Oleh-oleh dari Gunung Kerinci, Budget Terbatas? Menginaplah di Basecamp Jejak Kerinci (3)

20160504_083842

TAMPAK depan basecamp Jejak Kerinci di Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. (FOTO: TRULY OKTO PURBA)

TANGGAL 4 Mei 2016, sekitar pukul 03.00 WIB, kami sampai di Base Camp Jejak Kerinci, di Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Base camp ini beralamat di Jl. Raya Kersik Tuo Padang, Rt.07/Rw.03 Kecamatan Gunung Kerinci, Kerinci-Jambi atau persis di depan Perkebunan teh milik PTP VI.

Basecamp Jejak Kerinci adalah sebuah rumah yang dimiliki oleh Ibu Jus (55). Bersama anak-anaknya, Bu Jus mengoperasikan rumahnya menjadi basecamp khusus untuk para pendaki yang ingin mendaki Gunung Kerinci. Tak hanya mengoperasikan rumah, anak-anak Bu Jus juga terjun ke pelayanan yang dibutuhkan pendaki, misalnya menyewakan mobil untuk membawa pendaki ke Pintu Rimba, menjual suvenir, menjadi porter dan menyewakan perlengkapan pendakian.

Rumah yang dijadikan basecamp ini tergolong sederhana. Pengamatanku, rumah yang dibangun tahun 1970-an ini masuk dalam kategori rumah semi permanen dengan mayoritas bangunannya berbahan papan. Luasnya sekitar 10 x 15 meter. Rumah ini berdiri di atas lahan sekitar 13 x 25 meter. Di halaman depan rumah masih ada halaman dengan panjang 5 meter yang digunakan sebagai tempat parkir kendaraan. Sedangkan di bagian belakang ada lahan kosong 5 meter lagi yang difungsikan sebagai ladang yang ditanami sayur-sayuran. Rumah ini terdiri dari ruang tamu, tiga kamar tidur, dapur, ruang tengah dan dua kamar mandi.

Di basecamp ini, para pendaki bisa menumpang tidur, mandi, makan ataupun mempersiapkan segala keperluan saat pendakian. Untuk ruang tidur pendaki, Bu Jus memfungsikan ruang tamu dan ruang tengah yang berdekatan dengan dapur. Di ruang tamu, pendaki tidur di lantai yang beralaskan tikar. Sedangkan di ruang tengah dan dapur, Bu Jus yang sudah janda ini menyediakan tempat tidur papan masing-masing berukuran 2 x 2 meter. Untuk kamar mandi, Bu Jus menyediakan dua kamar mandi untuk para pendaki, sedangkan satu kamar mandi yang tersisa digunakan untuk keluarganya.

20160504_081640

RUANG tamu di basecamp Jejak Kerinci yang difungsikan jadi ruang tidur pendaki yang menginap saat mendaki ke Gunung Kerinci. (FOTO: TRULY OKTO PURBA)

Berjarak sekitar 5 kilometer dari Pos Penjagaan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), base camp menjadi alternatif persinggahan bagi pendaki yang memiliki budget perjalanan yang pas-pasan. Bu Jus tidak mematok harga bagi pendaki yang menginap, makan atau mandi di basecamp Jejak Kerinci. “Berapapun mau mereka (pendaki) kasih, ibu ikhlas,” kata ibu lima anak ini.

Bu Jus bercerita, rumahnya yang dibangun tahun 1970-an tersebut sudah difungsikan sebagai basecamp untuk pendaki sejak tahun 2011. Awal mendirikan basecamp, kata Bu Jus, dikarenakan banyak pendaki yang tidak sanggup jika menyewa kamar-kamar di penginapan di Desa Kersik Tuo. Oh ya, di Desa Kersik Tuo, banyak tersedia penginapan-penginapan yang bisa disewa pendaki. Tarifnya beragam, mulai dari Rp 70 ribu per kamar per malam.

