Pekerja LGBT di Sumatera Utara, Tak Masalah Sepanjang Berkontribusi Positif (2)

27-30 April 2016-Pekerja LGBT di Sumut-Bagian II

SEBUAH wallpaper bertuliskan “Menolak Keras LGBT, Lesbi, Gay, Bencong, Transgender” yang ditujukan kepada pekerja LGBT di sebuah perusahaan di Medan.(FOTO: IST)

ADA perusahaan yang terang-terangan yang menolak kelompok LGBT untuk bergabung dengan mereka. Namun ada juga perusahaan yang tidak mempermasalahkan orientasi seksual para pekerjanya yang masuk dalam kelompok LGBT ini. Apa yang menjadi alasan perusahaan untuk menerima dan menolak pekerja dari kelompok LGBT?

Pertama kali melihat Didi, Dina (bukan nama sebenarnya), merasa biasa saja dan tidak ada yang aneh. Perempuan 27 tahun yang menjadi atasan Didi ini mengatakan, Didi bukanlah LGBTpertama yang menjadi partner kerjanya lima tahun terakhir. Saat ditempatkan di Pematangsiantar dan Lhokseumawe dirinya sudah berpartner bersama karyawan  dengan orientasi seksual gay. “Jadi bagi saya sudah biasa ya. Sama dengan karyawan-karyawan lain,” kata Dina kepada Tribun, awal April lalu.

Dina menjelaskan, orientasi seksual karyawannya yang LGBT merupakan domain pribadi dan tidak ada kaitannya dengan kepentingan pekerjaan. Baginya, orientasi seksual karyawannya apapun itu, baik lesbi, gay, biseksual dan trans bukanlah sesuatu yang penting untuk diurusi. “Yang perlu saya urusi adalah pekerjaan mereka. Bagi saya, mereka bekerja dengan baik dan professional sudah cukup. Esensi bekerja itu adalah profesionalitas. Ketika mereka bekerja dengan baik, saya apresiasi. Dan ketika sudah menyalahi prosedur yang ada, baru saya panggil,” kata Dina.

Dikatakan Dina, sebagai pimpinan di divisi marketing, maka dirinya membutuhkan orang-orang yang kreatif karena divisi marketing identik dengan orang-orang yang kreatif. Menurut Dina, orang kreatif itu tidak dibatasi dibatasi oleh gender ataupun orientasi seksual. “Mau dia laki-laki, perempuan dan LGBT sekalipun saya tidak memperdulikannya. Apa yang menjadi buah pikiran merekalah yang menjadi nilai bagi dia. Untuk Didi, mau dia laki-laki, perempuan atau apapun, maka bagi saya, output dari pekerjaannya yang penting. Memuaskankah kinerjanya, disiplinkah dia, atau bagus tidak etikanya. Itu yang saya nilai,” kata Dina.

Sepanjang berpartner dengan Didi, sebut Dina, Didi masih bisa mengikuti apa yang diminta dan disarankan oleh perusahaan. Nilai kreatif Didi, kadang-kadang out of the box, karena hasil kerjanya terkadang melebihi target yang diminta. Dari rentang 1 sampai 10, Dina menyebut memberikan nilai akhir 7 kepada Didi untuk gabungan beberapa aspek penilaian seperti kinerja, attitude, disiplin atau kerajinan. Jika Dina meminta pekerjaan khusus untuk mendesain bahan promo, nilai Didi berada di angka 8.  “Jadi menurut saya, kembali kinerja masing-masing karyawan, termasuk Didi dan kelompok LGBT lainnya. Sepanjang masih bisa memberikan kontribusi positif, dan anaknya kreatif, maka tidak masalah bagi kami untuk menerimanya bekerja di sini. Begitupun kalau dia salah, tetap kita tegur,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Risa (bukan nama sebenarnya). Relation Manager di perusahaan tempat Ame bekerja ini mengatakan, orientasi seksual karyawannya merupakan urusan pribadi yang tidak perlu disangkutpautkan dengan pekerjaan. Risa mengatakan, meskipun seorang LGBT, hal tersebut bukan jadi penghalang bagi mereka untuk berkarir di perusahaan yang dipimpinnya.

