Oleh-oleh dari Gunung Kerinci, Menggapai Puncak Berteman Abu Vulkanik (5)

PUNCAK Gunung Kerinci yang jaraknya tidak jauh lagi seolah memanggil kami begitu lantang untuk cepat-cepat mendaki. Sesuai dengan rencana awal, kami memang menargetkan harus sampai di puncak Gunung Kerinci sebelum pukul 10.00 WIB untuk menghindari aktivitas vulkanik Gunung Kerinci yang biasanya cukup mengkhawatirkan setelah pukul 10.00 WIB.

Shelter 3-Tugu Yudha-Puncak Kerinci (3.319-3.805 mdpl/08.00-10.00/10.40 WIB)

SEKELILING shelter 3, abu vulkanik dari puncak Kerinci terus turun. Abu vulkanik ini terlihat jelas di pakaian, carrier dan ransel kami. Meski demikian, keberadaan abu vulkanik tersebut masih dapat ditolerir. Artinya, pendaki masih diperbolehkan naik ke puncak. Kami melanjutkan pendakian ke puncak tepat pukul 08.00 WIB. Artinya kami masih punya waktu sekitar dua jam. Menurut Rion, porter kami, biasanya waktu normal dari shelter 3 ke puncak antara 2-3 jam.

Hutan pandan

 PEPOHONAN yang khas yang ditemui dalam perjalanan menuju puncak Gunung Kerinci. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Dari shelter 3 pendaki sebenarnya sudah bisa melihat bagaimana medan menuju puncak Gunung Kerinci. Pendaki akan melalui medan bebatuan dan berpasir mengikuti beberapa punggungan. Menurut teman pendaki dari Bogor, jalur pendakian dari shelter 3 ke puncak mirip dengan trek menuju puncak gunung Semeru. Karena jalur bebatuan dan berpasir, maka pendaki harus hati-hati dan punya tenaga yang ekstra.

Hati-hati karena bebatuan yang ada di jalur cukup rapuh. Tersenggol kaki pendaki di atas saja, maka batu sudah meluncur ke bawah. Jika tidak hati-hati, bisa saja batu tersebut mengenai pendaki di bawahnya. Tenaga juga harus ekstra karena jalurnya yang berpasir. Di sini berlaku prinsip maju 1 langkah mundur 2 langkah. Artinya, ketika kita maju satu langkah, bisa saja kaki kita mundur dua langkah. Hal itu dikarenakan kita menginjak jalur yang berpasir dan cukup gembur. Karena itu, butuh teknik juga mendaki di jalur berbatu dan berpasir seperti di Gunung Kerinci ini.

12

MEDAN bebatuan dan berpasir yang harus dilewati pnedaki menuju Puncak Gunung Kerinci. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Selain berhati-hati karena batu bisa mengenai pendaki, sikap hati-hati juga diperlukan karena jalur tidak lebar, sementara di kiri kanan, jurang sudah “menanti” begitu lantangnya bagi pendaki yang terjatuh. Jika berpapasan dengan pendaki lain yang turun dari puncak, maka harus ada yang mengalah untuk memberikan jalan.  Jalur dari shelter 3 menuju puncak ini sudah melewati batas vegetasi. Artinya pohon juga jarang tumbuh di jalur ini. Karena sangat terbuka, maka ketika terjadi badai di jalur ini, angin akan terasa kencang sekali. Tapi jujur, pemandangan sekitar jalur ini sangat menakjubkan. Puncak gunung Kerinci perlahan-lahan semakin jelas terlihat. Danau Gunung Tujuh juga sudah terlihat saat melewati jalur ini.

12d

MASKER yang senantiasa terpasang di leher untuk mengantisipasi abu vulkanik yang terus turun. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Agar pendaki tidak tersesat karena kabut, maka pihak TNKS sudah memasang tanda berupa tiang berbahan plastik dengan tinggi sekitar 1 meter dan berdiameter 10 centimeter. Tiang ini berwarna merah di bagian atas dan kuning di bagian bawah. Pada bagian atas berwarna merah, ada tulisan berwarna putih yakni “Puncak, TNKS” dengan tanda panah di antara Puncak dan TNKS. Tiang inilah yang menjadi panduan pendaki hingga ke puncak Gunung Kerinci. Karena warnanya agak mencolok, maka ketika kabut, pendaki masih bisa melihat tiang tersebut.

