Oleh-oleh dari Gunung Kerinci, Kejujuran ala Rumah Makan Padang (2)

21

AKU berfoto dfi ruang check in Bandara Kualanamu (kiri) dan di depan pesawat Sriwijaya Air (kanan) yang kutumpangi menuju Padang, Selasa (3/5/2016). (FOTO: M SYAHBANI)

PESAWAT Sriwijaya Air dengan kode penerbangan SJ 025 yang membawaku dan lima teman terbang dari Bandara Kuala Namu Deliserdang, Selasa (3/5/2016) pukul 12.45 WIB. Meskipun Gunung Kerinci berada di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, tetapi penerbangan yang kami ambil adalah rute Medan-Padang.

20

AKU dan kelima temanku dari Medan berfoto bersama di ruang tunggu Bandara Kuala Namu sebelum berangkat ke Padang, Selasa (3/5/2016). (FOTO: SRI WAHYUNI)

Untuk sampai di Kabupaten Kerinci, jalur yang terdekat adalah dari Padang dengan waktu tempuh sekitar delapan jam dengan menggunakan mobil carteran (travel). Jika kita mengambil rute dari Kota Jambi (ibu kota provinsi Jambi), maka waktu tempuh dengan menggunakan mobil carteran (travel) sekitar 12 jam. Kebanyakan pendaki (terutama dari luar provinsi Jambi) yang ingin mendaki Gunung Kerinci dan menggunakan transportasi udara, maka lebih efisien jika transit di Padang, Sumatera Barat.

Pesawat yang kami tumpangi tiba di bandara Minangkabau Internasional Padang, pukul 13.50 WIB atau waktu tempuh 1 jam 05 menit. Sesampainya di bandara, kami sudah ditunggu Pak Mul, sopir mobil travel “Safa Marwah”. Pak Mul membantu kami menaikkan ransel ke atap mobil Xenia yang akan kami naiki. Sepanjang pengamatanku, saat tiba di parkiran, ada 20-an orang yang menenteng ransel kecil atau ransel besar sedang duduk-duduk dan berdiri di parkiran. Aku merasa, kalau ke-20 orang tersebut sama dengan kami, akan mendaki ke Gunung Kerinci. Tak lama kemudian, tiga mobil seukuran Avanza datang.

Menurut Pak Mul, sejak Sabtu (31/4/2016) sudah ada puluhan mobil travel lain yang datang ke Bandara Minangkabau untuk menjemput penumpang (atau tepatnya pendaki) dan mengantar ke Kabupaten Kerinci. Aku berpikir, cukup banyak juga sampai puluhan mobil. Tapi maklumlah, karena minggu pertama Mei ada minggu yang banyak hari libur nasional yang disambung dengan hari libur Sabtu dan Minggu, jadi banyak pendaki yang datang.

Selain itu, karena Kerinci merupakan gunung favorit para pendaki, maka banyak juga mobil travel yang menyediakan rute Padang-Kabupaten Kerinci.

Selain mobil travel, memang ada bus regular jurusan Padang-Kerinci. Tetapi jika dihitung-hitung, biayanya hampir sama dengan mobil travel. Sekilas dengan menggunakan mobil travel lebih mahal dibandingkan bus regular, tetapi lebih efisien dengan menggunakan mobil travel. Mobil travel bisa datang setiap saat, beda dengan bus regular. Jika ingin naik bus regular, maka harus naik dari Terminal Padang. Artinya bayar ongkos Damri Rp 20 ribu per orang dari bandara. Sedangkan kalau naik mobil travel, penumpang sudah dijemput dari bandara.

Pak Mul membawa mobil dengan kecepatan yang standart, sekitar 80 kilometer per jam. Kami berenam cukup nyaman di dalam mobil. Muatan penumpang sebenarnya tujuh orang. Jadi tak terlalu sempitlah. Ada AC dan musik. Sepanjang perjalanan, pak Mul memutar lalu. Meski lagu-lagu yang diputar Pak Mul kurang kami mengerti maknanya (beliau memutar lagu-lagu Minang), kami biarkan saja lagu itu berkumandang.

Kami singgah dulu ke loket Safa Marwah, Jl. S. Parman, Padang untuk membayar ongkos. Kami tak langsung melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Kerinci. Sejak dari Medan, kami berenam sudah janji harus makan siang di Padang. Kami sudah “bersumpah” mengisi perut kami dengan Nasi Padang yang enak dan murah. Pak Mul menunjukkan rumah makan padang tempat makan siang, namanya Rumah Makan Sederhana. Kami lirik sebentar. Tempatnya lumayan elit. Sepertinya mahal, itulah kesimpulan kami. “Sederhana” kan brand yang mahal.

Kami batalkan ke rumah makan Sederhana. Kami susuri lagi jalanan kota. Ada penjual gorengan. Temanku Novita membeli beberapa buah gorengan untuk mengganjal perut. Waktu itu sudah pukul 15.30 WIB. Pas beli gorengan, si Adik penjual gorengan menunjuk satu rumah makan lagi. namanya “RM Salero Bundo”, tak jauh dari tempatnya berjualan gorengan. Tempatnya sederhana, tidak seelit rumah makan yang pertama. Si Adik penjual goreng bilang harga makanan di RM Salero Bundo lebih terjangkau dibanding di rumah makan sebelumnya.

