Oleh-oleh dari Gunung Kerinci, Saat Mendaki Kita Bisa Bertemu Siapapun (9)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

MENDAKI gunung adalah kegiatan yang tidak terhalang oleh batas apapun. Baik itu batas jenis kelamin, status sosial, status ekonomi, tingkat kedewasaan dan jenjang pendidikan. Gunung adalah tempat yang bisa didatangi oleh siapapun, laki-laki atau perempuan, kaya dan miskin, babu hingga pejabat, anak-anak hingga lanjut usia dan dari yang tidak berpendidikan hingga level professor.

Sebagai tempat dengan tingkat kepopuleran yang mahatinggi, Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh menjadi destinasi favorit para pendaki gunung. Setiap hari, terutama saat hari libur,ribuan pendaki dating ke Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh. Tanpa diduga, kita bahkan bisa bertemu pejabat, public figure atau bahkan pendaki yang kebetulan tinggalnya di kota yang sama dengan kita.

Hal inilah yang kualami saat mendaki Gunung Tujuh. Saat turun dari puncak Gunung Sibayak, Kamis (5/5/2016), aku dan teman-teman bertemu dengan pendaki yang ternyata tinggal di kota yang sama, Medan. Lucunya, kami sebenarnya saling kenal, karena kebetulan satu profesi, jurnalis atau sebelumnya sudah berteman di media sosial.

Melewati shelter 2 Gunung Kerinci, kami bertemu dengan tiga pendaki dari Medan, Christison Sondang Pane, Christian Hadinata Gurning dan Dek Sinaga (Lupa namanya, jadi sebut Dek aja ya).

Dua nama pertama adalah alumni Universitas HKBP Nommensen (UHN), dan nama terakhir masih kuliah di tingkat akhir di UHN. Christison Sondang Pane adalah teman sesama jurnalis yang sekarang bertugas di Analisadaily.com. Selanjutnya Christian Hadinata Gurning hanya dikenal teman satu tim dari Medan, Yuni. Yuni mengaku, mereka berdua sudah berteman di media sosial. Sedangkan Dek Sinaga, adalah adik dari teman jurnalis di Kompas biro Medan, Nikson Sinaga. “Dunia ini ternyata kecil ya,” kataku kepada mereka bertiga.

Christison bercerita, dirinya sudah tahu kalau kami juga mendaki Gunung Kerinci dari teman sekantornya. Teman sekantornya kebetulan berteman dengan kami. “Seharusnya, kita bisa berangkat sama-sama ya, lebih rame, lebih seru. Tapi mungkin kelewat sibuk,” kataku dan kemudian tertawa. Kami pun berfoto bersama untuk mengabadikan momen pertemuan tak disengaja itu.

Di Gunung Tujuh, kami bertemu dengan mantan Menteri Pertanian era Presiden SBY, Anton Aprianto. Kami cukup hapal wajahnya karena pernah meliput kegiatan beliau di Medan saat masih menjabat menteri. Kami mendatangi beliau dan memperkenalkan diri. Beliau menyambut hangat, apalagi tahu kami semua adalah jurnalis dari Medan.

Di usianya yang sudah kepala enam, Pak Anton masih kuat mendaki dua gunung sekaligus, Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh. Pak Anton mengaku, dirinya berangkat bersama teman-temannya yang merupakan alumni Institut Pertanian Bogor (IPB). Memang untuk mengangkat barang-barangnya, beliau memakai jasa porter khusus. Walau begitu, bagiku dia tetap sangat kuat. “Mendaki gunung membuat saya mendapatkan pengalaman luar biasa, membangkitkan rasa cinta tanah air dan menguji kekuatan tubuh,” katanya.

Pak Antot bercerita, dirinya sudah punya jadwal mendaki gunung setiap tahun ke puncak-puncak top di Indonesia. Kami pun mengajaknya datang ke Medan dan mendaki Gunung Leuser. Beliau bertanya kenapa harus ke Leuser. Aku dan empat temanku saling berpandangan dan tersenyum. “Soalnya kami belum pernah ke Leuser, Pak,” kataku.

Pak Anton hanya tersenyum. Selanjutnya kami tertawa.(*/bersambung)

2 responses to “Oleh-oleh dari Gunung Kerinci, Saat Mendaki Kita Bisa Bertemu Siapapun (9)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s