Oleh-oleh dari Gunung Kerinci, Datanglah Juga ke Gunung Tujuh (6)

20160507_102923

AKU dan teman-teman pendaki dari Medan menumpang double cabin dalam perjalanan menuju Pos Penjagaan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) sebelum mendaki Gunung Tujuh, Pelompek, Kayu Aro, Sabtu (7/5/2016). (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

BAGAIMANA rasanya jika mandi tanpa sabun? Seperti ada yang kurang kan?. Begitulah kira-kira pengandaian jika sudah mendaki Gunung Kerinci tanpa pergi ke Gunung Tujuh. Bagi banyak pendaki gunung yang datang ke Jambi, Gunung Kerinci barangkali menjadi destinasi utama mengingat karakteristiknya yang menarik dan jalur pendakiannya yang menantang serta memacu adrenalin.

Selesai mendaki Gunung Kerinci yang merupakan gunung aktif tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3805 mdpl tersebut, jangan langsung meninggalkan Jambi. Datanglah juga ke Gunung Tujuh. Saat datang ke Gunung Tujuh, pendaki mendapatkan dua tantangan sekaligus, mendaki gunung dan menikmati keindahan Danau Gunung Tujuh.

Bagi wisatawan yang tak kuat mendaki gunung, maka Gunung Tujuh direkomendasikan untuk didaki. Pertimbangannya adalah, selain memiliki panorama alam yang menakjubkan, jalur pendakian yang dilalui ke Gunung Tujuh jauh lebih mudah dibandingkan jalur pendakian ke Gunung Kerinci.

Gunung Tujuh merupakan gunung  yang terletak di Kabupaten Kerinci, Jambi, tepatnya di Desa Pelompek, Kecamatan Ayu Aro. Di bagian bawah Gunung Tujuh, ada sebuah danau yang diberi nama Gunung Tujuh. Secara geografis, Danau Gunung Tujuh berada tepat di belakang Gunung Kerinci. Gunung Tujuh masih termasuk dalam wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat  (TNKS) yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Danau Gunung Tujuh berada pada koordinat:            1°42′23″LU101°24′42″BTKoordinat:  1°42′23″LU 101°24′42″BT

Danau Gunung Tujuh juga merupakan salah satu Danau tertinggi di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara. Danau ini berada di ketinggian 1.950 meter di atas permukaan laut (dpl). Dengan ketinggian hampir 2 kilometer dpl itu bisa dibayangkan betapa dinginnya air Danau Gunung Tujuh di pagi hari. Meskipun begitu, berendam di Danau Gunung Tujuh dengan air yang sangat dingin menjadi tantangan sendiri bagi para pendaki.

 Sesuai namanya danau ini dikelilingi oleh tujuh gunung, yaitu Gunung Hulu Tebo (2.525 mdpl), Gunung Hulu Sangir (2.330 mdpl), Gunung Madura Besi (2.418 mdpl), Gunung Lumut yang ditumbuhi berbagai jenis Lumut (2.350 mdpl), Gunung Selasih (2.230 mdpl), Gunung Jar Panggang (2.469 mdpl), dan Gunung Tujuh itu sendiri (2.735 mdpl). Di beberapa gunung ini terdapat sumber air, yang menyebabkan air di danau ini tidak pernah habis. Tumbuhan dan vegetasi yang ada terdiri dari sejenis Alga. Sedangkan hewan yang ada berupa monyet ekor panjang, dan jenis burung yaitu burung Rangkong.(https://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Gunung_Tujuh)

Danau Gunung Tujuh ini merupakan danau bentukan alam berjenis Caldera yang merupakan danau vulkanik (danau kawah) dengan kedalaman 40 meter. Danau ini terbentuk akibat kegiatan gunung berapi di maasa dulu. Konon danau Gunung Tujuh ini berfungsi sebagai pendingin Gunung Kerinci untuk menghambat letusan.

SESUAI dengan jadwal yang sudah aku dan teman-teman susun, maka pada Sabtu (7/5/2016) pagi adalah hari dimana kami akan melanjutkan pendakian ke Gunung Tujuh. Kami sudah bangun pagi-pagi sekali, sekitar pukul 06.00 WIB. Setelah menikmati teh perkebunan Kayu Aro yang disuguhkan istri Pak Ngatimin, kami berpamitan. Kami tak langsung berangkat ke Gunung Tujuh. Kami keliling-keliling dulu ke Pasar Kersik Tuo yang berjarak sekitar 1 kilometer dari basecamp Jejak Kerinci. Kami sepakat berangkat dari basecamp Jejak Kerinci ke Gunung Tujuh pukul 10.00 WIB.

