Saat Saya Tetap Bekerja di Hari Natal

Terkadang dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah, saya selalu membayangkan, jangan-jangan saat kiamat tiba, kami pun tetap akan terbit. Ha ha ha.

28 Desember 2015-Tetap Ngantor Di Hari Natal

SAYA dan sejumlah teman-teman di ruang redaksi Harian Tribun Medan, Jumat (25/12/2015). Kami tetap masuk kantor meskipun sedang libur Natal. (FOTO:ALEXANDER MANURUNG)

SAYA kerap memiliki perasaan yang bercampur aduk (bahagia dan sedih) saat Natal tiba. Setidaknya perasaan ini saya alami selama 13 tahun terakhir. Bahagia karena atas izin Tuhan saya masih bisa memaknai arti kedatangan Yesus yang menurut keimanan Kristen saya meyakininya sebagai juru selamat.

Lalu, kenapa saya harus sedih. Sebenarnya sederhana saja. Bekerja di industri media cetak sejak tahun 2003 lalu, saya merasa hari Natal sejatinya adalah hari yang sangat penting untuk orang lain (pembaca), bukan untuk saya. Itu karena saya mungkin tak bisa seperti umat Kristen lainnya, bisa merayakan Natal dengan utuh. Saya harus bekerja di tanggal yang teramat sacral itu.

 

Koran tempatku bekerja terbit tanggal 26 Desember. Maka tanggal 25 Desember saya sudah masuk kantor lagi. Tujuannya, tentu saja agar pembaca tetap mendapat informasi terbaik dari kami. Bahkan di koran tempat ku bekerja sebelumnya, kami tetap terbit tanggal 25 Desember. Itu artinya tanggal 24 Desember, kami tetap masuk kantor.

 

Meski demikian, kantor tetap memberikan jatah cuti bagi yang beragama Kristen. Karena masih ada keluarga dan makam orangtua yang harus diziarahi di kampung, saya biasanya lebih memilih cuti di akhir tahun. Tak panjang, hanya tiga hari. Koran tempat saya bekerja sekarang bahkan tetap terbit di tanggal 1 Januari. Terkadang dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah, saya selalu membayangkan, jangan-jangan saat kiamat tiba, kami pun tetap akan terbit. Ha ha ha.

 

Jadi, bagi saya pribadi, sejak tahun 2003, saya merasa Natal sama seperti hari biasa saja. Hari-hari yang cukup repot. Saya tetap masuk kantor, berpetualang menciptakan berita, mengedit berita dan menyajikannya untuk Anda. Natal terasa biasa-biasa saja? Mungkin iya. Menyesalkah? Sama sekali tidak. Semua pekerjaan ada konsekuensinya. Dan bekerja di media, konsekuensinya seperti yang sedang saya jalani sekarang. Saya ikhlas dan menikmatinya. Selamat Natal untuk Anda semua.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s