Oleh-oleh dari Dolok (Gunung) Singgalang, Ini Bukan Persoalan Pemandangan di Puncak, Tapi…(1)

20160813_175012

PUNCAK Gunung (Dolok) Singgalang di Kampung Kasemak, kecamatan Silimakuta, Simalungun yang kudaki bersama tiga teman dari Medan, Sabtu (13/8/2016). (FOTO: HENDY PERNANDO)

20160813_174951

PUNCAK Gunung (Dolok) Singgalang di Kampung Kasemak, kecamatan Silimakuta, Simalungun yang kudaki bersama tiga teman dari Medan, Sabtu (13/8/2016). (FOTO: HENDY PERNANDO)

SELAMA ini tujuan pendakian di Sumatera Utara lebih didominasi Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung (sebelum erupsi) di Kabupaten Karo, Gunung Pusuk Buhit di kabupaten Samosir atau Gunung Sibuatan di Kabupaten Dairi. Tapi, ada banyak gunung di Sumatera Utara yang jarang didaki, namun menarik untuk didatangi. Keindahan dan tantangan yang ditawarkan saat pendakian ataupun ketika sudah sampai di puncak memang tidak sama, ada yang menghadirkan pemandangan yang indah, pemandangan yang standart atau yang biasa-biasa saja. Tetapi bisa meniti semua jalan-jalan ciptaan Tuhan yang terbentang di bumi hingga ke puncak gunung adalah kepuasan tersendiri bagi pendaki tersebut, terlebih ketika gunung tersebut jarang didatangi pendaki.

Hal inilah mendasari aku dan ketiga temanku, Okto Praeka, Hendy dan Helmy saat memutuskan mendaki Dolok Singgalang, Sabtu (13/8/2016) lalu. Pendakian ini sudah kami rencanakan dua minggu sebelumnya. Bermodal sebuah peta yang bersumber dari Map700, kami menemukan beberapa Dolok di sekitaran Kabupaten Samosir, Kabupaten Dairi, dan Kabupaten Simalungun. Dolok tersebut adalah: Dolok Nabarat Subang (Samosir) dengan ketinggian 1.968 mdpl, Dolok Batu Martindi (Samosir) dengan ketinggian 1.781 mdpl, Dolok Sulu-sulu (Dairi) dengan ketinggian 1.555 mdpl, Dolok Sibartong (Dairi) dengan ketinggian 2.052 mdpl dan Dolok Singgalang (Simalungun) dengan ketinggian 2.855 mdpl.

Kami menimbang-nimbang Dolok yang ada di dalam peta. Setelah mempertimbangkan berbagai hal seperti kecukupan waktu, kemampuan keuangan, melihat jarak tempuh dan pengetahuan pendakian, akhirnya kami berempat memutuskan untuk mendaki Dolok Singgalang di Kabupaten Simalungun.

Sesuai dengan data yang dicantumkan dalam Map700, tinggi Dolok Singgalang disebutkan 2.855 mdpl. Namun angka ini dinilai tidak pas. Menurut data yang dikutip penulis dari akun FB @ Singgalang MT Sardolok, tinggi Dolok Singgalang disebutkan 1.317 mdpl. Sedangkan menurut warga kampung yang ikut menemani kami mendaki, , tinggi Dolok Singgalang disebut sekitar 1.400 mdpl.

Oh ya, mungkin timbul pertanyaan, kenapa disebut Dolok, kenapa bukan Gunung? Padahal, sejatinya kita akan mendaki sebuah tempat yang lebih tinggi. Pengertian Gunung dan Dolok sebenarnya relatif sama. Dolok adalah istilah (penyebutan) lain untuk Gunung dalam bahasa daerah. Terdapat banyak sekali penyebutan untuk gunung dalam bahasa daerah di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah: Gunong/glee (aceh), Deleng (Karo), Dolok (Batak), Bukit (Melayu, gunung kecil), Bulu (Bugis), Keli (Flores), Nga (Papua pedalaman), Olat (Sumbawa), dan lain-lain. Jadi, karena Gunung-gunung yang ada dalam Map700 berada dalam daerah Batak, maka penyebutan Gunung kerap disebut dengan “Dolok”.

Dolok Singgalang, secara administratif berada di Desa Kampung Kasemak, kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun. Kota yang terkenal di kecamatan Silimakuta ini adalah kota Saribudolok (Seribudolok). Kota Saribudolok ini sekaligus menjadi ibukota kecamatan Silimakuta. Jarak Medan-Saribudolok sekitar 150 kilometer. Perjalanan menggunakan kendaraan roda empat dapat ditempuh dengan waktu antara 3 hingga 4 jam.

Kami berangkat dari Medan sekitar pukul 10.00 WIB menggunakan mobil Travel BTN Jaya. Ongkosnya Rp 40 ribu per orang. Pukul 13.15 WIB, kami tiba di Pertigaan Jl. Merdeka, Kampung Kasemak. Karena menggunakan mobil travel, maka penumpang bisa diantarkan sampai ke tujuan. Berbeda jika naik bus umum, maka penumpang harus turun di Pajak Lama Saribudolok dan berjalan sekitar 2 kilometer (15 menit) menuju Kampung Kasemak.