Desa Kersik Tuo-Pos Penjagaan TNKS (10.30-11.00 WIB)

PENDAKIAN ke Gunung Tujuh dapat dilakukan dengan waktu tempuh sekitar tiga jam. Jika tak ingin menginap di Danau Gunung Tujuh, pendaki tak perlu membawa perlengkapan yang berlebihan. Aku dan teman-teman memang tak menginap. Kami hanya membawa dua tas kecil yang berisi minuman, kamera dan bekal makan siang.

Kami berangkat dari basecamp Jejak Kerinci dengan menumpang mobil double cabin milik basecamp. Bang Levi (anak Bu Jus) yang membawa kami. Jalur yang pilih ke Gunung Tujuh adalah lewat jalur Pelompek. Dari basecamp Jejak Kerinci di Desa Kersik Tuo, tempat pertama yang akan kami tuju adalah Pos Penjagaan TNKS yang berada di Desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro.

20160507_111032

BERFOTO sejenak di depan Pintu Gerbang Masuk Gunung Tujuh. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Jarak tempuh basecamp Jejak Kerinci di Desa Kersik Tuo menuju Pos Penjagaan TNKS sekitar 7 kilometer. Jika menggunakan mobil, menghabiskan waktu sekitar 20-30 menit. Sepanjang perjalanan, kita melewati perkampungan penduduk yang menurutku sudah tergolong maju. Rumah-rumah penduduk mulai dari tipe semi permanen hingga permanen. Instansi pemerintah maupun swasta juga banyak berdiri di sepanjang jalan menuju Pos Penjagaan TNKS. Pos Penjagaan TNKS ini sudah berada di ketinggian 1600 mdpl.

Sesampainya di Pos Penjagaan TNKS, kami mengurus perijinan dulu di sebuah gedung yang berada di samping Pintu Gerbang Masuk TNKS. Kami membayar tiket masuk ke Gunung Tujuh sebesar Rp 5.000 per orang. Oh ya, untuk pendakian ke Gunung/Danau Gunung Tujuh ini, kami hanya berlima, aku, Novita, Yuni, Bandi dan Hendy. Sedangkan teman kami yang satu lagi, Okto tidak ikut karena kakinya masih sakit.

 

Pos Penjagaan TNKS-Wisma Tamu (11.00-11.10 WIB)

ADA dua jalur yang bisa dipilih menuju Gunung Tujuh dari Pos Penjagaan TNKS. Pendaki bisa mengambil rute melalui Pos Penjagaan TNKS dengan jarak 3 kilometer dengan waktu tempuh sekitar tiga jam. Atau pilihan kedua dari belakang Wisma Tamu yang berjarak sedikit lebih dekat yakni 2,5 kilometer saja atau waktu tempuh 2-2,5 jam. Aku dan teman-teman memilih jalur yang kedua, dari belakang Wisma Tamu. Jalur ini tergolong curam dan menanjak

Dari Pos Penjagaan TNKS, perjalanan dilanjutkan menuju Wisma Tamu. Kami masih menumpang mobil double kabin milik basecamp Jejak Kerinci. Pendaki dapat menggunakan kendaraan atau berjalan kaki menuju Wisma Tamu. Jarak tempuhnya sekitar 10 menit jika menggunakan kendaraan bermotor atau 45-60 menit jika berjalan kaki. Jalannya landai, namun sesekali menanjak. Secara umum kondisi jalan sudah cukup baik karena terbuat dari batu kerikil. Di kiri kanan jalan menuju Wisma Tamu adalah hutan dan ladang yang dikelola warga. Pemerintah setempat juga membangun parit di sisi kiri dan kanan jalan. Parit ini jugalah yang berfungsi mengalirkan air dari air terjun bekas jatuhan air Danau Gunung Tujuh.

