Oleh-oleh dari Gunung Kerinci, Abu Vulkanik Membuat Kami hanya Mendaki hingga Shelter 1 (4)

20160506_140521

AKU dan teman-teman pendaki dari Medan berfoto sejenak di Pos Pintu Rimba, sebelum memulai pendakian menuju Puncak Gunung Kerinci, Rabu (4/5/2016). (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

RABU (4/5/2016) pagi, setelah selesai minum teh dan sarapan, aku dan lima temanku mempacking ulang barang-barang yang akan dibawa saat mendaki Kerinci. Masing-masing dari kami punya carrier (ransel besar). Tapi kami memutuskan hanya membawa lima carrier saja. Tidak semua pakaian kami bawa. Hanya beberapa pasang saja untuk pendakian ke puncak. Sisa pakaian dan perlengkapan lainnya yang tidak terpakai disimpan di carrier yang tersisa.

Di basecamp Jejak Kerinci, kami bertemu dengan sejumlah pendaki yang sudah turun dari Gunung Kerinci. Dari mereka, kami mendapat cerita bahwa sebagian dari mereka ada yang sampai ke puncak dan ada yang tidak sampai puncak. Hal yang membuat kami senang adalah, pendaki yang tidak sampai ke puncak bukan dikarenakan abu vulkanik Kerinci, melainkan karena faktor internal pendaki yakni fisik. “Waktu kami naik, Kerinci ramah. Tidak ada gempa hembusan dan abu,” kata mereka.

Mendapat pengakuan seperti itu, perasaan kami langsung bahagia. “Mudah-mudahan tidak batuk,” kataku dalam hati. Selain kami berenam, aku menghitung ada 18 pendaki lainnya yang juga akan mendaki bersama-sama dengan kami dari basecamp Jejak Kerinci.

Gunung Kerinci (juga dieja “Kerintji”, dan dikenal sebagai Gunung Gadang, Berapi Kurinci, Kerinchi, Korinci, atau Puncak Indrapura) adalah gunung tertinggi di Sumatra, gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Gunung Kerinci terletak di Provinsi Jambi yang berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat, di Pegunungan Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang. Gunung ini dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat dan merupakan habitat harimau Sumatra dan badak sumatra.

Gunung Kerinci merupakan gunung berapi bertipe stratovolcano yang masih aktif dan terakhir kali meletus pada tahun 2009. Gunung Kerinci berbentuk kerucut dengan lebar 13 km (8 mil) dan panjang 25 km (16 mil), memanjang dari utara ke selatan. Puncak Gunung Kerinci berada pada ketinggian 3.805 mdpl. Dari puncak ini, pendaki dapat melihat di kejauhan pemandangan indah Kota Jambi, Padang, dan Bengkulu. Bahkan Samudera Hindia yang luas dapat terlihat dengan jelas. Gunung Kerinci memiliki kawah seluas 400 x 120 meter dan berisi air yang berwarna hijau. Di sebelah timur terdapat danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Di belakangnya terdapat Gunung Tujuh dengan kawah yang sangat indah yang hampir tak tersentuh.

Gunung Kerinci termasuk dalam bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). TNKS adalah sebuah wilayah konservasi yang memiliki luas 1.484.650 hektare dan terletak di wilayah empat provinsi, yang mana sebagian besarnya berada di wilayah Jambi. TNKS sendiri merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan yang memanjang dari utara ke selatan di Pulau Sumatra.

 Untuk tumbuhan di Gunung Kerinci, pada tumbuhan dataran rendah didominasi oleh beberapa jenis mahoni, terdapat juga tumbuhan raksasa Bunga Raflesia Rafflesia Arnoldi dan Suweg Raksasa Amorphophallus Titanum. Pohon cemara juga tumbuh di Gunung Kerinci. Dengan Taman Nasional Leuser, taman ini terhalang oleh Danau Toba dan Ngarai Sihanok. Sehingga beberapa binatang yang tidak terdapat di Taman Leuser ada di sini, seperti tapir (Tapirus indicus) dan kuskus (Tarsius bancanus). Banyak juga binatang khas Sumatera seperti gajah, badak sumatera, harimau, beruang madu, macan tutul, kecuali orang utan. Berbagai primata seperti siamang, gibbon, monyet ekor panjang, dan Presbytis melapophos. Terdapat juga 140 jenis burung.

