Bapak Menungguku Pulang Sebelum Meninggal (12 April 2013-12 April 2015)

Kusempatkan berdoa, semoga Bapakku sehat dan bisa mengatur keuangan dengan baik, agar aku dan abangku bisa tetap kuliah. Kalau kuliah kami berantakan, komplitlah sudah. Sudahlah kami tak beribu, sekolah juga berantakan.

“KAU pulanglah kalau gitu ya. Bapa Anggi (penyebutan adik laki-laki dari Bapak dalam suku Simalungun) juga lagi di sini. Kurang sehat juga dia,”

“Iya kak,”

Setelah mengiyakan, aku memutus pembicaraan. Tadi itu aku bertelepon dengan kakak iparku yang tinggal di kampung, di Pematangsiantar. Aku bertelepon dengannya, Rabu (10 April 2013) malam. Kakak memintaku, jika ada waktu, pulanglah, sekalian melihat Bapak yang masih sakit karena stroke.

ALM Bapak semasa hidupnya. (FOTO: Dok Pribadi)

ALM Bapak semasa hidupnya. (FOTO: Dok Pribadi)

Aku sebenarnya sudah mempunyai jadwal rutin  pulang ke kampung, bisa dua minggu sekali dan bisa sekali sebulan. Kalau tak ada pekerjaan penting di Medan, aku biasanya pulang setiap dua minggu. Aku memanfaatkan jadwal offku di Tribun hari Jumat. Jadi aku pulang Kamis malam dan kembali lagi ke Medan, Sabtu siang. Kalau pulang, biasanya kumanfaatkan mengurus Bapak: mengantar berobat, memandikan, menunggui buang air besar, memasak ikan yang Bapak suka, membersihkan rumah dan lain-lain. Hal ini sudah kulakukan sejak tahun 2007 atau sejak Bapak terkena stroke.

Dan Kamis (11 April 2013), aku masuk kantor lebih cepat dari jam masuk biasa. Aku sudah datang pukul 14.00 WIB, satu jam lebih cepat dari biasanya. Aku memang sengaja cepat datang ke kantor. Bukan karena kerajinan ya (barena biasanya aku lebih sering telat masuk daripada tepat waktu).  Selain biar kerja cepat selesai (karena mengejar trip terakhir taksi Paradep), Teman satu deskku di desk kota, Rachmi Ayu off hari itu. Artinya, halaman yang dia pegang berpindah kepadaku.

Lima halaman yang kutangani hari itu, kumulai dengan mengerjakan halaman yang mudah-mudah dulu, Facebook on Paper, Public Service dan Smart Communities. Kulanjutkan kembali pekerjaan dengan mengerjakan halaman Medan Life, kalau tak salah sekitar pukul 07.30 malam. Saat sedang mengedit berita dari reporter, ponselku berbunyi. Ada SMS masuk. Ku cek, dari kakak. Hanya bertanya singkat: “Sudah di mana?”. “Masih di Medan, aku paling cepat pulang jam 10 malam,” jawabnya. “Oh ya sudah,” tulisnya di balasan SMS nya.

Kupikir SMS kakak barusan hanyalah SMS biasa. Kulanjutkan mengedit berita untuk halaman Medan Life. Udara dingin yang keluar dari AC yang terpasang persis di belakangku membuatku sedikit menggigil. Kupakai jaket hingga menutup kepala. Aku asyik mengedit berita. Sekitar 20 menit kemudian, ponselku berbunyi lagi. Masih dari kakak. “Sudah berangkat?”. Aku mulai curiga. Di SMS pertama sudah kujawab aku pulang sekitar jam 10 malam. Tapi ini kan baru jam 7 lewat setengah jam, kenapa di SMS lagi. “Belumlah kak, jam 10 malam nanti aku pulang,” jawabku.

Hening, tak ada balasan SMS lagi. Kulanjutkan bekerja. Ku cek folder. Halaman Medan Life masih terisi setengah. Sepuluh menit kemudian, ponselku berbunyi lagi. Ada panggilan masuk. Kulihat sekilas. Dari abangku. Kuangkat. Pertanyaan yang sama dengan dua SMS kakakku diulangnya. Kujawab juga dengan jawaban sama. Kubilang kepadanya, halamanku masih ada satu lagi. Paling cepat bisa setelah jam setengah sembilan malam. Di seberang, kudengar dia meminta apa aku tidak bisa permisi dan pulang lebih awal ke kampung. Saat dia bicara begitu, aku berpindah ke ruang rapat.

Perasaanku mulai tak enak. Tak kujawab pertanyaannya apakah aku bisa pulang cepat atau tidak. “Kenapa Bapak rupanya?” tanyaku. Pikiranku memang langsung mengarah ke Bapakku saat ini. Dua kali di SMS kakak dan sekali di telepon abang dengan pertanyaan yang menurutku aneh sudah cukup menghadirkan rasa cemas soal Bapak. “Nggak apa-apa. Ya sudah. Cepatlah kalau begitu. Tapi kalau bisa halamanmu itu dikerjakan sama yang lain,” katanya. Aku membuang napas. “Aku juga sudah kerja sendiri ini, temanku tak masuk. Yang lain juga sudah punya halaman. Tunggulah kucepatkan pun selesai,” kataku.

