Anak-anak Pelaku Pernikahan Dini di Medan (2), Saat-saat Tertentu Kaki Rahma Terasa Kaku

28-31 Juli 2015-Anak-anak Pelaku Pernikahan Dini di Medan (2)

SEORANG anak laki-laki merangkul teman perempuannya di sebuah tempat hiburan beberapa waktu lalu. Anak-anak yang menikah dini kerap menghadapi berbagai masalah mulai dari sosial, psikologi, kesehatan dan ekonomi. (Foto: Nikson Sihombing)

PERNIKAHAN dini nyatanya membawa dampak negatif bagi pelakunya, baik pihak perempuan maupun laki-laki. Pengalaman Rahma, Irwan, Wina dan Joko semakin mempertegas dampak negatif yang akan diterima anak-anak yang menikah dini mulai dari aspek psikologis dan sosial, perceraian, kekerasan, kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

Rahma mengaku, bekas-bekas trauma akibat pernikahan dini yang dialaminya membuatnya berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Hal yang paling mudah bisa dilihat dari kondisi psikologis dan sosial Rahma yang pergaulannya yang saat ini berbeda daripada anak-anak lain yang seusia dengannya, yaitu sekitar 18 tahun. Walaupun masih remaja, Rahma lebih suka bergaul dengan ibu-ibu yang usianya sekitar 30-an atau 40-an tahun. Isi pembicaraannya pun seputar masalah rumah tangga atau gosip-gosip ibu rumah tangga.

“Sebenarnya hal ini bukan masalah besar, karena saya menjalani dengan senang hati. Soal pergaulan dengan teman-teman sebaya, saya punya banyak teman sebaya. Akan tetapi, saya merasa ada hambatan ketika bergaul dengan teman-teman sebaya ini. Saya minder karena merasa ”berbeda”. Kadang-kadang, ada teman yang suka menyeletuk kalau saya memang ”berbeda” dari mereka karena saya sudah punya anak dan berstatus janda. Padahal ketika teman-teman tidak menyinggung masalah status ini, saya sebenarnya sudah cukup minder. Selain itu, kondisi saya yang sudah mempunyai anak membuat saya tidak bisa sesuka hati bermain dengan teman-teman, karena saya harus memikirkan anak dan keluarga, apalagi sekarang saya adalah tulang punggung keluarga sejak ayah meninggal dunia. Jadi, sebagian besar waktu saya justru paling banyak dihabiskan untuk mencari nafkah dan mengurus anak, walaupun saya masih ingin main dengan teman-teman,” katanya.

Pergaulannya dengan lawan jenis, kata Rahma malah lebih rumit lagi. Rahma mengaku tidak nyaman dengan laki-laki yang mendekatinya. Selain sibuk dan konsentrasi mengurus anaknya yang berusia sekitar empat tahun, ia sebenarnya sulit percaya dengan orang lain, apalagi laki-laki. Pernikahan dini yang dialaminya membuatnya trauma untuk menjalin hubungan baru dengan laki-laki. Padahal anak-anak lain seusianya, termasuk teman-temannya, sedang sibuk belajar mengenal hubungan dengan lawan jenis (berpacaran) yang memang merupakan ciri khas remaja seusianya.

“Pemikiran saya mengenai lawan jenis dan pacaran memang tidak sesederhana teman-teman saya. Pengalaman saya dalam pernikahan yang gagal membuat saya trauma dan akhirnya selalu berpikir kalau menikah sangat rumit dan repot jika tidak ada persiapan matang, baik mental, fisik, dan finansial. Hal ini jadi salah satu alasan saya untuk tidak berpacaran dulu. Sulit bagi saya memercayai laki-laki yang ingin mempunyai hubungan dekat dengan saya apalagi kalau sampai ingin mengajak saya menikah. Saya takut kalau status janda ini membuat saya susah nantinya,” katanya.

