Wisata Mangrove Kampoeng Nipah, Jumiati Memulainya dari Konservasi (2)

30-31 Mei 2016-Berkunjung ke Hutan Mangrove3 (2)

JUMIATI, tokoh yang berada di balik berdirinya Wisata Mangrove, Kampoeng Nipah.(FOTO: TRULY OKTO PURBA)

30-31 Mei 2016-Berkunjung ke Hutan Mangrove3 (1)

PEREMPUAN-perempuan anggota Koperasi Serba Usaha (KSU) Muara Baim Bay yang mengelola Wisata Mangrove Kampoeng Nipah.(FOTO: TRULY OKTO PURBA)

JUMIATI  (35) bersama suaminya Sutrisno, adalah dua orang yang berada dibalik berdirinya Wisata Mangrove ini. Perjuangan keduanya membangun dan memelihara Wisata Mangrove ini bukanlah perjuangan satu atau dua tahun, melainkan perjuangan selama belasan tahun.

Jumiati menceritakan, menjadikan hutan mangrove sebagai tempat wisata, bukanlah cita-cita utamanya. Namun, seiring berjalannya waktu, perjalanan Jumiati akhirnya membawanya melangkah begitu jauh melebihi cita-citanya belasan tahun sebelumnya. .

“Cita-cita utama saya adalah konservasi. Saat datang ke sini tahun 2004, saya dan Bang Tris (suami) mendapati kawasan hutan di daerah ini yang sudah hancur. Penghasilan nelayan yang menurun akibat kerusakan pantai. Saya dan Tris mencoba menanam kembali mangrove. Kami mengajak masyarakat sekitar agar ikut menanam kembali hutan mangrove. Awalnya tak mudah. Tapi saya, Bang Tris dan sejumlah warga yang mau jalan terus. Perlahan-lahan warga lainnya mulai tertarik dan ikut menanam mangrove. Kami semua bergabung dan membentuk Kelompok Konservasi Muara Baim Bay. Lewat kelompok ini kami mengkonservasi kawasan hutan secara intensif hingga tahun 2011,” kata Jumiati.

Jumiati mengaku bersyukur karena program konservasi yang mereka gagas bersama warga setempat membuahkan hasil setelah hutan mangrove kembali tumbuh dengan baik. Salah satunya adalah bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pantai biasanya banyak bekerja menjadi nelayan. Mereka mencari ikan dan berbagai sumber daya untuk menopang ekonomi keluarga. Manfaat kawasan hutan mangrove menjadi tempat yang paling sesuai untuk pembibitan ikan, udang dan berbagai potensi habitat laut lainnya. Kawasan hutan mangrove telah membantu menjaga ketersediaan sumber daya ikan di laut yang tidak akan habis.

“Itu hanya salah satu manfaat saja. Banyak manfaat lain yang dirasakan masyarakat sekitar misalnya: menjaga kualitas air dan udara, menjaga iklim dan cuaca, mengatasi masalah banjir pada kawasan pesisir.dan mencegah erosi pantai,” kata Jumiati.

Namun, Jumiati menyadari, konservasi tak hanya sebatas menanam dan merawat. Jumiati pun ingin melibatkan semua pihak mulai dari usia dini hingga dewasa agar ikut terlibat dalam menjaga kelestarian hutan mangrove baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pada tahun 2011, Jumiati pun menjadikan kawasan hutan mangrove seluas lebih dari enam hektar tersebut menjadi Wisata Mangrove. Jumiati menyiapkan berbagai paket edukasi untuk pengunjung, seperti kelas mangrove, adopsi pohon, tracking, dan kelas pengolahan.

Jumiati menjelaskan, kelas mangrove adalah sebuah program dimana pengunjung mulai dari anak sekolah dan mahasiswa dipandu oleh pemandu untuk mendapatkan informasi seputar mangrove. Misalnya sejarah hutan mangrove, jenis-jenis pohon di hutan mangrove, manfaat mangrove dan lain-lain. Untuk pengunjung yang ikut kelas mangrove, maka dilanjutkan dengan paket tracking ke hutan mangrove. Saat tracking ke hutan mangrove, pengunjung akan melihat dengan jelas seperti apa hutan mangrove, jenis-jenis pohon mangrove dan ekosistemnya. Bagi pengunjung yang ikut kelas mangrove dapat mengikuti paket adopsi pohon yakni kegiatan untuk menanam mangrove. “Pengunjung cukup membeli satu atau beberapa tanaman mangrove untuk kemudian ditanam di sekitar pantai. Pengunjung bisa menempelkan nama mereka di sekitar phon yang mereka tanam,” kata Jumiati.

Paket terakhir adalah kelas pengolahan. Di kelas pengolahan ini, pengunjung dapat belajar bersama perempuan-perempuan yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Muara Tanjung untuk mengolah daun-daun dari pohon-pohon mangrove menjadi produk makanan bernilai ekonomi tinggi.

