Oleh-oleh dari Gunung Kerinci, Pak Sarin: “Penunggu” Danau Gunung Tujuh Selama 42 Tahun (7)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

DANAU Gunung Tujuh yang berada di Gunung Tujuh adalah satu karunia besar dari Tuhan yang sayang untuk dilewatkan ketika datang ke Kabupaten Kerinci, Jambi. Ketika sudah menjejakkan kaki ke Danau Gunung Tujuh, maka sempurnakanlah petualangan serumu dengan mengarungi Danau Gunung Tujuh. Caranya? Naikilah sampan milik Pak Sarin.

Pak Sarin (58), menurut pengakuannya adalah seorang nelayan yang sehari-harinya mencari ikan di Danau Gunung Tujuh. Tapi bagiku pribadi, Pak Sarin, lebih dari seorang nelayan. Pak Sarin adalah “penunggu” Danau Gunung Tujuh. Bagaimana ceritanya kenapa aku sebut “penunggu”?

Saat sampai di Danau Gunung Tujuh, Sabtu (7/5/2016), aku dan keempat temanku, Novita, Bandi, Hendy dan Yuni berkesempatan mengarungi sebagian kecil dari 9,6 km luas Danau Gunung Tujuh. Sebelumnya, dari teman-teman memang aku sudah mendengar cerita, kalau kita bisa keliling-keliling danau dengan menggunakan sampan.

Aku dan teman-teman antre sekitar setengah jam untuk keliling danau. Di depan kami, ada puluhan pengunjung lagi yang sudah masuk daftar antre. Agak lama memang, karena hanya satu sampan yang tersedia. Tetapi waktu setengah jam itupun terlewati. Aku dan keempat teman naik ke atas sampan. Struktur sampan terbuat dari kayu. Ada dua sampan yang ditempel menjadi satu. Menurut Pak Sarin, sampannya bisa menampung hingga maksimal 10 penumpang (termasuk Pak Sarin). Di dalam sampan, ada enam pedal yang bisa dipakai untuk mendayung.

Aku sengaja tak memegang pedal. Kubiarkan teman-temanku yang mengayuh, sedangkan aku mengeluarkan buku catatan dan pulpen. “Ini kesempatan berharga bagiku. Bisa mewawancarai “penunggu” danau ini,” pikirku dalam hati.

29 Juli-11 Agustus 2016-Oleh-oleh dari Kerinci-Bagian 7

29 Juli-11 Agustus 2016-Oleh-oleh dari Kerinci-Bagian 7 (4)

AKU berkesempatan mewawancarai Pak Sarin (kanan). Pak Sarin adalah nelayan yang “menunggui” Danau Gunung Tujuh selama 42 tahun terakhir. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Pak Sarin bercerita, dirinya adalah satu-satunya nelayan yang mencari ikan di Danau Gunung Tujuh dan tinggal sendirian di pinggiran hutan di dekat Danau Gunung Tujuh. Aku dan keempat temanku sempat menoleh kepada Pak Sarin begitu Pak Sarin mengucapkan hal berikut. Meskipun pengucapan Bahasa Indonesia Pak Sarin kurang sempurna, tapi kami bisa menangkap dengan jelas apa yang dia sampaikan.

“Iya betul. Bapak tinggal sendiri di danau ini. Bapak membangun pondok di sana,” katanya sambil menunjukkan sebuah kawasan hutan di pinggiran danau.

Aku melihat tempat yang ditunjuk Pak Sarin. Jaraknya cukup jauh dari posisi sampan kami berada. Kuperkirakan, sampan kami berjarak sekitar 100 meter dari tepi danau tempat pengunjung biasa memasang tenda dan beristirahat. Sedangkan tempat yang ditunjuk Pak Sarin jaraknya lebih jauh lagi dari posisi sampan kami berada. Aku sulit menghitung jaraknya. Aku hanya menanyakan, berapa lama jarak yang dihabiskan Pak Sarin kalau mendayung dari pondok tempat tinggalnya ke tepi danau tempat pengunjung memasang tenda. “Butuh waktu (mendayung) sekitar 10 menit,” kata Pak Sarin.