 Keindahan panorama yang natural dengan kekayaan flora dan fauna dapat ditemui mulai dari dataran rendah hingga puncak Gunung Kerinci, tidak hanya untuk dinikmati tetapi sangat baik untuk melakukan penelitian dan pendidikan. Pendakian ke puncak Gunung Kerinci memakan waktu dua hari mulai dari Pos Kersik Tuo.(https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Kerinci)

Pukul 09.00 WIB, semua perlengkapan sudah selesai kami packing. Dengan menumpang dua mobil jeep terbuka, ke-24 pendaki berangkat dari basecamp Jejak Kerinci menuju pintu rimba Gunung Kerinci. Begitu meninggalkan basecamp Jejak Kerinci, maka secara resmi pendakian ke Gunung Kerinci sudah dimulai. Ada tiga pos dan tiga shelter yang harus dilalui sebelum sampai ke puncak. Yakni Pos Penjagaan TNKS, Pos Pintu Rimba, Pos Bangku Panjang , Pos Batu Lumut, Shelter 1, Shelter 2, dan Shelter 3. Untuk pendakian ini, kami memakai jasa satu orang porter untuk membantu membawa perlengkapan kami. Porter tersebut bernama Rion, warga Kersik Tuo, berusia 17 tahun (lulus SMK).

Desa Kersik Tuo-Pos Penjagaan TNKS/Pintu Rimba (1.400-1.611/1.800 mdpl/09.00-09.40 WIB)-Rabu, 4 Mei 2016

JARAK tempuh basecamp Jejak Kerinci di Desa Kersik Tuo-Pintu Rimba sekitar 5 kilometer. Jika menggunakan mobil menghabiskan waktu sekitar 20 menit. Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro sudah berada pada ketinggian 1.400 mdpl dengan penduduk yang terdiri dari para pekerja perkebunan keturunan Jawa. Karena itu, bahasa setempat banyak menggunakan bahasa Jawa.

2

POS Penjagaan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Pukul 09.10 WIB, mobil yang kami tumpangi tiba di Pos Penjagaan TNKS atau Pondok R10 yang sudah berada pada ketinggian 1.611 mdpl. Perjalanan ke Pos Penjagaan TNKS ini jika menggunakan mobil atau berjalan kaki akan melintasi perkebunan teh milik PTPVI. Pondok R10 adalah pondok jaga balai TNKS untuk mengawasi setiap pengunjung yang akan mendaki Gunung Kerinci. Di Pos Penjagaan TNKS ini, pendaki wajib mengisi indentitas seperti nama, asal, lama pendakian dan nomor handphone yang dapat dihubungi.

Di pos ini, pendaki membayar biaya retribusi pendakian yakni Rp 5 ribu (hari biasa/hari libur) per orang per hari untuk warga Indonesia dan Rp 150 ribu (hari biasa) dan Rp 225 ribu (hari libur) per orang per hari untuk warga asing. Jadi kalau mendakinya dua hari, seorang pendaki lokal asal Indonesia membayar Rp 10 ribu. Jangan khawatir menjadi korban kutipan tak resmi. Retribusi yang kita bayar ada kuitansi dari TNKS. Kami menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk menyelesaikan urusan administrasi. Pukul 09.30, kami melanjutkan perjalanan menuju Pintu Rimba.

Dari Pos Penjagaan TNKS kita melanjutkan perjalanan menuju ke Pintu Rimba yang sudah berada di ketinggian 1.800 mdpl. Jaraknya dari Pos Penjagaan TNKS sekitar 2,5 km dengan waktu tempuh kurang lebih 10 menit menggunakan mobil atau 1 jam berjalan kaki. Medan yang kita lalui berupa perkebunan/ladang penduduk, kondisi jalan sudah beraspal sampai ke Pintu Rimba.

