Bapak Tukang Rumput

BAPAK Tukang Rumput saat memotong rumput di halaman rumahku, di Komplek Pemda Tk. I Tanjung Sari, Medan, Rabu (16/9/2015.(FOTO: TRULY OKTO PURBA)

BAPAK Tukang Rumput saat memotong rumput di halaman rumahku, di Komplek Pemda Tk. I Tanjung Sari, Medan, Rabu (16/9/2015.(FOTO: TRULY OKTO PURBA)

USIANYA kutaksir sudah melewati angka 65 tahun. Meski demikian, semangatnya tak mencerminkan usianya saat ini. Di usia yang uzur begitu, banyak orang berpendapat, kalau dirinya sudah jadi sosok yang tidak produktif, atau cukup berbaring di tempat tidur karena sakit komplikasi.

Aku tak tahu persis siapa namanya. Tapi aku dan teman-temanku yang mengontrak rumah di Komplek Pemda Tk. I Tanjung Sari biasa memanggi “Bapak Tukang Rumput”, meskipun sekilas dari raut wajah dan penampilannya, dia sebenarnya lebih elegan dipanggil kakek.  “Mana Bapak Tukang rumput itu, kok enggak lewat dia,” kataku beberapa waktu lalu saat rumput di halaman rumah sudah harus dipotong.

Si Bapak adalah laki-laki tua yang bekerja sebagai pemotong rumput di komplek tempatku tinggal. Si Bapak juga yang menjadi langgananku untuk memotong rumput sekali sebulan. Setiap hari, dengan menunggangi sepeda tuanya, dia keliling komplek untuk menawarkan jasa potong rumput. Dia harus bersaing dengan dua pemotong rumput lainnya yang usianya jauh lebih muda dan lebih enerjik yang kerap masuk ke komplek.

Aku pribadi lebih suka memakai jasanya. Lebih rapi jadi alasan pertama. Seorang tetangga rumahku yang tinggal di ujung gang menyebut, dia sudah bekerja menjadi pemotong rumput saat anak-anaknya masih duduk di bangku SD sekitar tahun 1990-an. “Kakak juga suka memakai jasanya, karena jauh lebih rapi. Bayangkanlah, sudah sejak tahun 1990 dia itu motong rumput,” kata si tetangga.

Alasan kedua adalah sepeda tuanya. Sepedanya ini yang sebenarnya menjadi ciri khasnya. Saat melihat rumput di rumah mulai panjang, dia cukup membunyikan bel sepedanya. Kalau aku tak menyahut, karena sedang tertidur atau sengaja mendiamkan karena merasa rumput masih pendek dan tak perlu dipotong.

Kalau tak ada sahutan, dia biasanya akan mencoba lagi membunyikan belnya. Kalau tak menyahut juga baru dia pergi. Jam operasionalnya mulai dari pukul 07.00 WIB hingga menjelang makan siang.

Dari si Bapak, aku belajar banyak hal. Sebut saja, kerapiannya dalam bekerja dibandingkan pemotong-pemotong rumput yang lain. Kesederhanaannya antara lain ditunjukkan dengan sepeda tuanya. Kesopanannya yang dia tunjukkan dengan selalu melepas alas kakinya saat akan memotong rumput di halaman belakang rumah. Meskipun aku selalu memintanya untuk tidak melepas sepatunya, tetapi dia tetap saja melepasnya. Hal positif lainnya adalah kerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Di usia dan kondisinya sekarang, mungkin dia bisa saja meminta-minta dari anak-anaknya atau, kalau kehidupannya tak seberuntung orangtua lainnya, barangkali dia bisa meminta-minta di jalan. Tetapi, sepertinya dia “haram” untuk meminta belas kasihan orang lain.

Sehat selalu buatmu Bapak Tukang Rumput.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s