagi beasiswa yang kudapat dari kampus. Selain beasiswa dari kampus yang semata-mata hanya berdasarkan IP dan kondisi ekonomi, aku juga rajin mencari beasiswa dari luar kampus yang patokannya bukan IP semata. Dapatlah aku beasiswa dari sebuah penerbit terkenal yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang punya prestasi di luar prestasi akademik, seperti menulis. Nilainya jauh lebih besar dari beasiswa kampus.

Tamat kuliah, aku langsung diterima bekerja. Tetapi bekerja di bidang yang sama sekali tidak berhubungan dengan ilmu ekonomi (Manajemen) yang kupelajari di kampus dulu, melainkan menjadi jurnalis. Ha…ha…ha. Ya sudahlah, yang penting masih tetap menulis. Tetapi, setelah beberapa lama bekerja, akhirnya ilmu ekonomi yang kupelajari dulu terpakai juga saat ditugaskan menulis berita-berita ekonomi.

KORAN Analisa edisi Rabu, 12 Februari 1997 yang memuat artikelku yang berjudul "Ada Kasih di Hari Valentine"  masih kusimpan rapi. (Foto: Truly Okto Purba)

KORAN Analisa edisi Rabu, 12 Februari 1997 yang memuat artikelku yang berjudul “Ada Kasih di Hari Valentine” masih kusimpan rapi. (Foto: Truly Okto Purba)

Kini, setelah 18 tahun berlalu, menulis tidak lagi sekadar hobi, tetapi sudah menjadi karir yang sepertinya sulit untuk ditinggalkan. Air mengalir sampai jauh. Berbagai kegiatan sampingan di luar tugas-tugas jurnalistik yang berkaitan dengan aktivitas menulis datang silih berganti dari berbagai pihak. Misalnya menjadi tim peneliti, menulis buku dan menulis biografi. Aku juga berbagi pengalaman menulis dengan menjadi pembicara dalam seminar-seminar kepenulisan, trainer dalam workshop-workshop penulisan dan menjadi dosen tidak tetap di beberapa kampus di Medan. Jujur saja, aku merasa memiliki sedikit keahlian yang patut kubanggakan dari karir ini, sehingga banyak yang memberi kepercayaan. Hm…hm…hm

Lewat pengalaman yang kupunya, aku juga berusaha menularkan semangat menulis kepada mahasiswa-mahasiswaku. Aku ajak belajar dan berdiskusi bersama lewat kelompok-kelompok menulis. Aku menyemangati mereka untuk mengirimkan tulisan-tulisan ke media, meskipun harus mendapat penolakan. Mendorong mereka mengikuti lomba menulis meskipun belum tentu menang. Aku yakinkan mereka, bahwa keberhasilan tidak datang dengan sekali atau dua kali mencoba. Kuyakinkan juga, menulis tak akan mengaburkan cita-cita yang sudah mereka bangun sejak awal di bangku kuliah.

Sejatinya, artikelku yang berjudul “Ada Kasih di Hari Valentine” yang terbit 18 tahun lalu bukanlah tulisan yang hebat-hebat amat. Tapi setidaknya, tulisan ini menjadi penyemangat untuk terus menulis dan menulis. Tulisan ini juga mengajarkan kesabaran, terus berusaha, senantiasa belajar dan tidak mudah menyerah. Terima kasih buat semua orang sudah membantuku selama 18 tahun ini. Salam.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s