Aku, Bapakku, Mamakku dan Matematika

12304406_10153744331375789_1447154096834818713_o

FOTO alm Mamakku (atas) yang tertempel di lembar ijazah Sarjana Mudanya dari IKIP Medan dulu dan fotoku saat mengajar di sebuah SD di kawasan Pancing, awal Maret 2015 lalu (bawah). (FOTO: DOK PRIBADI)

13 Mei 2015-Dua Tahun Bapak

AKU dan Alm Bapak berfoto bersama saat wisuda sarjanaku di Kampus Unika Santo Thomas Medan, Sabtu (19/7/2003). (FOTO: DOK PRIBADI)

JANGAN tanyakan pada dia bagaimana cara memecahkan “misteri” Matematika mulai dari yang kecil-kecil seperti menghitung luas lingkaran, segitiga atau “misteri” yang lebih rumit seperti persamaan, trigonometri hingga integral. Bagi dia, memecahkan “misteri” itu sama saja dengan menegakkan benang basah atau mencari jarum di tumpukan jerami. Ya, sia-sia dan melelahkan.

Dia itu adalah aku. Anak bungsu dari tiga bersaudara yang kebetulan tidak beruntung dalam pelajaran Matematika. Ketidakberuntungan ini kubawa sejak lama, sejak duduk di sekolah dasar (SD) dan bahkan hingga kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Santo Thomas Medan.

Badannya tegap, gemuk, berkumis, berkacamata, rambutnya keriting dan berbulu. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pematangsiantar. Dia memegang ijazah Sarjana Muda bidang Bisnis Manajemen. Soal matematika, dia cukup mumpuni.

Dia itu adalah Bapakku. Aku tak bisa menghitung sudah berapa kali sudah “menghajarku” karena ketidakberuntunganku di pelajaran ini. Aku ingat, saat SD, setelah sampai di rumah dan selesai makan siang, maka dimulailah tradisi itu. Sebuah tradisi di mana aku harus duduk di kursi rotan panjang di ruang tamu.

Bapak memintaku mengeluarkan buku pelajaran Matematika. Dia melihat tugasku dan memintaku mengerjakannya. Kami berdua duduk di kursi panjang tersebut. Terkadang dia memberikanu tambahan soal-soal untuk dikerjakan. Penting untuk dicatat, tanpa kalkulator!!!. Di tangan kanannya, dia memegang dua buah sapu lidi. Aku ingat betul, waktu itu soal yang harus kukerjakan adalah pembagian dan perkalian. Sapu lidi itu akan “mampir” di kakiku setiap kali aku salah menuliskan angka yang benar untuk setiap pembagian dan perkalian. Aku tak ingat berapa kali itu terjadi, tapi cukup sering. Tapi kutegaskan, hanya untuk pelajaran Matematika.

Badannya gendut, berkacamata, dan berkulit putih. Bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Pematangsiantar. Dia memegang ijazah Sarjana Muda jurusan Bahasa Indonesia.

Dia adalah Mamakku. Soal Matematika, dia sebenarnya cukup mumpuni. Tapi tak serutin Bapak mengajariku Matematika. Ada satu yang kuingat dari Mamak, dia tak percaya dengan kalkulator. Urusan menjumlah, membagi atau berkali, dia lebih senang mencari jawabannya secara manual, bukan dengan kalkulator.

Jika Bapakku sudah terbiasa dengan “aksi kekerasannya” saat mengajariku Matematika, maka beda sekali dengan Mamakku. Tak sekalipun Mamakku melakukan aksi yang sama seperti yang dilakukan Bapakku kepadaku. Dua hal yang sangat kontras yang kulihat dari keduanya saat mengajarkanku Matematika.

Tetapi setidaknya mereka berdua mempunyai pemahaman yang sama soal Matematika. Mereka berdua percaya bahwa Matematika adalah patokan (cerminan) siswa cerdas dan berprestasi. Pendeknya, siswa yang pintar adalah siswa yang jago Matematika. Terkesan kolot (tradisional sekali kedengarannya).