Aku kembali ke mejaku. Perasaanku semakin tak enak. Entah kenapa aku punya perasaan yang begitu cemas kepada Bapak. Aku mulai tak konsentrasi. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam lewat. Halaman Medan Life baru selesai setengah, dan masih ada satu halaman lagi, Kesawan Square yang belum selesai. Aku sempat berpikir mengiyakan permintaan abangku, permisi pulang. Tapi pikiranku itu sirna. Biarlah kuselesaikan saja. Tak enak kalau harus membebankan teman-teman yang lain. Aku membesarkan hati. “Semoga Bapak tidak apa-apa,” kataku dalam hati.

Setengah jam kemudian, selesai juga halaman Medan Life. Saat akan mulai mengerjakan satu halaman tersisa (Kesawan Square), ponselku kembali berbunyi. Kulihat sebentar. Panggilan masuk kembali dari abangku. Perasaanku semakin cemas. Aku naik ke lantai paling atas kantor agar mendapat sinyal yang bagus. Aku duduk di samping tangki air. “Ya, ini sudah mau selesai. Udah mau berangkat ini,” kataku berbohong. “Ya, cepatlah ya,” jawab di seberang.

Entah kenapa aku memberanikan diri untuk menebak kondisi Bapakku saat itu. “Bapak tidak kenapa-napa kan? Atau memang sudah pergi?” tanyaku. Abangku tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya bilang, “Sudah cepatlah datang,” katanya lalu menutup telepon.

Abang dan kakakku sepertinya menyimpan sesuatu. Saat itu, aku memang sudah membayangkan kalau Bapakku sudah meninggal. Kucoba menelepon Bapa Anggiku, tetapi sama saja. Dia juga memintaku cepat pulang. Aku semakin cemas. Sepertinya mereka semua kompak menyembunyikan sesuatu. Dadaku terasa sesak. Aku merasakan cemas yang teramat dalam kepada Bapakku. Air mataku menetes satu-satu.

AKU menyampaikan kata perpisahan sebelum pemberangkatan jenazah Bapak ke kampung halaman di Haranggaol, Simalungun, Senin (15/4/2013). (FOTO: Dok Pribadi)

AKU menyampaikan kata perpisahan sebelum pemberangkatan jenazah Bapak ke kampung halaman ke Purba Saribu, Simalungun, Senin (15/4/2013). (FOTO: Dok Pribadi)

Aku bersandar di sisi tangki air. Mataku menatap kosong langit. Satu menit aku menangis. Tidak, tidak. Tak bisa cengeng begini. Aku bergegas turun ke ruangan redaksi. Duduk di kursi kerjaku. Aku harus cepat pulang. Kukebut mengerjakan satu halaman yang tersisa. Konsentrasi yang tidak penuh membuatku tak bisa fokus mengedit berita. Aku mengedit berita ala kadarnya saja. Sekitar 45 menit aku selesai mengerjakan halaman Kesawan Square. Kuserahkan ke atasanku. Tapi yang terjadi adalah atasanku memintaku untuk memperbaiki halaman tersebut. Kulirik jam tanganku, sudah pukul 09.30 malam. Aku sudah terburu-buru, tapi atasanku meminta memperbaiki halaman tersebut. Entah kenapa, bibirku seolah terkunci untuk mengatakan dengan jujur kepadanya kalau aku buru-buru harus pulang.

Kuperbaiki juga halaman itu. Sekali lagi dan jujur, perbaikannya seadanya saja. Aku benar-benar tak konsentrasi lagi. Dan pukul10 malam, semua halamanku selesai. Aku bergegas pulang. Aku minta tolong kepada teman satu kantor, Liston Damanik untuk mengantarkan sampai di simpang RS Siti Hajar. Dari simpang ini, aku naik angkot ke stasiun Paradep di Jl. Sisingamangaraja Medan.

Pukul 11 malam, aku berangkat dari Medan. Di perjalanan, beberapa kali kakak dan abang menelepon dan mengSMS, menanyakan apakah aku sudah berangkat dan sudah sampai di mana. Mendapat telepon dan SMS yang berkali-kali ini, kekhawatiranku soal kondisi Bapak semakin besar. Kekhawatiran tersebut perlahan-lahan menjelma menjadi keyakinan kalau Bapak sudah meninggal. Seketika aku dirasuki kehilangan yang sangat mendalam.

Aku duduk di bangku paling belakang, dekat dengan jendela. Aku teringat terus ke Bapak. Aku merasa sangat sedih. Kucoba untuk tidak menangis, tapi tak bisa juga. Aku bersandar, kulepaskan jaketku dan kututupi wajahku. Dengan begini, penumpang di sebelahku tak tahu kalau aku sedang menangis. Jujur, untuk urusan begini, aku memang sangat cengeng. Hanya saja, aku tak ingin orang lain tahu kecengengan ini.

Laju kendaraan dan suara lagu di dalam taksi “cukup” membantu menyembunyikan suara tangisanku. Sepanjang perjalanan, aku terus membiarkan wajahku tertutupi jaket. Perasaan kehilangan semakin kuat menghinggapi.

***

Bapakku bernama Syariaman Purba, anak dari N. Purba dan ibu boru Damanik. Dia lahir tahun 1945. Ayahku hanya dua bersaudara yang kedua-duanya laki-laki. Kalau melihat keluarga teman-temanku yang banyak itu, pernah aku heran kenapa mereka hanya dua bersaudara. Akhirnya terjawab kalau ibunya (oppung boruku) itu melahirkan Bapakku dan Bapa Anggiku lewat operasi caesar. Jadi zaman dulu (menurut Bapakku), perempuan yang melahirkan lewat operasi caesar hanya boleh maksimal melahirkan dua kali.

