Anak-anak Pelaku Pernikahan Dini di Medan (4-habis), Dari Kanal ke Pernikahan Dini

KANAL Marindal-Titi Kuning sepanjang jembatan STM yang sudah dipasangi lampu penerangan. Keberadaan penerangan ini membuat orang enggan berbuat hal maksiat di Kanal. (Foto: Truly Okto Purba)

KANAL Marindal-Titi Kuning sepanjang jembatan STM yang sudah dipasangi lampu penerangan. Keberadaan penerangan ini membuat orang enggan berbuat hal maksiat di Kanal. (Foto: Truly Okto Purba)

BERBEDA dengan Rahma yang menikah dini karena kekerasan seksual, maka Irwan, Wina, dan Joko terpaksa menikah dini karena pergaulan bebas. Irwan, Wina dan Joko menyebut, adalah Kanal Marindal-Titi Kuning adalah salah satu saksi kisah asmara mereka selama menjalin hubungan asrama.

Ketiganya melangkah “cukup jauh” di Kanal Marindal-Titi Kuning. Mereka dan pasangannya tak hanya sekadar berpacaran di Kanal tersebut, tetapi juga memanfaatkannya sebagai tempat berhubungan badan.

“Kalau malam kan, Kanal sepi. Tidak ada lampu. Jadi sering dimanfaatkan orang pacaran,” kata Irwan.

Koordinator LSM Madya Insani, Suhartini mengatakan, keberadaan Kanal Marindal-Amplas mempunyai dampak negatif bagi perkembangan pergaulan anak-anak dan remaja di daerah sekitarnya. Suhartini menegaskan, dirinya bukan tidak setuju dengan keberadaan Kanal yang merupakan  sarana pencegahan banjir di kota Medan tersebut, tetapi kondisi Kanal karena ketiadaan penerangan itulah yang memberikan dampak negatif.

“Kondisinya yang gelap dimanfaatkan anak-anak muda untuk hal-hal maksiat. Kasus pernikahan dini yang dilakukan oleh anak-anak yang tinggal di sekitar Kanal menjadi buktinya,” ujar Suhartini.

Suhartini menceritakan, cukup banyak warga sekitar Kanal yang resah dengan keberadaan Kanal yang gelap. Dirinya pun pernah menemukan pengalaman tidak menyenangkan saat melintasi Kanal tersebut. Suatu hari di tahun 2013, Suhartini dan suaminya pernah melintas dari Kanal saat akan pulang ke rumah. Saat melintas, Suhartini dan suaminya mendapati sekelompok anak-anak yang menangkap pasangan remaja yang ketahuan sedang berhubungan badan di Kanal.

“Perempuannya dari Gang sekitar Kanal juga. Waktu itu si perempuan masih kelas 1 SMA. Sedangkan si laki-lakinya tidak tahu dari gang mana. Menurut pengakuan yang menangkap, si pasangan (laki-laki dan perempuan) “main” berdiri di semak-semak Kanal. Tapi si perempuan masih memakai celana dalam saat itu. Saya sempat marah ke mereka berdua, saya bilang ke si perempuan ‘kau kok kurang ajar begitu’. Sempat juga akan dipukuli oleh yang nangkap dan mau dimintai duit. Tapi saya cegah. Saya bilang, sudahlah, jangan kalian minta duitnya, dan antarkan dia (si perempuan) pulang ke rumahnya. Akhirnya diantar pulang,” kata Suhartini.

“Kami (Madya Insani) juga pernah menyurati pihak kepolisian agar melakukan razia di sekitar Kanal. Akhirnya di razia setiap malam minggu,” lanjut Suhartini.

Menurut Suhartini, penyalahgunaan Kanal Marindal-Titi Kuning oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab merupakan dampak pembangunan yang tidak siap dengan memikirkan risiko. Sudah seharusnya, kata Suhartini, sepanjang Kanal dipasangi lampu.  Namun kenyataannya, tak seluruhnya dipasangi lampu. Hanya Kanal di wilayah Titi Kuning saja yang dipasangi lampu karena sebelumnya ada salah seorang anggota DPRD dirampok di wilayah tersebut. Sedangkan Kanal di wilayah Marindal sama sekali belum ada lampu.