Hal yang sama juga dialami Nita. Istri Joko ini mengatakan, setelah menikah, praktis dirinya tak punya banyak kesempatan berkumpul bersama teman-teman sebanyanya. Kalaupun dirinya ingin berkumpul, perasaan canggung langsung menghinggapi karena dia sudah punya anak, sedangkan teman-temannya masih ada yang sekolah. Bahkan untuk sekadar bermain-main ke rumah tetangga pun, Nita mengaku sangat jarang. “Mau tak mau saya memang harus mengutamakan keluarga dulu. Mengurus anak dan suami,” kata Nita.

Nita mengakui, selain dampak psikologis, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) beberapa kali didapatkannya dari Joko setelah menikah. Penyebabnya karena kelalaiannya menyiapkan segala kebutuhan Joko. Misalnya, Joko kerap tak sempat sarapan pagi karena dirinya tak kunjung selesai memasak sarapan. Dan sore harinya, ketika Joko pulang menarik becak, Nita pun belum memasak karena masih bertandang ke rumah tetangga atau membawa anak-anaknya berjalan-jalan.

“Secara psikologis, kami memang belum siap menikah. Kami masih terlalu muda. Emosi kami juga belum stabil, sehingga segala sesuatunya harus diakhiri dengan kekerasan. Saya pribadi menyadari, sifat kekanak-kanakan saya sering datang, apalagi jika melihat teman-teman saya dulu sedang menyelesaikan sekolahnya. Rasanya ingin bermain, belajar dan sebagainya.Terkadang timbul penyesalan dalam diri saya kenapa harus menikah cepat-cepat. Tapi nasi sudah terlanjur jadi bubur. Saya harus menerima apapun risiko dari pernikahan dini ini,” kata Nita.

Sedangkan Joko membenarkan kalau melakukan kekerasan terhadap istrinya, Nita. Joko mengaku punya alasan sehingga melakukan kekerasan. “Macam manalah saya enggak emosi. Sejak aku keluar rumah untuk menarik becak, dan pulang dalam keadaan lapar-lapar, dia masih main-main ke tempat tetangga, bercerita sana sini. Sedangkan memasak di dapur, tak dikerjakannya. Siapalah yang enggak emosi,” kata Joko.

Namun, Nita sedikit membantah. Menurutnya, Joko sebenarnya yang tidak sabar menunggu. Menurut Nita, terkadang suaminya tidak mengerti dengan kerepotannya mengurus rumah dan anak-anaknya. “Joko yang tak sabar. Sudah tahu anak dua. Yang satu merengek, yang satu harus dikasi makan. Terkadang anak-anak minta jalan-jalan. Namanya juga anak-anak kan. Kalau jalan-jalan pasti senang. Saya lupa masak jadinya,” kata Nita.

Trauma yang diakibatkan dari pernikahan dini ini bukan hanya pada dampak psikologis, sosial dan kekerasan, tetapi juga sampai mempengaruhi kondisi kesehatan pelaku. Rahma misalnya, sejak menjalani pernikahan dini, Rahma mengaku kalau pada saat-saat tertentu, terkadang kakinya tiba-tiba terasa kaku dan dirinya ”tidak bisa berjalan”. Hal seperti ini belum pernah dialaminya sebelum pernikahan dini terjadi.

Kondisi tiba-tiba ”tidak bisa berjalan” ini mulai ada ketika ia sedang hamil lima bulan, yaitu masa paling stresfull dari seluruh proses pernikahan dini tersebut. Menurut Rahma, sakitnya ini sudah jarang dialaminya, akan tetapi sesekali dirinya masih mengalami ”tidak bisa berjalan” pada saat-saat tertentu. Rahma tidak pernah tahu tentang jenis penyakit ini karena memang tidak ada biaya untuk memeriksanya ke dokter. Selain itu, perubahan fisik yang umumnya dialami orang yang trauma juga dialaminya yaitu mudahnya ia mengalami sakit kepala. Bahkan persoalan-persoalan kecil pun sudah membuat dirinya stres.