Sejak menikah, oppungku sudah tidak tinggal di kampung asalnya, Purba Saribu, kecamatan Haranggaol Horisan, Simalungun. Mereka memilih pindah ke Laut Tador, Tebing Tinggi. Dulu Tebing Tinggi masih menjadi wilayah Kabupaten Simalungun. Menurut cerita Bapakku, di Laut Tadorlah, kedua oppungku bertani. Sedangkan Bapak dan Bapa Anggiku menghabiskan masa sekolah di Tebing Tinggi. Mereka dikoskan di Tebing Tinggi karena oppug doliku kerepotan mengantar mereka dari Laut Tador ke Tebing Tinggi setiap pagi. Selain jarak yang jauh, transportasi juga masih sulit di masa itu. Hanya ada kereta api. Telat bangun pagi, pasti tidak ada kereta api. Tapi hanya Bapak yang sampai ke pendidikan tinggi, lulus Sarjana Muda jurusan Bisnis Manajemen dari Universitas Jayabaya. Sedangkan Bapa Anggiku hanya lulus SMP. Setelah menikah dan bekerja di Pematangsiantar, Bapak pernah mencoba meneruskan kuliah mengambil sarjana penuh di Universitas Simalungun, Pematangsiantar, tetapi tidak kesampaian karena sakit.

Setamat kuliah, Bapak berdinas di bagian penjualan tiket Kebun Binatang di Pematangsiantar. Bapak pernah cerita, kalau tetangga dan anak-anak tetangganya datang ke Kebun Binatang, Bapak kerap tidak meminta bayaran. Disuruh masuk saja semua. Lepas dari Kebun Binatang, Bapak dipindah ke Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Hanya saja aku tak pernah tanya, apakah dia jadi tukang pentung atau pegawai administratif di situ (Satpol PP). Dari Satpol PP, Bapak pindah ke Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda). Di sini Bapak lama bertugas. Sebelum pensiun tahun 2001 lalu, Bapak bertugas di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil).

Bapak hanya PNS biasa. Jabatannyapun tak mentereng-mentereng amat. Kalau tidak salah, sampai pensiun, golongannya pun masih 3C. Akupun ingat betul seperti apa perilaku bekerjanya. Terkadang berangkat ke kantor sudah pukul 09.00 WIB, dan pulangnya pun lebih cepat dari jam PNS pada umumnya. Namanya juga PNS zaman dulu ya.

Namun di tengah “ketidakseriusannya” menjadi PNS, Bapak masih punya keseriusan untuk berladang dan mengurus ternak babi kami yang ada di belakang rumah. Setiap hari, Bapak kebagian untuk memandikan memberi makan babi. Biasanya kalau menyiram babi, dia mengajak abangku yang paling besar. Bapakku yang memegang keran air, abangku yang menyapu kotorannya. Kemudian tiga kali seminggu, Bapak dan Mamak pergi ke ladang, Di ladang mereka tanam ubi kayu, ubi jalar dan pisang. Hasilnya bukan untuk dijual, tetapi untuk makanan babi. Terkadang aku ikut ke ladang. Kemudian mengambil daun ubi jalar untuk makanan babi di rumah. Rutinitas seperti ini kulakukan hingga aku kelas II SMP. Saat aku kelas II SMP, Bapak dan Mamak berhenti beternak babi karena kesehatan Mamak yang tidak memungkinkan. Mamak akhirnya meninggal dunia pada tahun 1998, saat aku duduk di bangku SMA karena gagal ginjal. Dia cuci darah dua kali seminggu selama hampir lima tahun.

Memiliki orangtua yang berpendidikan (Mamak menamatkan kuliah Sarjana Muda dari Jurusan Bahasa Indonesia di IKIP Medan), membuat aku bangga pada mereka. Akupun menanamkan semangat agar suatu saat bisa seperti mereka, sekolah setinggi-tingginya. Aku hanya punya dua saudara yang semuanya laki-laki. Tapi dari tiga bersaudara, hanya dua orang saja yang bisa menempuh pendidikan normal, aku dan abangku yang paling besar. Sedangkan, abangku yang nomor dua (tengah) adalah penyandang down syndrome (tuna grahita) sehingga tidak bisa bersekolah di sekolah normal. Tentu tak mungkin juga sekolah tinggi-tinggi.

Setelah Mamak meninggal, aku merasakan kebahagiaan yang berkurang sangat jauh. Meskipun semenjak dia sakit dan cuci darah, konsep keluarga yang sempurna dan bahagia itu juga kurasakan sudah banyak berkurang. Tetapi sejak Mamak meninggal, aku dihinggapi kekhawatiran yang teramat dalam. Khawatir kalau-kalau Bapakku akan menikah lagi, kemudian punya ibu tiri yang mungkin saja menikahi Bapakku bukan karena cinta, khawatir dengan abangku nomor dua menjadi semakin tak terurus dan khawatir kalau-kalau aku bakalan hanya sampai tamat SMA saja.

Tapi kekhawatiranku berkurang sedikit demi sedikit. Tak lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), dia tetap memintaku kuliah. Ke swasta pun tak mengapa. Dia justru tak memintaku kuliah di Siantar, meskipun ada beberapa kampus di Siantar. “Sudahlah, ke Medan saja. Orang Samosir saja sudah ke Medan, masa kau di Siantar juga. Tapi di Medan saja ya, tak usah sampai ke Jakarta. Biar kalau pulang-pulang tidak banyak ongkos,” katanya.