Menariknya model makan di “RM Salero Bundo” adalah self serving atau melayani sendiri.  Semua menu sudah disajikan secara prasmanan di sebuah meja panjang, mulai dari ikan, sop, nasi, sayuran, kerupuk, sambel dan lain-lain. Masing-masing pengunjung dipersilakan mengambil menu yang diinginkan. Baru sekali ini aku melihat rumah makan Padang dengan model self serving. Model rumah makan ini mengingatkanku pada “Kantin Kejujuran” di SD tempatku sekolah di Pematangsiantar tahun 1990-an. Di kantin tersebut, jajanan diambil sendiri. Berapa yang diambil laporkan sendiri. Terkadang uang dan kembaliannya pun dimasukkan dan diambil sendiri oleh pembeli (siswa) ke kaleng uang.

Nah, di RM Salero Bundo, pembeli bebas mengambil berapapun menu yang disukainya. Pengawasan dari pelayan rumah makan tidak ketat-ketat amat. Seteloah selesai makan, tinggal datang ke kasir dan laporkan menu-menu apa saja yang dimakan dan kemudian bayar. Jadi kejujuran adalah kunci utama di  rumah makan ini. Kalau mau nyolong (nipu), peluangnya sangat besar. Tetapi kalau mau jujurpun, peluangnya juga sangat besar. Semuanya tergantung kita. He…he…

Keistimewaan di rumah makan ini adalah menunya yang bervariasi, terutama ikan. Saking banyaknya menu ikan, aku sempat bingung memilih ikan apa. Aku yang tak terlalu suka makan daging, kemudian menjatuhkan pilihan pada ikan kakap bakar dan lalapan sayur. Minumnya aku pesan teh botol Sosro.

Sehabis makan sekitar pukul 16.30 WIB, kami tak langsung melanjutkan perjalanan ke Kerinci. Kamis istirahat sejenak di “RM Salero Bundo”. Sebagian dari kami ada yang belanja logistik untuk pendakian ke Kerinci. Sedangkan yang lainnya (Yuni dan Novita) menyempat diri mengetik laporan (berita) untuk di kirim ke Medan.

IMG-20160503-WA0014

AKU berfoto di depan sebuah masjid di kota Padang dalam perjalanan menuju Kerinci, selasa (3/5/2016). Di dalam masjid, dua temanku sedang salat maghrib. (FOTO: NOVITA SIMAMORA)

Oh ya, di Padang tidak akan kita temukan toko ritel Indomaret, Alfamart dan sejenisnya. Menurut warga dan literatur yang kami baca, melalui kebijakan pemerintah kota setempat, Padang merupakan kota di Indonesia yang tidak memperbolehkan masuknya toko-toko ritel seperti Indomaret atau Alfamart. Alasannya untuk menjaga persaingan dengan toko ritel tradisional milik warga. Karena itulah, saat ke Padang, kita hanya akan menemukan toko-toko ritel tradisional yang dimiliki oleh warga setempat. Kami belanja logistik di sebuah toko ritel tradisional yang tidak begitu besar.

Pukul 18.15 WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Kerinci. Lokasi yang kami tuju adalah Basecamp Jejak Kerinci. Basecamp Jejak Kerinci ini berada di depan perkebunan teh milik PTPN VI, tepatnya di Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Jauh-jauh hari sebelumnya kami memang sudah berkomunikasi dengan Bang Levi, pemilik Basecamp Jejak Kerinci kalau kami akan singgah di basecamp tersebut.

Sopir yang membawa kami bukan lagi Pak Mul, tetapi Bang Dedy. Menurut Bang Dedy, Perjalanan menuju Kayu Aro diperkirakan menghabiskan waktu sekitar 8-9 jam. Artinya, jika berangkat pukul 18.15 WIB, kami bisa tiba di Kayu Aro, Rabu (4/5/2016) antara pukul 03.00 WIB atau pukul 14.00 WIB. Bang Dedy membawa kendaraan dengan kecepatan standar. Sesekali Bang Dedy memutar lagu-lagu Minang. Tapi kemudian kami ganti dengan lagu kami sendiri dengan memindahkan memori external ponsel teman kami, Hendy. Karena perjalanan panjang, kami berenam tak bisa tidur sekaligus. Tidurnya bergantian, biar ada yang tetap terjaga menemani Bang Dedy menyetir.

Menurutku pribadi, kondisi jalan dari Padang menuju Kabupaten Kerinci sudah cukup baik. Sebagai jalan lintas dan salah satu rute yang banyak dilalui para pendaki dari luar provinsi Jambi, maka infrastruktur dibangun dengan kualitas yang cukup baik. Memang ada jalan yang berlubang, tapi jumlah tak banyak dan tidak membuat kendaraan terperosok apalagi rusak. Lampu-lampu penerangan juga berfungsi dengan baik. Demikian halnya dengan rambu-rambu lalu lintas terpasang dengan baik, khususnya di jalan-jalan yang berkelok. Salah satu wilayah yang memiliki kelokan yang cukup banyak berada di perbatasan Padang-Talahan Panjang.

Di perjalanan kami juga banyak singgah. Saat tiba jam salat dan ada masjid atau SPBU, kami singgah biar teman-teman yang muslim bisa salat. Saat melintasi Jl. Singkarak Raya, kota Solok dan melihat keripik Sanjai yang legendaris itu, kami juga singgah. Kami beli beberapa bungkus untuk cemilan di jalan.(*/bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s