KANAL Marindal-Titi Kuning sepanjang jembatan Amplas/Deli Tua yang belum dipasangi lampu penerangan. Ketiadaan penerangan ini memungkinkan orang berbuat hal maksiat di Kanal. (Foto: Truly Okto Purba)

KANAL Marindal-Titi Kuning sepanjang jembatan Amplas/Deli Tua yang belum dipasangi lampu penerangan. Ketiadaan penerangan ini memungkinkan orang berbuat hal maksiat di Kanal. (Foto: Truly Okto Purba)

Pernyataan Suhartini terkait keberadaan Kanal Marindal-Titi Kuning ada benarnya. Penulis mencoba menelusuri keberadaan Kanal yang pembiayaannya berasal dari Loan by Japan Bank for International Cooperation. Proyek yang dikerjakan oleh Departemen Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Sumatera II, Pengendalian Banjir Medan ini dibangun untuk pencegahan banjir di kota Medan.

Kanal Marindal-Titi Kuning ini membentang sepanjang sekitar 4 kilometer dari Titi Kuning hingga ke Marindal. Secara administratif terletak di kecamatan Medan Amplas dan Medan Johor. Dari Titi Kuning, Kanal ini bisa ditempuh dari Jalan Ekasama dan berakhir di Jalan Bajak V.

Dari Jalan Ekasama hingga berakhir di Jalan Bajak V, terdapat enam jembatan besar yang akan menjadi perantara Kanal ini. Jembatan pertama adalah Jembatan Ekasama, Jembatan SMA Ngeri 13 (jembatan kedua), Jembatan Brigjen Zein Hamid/Titi Kuning (jembatan ketiga), Jembatan STM (jembatan keempat), Jembatan Amplas/Deli Tua (jembatan kelima) dan Jembatan Kanal Ujung/Bajak V (jembatan keenam).

Pantauan penulis, memang tidak keseluruhan Kanal Marindal-Titi Kunung dipasangi lampu penerangan di sisi Kanal. Kanal yang ada lampu penerangannya mulai dari Jembatan Ekasama hingga Jembatan STM. Sedangkan mulai dari Jembatan Amplas/Deli Tua hingga Jembatan Kanal Ujung sama sekali tidak ada lampu.

Secara struktur Kanal Marindal-Titi Kuning ini berbentuk parit dengan dua sisi. Setiap sisi terdiri dari tiga tingkatan dengan tinggi sekitar 10 meter. Tingkatan paling bawah adalah dasar parit yang menjadi tempat genangan air. Tingkat di tengah adalah sebuah lantai/sisi datar dengan lebar sekitar 1 meter. Sedangkan tingkatan paling atas adalah tepian Kanal yang berdekatan dengan jalan.

Menurut sejumlah warga dan pedagang yang ditanyai penulis, mulai dari wilayah Jembatan Amplas/Deli Tua hingga Jembatan Kanal Ujung memang gelap jika malam hari karena tidak adanya lampu penerangan. Diduga, anak-anak muda (orang) yang berpacaran, kerap menggunakan lantai/sisi datar di tengah-tengah Kanal sebagai tempat berpacaran atau berbuat maksiat. Untuk sampai di lantai/sisi datar di tengah-tengah Kanal, ada beberapa anak tangga yang dibangun.

Suhartini mengatakan, jika ditelusuri lebih mendalam, kasus-kasus pernikahan dini yang disebabkan karena pergaulan bebas bisa jadi bermula dari Kanal Marindal-Titi Kuning. Artinya, si anak memanfaatkan Kanal untuk hal-hal maksiat. Ketika harus hamil di luar nikah atau perbuatan mereka diketahui orang tua, maka mereka pun terpaksa menikah. Karena itulah, kata Suhartini, selain pengawasan terhadap anak serta memberikan penyuluhan (pendampingan) tentang bahaya pergaulan bebas dan pernikahan dini, maka meminimalisir dampak keberadaan Kanal yang tanpa penerangan harus dipikirkan pihak terkait.

“Kalau mau melakukan pembangunan harus memikirkan dampak yang ditimbulkan. Misalnya penerangan dan razia. Pasanglah lampu di sepanjang kanal atau rutinlah melakukan razia agar Kanal tak disalahgunakan. Kalau tidak ada penerangan dan razia, maka anak-anak itu mempunyai peluang untuk melakukan perbuatan yang mereka inginkan, tetapi menimbulkan dampak yang tidak diharapkan,” kata Suhartini.(*)

Catatan: Kecuali Azmiaty Zuliah, Suhartini dan Muslim Harahap, semua nama narasumber dalam tulisan bersambung ini bukan nama asli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s