20160813_174547

MENYUSURI jalanan di Kampung Kasemak menuju pintu rimba, Gunung (Dolok) Singgalang. (FOTO: TRULY OKTO PURBA)

Tiba di Pertigaan Jl. Merdeka, Kampung Kasemak, kami sudah ditunggu Bang Purba, warga sekitar yang akan ikut mendaki bersama kami. Kami memilih untuk langsung mendaki. Kami menyusuri Jl. Merdeka, Kampung Kasemak menuju pintu rimba Dolok Singgalang. Cuaca cukup bersahabat saat itu. Memang relatif dingin, tetapi tak sampai harus memakai jaket. Jalan yang kami lalui menuju pintu rimba sudah beraspal. Bangunan rumah, gedung sekolah dan gedung pelayanan publik lainnya yang berada di kiri kanan jalan juga relatif baik.

Dari pertigaan Jl. Merdeka, Kampung Kasemak menuju pintu rimba, kami berjalan sekitar 15 menit. Untuk sampai di pintu rimba, kami melewati perladangan milik warga yang ditanami jeruk, kopi dan sayur-sayuran. Menurut Bang Purba, ada tiga jalur yang dapat dipilih pendaki saat mendaki Dolok Singgalang yakni jalur dari Kampung Kasemak, jalur  dari Desa Nanggaraja dan jalur dari Desa Hutabaru.

Pukul 13.45 WIB, kami sampai di pintu rimba. Melewati pintu rimba, maka pendaki akan disuguhi dengan hutan yang menurutku masih asri dan terjaga dengan baik. Pohon-pohon di hutan masih rapat-rapat dan ukurannya tinggi-tinggi. Menurut Bang Purba, jarang ada pendaki yang datang ke Dolok Singgalang. Mungkin itu yang membuat keasrian hutan Dolok Singgalang masih terjaga dengan baik.

Karena jarang didaki, maka jangan berharap pendaki akan menemukan jalur yang cukup jelas saat mendaki. Warna permukaan tanah relatif sama, sehingga sulit untuk menemukan warna (struktur) tanah yang berbeda yang kerap digunakan sebagai jalur pendakian. Dengan kondisi seperti ini, alangkah baiknya kalau pendaki membawa peta dan kompas untuk berjaga-jaga kalau tersesat dalam perjalanan.

Suasana pendakian menuju puncak Dolok Singgalang berbeda dengan saat mendaki Gunung Sibayak. Saat mendaki Gunung Sibayak, sesekali, pendaki masih disuguhkan dengan jalan landai (bonus) setelah menanjak. Tetapi di Dolok Singgalang berbeda. Begitu melewati pintu rimba dan memasuki hutan, maka pendaki akan langsung berhadapan dengan jalur yang menanjak. Aku memperkirakan, kemiringannya antara 40-55 derajat. Napas pun cukup ngos-ngosan. Yang membuat perjalanan semakin berat adalah kondisi tanah yang cukup gembur. Tanah menjadi gembur karena dampak dari pembusukan daun-daun dan ranting pohon. Agar tidak jatuh saat menanjak, pendaki sedapat mungkin harus berpegangan pada akar pohon ataupun batang pohon.

Jalur yang menanjak ini membuat fisik kami terkuras cukup banyak. Napaspun semakin ngos-ngoson. Aku tak menghitung lagi, berapa kali kami harus istirahat karena lelahnya. Bang Purba yang seperti tak kehabisan tenaga pun “terpaksa” ikut beristirahat.

Hingga punggungan terakhir, jalur yang harus didaki seluruhnya menanjak cukup tajam. Saat sampai sampai di punggungan terakhir, kami mengambil arah perjalanan ke sebelah kanan. Nah, jalur inilah yang aku sebut sebagai bonus. Jalurnya memang tidak begitu landai, tapi tanjakannya tidak securam dari pintu rimba hingga punggungan terakhir.

Saat sudah sampai di punggungan terakhir dan meneruskan perjalanan ke sisi kanan gunung, maka puncak Dolok Singgalang sudah semakin dekat. Karena jalurnya relatif tidak begitu menanjak, aku dan teman-teman pun semakin bersemangat menyusuri hutan. Menurut Bang Purba, normalnya pendakian ke Dolok Singgalang dapat ditempuh dengan waktu 1 jam 15 menit mulai dari pintu rimba. Tapi karena kebanyakan beristirahat, perjalanan kami molor  hingga 45 menit.

Kami akhirnya tiga di puncak Dolok Singgalang pukul 15.45 WIB. Semula kami berangkat dari pintu rimba pukul 13.45 WIB. Dengan demikian, kami menghabiskan waktu selama dua jam, telat 45 menit dibandingkan waktu normal (menurut Bang Purba) yang hanya sekitar 1 jam 15 menit. Tak apalah, yang penting kami akhirnya menjejakkan kaki di puncak Dolok Singgalang.