Pada saat usia kehamilannya berjalan lima bulan, Rahma memang mengalami banyak hal yang membuatnya stres berat. Diceritakan Rahma, pada saat menjalani pernikahan dini, dirinya harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya (orang yang paling dekat dengannya) sakit keras yang kemudian meninggal dunia ketika Rahma sudah melahirkan. Bahkan pada saat itu, Rahma sempat hampir bunuh diri dengan cara minum cairan sejenis racun.

“Waktu itu saya sempat putus asa dan bahkan sampai menyesali kehidupan saya sendiri. Dalam kondisi seperti itu, saya sudah setengah sadar dan kemudian meminum racun tersebut,” kenangnya.

Selain peristiwa percobaan bunuh diri tersebut, hal-hal ekstrem lainnya yang pernah dilakukan Rahma adalah memukul triplek rumah sampai rusak. Rahma mengaku bahwa saat itu adalah saat-saat di mana dirinya merasa sangat putus asa dan semua perasaan negatif bercampur aduk. “Saya merasa marah, jengkel, sedih, menyesal, dan sebagainya, Sampai saat ini, saya masih belum bisa memaafkan mantan suami saya,” katanya.

Terputusnya akses pendidikan adalah dampak serius yang juga akan dialami anak-anak pelaku pernikahan dini. Pernikahan dini mengakibatkan si anak tidak mampu mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Berdasarkan data penelitian Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia tahun 2015, terungkap angka perkawinan dini di Indonesia peringkat kedua teratas di kawasan Asia Tenggara. Sekitar 2 juta dari 7,3 perempuan Indonesia berusia di bawah 15 tahun sudah menikah dan putus sekolah. Jumlah itu diperkirakan naik menjadi 3 juta orang pada 2030. Hanya 5,6 persen anak pelaku pernikahan dini yang masih melanjutkan sekolah setelah menikah.

Pengalaman Irwan dan istrinya, Siska, Wina, Joko dan Nita serta Rahma adalah gambaran dari dampak pernikahan dini dan hasil penelitian tersebut. Dari kesemuanya, Joko lebih beruntung karena berhail menyelesaikan pendidikan SMA nya, sedangkan yang lainnya, terpaksa putus sekolah, tak tamat SMP dan SMA.

Pendidikan yang hanya tamat SD dan SMP ini berbanding lurus dengan tingkat perekonomian keluarga pelaku pernikahan dini. Dari pengalaman pelaku, hampir semuanya hidup dalam kondisi perekonomian yang pas-pasan. Ijazah yang mereka punya tak cukup kuat untuk ”mempengaruhi” pemilik-pemilik perusahaan yang ideal untuk memberikan pekerjaan. Irwan bekerja sebagai buruh bangunan dan istrinya membantu menjaga dagangan ibunya. “Kalau ada proyek bangunan, saya baru ikut. Kalau tidak ada proyek, saya biasanya di rumah saja,” kata Irwan.

Pekerjaan yang sama dilakoni suami Wina, menjadi buruh bangunan. Sedangkan Wina tidak bekerja karena harus mengurus anak-anaknya. Sementara Joko, meskipun memiliki ijasah SMA, tapi belum diterima bekerja di kantoran atau perusahaan. “Saya jadi penarik becak mesin. Sedangkan Nita (istri) tidak bekerja. Dia urus rumah dan anak-anak,” kata Joko.

Bagaimana dengan Rahma? Setelah mantan suaminya dipenjara, Rahma mendapatkan bantuan dana melalui Program Rehabilitasi Bagi Korban Eksploitasi Seksual Anak. Dana tersebut digunakan untuk kursus salon. “Setelah selesai kursus, saya buka usaha salon berjalan. Saya belum buka kios salon sendiri. Belum ada modal. Jadi kalau ada panggilan dari konsumen, saya datang ke rumah mereka,” kata Rahma.(Bersambung)

Catatan: Tulisan ini sudah terbit di harian Tribun Medan, edisi Senin (13/7/2015) halaman 2 (Nasional)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s