Kalau memang hasilnya positif, tak ada alasan bagi perusahaan untuk menolak. Pengalaman Risa, biasanya orang-orang LGBT adalah orang yang memiliki sifat yang supel, pintar membawa diri, sangat cepat masuk ke pergaulan dan apa adanya. “Sifat ini sangat menguntungkan mereka dalam bekerja, mengingatkan karakter kerja kami ada berhubungan dengan pencarian dan pengelolaan nasabah. Sifat mereka ini juga sangat membantu mengelola emosional mereka dalam menghadapi tuntutan kerja kami yang stressfull dan underpressure. Sekilas, pekerjaan kami memang terlihat santai, tapi sebenarnya cukup membuat stress,” katanya.

Risa mengakui, selain Ame yang sudah bergabung di timnya sebulan terakhir, dalam timnya juga bergabung seorang gay sejak dua tahun terakhir. Secara umum, kata Risa, Ame dan karyawan yang gay tersebut bekerja sangat profesional. Keduanya mengetahui jam kerja, memahami tugas dan tanggungjawab dan cekatan dalam menjual produk-produk investasi yang ditawarkan perusahaan. Keduanya juga selalu mendapatkan nasabah dalam jangka waktu yang tidak lama.  Mereka juga professional dalam menjaga nasabah agar tetap percaya dengan perusahaan.

Soal prestasi, baik Ame maupun rekan karyawannya yang gay punya pencapaian yang baik. Selama bekerja di perusahaan tersebut, keduanya beberapa kali mendapat reward sebagai “ganjaran” atas target yang mereka capai. Biasanya reward ini diberikan kepada karyawan jika pencapaiannya melebihi 50 persen target yang dibebankan. “Melihat prestasi dan kinerja mereka, tentu tak ada alasan bagi kami untuk mengeluarkan mereka,” katanya.

Staf Inqilabi-Ink, Erwin saat ditemui Tribun, awal April lalu mengatakan, persyaratan tidak terlibat LGBT awalnya tidak dicantumkan dalam persyaratan lamaran. Tapi beberapa hari setelah diiklankan, ada dua perempuan berpenampilan tomboy datang mengajukan lamaran. “Kedua-duanya perempuan, tapi kayak laki-laki. Dan saya tahu mereka ini pacaran,” kata Erwin.

Menurut Erwin, aturan dalam agama yang melarang keberadaan LGBT menjadi alasan bagi mereka untuk menolak siapapun yang terlibat dalam LGBT untuk bergabung dalam perusahaan mereka. “Itu alasan utama kami. Akhirnya, setelah kedatangan dua pelamar perempuan itu, kami ganti kembali iklannya dengan mencantumkan syarat “Tidak Terlibat LGBT” ,” kata Erwin.

Erwin menjelaskan, untuk pelamar yang transmen atau transwomen memang relatif lebih mudah. Untuk mengenalinya, berdasarkan penampilan mereka. Beda halnya dengan pelamar yang orinteasi seksualnya lesbian, gay, atau biseksual. Tanpa ada pengakuan, sulit untuk mengenali kalau mereka adalah lesbian, gay, atau biseksual. Kalau kemudian ada lesbian dan gay yang masuk, Erwin mengaku tak bisa berbuat apa-apa. “Kami tidak ada membuat seleksi khusus untuk mengenali apakah palamar itu terlibat lesbian atau gay. “Kalaupun pada akhirnya lolos dan ketahuan, saya belum memikirkan tindakan apa untuk mereka,” katanya.(*/bersambung)

Catatan: Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Tribun Medan, hari Minggu dan Selasa (17 dan 19 April 2016) serta di edisi online http://www.tribun-medan.com, hari Minggu-Selasa (17-19 April 2016)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s