Jumiati menceritakan, sebelum mendirikan Wisata Mangrove ini ditahun 2011, dirinya dan sejumlah ibu-ibu di sekitar pantai membentuk wadah Kelompok Perempuan Muara Tanjung. Mereka pun mengolah mangrove menjadi produk-produk makanan dari daun-daun pohon mangrove sejak tahun 2009. Misalnya daun dari pohon api-api yang diolah menjadi kue selimut api-api, daun pohon jeruju yang diolah menjadi kerupuk jeruju original, kerupuk jeruju rasa jagung dan kerupuk jeruju rasa balado. Kemudian daun pohon prepat (pedada) diolah menjadi kue kering selai prepat. Produk lainnya yang dapat dihasilkan adalah sirup mangrove, selai mangrove dan dodol mangrove. “Semua produk-produk ini dikelola dengan cara yang higienis dan standar. Packaging yang baik dan dilengkapi dengan label halal dan izin Dinas Kesehatan,” katanya.

30-31 Mei 2016-Berkunjung ke Hutan Mangrove3

KERUPUK Ikan MT dan Kerupuk Jeruju adalah produk makanan olahan dari tumbuhan mangrove yang dikelola oleh KSU Muara Baim Bay.(FOTO: TRULY OKTO PURBA)

Produk-produk ini mendapat sambutan yang cukup baik di masyarakat. Pengunjung-pengunjung dan masyarakat umum cukup banyak yang membeli produk-produk turunan mangrove tersebut. “Dengan adanya produk ini, ibu-ibu dan perempuan di sini punya pendapatan tambahan. Mereka bisa bantu-bantu suami yang sehari-harinya menjadi buruh atau melaut,” kata Jumiati.

Dewi (40) mengaku terbantu secara ekonomi sejak ikut bergabung dalam Kelompok Perempuan Muara Tanjung dan ikut mengolah mangrove menjadi produk-produk makanan. Pada tahun 2009, Jumiati dipercaya untuk mengurusi penjualan produk-produk mangrove di mini market dan toko oleh-oleh di Kabupaten Deliserdang.

“Tapi hanya jalan beberapa bulan saja. Secara ekonomi tidak memberikan untung yang banyak. Salah satunya adalah margin keuntungan yang diminta oleh pihak mini market dan toko terlalu besar. Akibatnya pengunjung enggan membeli. Pengunjung justru lebih senang membeli langsung ke kita karena harganya jauh lebih murah. Akhirnya produk yang ditipkan di mini market dan toko banyak yang tidak laku. Biaya kita untuk ke toko juga tidak sedikit. Sekali dalam tiga hari kita wajib kontrol. Akhirnya kita putuskan tidak menitipkan lagi di mini market dan toko. Penjualan kita fokuskan di kawasan wisata, melalui anggota Kelompok Perempuan Muara Tanjung atau lewat online,” kata Dewi.

Melihat hasil konservasi yang semakin baik dan pengolahan produk turunan mangrove yang diminati masyarakat, Jumiati dan suaminya pun berpikir agar pengolahan Wisata Mangrove semakin profesional tetapi dengan syarat melibatkan semua masyarakat di sekitar. Jumiati pun menggabungkan Kelompok Konservasi Muara Baim Bay dan Kelompok Perempuan Muara Tanjung menjadi Koperasi Serba Usaha (KSU) Muara Baim Bay.

Koperasi ini resmi berdiri pada tahun 2012. Koperasi inilah yang kini menjadi pemilik dan pengelola Wisata Mangrove Kampoeng Nipah. Koperasi ini beranggotakan 63 orang dengan Ketua: Sutrisno, Sekretaris: Sulastri, Bendahara: Saniah. Sedangkan Jumiati duduk sebagai Manajer Wisata Mangrove. Pada awal berdiri, hanya Wisata Mangrove dan pengolahan produk turunan mangrove yang menjadi unit usaha KSU ini. Tetapi seiring berjalannya waktu, unit usaha KSU ini  bertambah seperti: unit simpan pinjam, jual beli ikan nelayan dan perahu wisata.

Jumiati mengatakan, jika masyarakat sekitar mendapatkanmanfaat dari hutan mangrove yang tumbuh kembali, maka keberadaan kawasan Wisata Mangrove ini juga memberikan mafaat yang tidak sedikit bagi warga, khususnya anggota KSU Muara Baim Bay. “Warga sekarang punyak banyak kegiatan. Ada yang menjaga kantin, menjadi pemandu bagi pengunjung yang ingin melihat hutan mangrove, mengolah tumbuhan mangrove menjadi produk makanan, operator perahu wisata dan lain-lain,” kata Jumiati.

Ketekunan Jumiati selama 12 tahun bergelut dalam konservasi hutan mangrove pun membuahkan hasil. Berbagai prestasi telah diraih. Seperti: Penghargaan Tupperware She Can tahun 2013, Pejuang Pangan dari Oxfam (2013) dan Perempuan Inspirasi (2012).

“Menjaga hutan mangrove ini tetap tumbuh dan lestari tentu saja bukan hanya tugas kami yang ada di KSU Muara Baim Bay, melainkan tugas bersama semua pihak. Kami berharap, keberadaan Wisata Mangrove Kampoeng Nipah ini dapat mempertahankan keberadaan hutan mangrove. Masyarakat juga semakin teredukasi dan termotivasi untuk menjaga hutan mangrove,” katanya.(*/Habis)

2 responses to “Wisata Mangrove Kampoeng Nipah, Jumiati Memulainya dari Konservasi (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s