Aku paham betul kenapa dia tak ingin aku jauh-jauh. Sebenarnya bukan karena ongkos. Tapi ya sudahlah. Bisa melanjutkan sekolah juga sudah bersyukur. Aku berpikir kalau aku di Medan, aku bisa pulang sesekali, menengok dia dan abangku. Kalau ada kenapa-kenapa di Siantar, aku juga bisa pulang dengan cepat.

Aku akhirnya memilih kuliah di Unika Santo Thomas Medan, di Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen. Ada beberapa alasan kenapa akhirnya memutuskan kuliah di Unika. Pertama, abangku yang paling besar juga kuliah di sini. Kedua, aku sudah terbiasa dengan pendidikan di Katolik sejak SD. Meskipun beragama Protestan, tapi Bapak dan Mamak kami lebih percaya pendidikan yang dikelola oleh Katolik. Ketiga: di masaku, kampus ini sedang jaya-jayanya. Lulusan dari SMA-SMA top baik swasta dan negeri dari berbagai daerah di Sumut dan bahkan Jawa banyak yang memilih melanjutkan kuliah di Unika Santo Thomas.

Memilih jurusan Manajemen juga semata-mata karena jurusan ini tak banyak hitungan Matematikanya. Selain itu akupun tak kuat-kuat kali pelajaran Akuntansi. Dulu aku punya cita-cita jadi dokter. Itu pilihan pertamaku saat UMPTN. Tapi karena tak lulus, tak tega aku meminta ke Bapakku kuliah kedokteran di kampus swasta. Biayanya mahal dan aku yakin dia tak punya uang yang banyak. Hingga Mamak meninggal atau semasa sakit, sedikit demi sedikit tabungan dan aset mereka memang terkuras habis untuk pengobatan Mamak.

Meninggalkan mereka berdua di Siantar (Bapak dan abangku yang nomor dua) tetap membuatku cemas. Cemas kalau-kalau Bapakku akan menikah lagi dan cemas kalau abangku yang down syndrome tak akan terurus dengan baik. Soal kemungkinan Bapak menikah lagi, aku memang tak pernah menyinggungnya. Saat ditanya keluargapun, aku hanya menjawab: “Lihat nanti sajalah,” Menariknya, Bapakkupun tak pernah menyinggung kalau-kalau dia berminat menikah lagi. Justru dia meyakinkanku kalau abangku yang nomor dua akan baik-baik saja. “Sudah, tak apa-apa dia itu,” katanya.

Bapakku memberangkatkanku ke Medan dengan “standart”. Hanya diantarkan sampai gerbang rumah. Tak ada nasehat yang panjang lebar. Tak ada adegan peluk-peluk, cium pipi kiri dan kanan dan menangis seperti di sentron-sinetron itu. Entahlah setelah aku pergi, Bapakku menangis di kamarnya. Biasalah, orang Simalungun kan begitu. Sedihnya kan diam-diam. Bapakku hanya memintaku belajar baik-baik, dapat nilai (IP) yang baik dan bisa tamat maksimal enam tahun. Tak ada nasehat: jangan merokok, jangan berteman dengan orang-orang berandalan, jangan minum-minum, atau jangan malas ke gereja.

Menjadi anak kos, tentu ada beberapa kesulitan yang sempat kurasakan. Mulai dari mengatur keuangan hingga makan sehari-hari. Uang belanja yang dikirim Bapakku setiap bulan terkadang hanya cukup sampai tanggal 20. Bisa bertahan sampai tanggal 25 itu sudah bagus. Selebihnya aku ngutang ke teman kelas atau ngutang makan di warung dekat kamar kos. Untuk menutupi utang-utangku, aku tak berani minta tambahan uang ke Bapak. Biasanya kubuat alasan, mau beli buku, beli diktat, mau mengganti gagang kacamata, mengganti mur kacamata atau mengganti lensa kacamata. Tapi sepertinya Bapakku tahu kalau gagang, mur dan lensa kacamata itu hanya karanganku saja. Saat pulang ke kampung, aku malah diledeknya.

“Tidaknya berubah kacamatamu, samanya kutengok. Gagangnya dan lensanya kayaknya masih yang lama,” katanya. Diledek begitu, aku masih mampu berkelit. “Memang yang sama kubeli modelnya Pak,” jawabku.

Meskipun sama-sama kuliah di kampus yang sama, tapi aku dan abangku tidak satu kos. Maklumlah, beda aliran kepercayaan. Bapakku juga jarang menengok aku dan abangku di Medan. Memang kutekankan kepada Bapak, kalau tak perlu-perlu kali tak usahlah datang ke Medan. Lagipula seperti anak SMA saja dilihat-lihat.

Tahun-tahun pertama kuliah di Medan, komunikasiku dengan Bapak tidaklah intens-intens betul. Maklum, zaman aku mulai kuliah belum ada handphone. Tempat kosku yang pertama juga tak punya telepon. Di kampung juga kami tak punya telepon rumah. Biasanya kalau ada perlu-perlu aku yang menelepon Bapak lewat telepon tetangga.

Bapakku juga melarangku pulang sering-sering. Pernah aku pulang dua minggu sekali, dan dia marah. “Kok pulang-pulang saja terus ya. Jadi kapannya kau kuliah kalau pulang-pulang saja,” katanya. Padahal sebenarnya dia melarangku sering-sering pulang biar jangan banyak uang keluar. Setiap kali pulang, tentu saja uangnya pasti keluar, minimal untuk ongkosku atau uang peganganku.