Wisma Tamu-Pintu Rimba (11.10-11.25 WIB)

DARI Wisma Tamu, kami melanjutkan perjalanan menuju Pintu Rimba. Secara umum, jalur dari belakang Wisma Tamu ini cukup ekstrem. Jalannya menanjak dan jika turun hujan lumayan licin. Untuk sampai ke Pintu Rimba, harus melewati jalan yang cukup menanjak. Di kiri kanan jalan ada perladangan milik penduduk yang ditanami aneka sayuran dan tanaman palawija. Ada juga parit yang menjadi tempat mengalirnya air terjun bekas jatuhan air Danau Gunung Tujuh

Saat menuju Pintu Rimba, hujan yang cukup deras turun dan membuat jalur sedikit licin. Kami harus hati-hati. Salah melangkah, bisa terpeleset. Pintu Rimba tidak mempunyai tanda-tanda yang spesifik. Tidak ada plank atau tempat istirahat seperti saat mendaki Gunung Kerinci. Penanda pendaki ketika sudah sampai di Pintu Rimba adalah perladangan milik warga nyaris tak ditemui lagi dan selanjutnya pendaki akan memasuki kawasan hutan. Kami menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari Wisma Tamu menuju Pintu Rimba.

Pintu Rimba-Shelter 1 (11.25-12.15 WIB)

KAMI istirahat lima menit. Maklumlah, jalurnya cukup menanjak, terasa lelah juga. Napas sedikit ngos-ngosan dan tubuh kami juga sedikit kedinginan karena hujan yang turun lumayan deras.

Jalur yang dilewati menuju shelter 1 sedikit terjal dan harus mendaki. Namun, secara umum masih dapat dilewati tanpa harus berpegangan pada akar atau ranting pohon. Tetapi karena turun hujan, jadi harus berhati-hati biar tidak jatuh. Jalur pendakian menuju Gunung Tujuh sudah cukup jelas dan kecil kemungkinan untuk tersesat. Namun demikian, pendaki jangan sepele. Tetaplah mengikuti jalur yang ada agar tidak tersesat.

Jalur yang kami lewati menuju shelter 1 adalah kawasan hutan belantara disertai beberapa tanjakan yang cukup terjal. Waktu yang kami habiskan untuk sampai ke shelter 1 sekitar 55 menit. Sama halnya dengan Pos Pintu Rimba, shelter 1 ini tidak mempunyai tanda-tanda spesifik. Tidak ada pondok atau tempat duduk untuk istirahat. Shelter 1 ini berupa area yang cukup datar. Tidak terlalu lebar, tetapi dua puluhan pendaki bisa sekaligus beristirahat. Ada bekas pohon tumbang yang bisa dijadikan alas duduk.

Shelter 1-Shelter 2/Puncak Gunung Tujuh (12.15-13.45 WIB)

KAMI istirahat sekitar lima menit di shelter 1 ini. Hujan sudah mulai reda. Di sela-sela istirahat, kami bertemu dengan puluhan pendaki yang dalam perjalanan turun ke Pelompek. Banyaknya pendaki yang turun menjadi penanda, sepertinya cukup ramai orang yang berada di Danau Gunung Tujuh.

Pukul 12.20 WIB, kami lanjutkan kembali perjalanan menuju shelter 2. Jalur yang harus dilewati menuju shelter 2 jauh lebih sulit dibandingkan jalur dari Pintu Rimba ke shelter 1. Jalur pendakiannya semakin terjal dan menanjak. Napas juga semakin ngos-ngosan saat mendaki. Untuk melewati tanjakan, sesekali kami harus berpegangan pada akar pohon. Temanku Yuni sepertinya menjadi pendaki yang kurang kuat. Saat melewati jalur yang menanjak, Yuni harus dibantu teman kami yang lain, Hendy.

Sepanjang pendakian menuju shelter 2, kami dapat menyaksikan hutan tropis yang masih asri dengan tumbuhan kayu yang sangat besar. Hewan-hewan yang cukup liar seperti ular dan spesies burung juga masih bisa ditemukan di kawasan hutan menuju Gunung Tujuh ini. Dalam perjalanan menuju shelter 2, kami mendengar suara air terjun yang merupakan bekas jatuhan air Danau Gunung Tujuh.