Sepanjang pendakian, kami berpapasan dengan ratusan pendaki yang baru saja turun dari puncak. Karena tak kunjung sampai ke puncak, kami kerap bertanya ke setiap pendaki yang turun, apakah puncaknya masih jauh atau tidak. Berbeda-beda jawaban yang kami terima. Ada yang menyebut: “masih jauh”, “sedikit lagi” atau “terus saja jalan, pasti sampai”. Jalur yang berbatu dan berpasir ini membuat napasku ngos-ngosan. Abu vulkanik yang terus turun juga membuat dada sedikit sesak. Kami harus memakai masker untuk meminimalisir dampak abu vulkanik ini. Rasanya sudah hampir menyerah. Tapi panggilan dari puncak gunung membuat semangat kami terus terjaga.

20160505_084500

TIANG berwarna berbahan plastik sebagai pemandu bagi pendaki saat ke puncak Gunung Kerinci. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Sebelum sampai ke puncak Gunung Kerinci, pendaki akan menemui sebuah in memoriam atau tugu yang dikenal dengan nama Tugu Yudha. Tugu Yudha ini dibangun untuk mengenang seorang pendaki bernama Yudha Sentika yang hilang dan jasadnya tidak ditemukan. Kami tiba tepat pukul 10.00 WIB di Tugu Yudha. Kami beristirahat 15 menit. Rasanya lelah sekali. Saat beristirahat di Tugu Yudha, rombongan pendaki yang kami tidak tahu dari mana menawarkan lemang panas. Tak ada yang menolak. Dan tak sampai lima menit, lemang panas tersebut masuk semua ke perut.

Sepertinya target semula sampai di puncak Gunung Kerinci sebelum pukul 10.00 WIB tak tercapai. Di sekitar kami, kabut terus muncul menemani pendakian kami ke puncak dan terkadang sampai membuat penglihatan terganggu. Meskipun sudah terlambat, tetapi kami memutuskan untuk tetap mendaki sampai ke puncak.

14

ISTIRAHAT sebentar di Tugu Yudha. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Kami tak mau lama-lama beristirahat. Pukul 10.15 WIB, kami melanjutkan kembali pendakian ke puncak Gunung Kerinci. Dari Tugu Yudha, kami sudah melihat puncak Gunung Kerinci dengan jelas. Begitu gagah. Ah… semangatku dan semangat teman-teman untuk sampai ke puncak semakin berlipat-lipat. Dari Tugu Yudha ke puncak Gunung Kerinci, kami kembali melewati jalur yang terjal, berbatu dan masih “berteman” kabut. Pernyataan pendaki yang turun dari puncak yang menyebutkan puncak tidak jauh lagi membuat kami cepat-cepat melangkah. Dan benar saja, setelah melewati tanjakan terakhir atau menempuh pendakian selama 25 menit, akhirnya kami sampai di puncak Gunung Kerinci yang berketinggian 3.805 mdpl.

13

PUNCAK Gunung Kerinci yang terlihat semakin dekat dari Tugu Yudha. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Teriakan tak henti-henti keluar dari mulut kami begitu sampai di puncak Gunung Kerinci. Kami saling berangkulan. Ada yang menangis. Kalau aku cukup terharu saja. Soalnya abu vulkanik juga sudah membuat mataku cukup perih. He..he..he..

Saat tiba di puncak Gunung Kerinci, kabut tebal terus membayangi. Akhirnya, kami tidak dapat melihat kawah di puncak Gunung Kerinci yang menakjubkan itu. Karena area terbuka di puncak tidak luas, maka pendaki harus berhati-hati. Kurangi melompat berlebihan dan jangan terlalu ke pinggir. Terpeleset sedikit, maka jurang dan kawah sudah menanti di bawah. Area puncak juga tidak bisa menampung pendaki dalam jumlah yang besar. Jadi manfaatkan waktu seefisien mungkin saat di puncak, agar bisa bergantian dengan pendaki lain.

15

AKU akhirnya sampai di Puncak Gunung Kerinci di ketinggian 3805 mdpl, Kamis (5/5/2016). (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

19

AKU dan teman-teman pendaki dari Medan dan Bogor berfoto bersama di Puncak Gunung Kerinci. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Karena faktor ini dan ditambah kabut yang tak kunjung hilang, kami tak bisa berlama-lama di puncak. Setelah selesai berfoto pribadi dan berfoto bersama, kami bersiap-siap turun kembali ke shelter 3.