Di kampus, aku ikut organisasi kemahasiswaan di intra kampus (GEMPITA-Gema Pencinta Alam) dan di ekstra kampus (GMNI-Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Sedikit banyak, kegiatan-kegiatan ini ikut menggerus uang belanjaku. Apalagi ikut GEMPITA. Ini bukan kegiatan murahan menurutku. Kegiatannya perlu perlengkapan yang tak murahan juga. Aku yang hanya bergantung dari uang belanja bulanan merasa kalau kiriman Bapak tak cukup untuk memenuhi semua kebutuhanku. Pernah aku mencoba meminta tambahan uang kepada Bapak, tapi aku justru dimarahi. “Dang porlu di au organisasi mi. Dang mangan au siani. Marsikkola do ho husuruh. Unang marmeami. Sahalakku do sonari, dang adong donganku mamikkiri hamu.Unang hera si Asi ho, dang marna tammat (Tak perlu samaku organisasimu itu. Tak makan aku dari situ. Sekolahnya kau kusuruh. Jangan main-main. Sendirian aku sekarang, tak ada temanku memikirkan kalian. Jangan seperti si Asi kau, tak tamat-tamat,” katanya lewat telepon ketika aku meneleponnya suatu waktu.

Direpeti begitu, aku kasihan juga. Aku paham kegelisahannya. Dia mungkin khawatir melihatku menyusul jejak abangku yang dalam lima tahun, SKS yang lulus masih berputar-putar di angka puluhan. Tapi ya sudahlah. Aku salah juga memberitahukan kegiatan-kegiatanku. Begitupun, jauh-jauh hari aku memang berusaha untuk tidak mengecewakannya. Aku berusaha sadar diri. Jujur, status sebagai anak yang tak beribu (piatu) bukanlah status yang menggembirakan. Kusempatkan berdoa, semoga Bapakku sehat dan bisa mengatur keuangan dengan baik (meskipun aku tahu dia sangat sulit mengatur keuangan), agar kami (aku dan abangku bisa tetap kuliah). Kalau kuliah kami berantakan, komplitlah sudah. Sudahlah kami tak beribu, sekolah juga berantakan.

Melihat kebutuhan semakin banyak, aku mulai memutar otak. Berbagai cara kulakukan agar dapat uang tambahan. Aku aktif lagi menulis di sebuah harian terkemuka di Medan. Dulu waktu SMA aku aktif menulis di harian tersebut. Tapi di tahun pertama kuliah sempat berhenti. Aku menulis artikel dan cerpen. Honornya lumayanlah.

Cara berikutnya adalah, aku mendiamkan potongan uang kuliah yang kuterima karena aku punya saudara kandung yang juga kuliah di Unika. Nilainya lumayan, 15 persen dari total uang kuliah. Setiap semester, aku bisa dapat sekitar Rp 125 ribu hingga Rp 150 ribu. Potongan uang kuliah ini tak kuberitahukan ke Bapak. Dari potongan uang kuliah ini, aku bisa beli peralatan naik gunung atau tambahan buat naik gunung atau sekadar kemping-kemping.

Ketika ada rencana ekspedisi naik gunung ke Jawa-Bali-Lombok bersama teman-teman di GEMPITA, aku semakin gencar mengumpulkan uang sejak jauh-jauh hari. Tradisi lama masih kupertahankan, yakni menulis dan mendiamkan potongan uang kuliah. Aku dapat ide baru dan sedikit ekstrim, yakni mark up uang kuliah pers SKS dan jumlah SKS. Waktu itu, uang kuliahku per SKS masih Rp 20 ribu (biarpun Rp 20 ribu, tapi sudah termasuk mahal jika dibandingkan PTS-PTS lain di Medan). Kemudian aku mark up menjadi Rp 25 ribu. Kalau aku bawa 21 atau 22 SKS, aku bilang ke Bapak aku bawa 24 atau 25 SKS.

Kemudian di zamanku kuliah ada mata kuliah responsi (latihan) sebanyak 2 SKS untuk setiap mata kuliah yang sifatnya hitungan seperti Matematika, Statistika dan Akuntansi. Responsi ini tujuannya untuk latihan mengerjakan soal-soal. Responsi ini tak bayar, tetapi ke Bapak kusebut bayar. Kalau di rata-ratakan, setiap semester aku bisa mark up 4-6 SKS. Lumayanlah kalau di kali Rp 25 ribu. Tapi kalau aku bawa 24 SKS, aku hanya bisa mark up dari mata kuliah responsi. Pokoknya ada saja mata kuliah yang bisa kubilang ke Bapak ada responsinya. Cara ini mulai kuterapkan sejak semester 4.

Sebenarnya aku kadang tak tega juga. Tapi ya sudahlah. Tapi dalam hati aku berjanji untuk mendapat nilai yang bagus setiap semester, agar dia tak curiga. Dan Bapak sepertinya percaya-percaya saja dengan permintaanku. Hal itu bisa dilihatnya dari IP ku setiap semester yang cukup memuaskan. Meskipun tak pernah meminta kartu hasil studi (KHS) ku, tapi dia tahu berapa indeks prestasi (IP) ku, karena di zamanku, pihak kampus juga mengirimkan copy KHS langsung ke alamat orangtua. Mungkin karena nilai ini jugalah yang membuat Bapak percaya saja kalau aku “curhat” kepadanya soal uang. Pernah aku bilang kepadanya, aku butuh uang untuk mengerjakan tugas, padahal saat itu aku sedang kehabisan uang di Denpasar, Bali saat ekspedisi naik gunung ke Gunung Agung Bali. Kutelepon hari ini, besoknya sudah ditransfer Rp 50 ribu. Aku sempat curiga darimana dia dapat uang, padahal belum gajian. Setelah pulang kampung, akhirnya aku tahu kalau ternyata Bapak menjual tiang televisi kami sebesar Rp 50 ribu. Maklum tiang televisi zaman dulu, terbuat dari besi, jadi masih laku dijual. Tiang televisi itu terpaksa dijual karena televisinya sudah dicuri maling yang masuk ke rumah.

