Oleh-oleh dari Gunung Kerinci, Nikmatilah Teh Kayu Aro yang Kesohor Itu Meski Hanya Teh Grade Empat (8)

SIAPA yang tak kenal teh. Sebagai salah satu dari sekian banyak minuman yang sangat popular di dunia, teh telah menjadi komoditi yang dicari untuk dinikmati siapapun. Tapi, percayakah kamu, kalau salah satu teh dengan kualitas terbaik di dunia berasal dari Indonesia, tepatnya dari kawasan Gunung Kerinci, kecamatan Kayu Aro, kabupaten Kerinci, provinsi Jambi. Kayu Aro adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kerinci, Jambi, Indonesia. Berdiri pada tanggal 12 Juni 1996 berdasarkan PP N0. 47/1996. Pusat pemerintahan di Batang Sangir. Kecamatan Kayu Aro terdiri dari 21 kelurahan.

Di kecamatan Kayu Aro ini, terdapat Perkebunan Teh Kayu Aro yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI Jambi. Untuk sampai di lokasi kebun teh, butuh waktu sekitar 8‑10 jam jika menempuh perjalanan dari kota Jambi. Jarak yang ditempuh sekitar 550 kilometer. Untuk jalur yang lebih dekat, dapat menempuh perjalanan dari kota Padang, Sumatera Barat. Jarak yang ditempuh sekitar 300 kilometer dengan waktu tempuh 6-7 jam.

Sebelum dikelola oleh PTP VI Jambi, Perkebunan Tek Kayu Aro ini sudah melewati kisah perjalanan yang berliku yang membuat perkebunan ini menjadi istimewa. Keistimewaan tersebut, seperti dikutip penulis dari berbagai sumber adalah pertama,  Perkebunan Teh Kayu Aro merupakan kebun teh tertua di Indonesia yang telah ada sejak masa penjajahan Belanda pada tahun 1925. Kedua, kebun teh ini adalah yang terluas dalam satu hamparan dan tertinggi kedua setelah Kebun Teh Darjeeling di India. Luas kebun teh Kayu Aro sekitar 2500 hektar dan terletak di ketinggian 1600 meter dpl (cukup tinggi ya). Ketiga, teh di perkebunan ini merupakan teh ortodox atau teh hitam yang merupakan teh berkualitas tinggi. Menariknya, pemrosesan daun teh dari kebun masih menggunakan cara tradisional. Serbuk ‑ serbuk teh tidak menggunakan pewarna maupun pengawet.

Bahkan, untuk menjaga kualitasnya, para pekerja dilarang untuk memakai kosmetik saat mengolah daun teh tersebut. Oleh sebab itu, tidak heran jika disebut-sebut teh dari Kayu Aro menjadi teh kegemaran Ratu Belanda dan Ratu Inggris pada masanya

Perkebunan Teh Kayu Aro didirikan pada tahun 1925 oleh Namlode Venotchaat Handle Veringing Amsterdam, sebuah perusahaan milik Belanda. Pada tahun 1959, kebun teh ini menjadi milik pemerintah RI dengan pengolaan dan pengawasan di bawah PT Perkebunan Nusantara VI. Sampai saat ini perusahaan tersebut yang melakukan pemeliharaan, pemetikan, pengolahan, pengemasan, hingga pengeksporan ke berbagai negara.

Perkebunan Teh Kayu Aro setiap tahunnya mampu menghasilkan 5.500 ton teh hitam. Teh unggulan ini diekspor ke Rusia, Eropa, Asia Tengah, Amerika Serikat, Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Pakistan.

Menurut informasi yang aku dapatkan dari warga sekitar, sekitar tahun 1998, Perkebunan Tek Kayu Aro dibuka untuk umum dan dijadikan sebagai tempat tujuan wisata. Tak salah jika lokasi ini menjadi tempat wisata favorit. Luasnya kebun teh dalam satu hamparan yang ditumbuhi pohon teh yang menghijau membuat tempat ini menjadi sangat indah. Keberadaanya yang berdekatan dengan Gunung Kerinci menjadikan lokasi ini terasa sejuk. Tak salah tempat ini direkomendasikan menjadi tempat untuk santai dan rileks bersama teman dan keluarga. Suasananya menghadirkan kedamaian bagi jiwa-jiwa yang singgah di dalamnya.

29 Juli-11 Agustus 2016-Oleh-oleh dari Kerinci-Bagian 8

AKU dan teman-teman dari Medan mengunjungi Perkebunan Teh Kayu Aro di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi setelah turun dari Gunung Kerinci, Jumat (6/5/2016).(FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

29 Juli-11 Agustus 2016-Oleh-oleh dari Kerinci-Bagian 8 (7)

AKU dan teman-teman dari Medan mengunjungi Perkebunan Teh Kayu Aro di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi setelah turun dari Gunung Kerinci, Jumat (6/5/2016).(FOTO: TIM KERINCI MEDAN)

Para pengunjung dipersilakan untuk menelusuri perkebunan teh sambil melihat para pekerja memetik teh. Dengan meminta izin pada PT Perkebunan Nusantara, pengunjung dapat menyaksikan proses pengelolaan teh mulai dari proses pemetikan dan proses pelayuan. Pengunjung juga bisa melihat teh tersebut dikeringkan menggunakan lori gantung dan pengangkutannya menuju ke tempat penggilingan.