Karena jalurnya yang lumayan menanjak, kami menghabiskan waktu yang cukup lama, hampir 1,5 jam, atau dua kali lipat dibandingkan Pintu Rimba-shelter 1 yang hanya 45 menit. Pukul 13.45 WIB, kami akhirnya sampai di shelter 2. Shelter 2 ini juga disebut puncak tertinggi Gunung Tujuh. Areanya cukup datar, yang ditumbuhi beberapa pohon berukuran besar.

Dari puncak Gunung Tujuh ini, Danau Gunung Tujuh sudah terlihat. Suara riuh pengunjung yang berada di sekitar danau juga terdengar cukup jelas.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Shelter 2-Danau Gunung Tujuh (13.45-14.00 WIB)

KAMI tak berlama-lama di shelter 2. Keriuhan orang di Danau Gunung Tujuh membuat kami bergegas turun ke danau. Jarak dari shelter 2 ke Danau Gunung Tujuh memang tidak begitu jauh, waktu tempuhnya sekitar 10-15 menit. Jalur menuju Danau Gunung Tujuh adalah turunan yang cukup curam. Pendaki juga harus berhati-hati. Di kiri kanan jalur adalah jurang yang cukup ekstrem. Sepanjang perjalanan, menuju Danau Gunung Tujuh, kami berpapasan dengan puluhan pengunjung yang baru selesai berkunjung dari Danau Gunung Tujuh.

Pukul 14.00 WIB, akhirnya kami sampai di Danau Gunung Tujuh. Bahagia rasanya karena lelah selama pendakian, terbayar saat tiba di Danau Gunung Tujuh. Benar kata orang-orang, pemandangan di Danau Gunung Tujuh begitu menakjubkan. Aku merasakan dan melihat sendiri. Danau Gunung Tujuh terbentang begitu luas. Menurut Wikipedia, Danau Gunung Tujuh memiliki panjang 4,5 km, lebar 3 km, luas 9,6 km, kedalaman sekitar 40 meter dan berada di ketinggian 1950 mdpl. Menurut warga sekitar, luas danau yang sekitar 9,6 km ini kira-kira sama dengan 960 hektar.

Di sekeliling danau, aku melihat gugusan gunung-gunung yang mengelilingu Danau Gunung Tujuh yakni: Gunung Hulu Tebo (2.525 mdpl), Gunung Hulu Sangir (2.330 mdpl), Gunung Madura Besi (2.418 mdpl), Gunung Lumut (2.350 mdpl), Gunung Selasih (2.230 mdpl), Gunung Jar Panggang (2.469 mdpl), dan Gunung Tujuh (2.735 mdpl). Tidak jauh dari tepi danau, tepat di sisi kiri, terdapat air terjun yang merupakan air buangan dari Danau Gunung Tujuh. Aliran air terjun ini, mengalir hingga ke Desa Pelompek.

Karena baru turun hujan, kabut sesekali turun. Kami harus sabar menunggu kabut melewati danau, sehingga gugusan gunung dan keindahan danau yang biru terlihat dengan dengan indah.

Perut kami sudah lapar. Sudah waktunya makan siang. Karena cukup banyak pengunjung dan tempat yang datar sudah berdiri tenda, kami memutuskan makan di tepi danau. Tempatnya agak sempit, tapi masih memungkinkan untuk kami berlima duduk dan menikmati makan siang.

Sesuai dengan rencana, sehabis makan siang, saatnya menyewa sampan milik nelayan di Danau Gunung Tujuh dan berkeliling danau. Sangat disarankan untuk berkeliling danau menggunakan sampan jika datang ke Danau Gunung Tujuh. Hanya ada seorang nelayan di Danau Gunung Tujuh ini. Si nelayan biasanya melayani pengunjung yang ingin berkeliling danau. Sampannya terbuat dari kayu. Ada dua sampan yang digabungkan menjadi satu, sehingga mampu membawa penumpang lebih banyak, hingga 9 orang (termasuk nelayan berarti mampu membawa 10 penumpang). Di dalam sampan, ada enam kayak yang dapat dipakai untuk mendayung.

Dengan luas danau yang hampir mencapai 1000 hektar, maka tidak memungkinkan untuk mengelilingi danau seutuhnya. Aku memperkirakan, kami hanya berkeliling hingga sejauh 100 an meter dari tepi danau. Setelah berfoto-foto sebentar, kami berbalik dan kembali lagi ke tepi danau. Waktu yang kami habiskan berkeliling danau sekitar 25 menit.