20160813_160629

AREA puncak di Gunung (Dolok) Singgalang yang tidak begitu luas. (FOTO: TRULY OKTO PURBA)

Area puncak Dolok Singgalang ini tidak begitu luas. Bentuknya datar dan kuperkirakan ukurannya sekitar 10 x 10 meter. Di puncak Dolok Singgalang ada parasati yang terbut dari batu yang dalam istilah topografi disebut pilar. Pilarnya tidak tinggi. Aku perkirakan sekitar 50 cm dengan ukuran sekitar 40 x 40 cm.  Tulisan dalam satu sisi pilar tersebut masih cukup jelas. Tertulis “TT 2508”. Angka 2508 ini bukanlah menjelaskan tinggi Dolok Singgalang. Bagiku bisa menemukan pilar saat mendaki gunung adalah pengalaman yang sangat bernilai. Sudah banyak puncak gunung di Indonesia yang pilarnya sudah tidak ada lagi.

20160813_153758

20160813_160719

PILAR di puncak Gunung (Dolok) Singgalang yang memuat tulisan “TT 2508”. (FOTO: HENDY PERNANDO)

Secara umum, pemandangan dari puncak standart saja. Kampung kasemak dan kota Saribudolok tidak begitu jelas terlihat dari puncak Dolok Singgalang. Di puncak Dolok Singgalang juga tidak ada kawah (danau). Berbeda saat mendaki Gunung Sibayak. Dari puncaknya, pendaki dapat melihat kota Berastagi dan di puncaknya juga masih terdapat kawah yang cukup menakjubkan. Tapi, mendaki gunung bukan semata-mata seperti apa pemandangan di puncak atau seperti apa suasana kota di bawah gunung yang dapat dilihat dari puncak. Sekali lagi,  bisa meniti semua jalan-jalan ciptaan Tuhan yang terbentang di bumi hingga ke puncak gunung dalah kepuasan tersendiri bagi para  pendaki tersebut, terlebih ketika gunung tersebut jarang didatangi pendaki. Bagiku pribadi, itulah yang kurasakan.

Di puncak, kami manfaatkan waktu untuk istirahat, berfoto dan menyantap snack yang masih tersisa. Suhu udara di puncak cukup dingin. Melalui fasilitas teermometer yang ada pada kompas yang kami bawa, penanda suhunya berada pada posisi angka 16. Bahkan sempat ke angka 15. Artinya, lebih dingin dari suhu normal air conditioner (AC) di ruangan yakni 18 derajat.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sekitar 45 menit kami menikmati suasana di puncak Dolok Singgalang. Pukul 16.30 WIB kami turun kembali ke Kampung Kasemak. Meskipun perjalanan turun, tetapi tetap harus hati-hati, karena kondisi tanah di hutan yang gembur. Jangan turun terlalu tergesa-gesa, karena bisa saja terpeleset. Tetaplah berpegangan pada batang pohon, jika kondisi jalan turun begitu curam.

Pukul 17.30 WIB, kami tiba kembali di pertigaan Jl. Merdeka Kampung Kasemak. Sebelum kembali ke Medan, kami istirahat sebentar di warung yang ada di pertigaan Jl. Merdeka. Sekitar 15 menit kami beristirahat. Selanjutnya, kami permisi pulang kepada Bang Purba. Kami sampaikan terima kasih karena sudah bersedia menemani perjalanan kami.

20160813_160959

AKU dan tiga teman dari Medan, Hendy (no 2 dari kiri), Helmi (no 3 dari kiri) dan Okto (paling kanan) berfoto bersama di puncak Gunung (Dolok) Singgalang. (FOTO: BANG PURBA)

Kami berjalan kaki menyusuri Jl. Merdeka menuju stasiun Bis Cepat Sepadan di sekitar Pajak Lama Saribudolok. Jika dari Medan, kami berangkat menggunakan mobil travel, maka sebaliknya dari Saribudolok, kami memilih pulang menggunakan angkutan umum.

Karena menggunakan bus umum, maka butuh dua kali naik angkutan umum . Dari Saribudolok menggunakan Bis Cepat Sepadan dan turun di terminal kota Kabanjahe, Kabupaten Karo dengan ongkos Rp 10.000 per orang. Selanjutnya dari terminal Kabanjahe melanjutkan perjalanan ke Medan dengan bus Sutra dengan ongkos Rp 13.000 per orang.

Sekitar pukul 22.00 WIB, kami tiba kembali di Medan. Cukup lelah, karena perjalanan dituntaskan dalam sehari. Mungkin lain ceritanya kalau kami memilih beristirahat di Kampung Kasemak setelah mendaki. He…he..he.. Begitupun, bangga dengan pendakian ke Dolok Singgalang. Selesai dulu satu Dolok, masih ada Dolok-dolok lain yang wajib di daki.(*/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s