Proses fermentasi sampai proses pembuatan bubuh teh juga menarik untuk disaksikan. Jika beruntung, pengunjung bisa melihat pekerja yang sedang memisahkan bubuk teh berdasarkan kualitas teh dan pengujian teh berkualitas di ruang pengujian.

Aku berkesempatan menikmati teh dari Perkebunan Teh Kayu Aro yang kesohor ini. Saat turun dari Gunung Kerinci pada Jumat (6/5/2016), aku dan kelima temanku singgah di warung milik warga yang ada di pintu rimba. Karena penasaran dengan kualitas teh Kayu Aro, akupun meminta segelas teh panas.

Saat disajikan, awalnya aku agak kaget ketika ibu pemilik warung memberikan teh yang baru diaduk dengan butiran teh yang masih mengambang. Kutanyakan pada ibu pemilik warung, kenapa bubuk tehnya tidak disaring. Menurut ibu pemilik warung, bubuk teh Kayu Aro akan turun sendiri hingga ke dasar gelas. Dan benar, tak sampai 10 detik, aku menyaksikan sendiri, buitran bubuk teh tersebut turun ke dasar gelas. “Itulah salah satu keunggulan bubuk teh di sini,” kata Ibu pemilik warung.

Si Ibu bercerita, bubuk teh yang kukonsumsi bukanlah teh dengan grade (tingkatan) nomor 1. “Itu masih nomor empatnya. Kalau yangterbaiknya di ekspor ke Belanda. Warga tidak pernah menikmati teh yang nomor 1. Terkadang nomor 2 juga susah didapatkan. Biasanya harus berhubungan dengan orang dalam PTP. Ya, nomor 3, 4 dan nomor 5 yang dijual di sini,” kata Ibu pemilik warung.

Pernyataan Ibu pemilik warung juga diperkuat oleh pernyataan warga lainnya yang kebetulan nongkrong di warung tersebut. Informasi yang kutelusuri dari website: www.pagilaran,co.id, milik PT Pagilaran (Perusahan Perkebunan, Perdagangan, Perindustrian, dan Konsultasi), perusahaan Inggris produsen teh premium dunia, yang terkenal di Inggris didirikan Sir John Jr, Teh Ty Poo memakai bahan baku Teh Kayu Aro. Perusahaan ini memosok produk teh ke keluarga bangsawan di Eropa. Ratu Belanda sejak Ratu Wihelmina, Ratu Juliana hingga Ratu Beatrix adalah penikmat teh Kayu Aro ini.

Kualitas grade (tingakatan) 1 teh ini tidak dipasarkan di Indonesia, hanya untuk perdagangan luar negeri terutama Eropa dan Amerika. Bayangkan saja harga jual pabrik $ 2,89/kg, bandingkan dengan harga satu merek yang dikemas di Inggris, dengan memakai bahan baku Teh Kayo Aro ini oleh Ty Poo diharga 1,8 Pounsteling untuk 1/4 kg, sedangkan harga di Indonesia untuk kemasan 1 box hanya berkisar Rp 3.500 saja.

Kualitas grade 2 & 3 juga dipasarkan tapi tentu rasanya berbeda, bila grage 1 tanpa ampas dan serbuk, maka grage 2 & 3 dicampur daun dan batang dan tentu saja warnanya tidak orange lagi. Kualitas grade 3 dipasarkan di Indonesia ke para produsen teh, sebagai bahan campuran dari bahan baku teh yang ada di Indonesia. Dan teh ini juga dipasarkan dalam bentuk kemasan oleh PTPN VI.

Aku sendiri beruntung mendapatkan teh Kayu Aro melalui jalur Pak Ngatimin, pegawai BKKBN Kabupaten Kerinci yang tinggal di Kayu Aro. Dari Pak Ngatimin, aku dapat ¼ kg teh Kayu Aro. Menurut Pak Ngatimin, teh yang aku dapatkan adalah teh dengan grade nomor 2.

Lalu bagaimana bila kita ingin merasakan nikmatnya teh Kayu Aro grade 1? Cara “terbaik” adalag kita harus membelinya di Inggris, Belanda atau di negara-negara yang menjadi tujuan ekspor teh Kayu Aro. Cukup miris juga ya. Kita bangsa penghasil teh terbaik di dunia, tapi kita tak beruntung menikmatinya.(*/bersambung)

2 responses to “Oleh-oleh dari Gunung Kerinci, Nikmatilah Teh Kayu Aro yang Kesohor Itu Meski Hanya Teh Grade Empat (8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s