Pekerja LGBT di Sumatera Utara, Aku Sudah Nyaman Seperti Ini (4)

Adinda Didi

ADINDA Didi, seorang transwoman yang bekerja sebagai desain grafis di dua perusahaan di Medan.(FOTO: TRULY OKTO PURBA)

Menjadi seorang LGBT bukanlah peristiwa yang terjadi dalam hitungan menit. Ada banyak proses dan pengalaman hidup yang harus dilewati seseorang tersebut. Apa yang dirasakan dalam dirinya sehingga di kemudian hari memutuskan menjadi seorang LGBT? Berikut penuturan mereka.

ADINDA Didi bercerita, orientasi seksual menjadi seorang LGBT sudah terlihat saat dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Sejak kecil dirinya lebih nyaman berteman dengan perempuan. Kenapa bisa lebih nyaman dengan perempuan, alasan Didi adalah karena bisa saling bisa menjaga perasaan dan dirinya merasa tidak tersakiti di lingkungan pertemanan dengan perempuan.

Sebaliknya dengan laki-laki, Didi mengaku, ada sisi yang membuatnya tersinggung. Misalnya, dirinya mendapat pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya bukan urusan si laki-laki tersebut untuk mempertanyakannya. Misalnya bertanya tentang siapa pacar (teman wanitanya), mengapa Didi tidak mempunya pacar atau mengapa Didi banyak berteman dengan perempuan. Sisi lainnya adalah, sesama laki-laki suka mengucapkan kata-kata kotor, yang mana bahasanya berasal dari kebun binatang.

“Terus terang, aku tak nyaman seperti dan aku enggak pernah diajarkan orangtuaku bahasa-bahasa kotor. Kalau ada cowok gabung samaku dan menggunakan bahasa kotor, aku risih dan aku nggak nyaman. Tapi kalau sama cewek itu lebih tenang, nyaman. Jarang kalau cewek bahasa kotor. Jadi kalau berteman sama cewek itu, lebih sopan, lebih nyaman  dan lebih dihargai. Ya, sejak kecil jiwaku sudah begini. Aku nyaman seperti ini,” ujar Didi.

Transwoman kelahiran 21 Desember 1984 ini bercerita, sewaktu SD dirinya sudah dijauhi teman-temannya yang laki-laki. Didi merasa karena pembawaannya yang feminis. Pembawaannya ini pula yang kerap membuatnya mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti: ditanyai apakah dirinya perempuan atau laki-laki saat belanja ke kedai beli jajan di kedai, kenapa dirinya seperti perempuan dan lain-lain.

“Meskipun sudah dibully, aku diam saja menanggapinya. Aku waktu itu masih kecil dan belum tahu apa-apa. Karena sering mendapat perlakuan seperti itu dari teman-temanku, akhirnya aku jadi malas masuk sekolah. Kadang aku bolos sekolah. Sesekali aku bawa adikku bolos bersama karena kami kan satu sekolah. Kami bermain ke sawah. Ada gubuknya disitu. Terus cari belalang. Tapi kami komitmen jangan sampai ketahuan orangtua. Tapi akhirnya ketahuan sama orangtua. Orangtua menanya alasanku bolos sekolah ke aku dan guru. Cuma waktu itu aku enggak terbuka bahwa aku sudah dibully di sekolah. Aku diam enggak banyak ngomong,” kata Didi.

Pertemanan Didi yang lebih banyak dengan teman-teman perempuan, kembali berlanjut saat SMP dan SMA. Setelah lulus SMP, Didi berniat ingin melanjutkan sekolah di SMK jurusan fashion. Di usia remaja ini, orangtua Didi sudah merasakan ada perbedaan yang terjadi dalam kepribadian Didi. Orangtua Didi pun mulai melakukan berbagai cara, agar Didi kembali ke “kehidupan” awal yakni sebagai laki-laki.

Saat Didi meminta sekolah di SMK fashion, orangtuanya tidak mengizinkan. Dengan alasan ingin merubah Didi kembali menjadi laki-laki, Didi pun disekolahkan ke SMK jurusan elektronik. Di sekolah SMK Elektronik tersebut, hanya ada empat siswa perempuan.

“Mungkin karena banyak laki-laki, orangtua beranggapan aku kembali jadi laki-laki,” kata Didi.

Karena lingkungannya banyak laki-laki, Didi mengakui tidak mendapatkan ilmu pengetahuan yang ia inginkan dan tidak nyaman sesuai dengan keinginan. Persoalannya adalah, sejak kecil dirinya sudah senang desain, dan menggambar. Contohnya, Didi senang dengan permainan  bongkar pasang (BP). Didi bercerita, waktu kecil, dirinya sudah  mengumpulkan permainan BP hingga satu kotak sepatu. Tapi, kemudian dibakar oleh orangtuanya karena tak ingin Didi memainkan permainan BP.

“Sampai SMK aku masih mau bermain BP. Karena senang dengan BP dan permainan itu sudah dibakar orangtuaku, aku tak kehabisan akal. Aku ambil buku tulis dan kemudian menggambar model-model dalam BP ke buku tulis tersebut. Akhirnya terkumpul lagi permainan tersebut satu kota sepatu. Tapi kemudian ketahuan orangtua lagi. Kemudian dibakar lagi,” kata Didi.