Pak Sarin mengatakan, dirinya sudah tinggal di kawasan Danau Gunung Tujuh sejak tahun 1974. Pak Sarin mengaku, tidak ada siapapun yang memintanya untuk tinggal di kawasan danau tersebut. Dua alasan yang membuatnya datang dan bertempat tinggal di danau adalah pekerjaannya sebagai nelayan dan ingin menjaga kelestarian Danau Gunung Tujuh. Namun dalam perjalanannya, ternyata sampannya bermanfaat untuk orang banyak, terutama pengunjung yang datang ke Danau Gunung Tujuh. “Banyak pengunjung yang meminta keliling-keliling danau dengan sampan saya ini,” kata Pak Sarin.

Ayah tiga anak (dua laki-laki dan satu perempuan) dan kakek satu cucu ini mengungkapkan, dirinya hanya pulang sebulan sekali ke rumahnya di desa Pelompek untuk menjemput bekal makanan tambahan selama sebulan. Jika dirinya tidak pulang, terkadang istri atau anak perempuannya, Yarmaini yang datang mengantarkan bekal. “Utamanya beras dan sayuran ya. Kalau ikan, bisa saya pancing dari danau. Di danau ini, banyak ikan belis, besar ikannya sebesar kelingking orang dewasa. Di goreng atau dibakar sudah cukup nikmat,” ujar Pak Sarin.

Setiap harinya, Pak Sarin melayani pengunjung yang ingin mengarungi danau. Tarifnya tidak mahal, Rp 10 ribu per orang. Memang rutenya tidak terlalu jauh. Maklum, luas Danau Gunung Tujuh itu 9,8 km atau sekitar 980 hektar. Kalau hari biasa dan pengunjung tidak tamai, biasanya Pak Sarin membawa pengunjung mengarungi danau antara 20-30 menit. Kalau lagi ramai, biasanya di bawah 15 menit. “Pengunjung yang ramai itu biasanya saat hari libur, 17 Agustus dan perayaan Tahun Baru. Bapak bisa membawa pengunjung sampai 1.000 orang,” katanya.

Menjadi “penunggu” Danau Gunung Tujuh selama 42 tahun (sejak tahun 1974), Pak Sarin mengaku sudah terbiasa, tidak pernah merasa sendiri dan kesepian. Kicau burung di hutan dan deburan air danau yang biru menjadi teman setianya mengusir rasa sepi, terutama di malam hari. Bagi Pak Sarin, bisa melihat Danau Gunung Tujuh tetap lestari sudah menjadi kebanggaan yang maha luar biasa bagi dirinya. “Setiap kali membawa pengunjung keliling danau, Bapak minta mereka untuk menjaga danau dan lingkungan sekitarnya. Kalau mendirikan tenda, Bapak ingatkan jangan membuang sampah sembarangan, terutama ke danau,” kata Pak Sarin.

Saat mempertegas sepak terjangnya selama 42 tahun di Danau Gunung Tujuh, Pak Sarin hanya tertawa ketika aku menyebut dirinya sudah seperti “penunggu” di Danau Gunung Tujuh. “Tak apalah Nak jadi penunggu. Bapak menunggui danau ini tetap terjaga kebersihannya dan hutannya lestari,” ujarnya.

DCIM100MEDIA

AKU dan teman-teman di atas sampan Pak Sarin. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

DCIM100MEDIA

AKU dan teman-teman di atas sampan Pak Sarin. (FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Satu hal yang membuat saya agak jantungan saat mengarungi danau adalah, ketiadaan jaket pelampung. Hanya Pak Sarin seorang yang menggunakan jaket pelampung, sedangkan pengunjung tidak memakainya. Sebagai pribadi yang sangat mementingkan safety procedure (prosedur keselamatan), aku meminta ke Pak Sarin, ada baiknya melengkapi pengunjung dengan jaket pelampung untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pak Sarin hanya mengangguk.

Pak Sarin berpesan, jika ingin menggunakan jasanya, bisa terlebih dahulu menghubunginya di nomor ponselnya: 0853 8097 4190. Meskipun di kawasan hutan dan danau, sinyal ponsel milik Pak Sarin terkadang masih dihubungi. Bagaimana? Kamu berminat?.(*/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s