Puncak Gunung Kerinci-Shelter 1 (11.00-20.00 WIB)

HANYA 20 menit kami ada di puncak. Pukul 11.00 WIB, kami turun kembali ke shelter 3. Saat turun, kabut tidak setebal saat di puncak. Cuaca juga cukup bersahabat. Meski demikian, abu vulkanik masih terus turun. Karena jalurnya berpasir, aku turun dengan teknik meluncur (selonjor). Tujuannya agar cepat sampai. Normalnya, perjalanan dari puncak Gunung Kerinci ke shelter 3 dapat ditempuh dengan waktu 1 jam. Sebagian teman memang sampai dalam waktu 40 menit, tapi aku dan sebagian teman lain harus menempuh perjalanan pulang 2 jam 20 menit karena dua temanku yakni Okto Praeka dan Novi Simamora mengalami keseleo di bagian kaki. Akhirnya kami harus berjalan pelan-pelan. Sampailah kami di shelter 3 pukul 13.20 WIB.

17

MENGINGAT jalur yang berpasir, pendaki bisa turun dengan teknik meluncur (selonjor). (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Tiba di shelter 3 kami beristirahat sebentar. Teman yang muslim melaksanakan salat dan sebagian teman turun ke sumber air untuk mengambil persediaan air. Pukul 14.00 WIB, kami turun kembali menuju shelter 2. Saat turun ke shelter 2, cuaca mulai tidak bersahabat. Hujan cukup deras turun. Waktu normal perjalanan menuju shelter 2 adalah 1,5 hingga 2 jam. Artinya, kami bisa sampai di shelter 2 paling lama pukul 16.00 WIB. Tapi aku dan lima temanku (Okto, Novi, Bandi, Ibrahim/pendaki dari Bogor dan Rion/porter) baru tiba di shelter 2 pukul 17.00 WIB. Kami telat satu jam karena harus berjalan lambat mengikuti langkah perlahan Okto dan Novi yang masih cedera.

Di shelter 2, hujan sudah berhenti. Kami tidak beristirahat lama di sini. Karena waktu sudah semakin sore, kami bergegas turun kembali ke shelter 1. Kami membayangkan, sebagian teman kami sudah sampai di shelter 1. Karena hujan baru turun, jalan yang kami lalui pun sedikit licin. Harus hati-hati saat menuruninya. Bila perlu berpegangan pada pohon-pohon. Lengah sedikit, maka terpeleset. Saat turun, kami berpapasan dengan puluhan pendaki yang akan naik ke puncak.

Menurut Rion, porter kami, perjalanan dari shelter 2 ke shelter 1 dapat ditempuh dengan waktu normal 1,5 jam. Jika berangkat pukul 17.00 WIB, maka kami akan sampai di shelter 1 pukul 18.30 WIB. Dengan demikian, kami sampai di shelter 1 saat hari masih belum gelap.

Kami kebut turun ke shelter 1. Karena Okto dan Novi masih cedera di bagian kaki, maka langkah kaki kami pun tidak cepat-cepat. Meski terkesan lambat, tapi masih dalam batas normal. Kami memperkirakan, kalau kami masih bisa sampai di shelter 1 pukul 18.30 WIB.

16

ABU vulkanik yang dari Puncak Gunung Kerinci yang menempel di tangan dan tas. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Setelah berjalan sekitar 30 menit dari shelter 2 dan menuruni sebuah tanjakan, aku dan lima temanku melihat seorang pendaki perempuan yang tergeletak terlentang di jalur pendakian. Namanya Siti. Perawakannya cukup gendut. Siti adalah pendaki yang ikut trip bersama 20-an pendaki lainnya. Kami melihat Siti meringis kesakitan sembari memegangi lengan sebelah kanan. Air matanya menetes, mungkin karena menahan sakit. Ada empat temannya yang mengelilingi Siti. Tapi mereka hanya memandangi. Menurut mereka, Siti terpeleset waktu menuruni tanjakan yang juga baru kami turuni. Mereka ikut rombongan trip, tetapi sebagian teman-temannya sudah berjalan belasan menit di depan mereka menuju shelter 1.