3

POS Pintu Rimba. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Pintu Rimba merupakan perbatasan antara perladangan penduduk dengan hutan. Di sekitar Pintu Rimba ini, ada beberapa warung yang dikelola oleh warga yang dapat digunakan sebagai tempat beristirahat pendaki sebelum mendaki atau setelah turun pendakian. Warungnya ada yang bersifat tetap (bangunan sederhana) dan mobile (mobil yang dimodifikasi menjadi tempat berjualan). Di Pintu Rimba inilah titik terakhir mobil pengantar pendaki. Jika pendaki ingin dijemput kembali setelah turun mendaki, maka cukup menunggu di Pintu Rimba ini. Di warung ini, pendaki bisa menikmati minuman-minuman seperti teh manis panas, air mineral, kopi, minuman bersoda, gorengan, rokok dan buah-buahan.

Pintu Rimba-Bangku Panjang/Pos 1 (1.800-1.809 mdpl/10.00-10.30 WIB)

SETELAH merapikan perlengkapan dan berdoa, aku dan teman-teman melanjutkan pendakian. Sesuai dengan rencana kami semula, di hari pertama pendakian ini, kami menargetkan untuk mendaki hingga ke shelter 2 yang sudah berada di ketinggian 3.056 mdpl. Dengan demikian, keesokan hari waktu tempuh ke Puncak Kerinci, tidak begitu jauh lagi.

Namun saat akan melanjutkan pendakian, seorang guide di tim lain meminta kami berhenti. Ternyata dirinya mendapat telepon dari petugas Pos Penjagaan TNKS. Si petugas pos mengatakan, Gunung Kerinci baru saja mengalami gempa hembusan dan mengeluarkan abu vulkanik. Karena dirasa cukup mengancam, pendaki diminta hanya mendaki sampai shelter 1 saja yang berada di ketinggian 2.505 mdpl. Hal ini untuk mengantisipasi kalau-kalau aktivitas Gunung Kerinci semakin meningkat. Dengan demikian, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pendaki bisa segera turun ke Pintu Rimba.

Aku melihat sebentar ke arah puncak gunung. Memang terlihat gulungan awan putih meluncur ke atas. Perasaanku kembali was-was, kalau-kalau kami tak sampai ke puncak. Begitupun, aku tetap berdoa, semoga cuaca membaik dan Gunung Kerinci tetap “baik-baik” saja.

4

POS Bangku Panjang. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Pos pertama yang akan kami tempuh adalah Pos Bangku Panjang. Jarak tempuh ke Bangku Panjang sekitar 800 meter atau 30 menit perjalanan. Lintasannya cukup landai. Kondisi kawasan hutan adalah hutan tropis. Di pos Bangku Panjang ini, terdapat shelter yang dapat digunakan untuk beristirahat. Pendaki dapat beristirahat di bangku panjang berbahan batu yang ada di pos ini. Di pos Bangku Panjang ada juga bangunan yang difungsikan sebagai kamar mandi. Tetapi kamar mandinya sudah rusak dan tidak terawat.

Bangku Panjang-Batu Lumut/Pos 2 (1.809-2.010 mdpl/10.40-11.20 WIB)

SETELAH istirahat 10 menit, kami melanjutkan perjalanan menuju pos Batu Lumut. Jarak pos Bangku Panjang-Batu Lumut sekitar 750 meter dengan waktu tempuh sekitar 40 menit melintasi kawasan hutan. Jalur yang dilalui masih cukup landai, hanya sesekali landai. Pendaki dapat beristirahat di Pos Batu Lumut ini untuk mengumpulkan tenaga. Namun di Pos Batu Lumut ini tidak ada shelter sehingga kurang cocok untuk mendirikan tenda.

20160504_112220

POS Batu Lumut. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Di Pos Batu Lumut, terdapat sumber air berupa sungai kecil yang mengalir deras di musim hujan. Lokasinya berada di sisi kiri jalur pendakian. Karena sudah lapar dan hari menjelang siang, kami memutuskan makan siang di pos Batu Lumut ini. Dari Medan, kami sudah membawa ikan teri sambal. Jadi di pos Batu Lumut ini, kami cukup memasak nasi putih saja.