Didi mengatakan, faktor lainnya yang membuat orangtuanya curiga dengan orientasinya adalah dirinya jarang berkumpul besama keluarga besarnya di rumah. Didi punya alasan kenapa jarang berkumpul. “Karena aku menganggap diriku berbeda. Kalau aku ngumpul, aku takut nanti mereka bilang aku seperti anak perempuan. Aku takut kena bully lagi. Ketakutan sepeti itu menghantui danmenjadi  momok bagiku dan aku enggak nyaman. Tak terbayangkan kalau keluarga yang menjadi tempat kita bersandar dan mendapat kenyamanan, malah menjadi tempat mendiskriminasi di keluarga itu. Kalau keluarga punya anak seperti kami, seharusnya keluarga harus dekat dengan kami, memahami kami,  jangan menganggap kami semakin aneh. Itu kan hanya perbedaan orientasi saja,” terang Didi.

Tamat SMK tahun 2002, Didi sempat menganggur satu tahun. Didi memutuskan untuk menganggur dan tidak melanjutkan kuliah. Didi merasa dirinya tak punya keahlian, karena dipupuk dari hal yang membohongi dirinya. Didi mengatakan, seharusnya orangtua melihat bakat anaknya dan ada baiknya mendapat pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuan anaknya tersebut. Waktu menganggur, orangtua Didi menawarkan pekerjaan di rumah makan Karo di kawasan Padang Bulan, Medan. Didi bekerja  sebagai pelayan mulai tahun 2003 dengan gaji Rp 600 ribu. Pekerjaan full mulai pagi hingga malam. Bangun pukul 05.00 WIB dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan seperti  mencuci dandang, menculi piring, membersihkan steling,  mengangkat makanan ke steling, melayanai tamu atau membungkus makanan.

“Aku istirahat pukul 17.00 WIB. Lalu ada istirahat pukul 13.00 WIB dan tidur satu jam. Kalau sudah selesai istirahat, bangun kerja lagi. Begitulah setiap hari. Pukul 12 malam baru selesai pekerjaan. Begitu setiap hari,” katanya.

Rutinitas seperti itu membuat Didi menjadi dilematis. Didi berpikir tak mungkin dirinya terus menerus menjadi pelayan di rumah makan. Aku berpikir kalau begini terus aku tak maju. Lalu aku temukan mukjijat. Suatu hari (masih di tahun 2003), saat sedang membersihkan meja makan, dirinya melihat sebuah bungkusan yang terletak di meja makan. Didi membuka dan melihat isinya. Ternyata uang Rp 2 juta. Didi berniat untuk mengembalikan uang tersebut, tapi tidak ada alamat ataupun petunjuk di bungkusan tersebut tentang siapa pemilik uang sebenarnya.

“Aku mau mengembalikan uangnya, tapi tak ada alamatnya. Berarti itu berkat buat aku. Jujur, kalau pun saat itu mereka (pemilik bungkusan kembali), aku kembalikan saja. Aku menunggu sampai dua bulan,’ katanya.

Didi pun memutuskan menggunakan yang tersebut untuk kuliah. Tapi Didi masih tetap bekerja di rumah makan. Didi kuliah Diploma 1 jurusan Komputerisasi Akuntansi di sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di daerah Simpang Pos, Medan. Kampusnya ini dekat dengan rumah makan tempatnya bekerja. Didi bekerja di rumah makan mulai pukul 05.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Kemudian, kuliah malam mulai pukul 19.00-21.00 WIB. Pulang dari kuliah, Didi kembali ke rumah makan dan melanjutkan pekerjaan tersisa yakni mencuci piring. Selama kuliah, Didi mempelajari komputer akuntansi, autocad dan desain grafis. Tapi setelah sekian lama belajar, Didi mengaku lebih kecantol dengan desain grafis. “Ilmu desain grafis yang kupelajari inilah yang menjadi modalku bekerja di dua tempat sekaligus saat ini. Menjadi desain grafis di perusahaan retal dan layouter sekalgus desain grafis di perusahaan penerbitan,” katanya.

Didi mengaku sudah nyaman dengan orientasi yang dijalaninya saat ini. Meskipun banyak yang menghina keputusannya ini, Didi mengaku tidak akan mempermasalahkannya. “Aku sudah berdamai dengan hatiku. Kalau seseorang yang berdamai dengan hatinya, dia tidak akan perduli dengan orang tersebut,” katanya.

Jika Didi mengakui perubahan dalam dirinya sejak masih kecil, lain halnya dengan Bobby. Tranman yang bekerja sebagai buruh di perusahaan mebel di kawasan Sunggal, Deliserdang ini mengatakan, perubahan dalam dirinya dirasakannya sejak tamat SMA. “Aku merasa terjebak dalam tubuh yang salah. Aku merasa nyaman bersama teman laki-laki,” katanya.

Perlahan-lahan, Bobby pun mulai berpenampilan layaknya laki-laki sehingga orang-orang menyebutnya tomboy. Rambut pendek dan anting khas laki-laki di telinga kiri menjadi sedikit identitas laki-lakinya. “Orangtuaku tau kalau aku tomboy. Aku sering dinasehati. Ya, maksudnya mengubah penampilan biar jangan tomboy,” kata bungsu dari lima bersaudara ini.

Bobby mengaku sulit menjelaskan apa yang ia rasakan dengan perubahan orientasi seksualnya saat ini. Booby hanya mengatakan, dirinya hanya menjalaninya saja. “Saya jalani saja,” katanya.(*/habis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s