Di tengah meringisnya Siti, temanku Bandi dan Ibrahim (pendaki dari Bogor) sepertinya paling tanggap terhadap situasi tersebut. Mereka berdua memegang  tangan Siti yang sakit. Siti kembali meringis kesakitan. Siti mengira kalau lengannya patah. Bandi dan Ibrahim pun mengambil batang pohon kecil dan menjadikannya bidai untuk meng-gips lengan Siti yang sakit. Untuk mengikat bidai tersebut, aku dan temanku, Okto merelakan benda berharga kami untuk mengikat bidai buatan tersebut. Aku merelakan sapu tanganku dan Okto merelakan tali sepatu cadangannya. Belum cukup juga untuk mengikat, kami meminta temannya Siti mengeluarkan kain untuk mengikat. Karena tak ada kain, akhirnya hijablah yang mereka berikan.

Melihat kondisi tersebut, kami berbagi tugas. Semua teman Siti yang berjumlah empat orang kami minta turun duluan untuk mengejar teman-temannya yang lain. Rencana mereka semula adalah melanjutkan perjalanan sampai ke Desa Kersik Tuo. Kami sarankan ke mereka, karena Siti sakit, maka ada baiknya menginap saja dulu di shelter 1. Selanjutnya di shelter 1, mereka berdiskusi untuk menentukan langkah selanjutnya. Apakah melanjutkan perjalanan hingga ke Desa Kersik Tuo atau menginap di shelter 1 dan melanjutkan tindakan pengobatan untuk Siti. Mereka berempat setuju.

Jadilah kami berenam (aku, Okto, Bandi, Ibrahim, Novi dan Rion/porter) yang bertanggungjawab terhadap Siti sepenuhnya. Carier yang semula dibawa Siti diambil alih oleh Bandi yang tidak membawa apa-apa dari shelter 3. Siti mengaku dirinya masih bisa berjalan perlahan-lahan. Aku bersyukur dalam hati. “Cocoklah. Tak terbayangkan bagaimana rasanya kalau kami harus membuatkan tandu dan menandunya turun,” kataku dalam hati.

Cederanya Okto dan Novi sebenarnya sudah membuat kami berjalan lambat. Maka dengan satu tanggungan lagi, yakni Siti, maka langkah kami juga semakin lambat. Langkah kaki kami tergantung seberapa jauh Siti melangkah. Bandi dan Ibrahimlah yang paling bertanggungjawab terhadap Siti. Ibrahim yang membuka jalan di depan sekaligus memberitahu Siti cara melangkah. Setelah dirasa memungkinkan, kemudian Siti mengikuti jalan tersebut. Sementara Bandi menjaga Siti dari belakang kalau-kalau Siti terpeleset. Sedangkan aku? Kalau aku memastikan Okto dan Novi baik-baik saja. Ha..ha..ha..Aku khawatir, kalau-kalau Okto dan Novi kesal dan kecewa karena kami melupakan mereka berdua yang masih cedera akibat munculnya Siti di tengah prahara (baca: situasi) ini. Ha..ha..ha..

Manusia yang merencanakan, tapi Tuhan jugalah yang menentukan. Meski dengan sekuat tenaga kami berjalan agar sampai di shelter 1 tepat waktu, tetapi rencana itu buyar karena (jujur) kami harus ikut mengurus Siti. Kami melihat jam, sudah pukul 18.30 WIB. Haripun semakin gelap. Syukurlah ada persediaan senter. Total kami berjumlah tujuh orang. Tapi kami hanya punya tiga senter. Satu senter redup setelah dipakai berjalan 15 menit. Tersisa dua senter. Akhirnya dibagi. Satu senter dipegang Ibrahim untuk menerangi Siti berjalan. Dan satu senter lagi dipegang Bandi untuk menerangi kami berlima. Karena penerangan yang terbatas ini, langkah kami semakin lambat.