Untuk memenuhi target itu, Bapakku dan Mamakku mengikutkanku kursus tambahan Matematika di rumah seorang mahasiswa jurusan Matematika di dekat rumah. Kursus tambahan ini tak berlangsung lama, karena aku lebih banyak ketiduran dibandingkan belajar. Maklum, waktu itu, belajarnya malam hari setelah selesai makan malam. Guruku itu masih harus kuliah sore dulu baru kemudian mengajariku Matematika. Kemampuanku yang pas-pasan untuk urusan Matematika, berbanding lurus dengan nilai Matematika di daftar NEM saat lulus SD.

Setelah duduk di bangku SD, Bapakku dan Mamakku tetap “ngotot” agar nilai Matematikaku bisa menanjak sedikit. Akupun sempat ikut kursus tambahan Matematika di sebuah tempat kursus di Pematangsiantar. Tak cukup dengan kursus Matematika, aku pun diikutsertakan juga kursus Bahasa Inggris. Akhirnya, jadilah waktuku hampir setengah hari berada di luar rumah. Setelah pulang sekolah pukul 13.30 WIB, aku hanya punya waktu istirahat setengah jam. Pukul 14.00 WIB, aku sudah harus keluar rumah untuk kursus Matematika dan IPA. Setelah itu, lanjut lagi kursus Bahasa Inggris. Begitu setiap hari (kecuali Sabtu) hingga pukul 17.00 WIB.

Nilai Matematikaku memang tak begitu anjlok, tetapi juga tak begitu memuaskan. Aku hanya satu tahun saja kursus Matematika saat SMP sedangkan kursus Bahasa Inggris kuteruskan hingga semester 1 kelas III SMP. Setengah tahun sebelum tamat SMP, aku tidak kursus-kursus lagi di luar sekolah, karena pihak sekolah menyediakan jam pelajaran tambahan sebagai persiapan mengikuti Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) atau sekarang disebut UN (Ujian Nasional).

Aku pun sepertinya dihinggapi kebosanan, menghabiskan waktu yang sangat banyak hanya untuk menguasai satu mata pelajaran saja, Matematika, rasanya seperti menggarami lautan. Sudahlah. Duduk di SMA, aku tak pernah ikut kursus tambahan di luar sekolah seperti ikut Bimbingan Tes, ikut kursus MIPA dan lain-lainnya. Hobiku menulis dan membaca novel-novel karya penulis Indonesia dari berbagai angkatan sedikit demi sedikit membuatku lupa soal pelajaran Matematika. Ketika hobi menulisku mendatangkan uang, aku semakin giat menulis. Aku melihat Bapak dan Mamak terlihat senang dengan ketekunanku menulis. Semakin lama aku semakin lupa pelajaran Matematika dan sejenisnya (yang masuk kategori berhitung) seperti Kimia dan Fisika. Aku belajar sekadarnya saja. Hasilnya juga sejalan. Nilai-nilai pelajaranku yang ada hitungannya seperti Matematika, Kimia dan Fisika standar saja. Beda dengan nilai mata pelajaran lain seperti: Bahasa Indonesia, ha…ha…ha.

Aku mengakhiri tulisan ini dengan mengucapkan terimakasih kepada Bapak dan Mamak yang sudah mengajariku Matematika saat SD dulu, memasukkan aku ke kursus Matematika saat SD dan SMP dulu. Meski mereka tak bisa melihat anak bungsunya jago Matematika agar bisa mendapat label sebagai anak cerdas, tapi aku yakin mereka juga bangga karena anaknya yang “bodoh” Matematika itu bisa mengikuti jejak ibunya, bisa menulis dan menjadi Guru. Masih dalam suasana hari Guru, 25 November, aku menaruh hormat pada mereka berdua karena telah menjadi guru yang baik buatku.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s