Danau Gunung Tujuh-Wisma Tamu (16.15-18.00 WIB)

PUAS berkeliling danau, berfoto-foto dan melaksanakan salat Ashar, kami bergerak pulang menuju basecamp Jejak Kerinci. Jalur yang kami gunakan untuk turun adalah jalur saat kami naik menuju Gunung Tujuh.

Pukul 16.15 WIB, kami mulai berjalan menuju shelter 2. Dalam perjalanan ke shelter 2, hujan gerimis sudah mulai turun. Setelah istirahat lima menit di shelter 2, perjalanan kami lanjutkan kembali. Sepertinya tak cukup hanya gerimis. hujan yang semakin deras pun tumpah ke bumi. Dengan jelas, kami melihat jalur yang kami lewati dialiri air hujan berwarna coklat yang cukup kencang. Itu tandanya hujan memang cukup deras.

Kami tak perduli. Kami teruskan berjalan di tengah hujan deras tersebut. Kami harus sampai hari ini juga di basecamp Jejak Kerinci, karena malamnya sekitar pukul 23.00 WIB, kami sudah pulang kembali ke kota Padang. Jika perjalanan naik menghabiskan waktu 2-3 jam, maka perjalanan turun diperkirakan membutuhkan waktu 1 hingga 2 jam.

Dalam perjalanan ke shelter 1, hujan mulai reda. Saat tiba di shelter 1, hujan benar-benar sudah berhenti. Begitupun, air masih mengaliri jalur yang kami lewati, akibatnya terasa sedikit licin. Sesekali kami juga terpeleset ke tanah. Kami kebut jalan, karena waktu terus berjalan. Kami tak ingin sampai di Wisma Tamu selepas maghrib, karena kami tidak membawa alat penerangan (senter).

Syukurlah, perjalanan kami cukup lancar. Kami berlima cukup menikmati perjalanan turun. Canda dan tawa menjadi pengiring perjalanan. Lelah pun jadi tak terasa. Sesuai dengan target, kami akhirnya sampai di Wisma Tamu sebelum maghrib, pukul 18.00 WIB.

Kami berlima memutuskan tidak menunggu jemputan di Wisma Tamu. Dengan pakaian yang masih basah dan agak kotor, kami memilih berjalan kaki saja ke Pos Penjagaan TNKS. Rasanya, penasaran juga menikmati bagaimana rasanya berjalan kaki. Di tengah perjalanan, Bang Levi sudah menelepon, tapi kami memintanya menunggu di Pos Penjagaan TNKS saja.

Pukul 18.45 WIB, kami tiba di Pos Penjagaan TNKS. Di sana, Bang Levi sudah menunggu dengan mobil jemputan. Tapi bukan dengan mobil double kabin seperti yang digunakan waktu mengantar kami tadi padi, melainkan dengan Kijang Innova. Bang Levi bilang, mobilnya baru dibeli sebulan yang lalu. Rasa segan praktis menghampiri saat melihat bagian dalam mobil masih dilapisi plastik. Segan rasanya masuk dengan kondisi badan yang basah dan pakaian yang kotor. Tetapi begitu Bang Levi menyuruh naik, kami tak perduli lagi. Kami berlima langsung masuk. He…he…

Pukul 19.25 WIB, kami tiba kembali di basecamp Jejak Kerinci. Hujan deras yang turun sejak pagi hingga sore membuat sebagian wilayah Desa Kersik Tuo banjir. Halaman depan dan belakang basecamp Jejak Kerinci pun ikut tergenang sedikit air. Karena harus pulang ke Padang malam itu juga, kami tak mau berlama-lama. Kami mandi, packing perlengkapan masing-masing ke dalam carier dan kemudian makan malam.

Bahagia rasanya bisa menuntaskan pendakian ke Gunung Tujuh dan Danau Gunung Tujuh. Rasa lelah karena jalan yang terjal menanjak dan rasa dingin karena hujan yang menyertai perjalanan terbayar sudah begitu tiba di Gunung Tujuh dan Danau Gunung Tujuh. Terimakasih buat Tuhan karena masih memberi kesempatan kepada kami untuk merasakan keajaiban yang Dia lahirkan di bumi ini.(*/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s