Cara terakhir yang kulakukan untuk mendapatkan tambahan uang adalah lewat beasiswa. Meskipun tidak termasuk mahasiswa yang pintar kali, tapi IP ku masih sanggup untuk mendapat beasiswa setiap semesternya di Unika. Setiap semester, aku minta tolong ke Bapak untuk mengurus surat keterangan tidak mampu (miskin) ke gereja dan kelurahan sebagai salah satu syarat beasiswa. Syukurlah, aku selalu dapat. Tapi tak pernah kuberitahu ke Bapak. Kalau kuberitahu, aku khawatir, uang kuliahku bakal dipotongnya. Setiap kali memintanya mengurus surat itu, dia hanya berkata: “Terus saja ini yang kau minta urus. Pernahnya dapat?,”

Kujawab saja tidak dapat karena persaingan sangat berat. Tetapi, serapi apapun aku menyimpan kebohongan, akhirnya ketahuan juga. Dari anak seorang teman sekantornya yang juga kuliah di Unika, Bapakku mendapat informasi kalau aku sebenarnya setiap tahun dapat beasiswa dan aku juga dapat potongan uang kuliah bersaudara. Aku agak takut, jangan-jangan dia tahu aku juga mark up uang kuliah SKS.

Tapi ternyata Bapak hanya tahu soal beasiswa dan potongan uang kuliah bersaudara. “Kenapalah kau diam-diam saja. Bapakpun senangnya kau dapat beasiswa. Kau pikir kupotong uang kuliahmu kalau kau dapat beasiswa dan ada potongan? Ya sudah, baik-baiklah belajar,” katanya suatu saat lewat telepon.

Benar saja, semester-semester berikutnya, Bapak tetap mengirimkan uang kuliah dan belanja bulananku utuh. Tak ada pengurangan sepeser pun.

Selama kuliah, bisa kuhitung berapa kali Bapak datang melihatku ke Medan. Kalau tidak ada keperluan, dia tak mau datang. Dia menyempatkan diri datang ke kos kalau kebetulan ada pesta keluarga di Medan. Begitupun aku selalu meminta kepadanya, tidak perlu kalilah datang-datang ke kos. Kalau memang perlu, kuminta aku yang menemuinya di tempat dia punya acara pesta.

Pernah suatu kali, Bapak akan ke Medan menghadiri pesta keluarga. Dia memintaku menjemput di terminal. Tapi karena saat itu bertepatan masih kuliah, dia akhirnya datang sendiri. Ternyata, dosen yang bersangkutan tidak datang. Aku pulang ke kos dan tidak menjemputnya. Aku justru menonton bersama beberapa teman kos di ruang tamu ibu kos. Saat asyik menonton, rupanya Bapakku sudah berdiri di depan pintu. Katanya begini: “Kalau kau lah ya. Orang lain, dijemputnya Bapak atau Mamaknya kalau ke Medan. Kau malah nonton,” katanya. Aku senyum-senyum saja dibilang begitu. Kujawab: “Bapak ini, enggaknya jauh kali dari Amplas ke sini. Sekali naik angkotnya,” kataku. Kalau sudah begitu, biasanya Bapak tak berkata-kata lagi. Akupun langsung bergegas dan menemaninya ke pesta keluarga.

Aku memang tidak tamat tepat waktu seperti teman-teman yang lain, empat tahun. Aku telat satu semester. Skripsiku baru tuntas selama setahun, karena ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Begitupun, Bapak sangat senang begitu kutelepon kalau aku mau meja hijau dan akan wisuda, apalagi dia tahu aku tamat lebih dulu dari abangku yang kuliah empat tahun lebih awal. Saat wisuda, aku lihat raut kegembiraan yang begitu dalam di wajahnya.

Setelah wisuda, aku memang langsung mendapat pekerjaan sebagai reporter di Harian Sumut Pos. Setelah bekerja, Bapakku langsung menyetop bulananku. Tapi aku minta dispensasi kepadanya agar mengirimkan uang belanja satu bulan lagi karena aku baru bekerja dan masih magang. Gajiku saat itu masih Rp 325 ribu. Bapak sempat tertawa ketika tahu gajiku hanya segitu. “Lebih besar belanja yang kukirim samamu waktu kuliah,” sindirnya.

Ya, dia benar. Menjelang tamat, uang belanjaku setiap bulan antara Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu. Dia bahkan menyarankan aku menjadi pegawai honorer di kantor Pemko Pematangsiantar. Meskipun sudah pensiun, tapi dia menjanjikan bisa memasukkanku menjadi pegawai honorer. Tetapi melihat model PNS saat itu, kutolak tawarannya dan kuteruskan memilih menjadi jurnalis.

