Rujukan Atas Permintaan Sendiri, Maka Tanggung Sendiri (Pengalaman Menggunakan Fasilitas BPJS Kesehatan)

26 Agustus 2016-Rujuk Atas Pemintaan Sendiri

STAND banner milik BPJS Kesehatan yang berisi informasi rujukan yang dipasang di Klinik Altara Medan. (FOTO: TRULY OKTO PURBA)

SEJAK fasilitas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan beroperasi aku tak pernah meminta fasilitas rujukan ke dokter spesialis. Maklumlah, kalau sakit cukup sampai di Faskes Tingkat I (kelas Klinik) saja.

Tapi sejak 10 tahun terakhir, aku memang punya kendala dengan telinga kanan. Ada serumen (semacam kotoran).  Dan aku tak mau pakai cotton buds utk membersihkannya. Aku selalu memilih ke dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT). Dokter spesialis THT langgananku pun sudah ada, di RS Sari Mutiara Medan.

Untuk mendapatkan fasilitas dokter spesialis THT tersebut, aku cukup datang ke Klinik Rujukan (semacam Faskes Tingkat I), waktu itu Klinik Aviati nama klinik rujukannya. Syaratnya tak rumit, cukup membawa fasilitas Jamsostek dan Inhealth. Dulu kantor tempatku bekerja (Tribun Meda) pernah beralih menggunakan fasilitas kesehatan (dari Jamsostek ke Inhealth).

Hingga sebelum BPJS Kesehatan beroperasi, aku relatif mudah dapat rujukan. Tinggal datang ke Klinik Aviati selama jam kerja, bawa kartu Jamsostek/Inhealt, dibuatkan rujukan dan aku bebas memilih RS rujukan yang kusuka.

Pada Kamis (18/8/2016), karena telinga kanan kembali bermasalah, aku datang ke Klinik Faskes I sesuai dengan yang tercantum di kartu BPJS ku, Klinik Altara di kawasan Perumnas Simalingkar Medan. Tujuannya jelas, meminta rujukan ke dokter spesialis THT.

Tapi banyak ketentuan BPJS yang benar-benar berbeda dibandingkan ketentuan Jamsostek dan Inhealth dulu. Sekarang, pasien dengan fasilitas BPJS tak bisa lagi sesuka hati meminta rujukan, semuanya harus atas indikasi medis. Hal ini juga dipertegas dengan informasi yang dipampangkan oleh BPJS melalui spanduk (stand banner) di Klinik Altara. Kalau rujukan atas permintaan sendiri, maka menjadi tanggungan sendiri.

Ketentuan lainnya adalah: pasien harus diobati dulu di klinik sebanyak dua kali. Selain itu rujukan hanya boleh diambil dari pukul 08.00 hingga pukul 12.00 wib. Dan satu lagi, RS rujukan juga tidak bebas lagi. Semua sudah diatur berdasarkan rayon. Jadi mana RS yang terdrkat dengan klinik, itulah yg bisa di rujuk.

Beberapa ketentuan inilah yg membuat aku cukup berdebat dengan pegawai klinik. Kuceritakan semuanya. Kukatakan kepadanya, keluhanku bukan keluhan setahun dua tahun. Dan keluhanku ini hanya boleh ditangani dokter spesialis. Dokter umum di klinik memang tak bisa karena perlengkapan medis yang tidak tersedia. Tapi pegawai menyebut itu sudah ketentuan BPJS. Menurutnya harus diobati di klinik dulu. Saat kukatakan: “bahkan ketika telingaku juga sudah sampai parah, harus berobat dulu di klinik ini?”. Si pegawai diam saja.

Kuturuti ketentuan yang ada. Akhirnya aku ditangani dokter umum di Klinik Altara. Kuceritakan ulang semuanya kepada dokter umum yang menanganiku. Si dokter umum cukup paham. Si dokter juga sebenarnya mempunyai kesamaan keluhan dengan ku terkait ketentuan BPJS saat ini. Dibandingkan ketentuan BPJS saat ini (menurutny si dokter umum), memang masih lebih oke ketentuan Jamsostek (apalagi Inhealth) dulu. Salah satu kelebihannya, dulu masih bisa minta rujukan atas permintaan pasien dan cukup bebas pilih rumah sakit.