Batu Lumut-Shelter 1 (2.010-2.505 mdpl/13.30-15.40 WIB)

UNTUK menuju ke shelter 1, pendaki harus berjalan sekitar 1.960 meter dengan waktu tempuh  sekitar 2 jam. Jalur yang harus dilewati berupa kawasan hutan yang lebat dan terjal dengan kemiringan 45 hingga 60 derajat. Shelter 1 ini berbentuk lapangan yang ditumbuhi rumput dan pohon-pohon kecil. Luasnya sekitar 300 meter dan cukup untuk mendirikan hingga 12 tenda. Di shelter 1 ini juga terdapat pondok yang sudah roboh dan tak dapat difungsikan lagi untuk duduk. Namun pondok tersebut masih menyisakan atap dan lantainya bisa dimanfaatkan sebagai lokasi tenda. Shelter I berada pada ketinggian 2.505mdpl dan berada pada posisi 1° 43’ 13.0” LS dan 101° 15’ 48.1” BT.

5

SHELTER I. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

6

SHELTER I dapat dimanfaatkan sebagai lokasi mendirikan tenda. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Sesuai dengan saran dari petugas Pos Penjagaan TNKS yang meminta pendaki untuk beristirahat di shelter 1, maka kami pun memutuskan untuk memasang tenda di shelter 1 ini. Aku dan lima teman yang lain berbagi tugas. Sebagian memasang tenda dan sebagian lagi memasak untuk malam hari. Ada dua tenda yang kami pasang. Semula cukup sulit untuk mencari lokasi tenda, karena sebelum kami, sudah ada belasan tenda yang terpasang. Ternyata cukup banyak juga pendaki yang sudah sampai sebelum kami. “Maklumlah, hari libur panjang, jadi banyak pendaki yang datang,” kataku ke teman-teman.

Akhirnya kami mendapatkan lokasi yang sebenarnya kurang strategis. Tapi kami maksimalkan untuk memasang tenda. Dua tenda kami pasang berdekatan. Tenda kami bersebelahan dengan tenda empat pendaki yang berasal dari Bogor. Kami berkenalan dengan keempatnya. Orang-orangnya cukup asyik. Malamnya, setelah makan malam, kami dan tim dari Bogor berdiskusi untuk rencana perjalanan selanjutnya. Kami memutuskan akhirnya berangkat bersama ke puncak pada hari Kamis, 5 Mei 2016. Kami berangkat dari shelter 1 pukul 02.00 WIB. Kenapa berangkat dini hari sekali?

Pertimbangan kami adalah rutinitas gempa hembusan Gunung Kerinci yang biasa muncul diantara pukul 10.00-11.00 WIB. Diperkirakan waktu tempuh santai dari shelter 1 ke puncak adalah 6-7 jam. Dengan demikian, sebelum pukul 10.00 WIB, pendaki harus sudah sampai di puncak untuk mengantisipasi jika Gunung Kerinci kembali mengeluarkan abu vulkanik. Kesepakatan lainnya adalah, jika kondisi fisik kami stabil dan cuaca mendukung, maka kami langsung pulang ke basecamp Jejak Kerinci di desa Kersik Tuo. Sebaliknya, jika tidak memungkinkan, maka kami menginap kembali di shelter 1 dan pulang keesokan harinya, Jumat (6/5/2016) ke desa Kersik Tuo.

Selesai berdiskusi sekitar pukul 20.00 WIB,kami memasak bandrek. Kami tawarkan ke teman-teman dari Bogor. Sepertinya enak. Buktinya kami ketahui dari pujian mereka terhadap bandrek buatan kami. He…he…Pukul 21.00 WIB, kami tidur. Bagi jurnalis seperti kami, tidur pukul 21.00 WIB tentu saja sangat aneh, karena biasanya ritme kerja kami sehari-hari di Medan hingga dini hari. Tapi harus dipaksakan tidur karena keesokan hari, kami harus bangun dini hari.