Awal 2007, Bapak kena serangan stroke di sebelah kanan. Saat itu usianya 62 tahun. Dia masih setia menduda di sini. Kondisi Bapak yang sakit menjadi salah satu ujian yang cukup berat buat kami. Saat itu, aku dan abangku yang paling besar sudah bekerja di Medan. Kondisi Bapak tidaklah stabil betul. Bisa berjalan, tetapi harus lambat dan memakai tongkat. Secara pribadi, konsentrasiku memang pecah, antara bekerja dan memikirkan Bapak di kampung. Selama hampir setahun, Bapak kami tinggalkan berdua dengan abangku yang down syndrome. Agar tidak terlalu repot, untuk ikan dan sayur kami pesan dengan model rantangan. Hanya nasinya saja yang dimasak di rice cooker. Setelah Bapak sakit, setiap dua minggu (terkadang sekali seminggu), aku pulang ke kampung untuk melihat Bapak, sekalian mengantar terapi atau menemaninya mandi dan ke WC. Aku dan abangku bergantian pulang ke kampung.

Terus terang, banyak yang berubah setelah Bapak sakit. Waktu yang ada kurasakan menjadi sangat sempit dan berharga. Jika sebelum sakit, aku punya lebih banyak waktu di Medan saat off kerja, maka setelah Bapak sakit, off kerja yang sekali seminggu itu kumanfaatkan pulang ke kampung. Aku dan abangku juga beberapa kali bertengkar karena persoalan mengurus Bapak.

Keuangan juga menjadi persoalan baru. Banyak pengeluaran yang harus dihemat agar bisa disisihkan untuk membantu biaya berobat Bapak. Jujur kuakui, setelah Bapak sakit, aku memang lebih giat bekerja, karena Bapak memang butuh biaya yang tidak sedikit. Satupun harta peninggalan Bapak dan Alm Mamak sudah habis. Syukurlah, selalu ada rezeki tambahan untuk membantu-bantu pengobatan Bapak.

Kalimat bijak “Seorang Ayah/Ibu bisa mengurus semua anaknya dengan baik, tetapi semua anak belum tentu bisa mengurus seorang ayah/ibunya dengan baik,” seperti mengena sekali.  Selama hampir setahun mengurus bapak dengan cara seperti ini, kami merasa tidak efektif dan tidak maksimal mengurus Bapak, terlebih di kampung hanya abangku yang nomor dua. Aku sadar berapalah kemampuan seorang abang yang down syndrome. Januari 2008, abangku nomor satu akhirnya memutuskan pulang ke kampung setelah ada pekerjaan yang diembannya di kampung. Aku bersyukur. Paling tidak, Bapakku lebih terjamin penjagaannya.

Pertengkaran-pertengkaran antara aku, abangku dan Bapak masih sering terjadi. Kata orang-orang, begitulah kalau sudah mengurus orangtua. Hal yang membuat kesal adalah ketika pengobatan sedang berjalan dan kami sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit, Bapak mengaku bosan dan berhenti berobat. Karena ada orang yang memberitahukan ada tempat berobat yang baru dan bisa menyembuhkan penyakitnya, dia pun meminta diantarkan berobat ke sana. Lagi-lagi uang keluar yang harus kami pikirkan. Ya, Bapak kami memang tidak sabaran. Memang seperti itulah tipikal penderita stroke yang kuketahui.

Mengurus Bapak yang sakit membuat kami (aku pribadi) memang harus bersabar dalam banyak hal. Bersabar menungguinya makan, bersabar menungguinya berjalan dan bahkan bersabar untuk mendengarkan dia berbicara. Maklumlah, semuanya harus dilakukan dengan lambat. Makan lambat, berjalan lambat dan berbicara pun lambat. Hal lainnya adalah bersabar pulang ke kampung setiap dua atau tiga minggu, meskipun sudah ada abangku di kampung. Seperti biasa, setiap aku pulang, aku mendapat giliran untuk menemaninya terapi, memandikannya ke kamar mandi, menemaninya buang air besar, atau bersih-bersih rumah. Rutinitas seperti ini terus berjalan hingga Bapakku meninggal.

Aku dan Bapak baru sering-sering berkomunikasi ketika aku pulang ke kampung. Selebihnya, komunikasi kami biasanya lewat SMS atau lewat panggilan telepon. Namun pada satu titik, aku beberapa kali merasa sangat kesal ketika pertanyaan lewat panggilan telepon dan SMS nya adalah pertanyaan yang itu-itu saja. “Kapan kau pulang, sudah sampai di mana kau”. Itu-itu saja. Pernah aku baru beranjak satu jam dari rumah untuk pulang ke Medan, dia sudah mengirimkan SMSnya “Kapan kau pulang,”. Aku maklumlah dengan dengan kondisi itu. Mungkin dia merasa khawatir kalau-kalau dia kenapa-kenapa di rumah. Sesekali aku maklum dan kujawab pertanyaannya. Tetapi karena sudah kesal, dan tetap mengirimkan pertanyaan seperti itu, akhirnya dia kubentak dan telepon kumatikan.

Mengurus Bapak juga membuatku untuk mengorbankan beberapa hal. Misalnya pekerjaan dan studi. Selepas berhenti bekerja dari Sumut Pos tahun 2009 lalu, akupun memilih untuk menolak pekerjaan baru di luar Sumut dan memilih bekerja kembali di Medan. Aku juga memilih untuk melanjutkan studi pascasarjanaku cukup di USU, meskipun sebenarnya aku bisa kuliah di kampus yang lebih baik di Pulau Jawa. Aku berpikir saat itu, dengan memilih bekerja dan kuliah di Medan, jarak lebih dekat. Kalau ada kenapa-kenapa dengan Bapak, aku bisa pulang secepatnya ke kampung.