Si dokter umum hanya merujuk obat berupa cairan untuk kuteteskan di telinga kanan plus vitamin untuk kuminum selama tiga hari. Sebelum pulang, si dokter mintaku datang kembali hari Senin (22/8/2016) aku diminta lagi datang ke klinik. Sesuai dengan peraturan BPJS, pasien diharuskan datang tiga hari setelah kedatangan pertama. Maka tiga hari setelah kedatangan pertamaku pada hari Kamis (18/8/2016) adalah hari Senin (22/8/2016). Tapi sebelum pulang, aku minta tolong kepada si dokter, agar hari Senin (22/8/2016) aku sudah bisa mendapatkan rujukan ke spesialis THT. Artinya aku tak perlu menunggu lagi tiga hari setelah tanggal 22 Agustus 2016. Aku minta tolong, agar aku diberikan rujukan atas indikasi medis. Logikanya sederhana saja, masa aku harus menunggu tiga hari lagi dengan telinga yang berdengung dan berpengaruh kepada pendengaran,, sementara obat dari klinik juga tak bereaksi.

Hari Senin (22/8/2016), aku datang kembali ke Klinik Altara. Karena rujukan hanya boleh diambil hingga pukul 12.00 WIB, aku cepat-cepat berangkat dari rumah. Pukul 08.30 WIB aku sudah di klinik. Ternyata pasien yang datang berobat sudah cukup ramai. Aku melewatkan enam pasien terlebih dulu, barulah giliranku dipanggil.

26 Agustus 2016-Rujuk Atas Permintaan Sendiri1

RUJUKAN yang dikeluarkan oleh Klinik Altara sebagai “tiket” untuk berobat ke dokter spesialis THT di RS vina Estetica, Senin (22/8/2016).(FOTO: TRULY OKTO PURBA)

Sesuai dengan perjanjian tiga hari sebelumnya, maka tak ada tindakan medis lagi yang diberikan dokter umum kepadaku. Sesuai dengan “kesepakatan” kami, rujukan ke spesialis THT pun diberikan. Dengan alasan agar dekat dengan kantorku di kawasan Wahid Hasyim Medan, maka akupun memilih dokter spesialis THT di RS Vina Estetica.

Pagi itu juga aku mendatangi dokter spesialis THT di RS Vina Estetica. Setelah melengkapi berkas administrasi, aku datang ke Poliklinik THT. Dokter spesialis THT yang bertugas di bagian THT bernama dr. Syahjon Pardede, SpTHT.KL. Jam prakteknya adalah pukul 10.00-12.00 WIB. Aku tiba pukul 10.15 WIB.

Giliranku dipanggil. Si dokter menanyakan kondisiku. Keceritakan sedikit saja, termasuk riwayat keluhanku ini sejak 10 tahun terakhir. Sepertinya beliau cukup mengerti. Beliau kemudian memintaku duduk di kursi tindakan. Selanjutnya beliau memasukkan semacam alat berbentuk pipa yang menyedot serumen dari telinga kananku. Tak lama, sekitar 10 menit saja. Setelah semuanya selesai, aku merasa lebih nyaman. Telingaku tidak berdengung lagi. Si dokter kemudian meresep obat berupa cairan untuk kutetes di telinga kanan tiga kali sehari.

Dalam perjalanan pulang ke kantor, aku berpikir dalam hati. Beda perusahaan beda peraturan. Beda Jamsostek, beda pula BPJS. Aku memakluminya. Tapi ada baiknya, untuk sakit yang memang harus ditangani dokter spesialis, klinik faskes tingkat I seharusnya bisa mengeluarkan rujukan. Tak perlulah harus ada ketentuan ditangani terlebih dahulu, sementara pasien memang harus dirujuk ke spesialis.. Kalau begini ketentuannya, sama saja dengan menyuruh pasien berobat umum.

Aku menghitung-hitung biaya berobat telinga kananku ini jika menggunakan fasilitas umum (bayar sendiri). Satu kali datang ke spesialis THT untuk satu telinga bisa kena Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Terkadang, pasien tak cukup datang satu kali. Minimal dua kali. Artinya sudah kena biaya hingga Rp 400 ribu. Sekali lagi Rp 400 ribu!!! Bukan jumlah yang sedikit. Uang itu sudah cukup untuk modal naik gunung loh. He..he..he.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s