20160504_081944

AKU dan pemilik basecamp Jejak Kerinci, Bu Jus, berfoto bersama sebelum memulai pendakian ke Gunung Kerinci, Rabu (4/5/2016). (FOTO: NOVITA SIMAMORA)

Karena tidak punya uang, akhirnya saat tiba di Kerinci pada dini hari atau pulang pendakian pada malam hari, pendaki memilih tidur di emperan penginapan.  “Itu yang jadi alasan kami mendirikan basecamp ini. Tapi sebagai pembeda dengan penginapan, kami tidak mau mematok harga. Seikhlasnya jaga, berapa yang ingin diberikan pendaki. Tapi karena tidak sebagus penginapan, pendaki harus nerima kesederhanaaan pelayanan kami ya. Makan ala kadarnya. Kalau lauk hanya ada tahu tempe, ya cukup makan tahu tempe saja. Kalau yang ada hanya kentang sambel, ya lauknya kentang sambel saja,” kata Bu Jus.

Karena budget kami pas-pasan, kami memilih tidak menginap di penginapan. Kami memilih menginap, makan, mandi dan mempersiapkan segalanya di basecamp Jejak Kerinci. Karena kami tiba dini hari, kami masih sempat tidur beberapa jam di basecamp Jejak Kerinci. Tidur ala kadarnya di ruang tamu basecamp dan bergabung dengan puluhan pendaki lainnya. Alas tidur hanya tikar. Karena suhu sudah cukup dingin, aku harus mengeluarkan sleeping bag (kantung tidur) untuk menutup tubuhku. Pendakian baru kami lakukan pagi harinya, mulai pukul 09.00 WIB. Saat turun dari Kerinci pada Jumat (6/5/2016), kami masih sempat menginap satu malam lagi di basecamp Jejak Kerinci, sebelum melanjutkan pendakian ke Gunung Tujuh pada Sabtu (7/5/2016) pagi.

Meskipun pelayanan basecamp Jejak Kerinci terbilang sederhana, tapi aku pribadi merasa tidak mengecewakan. Saat bangun pagi, seorang anak Bu Jus sudah menyediakan minuman. Ada teh manis hangat, kopi, atau kopi susu. Pendaki tinggal memilih, minuman apa yang disuka. Sebelum memulai pendakian, Bu Jus mempersilakan pendaki untuk sarapan. Menu pagi itu memang sederhana betul: nasi putih, tempe sambel, kentang sambel dan sayur botol. Plus air putih tentunya. He…he..Begitupun, aku dan teman-tetap lahap menyantap sarapan.

20160504_081723

TAMPAK depan basecamp Jejak Kerinci di Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. (FOTO: TRULY OKTO PURBA)

Menurut Bu Jus, terkadang pendaki memberikan tidak sama, ada yang memberikan Rp 20 ribu per rombongan, ada yang Rp 50 ribu, dan ada juga yang lebih dari Rp 50 ribu. Aku sempat bertanya kepada Bu Jus, apa mereka tidak rugi kalau tidak menetapkan harga kepada pendaki. Bu Jus menggelengkan kepalanya. “Itu relatif Nak. Kami senang sudah bisa membantu pendaki. Sebagian makanan ini juga bahannya ibu tanam di belakang rumah. Ada kentang, ada sayur-sayuran, ada cabe, ada bawang, ada tomat,” katanya sambil menunjuk lahan yang ditanami sayuran di halaman belakang basecamp.

Sepulang dari pendakian, Jumat (6/5/2016) malam, aku dan teman-teman masih sempat makan malam di basecamp. Dan sebelum pulang ke Padang, pada Sabtu (7/5/2016), kamipun masih sempat makan malam. Sebelum pulang ke Medan, kami memberikan Rp 100 ribu kepada Bu Jus untuk “biaya” makan, mandi dan menginap kami berenam selama di basecamp Jejak Kerinci. Mungkin Rp 100 ribu itu tergolong mahal atau malah terlalu murah. Tapi yang pasti, kami ikhlas memberikannya. Menurut Bu Jus, jika musim libur, sekitar 50 an pendaki menginap di basecamp jejak Kerinci setiap harinya. Bahkan bisa mencapai 100-an. Sedangkan pada akhir pekan, pendaki yang menginap bisa sekitar 20-an orang.(*/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s