Di tengah perjalanan, kami sempat salah jalur. Seharusnya melipir ke kanan, tetapi kami melipir ke kiri. Ternyata jalur yang melipir ke kiri ini curamnya hingga 65 derajat. Kesal rasanya. Rasa kesal kami semakin bertambah, karena jalur yang curam tersebut berlumpur dan licin. Ditambah faktor penerangan yang terbatas, tak kunjung sampai ke shelter 1, dan pakaian yang kotor karena beberapa kali terpeleset dan sepatu yang sudah berlumpur, semakin kloplah kekesalan kami. Untuk meluapkan kekesalan tersebut, sebagian dari kami ada yang marah-marah, menyalahkan orang yang memilih jalur yang salah tersebut dan (maaf) menyalahkan Siti.

Sayup-sayup kami mendengar suara orang. Menurut Rion, suara tersebut adalah suara pendaki-pendaki yang berada di shelter 1. Kalau itu memang betul dan kami sedang tidak berhalusinasi, artinya kami tidak lama lagi sampai di shelter 1. Hari memang semakin gelap dan cahaya dari senter kami semakin lemah. Beruntunglah, sejumlah panitia trip pendakian Siti sudah menunggu kami di jalur menuju shelter 1. Mereka membawa senter. Kamipun cukup terbantu.

Setelah bertemu teman-teman Siti, kami melanjutkan perjalanan menuju shelter 1. Jaraknya memang tidak jauh, hanya butuh waktu sekitar 15 menit lagi. Pukul 20.00 WIB, kami bertujuh tiba kembali di shelter 1. Siti bergabung dengan teman-temannya. Ibrahim bergabung dengan teman-temannya dari Bogor, sedangkan kami berlima (aku, Bandi, Novi, Okto dan Rion) bergabung dengan dua teman kami yang sudah lebih dulu tiba (Hendy dan Yuni).

Saat kami sampai, kami menemui mereka berdua (Hendy dan Yuni) sedang tidur-tidur santai di dalam tenda. Entahlah, karena masih kesal akibat perjalanan pulang barusan, aku meminta Hendy dan Yuni memasak air panas dan menyiapkan makan malam. Memintanya juga dengan intonasi suara yang sedikit meninggi. He..he..he…

Syukurlah Hendy dan Yuni sudah menyiapkan makan malam. Setelah selesai ganti baju, kami berlima makan malam. Hendy dan Yuni mengaku kalau mereka sudah makan malam. Awalnya aku sangat tertarik dengan menu cornet sapi yang mereka masak. Saat kulihat, porsinya masih utuh (banyak). Kalau Hendy dan Yuni sudah makan, kenapa porsi cornetnya masih tersisa banyak. Aku penasaran betul. Tapi ya sudahlah. Menurut pengakuan Hendy, Yuni lah yang memasak cornet tersebut. Kuambil sedikit cornetnya. Ternyata oh ternyata, asinnya minta ampun. Panteslah, sisanya masih banyak. Sepertinya Hendy dan Yuni ogah memakan cornet bikinan mereka karena rasanya yang asin. Ha..ha..ha..

Begitupun, kami nikmati makanan yang ada, meskipun dengan konsep terpaksa. Perut harus tetap diisi. Selesai makan malam, kami berdiskusi sebentar untuk mendiskusikan perjalanan selanjutnya. Kesimpulan diskusi adalah, kami akan turun ke Desa Kersik Tuo, Jumat (6/5/2016) pukul 08.00 WIB setelah sarapan pagi. Kami akan istirahat satu malam di basecamp Jejak Kerinci dan melanjutkan pendakian ke Gunung Tujuh pada Sabtu (7/5/2016) pagi.

Sebelum tidur, seorang panitia trip pendakian Siti, Bang Rexy datang ke tenda. Bang Rexy yang kebetulan bisa mengurut, kami minta tolong mengurut kaki Okto dan Novi yang cedera. Dari Bang Rexy kami mendapat informasi, kalau cedera Siti bukanlah karena lengannya yang patah. “Hanya keseleo. Sudah saya urut juga dan masih kuat jalan besok pagi. Nanti kalau sudah sampai di bawah (desa), baru di bawa ke dokter,” kata Bang Rexy.

Malam makin larut. Tak terasa sudah pukul 23.00 WIB. Bang Rexy sudah selesai mengurut. Kami sepakat untuk tidur malam. Seperti formasi malam pertama, aku, Bandi, Novi dan Yuni tidur satu tenda, sedangkan Okto dan Hendy tidur di tenda lainnya.

