Wisata Mangrove Kampoeng Nipah, Lokasi Ekowisata Mangrove Terpadu Berbasis Masyarakat (1)

20160402_155803

GAPURA Wisata Mangrove Kampoeng Nipah di Desa Sei Nagalawan, Kampung Nipah, Dusun 3, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Provinsi Sumatera Utara.(FOTO: HENDRA SIRINGO-RINGO)

PAK Amin menyambut kami hangat begitu mobil Avanza biru yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah gapura di kawasan Wisata Mangrove Kampung Nipah, Sabtu (2/4/2016) siang. Pak Amin adalah petugas parkir dan bagian pembelian tiket rakit di kawasan Wisata Mangrove. Beliaulah yang mengarahkan pengunjung yang datang dengan kendaraan bermotor baik motor maupun mobil untuk memarkirkan kendaraan di halaman sebuah gedung di dekat gapura.

Saat tiba di gapura tersebut, sesungguhnya lokasi Wisata Mangrove Kampung Nipah masih berjarak sekitar dua kilometer lagi dari gapura. Untuk mencapai lokasi tersebut, Pak Amin mengarahkan pengunjung menggunakan dua transportasi, yakni melalui darat dan air. Jika melalui darat, pengunjung dapat berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor hingga ke lokasi wisata. Di lokasi wisata, dipungut biaya parkir Rp 10 ribu per sepeda motor. Sedangkan jika melalui air, pengunjung diarahkan menggunakan rakit. Rakitnya sederhana. Dibentuk dari kayu broti sebagai tiang dan papan sebagai dasar (lantai) rakit. Sedangkan penggeraknya menggunakan mesin berbahan solar.

Sekitar 30-an penumpang bisa menumpang di rakit ini. Jangan mengira, rakit akan menyeberangi lautan, melainkan hanya melewati perairan berbentuk sungai yang lebih cocok disebut sebagai aliran air dari laut. Lebarnya hanya sekitar 15 meter. Di sisi aliran sungai “terparkir” sampan-sampan nelayan yang biasa digunakan nelayan untuk melaut.

Meskipun hanya aliran air dari pantai, tapi dari sinilai keseruan menikmati Wisata Mangrove dimulai. Walaupun bisa berjalan kaki, tapi banyak pengunjung yang memilih menggunakan rakit untuk merasakan sensasi menyeberangi “lautan” kecil. Ongkosnya tak mahal. Hanya Rp 8.000 per penumpang. Ongkos Rp 8.000 sudah sekaligus sebagai tiket masuk. Pak Aminlah yang bertugas membagikan tiket rakit tersebut.

“Ongkos Rp 8.000 ini tak masuk ke kantong pengelola seluruhnya. Sebesar Rp 5.000 untuk pengelola dan Rp 3.000 untuk Pemkab Serdang Bedagai. Ada kuitansi berlogo Pemkab Serdang Bedagai yang diberikan ke pengunjung. Jadi bukan kutipan liar ya,” kata Pak Amin.

30-31 Mei 2016-Berkunjung ke Hutan Mangrove (6)

RAKIT kayu yang digunakan pengunjung menyeberangi “lautan” menuju kawasan Wisata Mangrove.(FOTO: DOKUMENTASI PRIBADI)

Secara administratif, Wisata Mangrove Kampoeng Nipah ini terletak di Desa Sei Nagalawan, Kampung Nipah, Dusun 3, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Provinsi Sumatera Utara. Perjalanan dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 1,5 – 2 jam dari Kota Medan dengan menggunakan transportasi umum dan berhenti di Simpang Pantai Klang, Kecamatan Sei Buluh. Dari Simpang Pantai Klang, perjalanan dilanjutkan menuju Kampoeng Nipah yang berjarak sekitar delapan kilometer. Jangan khawatir kalau kendaraan Anda akan rusak. Kondisi jalan menuju Kamnpoeng Nipah sudah cukup baik dan sudah beraspal. Transportasi yang digunakan menuju Kampoeng Nipah cukup beragam, mulai dari sepeda motor, becak ataupun mobil.

Dari gapura menuju lokasi utama Wisata Mangrove, butuh perjalanan sekitar 10 menit menggunakan rakit. Namun, transportasi rakit ini tergantung volume air. Jika air laut naik, maka rakit bisa diisi hingga 30-an penumpang. Tetapi jika air laut surut, rakit hanya bisa diisi setengahnya saja.

Saat rakit berlabuh di tepi pantai, maka mata kita akan memandang dengan jelas, bentangan laut yang membiru. Untuk masuk ke lokasi utama, pengunjung dapat berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer. Sebuah gapura sederhana bertuliskan “Selamat Datang di Wisata Mangrove Kampoeng Nipah” menjadi penyambut pengunjung menuju lokasi utama Wisata Mangrove.