***

AKU dan Alm Bapak berfoto bersama saat wisuda sarjanaku di Kampus Unika Santo Thomas Medan, Sabtu (19/7/2003). (FOTO: Dok Pribadi)

AKU dan Alm Bapak berfoto bersama saat wisuda sarjanaku di Kampus Unika Santo Thomas Medan, Sabtu (19/7/2003). (FOTO: Dok Pribadi)

Taksi Paradep yang membawaku sudah memasuki kota Pematangsiantar. Tak terasa hampir dua jam aku menutupi wajahku dengan jaket. Selama hampir dua jam itu pula, perasaan yang campur aduk menghinggapiku. Aku memang sudah tak menangis lagi. Entah kenapa, saat itu, aku tiba pada sebuah kesimpulan, kalaupun Bapak meninggal, aku sudah siap. “Menungguinya” selama hampir tujuh tahun dalam kondisi sakit sebenarnya adalah petunjuk dari Tuhan kalau aku harus siap “melepasnya” ke tempat dia berasal kapan pun Tuhan mau.

Aku akhirnya sampai di rumah, Jumat (12 April 2013) sekitar pukul 01.00 WIB. Aku langsung masuk ke kamar Bapak. Di kamar, sudah ada abangku, kakak iparku, abangku yang nomor dua, inanguda yang tinggal di belakang rumah dan juga seorang tetangga. Mereka semua duduk di atas tikar yang digelar di lantai kamar.

Sedangkan di sebelah kamar Bapak, ada Bapa Anggiku yang duduk di tempat tidur. Kondisinya juga saat itu sedang sakit. Sesekali Bapa Anggiku datang ke kamar. Aku melihat Bapak terbujur di tempat tidur. Napasnya naik turun dengan terburu-buru. Mulutnya seperti ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tak bisa. Dari Inangudaku dan Kakakku kudapat kabar kalau napas Bapakku sudah terbata-bata sejak sekitar pukul 20.00 WIB. Sejam sebelumnya dia sudah menolak makanan yang diberikan kepadanya dan memilih untuk tidur.

Aku duduk di sampingnya. Kulihat air matanya keluar. Aku sedih sekali. Mungkin dia bahagia karena aku sudah pulang. Entahlah, tetapi aku berusaha untuk tidak menangis. Kupanggil namanya sesekali: “Pak, aku pulang,”. Tapi dia tak menjawab. Aku sepertinya menangkap sinyal yang semakin kuat, kalau masanya Bapak sudah dekat. Dia sepertinya ingin mengucapkan sesuatu sebelum kepergiannya, tapi mulutnya seolah terkunci. Jujur aku tak pernah menghadapi situasi seperti ini. Waktu Mamak meninggal 17 tahun lalu, hanya ada Bapakku yang menunggui kepergiannya di rumah sakit Pirngadi Medan.

Aku berusaha untuk tenang, juga tidak menangis. Aku berpikir kalaupun Bapak tak bisa mengucapkan apa yang ingin diucapkannya, biarlah kami menebaknya saja. Sambil menepuk-nepuk tangannya, aku hanya bilang:  “Aku sudah pulang. Akan kami jaga abang Sarguslin (abangku yang down syndrome), akan kami juga Bapa Anggi (adik Bapakku yang juga sudah sakit-sakitan saat ini dan tinggal bersama kami di kampung). Bapak tak usah khawatir,”

Secara bergantian kami mengucapkan beberapa patah kata ke Bapak. Kami berdoa bersama. Napasnya masih tetap memburu dan kemudian perlahan-lahan nyaris tak terdengar. Matanya kemudian tertutup. Bapak meninggal. Inangudaku yang sejak kami kecil-kecil sudah menjadi perawat keluarga memastikan kalau Bapakku sudah meninggal.

AKU berfoto di makam Alm Bapak dan Mamak di  Purba Saribu, Simalungun, saat berziarah awal Januari 2014 lalu. (FOTO: Dok Pribadi)

AKU berfoto di makam Alm Bapak dan Mamak di Purba Saribu, Simalungun, saat berziarah awal Januari 2014 lalu. (FOTO: Dok Pribadi)

Aku belum beranjak dari dudukku. Aku memandangi Bapak yang sudah terbujur kaku. Entah kenapa aku juga tak kunjung menangis saat melihatnya menutup mata untuk selamanya seperti yang kutonton di sinetron-sinetron religi. Mungkin karena aku sudah menangis sebelumnya di kantor dan di perjalanan. Atau mungkin karena aku sudah sangat siap kalau-kalau akan ditinggalkannya. Sudahlah, menangis tak akan membuatnya hidup kembali. Aku sudah merelakannya.

Aku sempatkan berdoa sebentar dalam hati. Aku berterimakasih pada Tuhan, karena masih memberikanku kesempatan bertemu Bapak sebelum meninggal, meskipun aku tak tahu apa sebenarnya pesan terakhirnya. Kuminta pada Tuhan, menempatkan Bapakku di tempat terbaik, kuminta kepada Tuhan menjaga dan memberikan kesehatan kepada keluargaku yang masih tersisa. Selamat jalan Bapak. Terimakasih sudah mengajarkan banyak hal: kesabaran, kesetiaan, pengorbanan, kerja keras dan cita-cita tinggi. Terima kasih Bapak, sudah menghadirkan kisah di hidupku. Kau bukan meninggalkanku, tapi hanya terlepas dariku.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s