Shelter 1-Pintu Rimba (08.30-15.30 WIB)-Jumat, 6 Mei 2016

PUKUL 06.00 WIB, kami sudah bangun. Kami berbagi tugas. Aku dan teman-teman yang laki-laki membereskan perlengkapan, membongkar tenda dan packing. Sedangkan teman yang perempuan, Novi dan Yuni kebagian menyiapkan sarapan pagi. Pukul 07.30 WIB kami sarapan. Teman pendaki dari Bogor sudah turun lebih dulu satu jam lebih cepat. Setelah berdoa, tepat pukul 08.30 WIB, kami turun menuju Pintu Rimba.

Perjalanan turun cukup santai. Itu semata-mata karena kondisi fisik teman kami, Okto masih agak sulit berjalan cepat. Tak mengapalah. Tak ada lagi puncak yang mau kami kejar. Karena ini perjalanan pulang, kami tak terlalu terburu-buru. Di perjalanan, kami bertujuh cukup banyak tertawa. Bahan perbincangan yang membuat kami tertawa cukup banyak. Mulai dari perkenalan kami dengan teman-teman pendaki dari Bogor, tersesatnya kami saat turun dari shelter 2 ke shelter 1, tanggungjawab kami terhadap Siti, pertengkaran kami saat turun dari shelter 2 ke shelter 1, dan mencandai dua teman kami yang cedera (Okto dan Novi). Terhibur rasanya saat membayangkan, malamnya baru marah-marah, tapi paginya sudah tertawa kembali. Ha..ha..ha..

Setelah berjalan sekitar 30 menit dari shelter 1, temanku Yuni sudah berniat untuk buang air besar (BAB). Tetapi karena tak kunjung mendapatkan posisi yang menguntungkan untuk BAB, akhirnya “niat” itu dibawanya hingga 2 jam lagi, atau ketika sampai di pos Batu Lumut pukul 11.00 WIB. Menurut Rion, di pos Batu Lumut lah area yang cukup “strategis” untuk BAB. Menariknya, akupun juga ingin BAB begitu sampai di pos Batu Lumut.

Rion menunjukkan di area mana di pos Batu Lumut yang memungkinkan untuk BAB. Aku dan Yuni pun berunding soal siapa yang pertama sekali BAB dan siapa yang menjaga untuk mengantisipasi ada orang yang datang ke area BAB. Akhirnya kami sepakati, aku yang pertama sekali BAB dan Yuni yang menjaga. Demikian sebaliknya. Saat aku masuk ke area BAB tersebut, ternyata benar yang dikatakan Rion, area yang kudatangi tersebut cukup “strategis”. Aku melihat cukup banyak bekas galian untuk menimbun kotoran BAB. Ada juga beberapa tisu basah yang menutupi bekas galian. “Oh.. ini maksudnya strategis,” kataku dalam hati. Sembari aku dan Yuni BAB, teman-teman yang lain beristirahat, makan makanan ringan dan mengisi air ke sumber air.

Sekitar satu jam kami beristirahat di pos Batu Lumut. Kami melanjutkan perjalanan turun menuju Bangku Panjang pukul 12.00 WIB. Jalurnya yang relatif landai, membuat perjalanan kami terasa ringan. Begitupun, kami tak melangkah terburu-buru, karena kaki teman kami Okto terkadang mengulah. Dua jam berjalan, kami pun tiba di pos Bangku Panjang. Di pos ini, kami sempatkan istirahat, bercanda hingga tertawa dan berfoto-foto.

Pukul 14.30 WIB (setelah istirahat 30 menit di pos Bangku Panjang), kami melanjutkan perjalanan turun menuju pos Pintu Rimba. Butuh waktu sekitar satu jam lagi untuk sampai di Pintu Rimba. Kamipun tetap berjalan santai. Pukul 15.30 WIB kami sampai di Pintu Rimba.

9

WARUNG di Pos Pintu Rimba yang bisa dikunjungi pendaki setelah turun dari Puncak Gunung Kerinci. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Pintu Rimba-Basecamp Jejak Kerinci (16.30-17.00 WIB)

SEMBARI menunggu jemputan datang, kami beristirahat di warung yang ada di Pintu Rimba. Teman kami Hendy yang baru dapat bonus dari kantor menawarkan kami makan buah, makan goreng dan minum teh. Aku sempatkan minum teh manis panas dengan bubuk teh dari perkebunan teh Kayu Aro yang terkenal itu. Kata orang-orang Jambi, rasanya mantap. Ternyata benar. Setelah habis kuminum, rasanya memang nikmat. Wajarlah, teh Kayu Aro sudah mendunia namanya. Padahal, kata orang Jambi, bubuk teh yang ku nikmati itu masih bubuk teh kelas 3. Bubuk teh kelas 1, menurut mereka khusus di ekspor ke luar negeri.