Shelter 1-Shelter 2 (2.505-3.056 mdpl/02.30-05.15 WIB)-Kamis, 5 Mei 2016

PUKUL 01.30 WIB, kami sudah bangun. Kami beres-beres kembali untuk persiapan menuju puncak. Kami hanya membawa dua carier yang berisi air, makanan ringan, ransum untuk makan siang, kamera, ponsel dan obat-obatan. Sedangkan barang-barang lain kami tinggalkan di dalam tenda di shelter 1. Masing-masing dari kami juga membawa senter karena perjalanan dimulai saat hari masih gelap.

Pukul 02.30 WIB, kami memulai pendakian menuju shelter 2. Jarak yang harus dari shelter 1 ke shelter 2 sekitar 1.500 meter. Total kami berjumlah 12 orang. Aku dan teman-teman dari Medan, termasuk porter sebanyak 7 orang dan teman-teman dari Bogor termasuk porter berjumlah 5 orang. Kami menempuh pendakian pendakian ke shelter 2 sekitar 2 jam 45 menit.

7

SHELTER II. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

10

JALUR landai yang kita lewati saat menuju shelter II. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Perjalanan menuju shelter 2 mempunyai jalur yang lebih menanjak dari jalur sebelumnya. Kemiringannya mencapai 45 derajat. Namun, sesekali kita masih mendapatkan jalur yang landai. Tak jarang, kami harus saling berpegangan tangan atau membantu teman naik saat berada di jalur yang menanjak. Terkadang kami juga harus berpegangan pada akar pohon agar bisa melewati sebuah tanjakan di jalur ini.  Bersyukurlah, cuaca sebelumnya cukup bersahabat, sehingga jalurnya tidak licin dan pohon tumbang tidak menghalangi jalur. Biasanya jika hujan turun, maka jalan menjadi licin dan ada pohon tumbang.

Di lintasan ini pendaki dapat menemui tumbuhan paku-pakuan dengan kondisi hutan yang agak terbuka dan pepohonan sudah mulai jarang tumbuh. Jalur menuju shelter 2 ini merupakan batas vegetasi hutan hujan tropis dengan derah tundra yang banyak ditumbuhi oleh tanaman khas sup alpin.

Pukul 04.45 WIB, kami sampai di shelter bayangan, berupa shelter antara menuju shelter 2. Lokasinya cukup luas dan bisa mendirikan beberapa buah tenda. Dari shelter bayangan ini, kami bisa melihat suasana kota Sungai Penuh, Jambi yang terlihat terang benderang karena efek lampu.

11

PENDAKI harus berpegangan pada akar pohon agar bisa melewati tanjakan di jalur ini. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Setelah beristirahat sekitar 15 menit, kami melanjutkan perjalanan menuju shelter 2. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit lagi untuk sampai di shelter 2. Artinya kami tiba pukul 05.15 WIB. Shelter 2 ini merupakan area yang cocok untuk mendirikan tenda. Di shelter 2 ini terdapat sebuah pondok yang sudah tidak berfungsi namun masih menyisakan tiang-tiang besi dan dapat dimanfaatkan sebagai lokasi mendirikan tenda. Dulunya, shelter 2 ini dikenal dengan sebutan Pondok Berangin. Disebut Pondok beringin karena lokasi ini cukup terbuka. Namun saat ini kondisinya sudah rimbun oleh pepohonan-pepohonan sehingga menjadi area mendirikan tenda yang cukup terlindung dari angin.

Jika tidak memungkinkan untuk mendaki sampai ke puncak, maka disarankan untuk menginap di shelter 2 ini. Di shelter 2 ini juga terdapat sumber air berupa genangan (tampungan) air jernih yang selalu penuh di musim hujan. Lokasinya berada di sisi kiri rangka besi. Pendaki harus menuruni jalur sekitar 100 meter.  Shelter 2 ini berada pada ketinggian 3.056 m dari permukaan laut serta pada posisi 1° 42’ 35.1” LS dan 101° 16’ 04.8” BT.