30-31 Mei 2016-Berkunjung ke Hutan Mangrove (2)

JEMBATAN dari bambu yang berdiri di tepi pantai dengan panjang sekitar 1,5 kilometer.(FOTO: HENDRA SIRINGO-RINGO)

Jembatan yang terbuat dari bambu dengan lebar 1,5 meter dan tinggi 1 meter di atas permukaan pantai telah terpasang rapi mulai dari pemberhentian rakit hingga di sekitaran lokasi utama Wisata Mangrove. Panjangnya jika ditotal sekitar 1.500 meter. Berjalan di atas jembatan bambu dan di bawahnya ada air pantai menghadirkan pengalaman baru yang sulit untuk di dapatkan pengunjung di tempat wisata lain. “Jembatan bambu ini yang membuat saya penasaran datang ke sini. Ternyata menyenangkan sekaligus menegangkan,” kata Henra, warga Medan yang datang ke Kampoeng Nipah bersama teman-temannya awal April lalu.

Wisata Mangrove Kampung Nipah merupakan lokasi ekowisata mangrove terpadu berbasis masyarakat pertama di Indonesia. Di dalam satu lokasi, terdapat hutan mangrove, pengolahan produk berbahan dasar mangrove, homestay, restoran, dan pondok. Mengapa disebut berbasis masyarakat, karena sebagian besar pengelolanya adalah masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Wisata Mangrove.

Mangrove adalah tumbuhan berkayu, maupun semak belukar yang menempati habitat antara darat dan laut yang tergenang air laut secara periodik. Sedangkan hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa jenis hutanmangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang-surut pantai berlumpur. Salah satu ciri tanaman mangrove memiliki akar yang menyembul ke permukaan. Penampakan mangrove seperti hamparan semak belukar yang memisahkan daratan dengan laut. Hutan mangrove mempunyai banyak manfaat, salah satunya sebagai pelindung garis pantai dari abrasi atau pengikisan serta menahan gelombang besar, termasuk tsunami.

Di kawasan Wisata Mangrove seluas lebih dari enam hektar ini, pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas yang disediakan pengelola. Mulai dari sekadar mandi di pantai, menangkap kepiting, memancing ikan, bermain banana boat dan lain-lain. Jika kepiting dan ikan sudah berhasil ditangkap, pengunjung dapat bermain banana boat atau berenang. Biarkan kepiting atau ikan hasil tangkapan anda diolah menjadi menu yang nikmat oleh pengelola Wisata Mangrove. Saat makan siang tiba, menu tersebut sudah terhidang di meja lesehan di pinggir pantai. Pengunjung tinggal menikmatinya.

Pengunjung cukup menyewa pondok-pondok yang ada di tepi pantai untuk sekadar duduk-duduk atau tiduran sembari menikmati pemandangan pantai dan kawasan hutan mangrove. Struktur pondok dengan tiang dari kayu, atap dari daun kelapa dan tempat duduk dari bamboo menghadirkan suasana alami. Pohon cemara yang tumbuh di sekitar pondok menjadi salah satu spot (titik) berfoto yang keren.

30-31 Mei 2016-Berkunjung ke Hutan Mangrove (9)

PONDOK di tepi pantai yang dapat digunakan sebagai tempat duduk atau tidur-tiduran.(FOTO: HENDRA SIRINGA-RINGO)

30-31 Mei 2016-Berkunjung ke Hutan Mangrove (8)

SUASANA pantai yang keren menjadi penarik untuk berswafoto (selfie).(FOTO: HENDRA SIRINGO-RINGO)

30-31 Mei 2016-Berkunjung ke Hutan Mangrove (7)

“WISATA MANGROVE”, ikon kawasan Wisata Mangrove yang membuat pengunjung tak mau melewatkannya sebagai spot terbaik untuk berfoto.(FOTO: HENDRA SIRING-RINGO)

Bosan di pondok, pengunjung dapat menyusuri putihnya pasir pantai. Sepasang kaki yang sudah sempat menginjak pasir rasanya enggan beranjak kembali ke pondok. Agar wisata semakin sempurna, bertahanlah hingga sore hari sembari menunggu matahari tenggelam (sunset). “Saya datang ke sini, salah satunya ingin melihat sunset (matahari tenggelam). Jika cuaca mendukung, biasanya sunsetnya kelihatan. Rasanya indah damai sekali,” kata Ningsih, warga Simalingkar, Medan.

Untuk mendukung kawasan Wisata Mangrove ini, pengelola melengkapinya dengan homestay berkapasitas 4 orang sebanyak 4 unit, kamar mandi umum 8 unit, kantin 1 unit, restoran 1 unit, aula berkapasitas 50 orang 1 unit, pondok 30 unit, galeri yang menjual produk-produk turunan mangrove 1 unit, tempat penimbangan ikan 1 unit dan tempat salat 1 unit.(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s