Satu jam beristirahat, mobil jemputan kami pun datang. Bergegas kami naik ke bak belakang. Di tengah perjalanan, kami melihat hamparan kebun teh yang sangat luas. Nuansa hijau yang dihadirkan teh tersebut memancing kami untuk berfoto dengan latar belakang kebun teh. Kami pun meminta sopir yang membawa mobil berhenti sebenatar, agar kami bisa berfoto. Terlihat agak norak sih. Tapi tak apalah, mumpung lagi rame-rame. Kalau sendiri, mungkin agak gengsi ya. He..he..he..

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, kami pun sampai kembali di basecamp Jejak Kerinci. Basecamp Jejak Kerinci menandai akhir dari rangkaian pendakian kami ke Gunung Kerinci. Rasanya bahagia dan mengharu biru. Tak menyangka bisa sampai di Gunung Berapi tertinggi di Indonesia tersebut. Rasa bahagia dan haru biru kami semakin berlipat-lipat karena mendaki Gunung Kerinci di tengah aktivitas vulkanik gunung yang mengkhawatirkan, plus abu vulkanik yang terus turun. Terima kasih kepada Tuhan atas semua berkat dan penjagaan yang dia berikan untuk kami.

Saat kami tiba di basecamp Jejak Kerinci, listrik mati. Otomatis air juga tidak bisa hidup. Kami lirik kamar mandi, ternyata hanya menyisakan sedikit air dan tidak cukup untuk kami berenam. Akhirnya Rion menawarkan kami untuk mandi di dua rumah bibinya yang terletak di belakang basecamp Jejak Kerinci. Di rumah bibi Rion, bak airnya cukup besar dan persediaan air masih banyak. Kami terima tawaran Rion. Kami pun berbagi. Novi mandi di basecamp Jejak Kerinci. Kemudian aku, Okto dan Yuni mandi di rumah bibi Rion, sedangkan Bandi dan Hendy mandi di rumah bibi Rion yang satunya lagi. Sembari mandi, kusempatkan juga untuk mencuci beberapa pakaian kotor dan sepatu mendakiku.

Sehabis mandi, kami berkumpul kembali di rumah salah seorang bibi Rion. Kami masak teh dan membuat teh manis panas. Kami ngobrol-ngobrol sebentar dengan anak pemilik rumah. Malamnya, kami memilih tidak makan di basecamp Jejak Kerinci. Kami ingin makan bakso asli Desa Kersik Tuo. Bu Jus kami minta menemani. Berhubung Novi punya teman narasumber, Pak Ngatimin yang bertugas di BKKBN Kerinci, kami pun diminta Pak Ngatimin menginap di rumah beliau. Tak kuat menolak. Kami minta izin ke Bu Jus menginap di rumah Pak Ngatimin. Meski terlihat agak berat, Bu Jus akhirnya mengizinkan.

Kami berdiskusi cukup panjang dengan Pak Ngatimin. Mulai dari pendakian Gunung Kerinci, pekerjaan beliau, anak bungsunya yang menjadi pengisi acara Bolang (Trans7) dan hal-hal lain. Diskusi kami berlangsung hingga pukul 00.30 WIB. Tak terasa memang. Istri Pak Ngatimin menyiapkan tempat istirahat untuk kami malam itu. Novi dan Yuni tidur di kamar tamu. Sedangkan aku, Bandi, Hendy dan Okto tidur di ruang tamu. Istri Pak Ngatimin mengeluarkan dua buah tilam dan beberapa selimut untuk kami. Tidur kami malam itu benar-benar nyaman. Kami manfaatkan sebaik-baiknya agar tenaga kami pulih kembali karena sesuai rencana, pada Sabtu (7/5/2016) pagi, pendakian akan kami lanjutkan kembali ke Gunung Tujuh.(*/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s