Saat tiba di shelter 2, kami istirahat sebentar. Sebagian teman mengisi air, ada yang salat dan makan makanan ringan. Kami berjumpa dengan puluhan pendaki lain yang menginap di shelter 2 ini. Sebagian dari mereka yang kebetulan sedang memasak air minum dan membuat teh manis panas, menyodorkan teh hangat untuk kami. Lumayanlah, cukup untuk menambah tenaga. Kalau di gunung, persaudaraannya terasa sekali ya. Meskipun baru kenal saat di gunung, tapi tak canggung untuk saling menawarkan barang (logistik) apa yang bisa dibagi. Begitulah seharusnya.

Shelter 2-Shelter 3 (3.056-3.319 mdpl/05.40-07.20 WIB)

KAMI beristirahat sekitar 30 menit di shelter 2 ini. Pukul 05.40 WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju shelter 3. Jarak yang harus ditempuh dari shelter 2 ke shelter 3 sekitar 550 meter. Meskipun jaraknya hanya 550 meter, tapi waktu tempuh kami cukup lama, sekitar 1 jam 40 menit. Jalur pendakian yang harus kami lalui memang semakin sulit. Lebih terjal dibandingkan saat menuju dua shelter sebelumnya. Itu yang membuat waktu tempuh untuk jarak 550 meter ini mencapai 1 jam 40 menit.

8

AKU dan teman-teman beristirahat sebentar begitu tiba di shelter III. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Kondisi jalur berupa bekas aliran air yang dibatasi oleh dinding tanah sehingga akan berubah menjadi selokan bila turun hujan. Akibatnya jalur menjadi licin. Terkadang, kami juga harus berpegangan pada akar pohon agar bisa melewati jalur yang menanjak dan terjal. Sesekali, kami juga harus berjalan membungkuk untuk melewati jalur jika membawa ransel besar.

Di shelter 3 ini, pendaki dapat beristirahat dan areanya masih nyaman untuk mendirikan tenda karena masih terlindung oleh pepohonan. Jika cuaca sedang tidak bagus, tempat ini terasa semakin dingin. Bicara soal luas lapangan kosong di shelter 3 ini, aku perkirakan luas lapangan kosong di shelter 3 ini hampir sama dibandingkan shelter 1.

18

PEMDANGAN di shelter III. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Saat kami tiba di shelter 3, cuaca tidak begitu bersahabat karena agak berkabut dan abu vulkanik Gunung Kerinci juga mulai turun.  Meskipun abu vulkanik turun, tapi kondisi alam masih memungkinkan untuk melakukan pendakian sampai ke puncak. Ketika sampai di shelter 3 ini, kita dapat melihat pemandangan yang indah dan spektakuler yang tampak di kejauhan, misalnya  Danau Gunung Tujuh dan desa Kersik Tuo yang terlihat jelas jika cuaca tidak berkabut.

Karena shelter 3 merupakan tempat datar yang terbuka dan cukup luas, maka para pendaki disarankan untuk menginap di shelter 3 ini jika tak memungkinkan lagi untuk mendaki ke puncak.  Di shelter 3 ini terdapat sumber air, tepatnya di sebelah kiri dari posisi shelter jika kita menghadap ke puncak Gunung Kerinci. Kita cukup  turun ke bawah sekitar 100 meter.

Kami beristirahat selama 40 menit di shelter 3. Teman-teman dari Bogor memasak air dan membuat susu, sedangkan kami mengeluarkan makanan ringan dan ransum. Makan ringan dan ransum itupun kami bagi-bagi. Mendaki berjam-jam dari shelter 1 ke shelter 3 membuat perut kami lapar sekali. Makanan ringan dan ransum ludes tak bersisa.

Shelter III berada pada ketinggian 3.319 m dari permukaan laut dan pada posisi 1° 42’ 20.6” LS dan 101° 16’ 02.0” BT. Jika berencana untuk mendirikan tenda di shelter ini, bawalah tenda dan carrier. Disarankan tenda yang dibawa adalah tenda yang memenuhi peryaratan pendakian gunung.(*/bersambung)

2 responses to “Oleh-oleh dari Gunung Kerinci, Abu Vulkanik Membuat Kami hanya Mendaki hingga Shelter 1 (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s